Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Lakukanlah, Mas!


__ADS_3

Dinda memejamkan matanya lebih erat. Karena bisikan Yudha teramat membuatnya deg deg ser. Apalagi tangan Yudha yang melingkar pada pinggangnya sehingga pria itu benar-benar mendekap tubuh Dinda.


Sesak nafas tiba-tiba terasa. Seolah pasokan oksigen sangatlah tipis. Dinda seperti orang yang kesusahan bernafas. Yudha pun semakin mendekati dirinya pada tubuh sang istri.


"Em Mas, kamu bisa mundur sedikit, nggak? Aku nggak bisa nafas nih, sesak!" seru Dinda.


"Sesak? Aku rasa pelukan ini tidak terlalu erat. Jadi, bagaimana bisa kamu terasa sesak?" tanya Yudha yang berkata tepat di belakang kepala Dinda.


"I-iya, tapi tanganmu nggak usah diletakkan di sini. Ini yang menjadi aku kesusahan untuk bernafas!" jawab Dinda.


Yudha pun memindahkan tangannya dari pinggang Dinda kemudian berpindah ke atas dan Yudha pun semakin mempererat pelukannya.


Dinda terhenyak. Ia pun tak berani bergerak, jika bergerak sedikit saja. Maka dirinya bisa membuat Yudha semakin mencengkramnya.


Sedangkan Yudha, pria itu mulai nyaman berada di samping Dinda. Karena sesuai janjinya kepada Bu Lili dan pak Dedi. Jika ia akan selalu menjaga Dinda dan selalu ada di sampingnya.


"Ampun deh! Haruskah aku pasrah dengan semua ini?" batin Dinda dengan posisi yang masih sama.


Yudha yang berada di belakang istrinya. Pria itu tampak sedang menghirup aroma harum dari tubuh istrinya. Wangi lembut rambut Dinda membuat Yudha nyaman dan ia pun terpejam menikmati sensasi yang membuatnya begitu suka itu.


"Mas!!"


Tiba-tiba suara Dinda memecah keheningan. Yudha terkejut dan menjawabnya dengan deheman.


"Hmmm ...."


"Harus ya kita tidur dengan posisi seperti ini?" pertanyaan Dinda sungguh membuat Yudha tertawa kecil.

__ADS_1


"Kenapa? Tidak boleh? Bukannya aku sudah berjanji kepada ayah dan Ibumu untuk menjagamu. Takut saja nanti kamu mimpi buruk atau kedinginan, aku bisa langsung memelukmu, kan! Lagipula aku juga bukan orang lain lagi. Aku suamimu," ucap Yudha.


"Memeluk??" sahut Dinda sambil menggerak-gerakkan bola matanya.


"Kenapa? Bukankah itu sah-sah saja, kamu istriku jadi wajar jika aku memelukmu," ujar Yudha.


"I-iya sih! Kamu sekarang suamiku ... tapi aku gugup, jujur!" ungkap Dinda.


"Gugup? Memangnya aku ngapain kamu? Aku nggak ngapa-ngapain kok. Hal seperti ini wajar aku lakukan. Saat menjadi Bang Jacob pun aku sering beradegan seperti ini? Dan aku tetap biasa-biasa saja!" seru Yudha.


"Tapi sayangnya ini bukan akting, Mas!" sahut Dinda.


"Jadi, kamu ingin ini bukan sekedar akting? Kamu ingin aku benar-benar melakukannya?" ucap Yudha menggoda istrinya. Dinda pun mulai gugup dan salah tingkah.


"Melakukan apa?" sahut gadis itu yang mulai waspada.


"Entahlah, kamu maunya dari yang mana? apa pelukan, ciuman, atau yang lainnya?" tawar Yudha.


"Hal gila apa maksudmu? Tidak ada hal gila dalam hubungan kita, semuanya halal. Emm tapi sepertinya kamu belum mau melakukannya, seperti yang kamu bilang padaku, bukan? Aku tidak akan memaksamu untuk melakukannya. Toh aku juga bukan pria yang suka memaksa, kecuali diberi secara iklhas ...." ucap Yudha yang pada akhirnya membuat Dinda bisa bernafas dengan lega.


Namun, lagi-lagi ia masih terngiang-ngiang dengan tausiyah yang didengarnya lewat video YouTube yang baru saja Yudha putar.


Meminta duluan bagi seorang istri adalah sebuah pahala yang berlipat ganda dan Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka dan diangkat dua ratus ribu derajat di surga. Sungguh Dinda merasa dirinya ingin menjadi wanita yang berderajat tinggi di Surga dengan memberikan kesenangan untuk suaminya meskipun dirinya masih sangat polos dan tidak punya pengalaman.


"Ya Allah, apa mungkin aku yang harus memulainya duluan? Ini benar-benar sangat mendebarkan. Bagaimana caranya aku bisa memulainya?!" batin Dinda. Tangannya terasa dingin, ia benar-benar gugup. Sementara kesempatan untuk mendapatkan pahala itu sangat besar. Sungguh didikan dari kedua orang tuanya sangat berpengaruh besar terhadap Dinda. Bu Lili selalu menanamkan sifat rendah hati kepada seorang suami dan itu terpatri pada kedua putrinya yang kini sudah menjadi istri. Baik Dinda maupun Putri sama-sama ingin mendapatkan keridhaan Allah lewat berbakti kepada suaminya. Menyenangkan suami mereka mendapatkan surga Nya dengan memberikan hak suaminya.


Sedangkan di sisi lain. Yudha masih bersabar untuk menunggu luluhnya hati sang istri. Setidaknya ia tidak ingin menunjukkan ketidak sabaran nya kepada sang istri. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika dirinya juga ingin menyempurnakan ibadah pernikahannya.

__ADS_1


Yudha mulai memejamkan matanya. Suasana hening tiba-tiba terasa kembali. Namun, tiba-tiba saja Dinda berganti posisi dengan terlentang. Tentu saja Yudha terkejut dengan gerakan tubuh istrinya. Yudha segera membuka matanya dan Ia melihat posisi sang istri yang berubah.


"Aku capek tidur miring!" sahut Dinda sambil membuka kancing bajunya. Tentu saja Yudha dibuat deg-degan setengah mati saat Dinda membuka kancing tersebut. Yudha pun terpaksa menarik tangannya sendiri dan tidak lagi berani memeluk istrinya. Karena jika itu Ia lakukan. Maka tangannya pasti mengenai bagian sensitif tubuh Dinda.


"Ohh ... ya sudah. Kalau begitu tidurlah!" sahut Yudha yang juga ikut tidur terlentang.


"Kamu nggak peluk aku lagi, Mas?" tawar Dinda yang seketika membuat Yudha membulatkan matanya.


"Hahh ... peluk kamu!"


"Iya, seperti tadi yang kamu lakukan. Katanya kamu takut aku kedinginan!!" seru Dinda yang mulai menggoda suaminya. Yudha pun mulai deg-degan. Jika tadi dirinya sangat berharap Dinda akan berubah pikiran. Justru sekarang dirinya sendiri yang mulai gemetaran.


"Peluk ya! Memangnya nggak apa-apa aku peluk kamu? Kamu nggak marah?" tanya Yudha.


"Marah! Enggak lah, Mas. Sah-sah saja kan! Jika seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada pria lain adalah sebuah dosa besar. Tapi, apa jadinya jika seorang istri menawarkan dirinya kepada suaminya sendiri? Apakah itu juga termasuk dosa? Tentu tidak, kan?" ucap Dinda sambil beranjak bangun dari tidurnya.


Spontan Yudha pun ikut beranjak dan duduk mengikuti istrinya. Yudha memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Dinda.


"Apa yang kamu lakukan, Din?" tanya Yudha penasaran karena Dinda mulai melepaskan satu persatu kancing dress yang dikenakannya.


"Bukankah dalam agama kita. Seorang istri yang menggoda suaminya terlebih dahulu akan mendapatkan surga dan derajatnya akan lebih ditinggikan. Siapapun kamu aku tidak perduli. Kita menikah memang bukan karena cinta. Tapi pernikahan ini adalah ibadah. Aku juga tidak ingin mengingkari jika diriku sekarang adalah seorang istri. Sekarang, kamu adalah suamiku. Kamu bebas melakukan apapun pada diri ini. Jika ayah dan ibuku sudah memberikan restu untuk kita berdua. Itu artinya mereka juga berharap rumah tangga kita akan bahagia. Lantas, apalagi yang aku inginkan jika doa kedua orang tuaku sudah aku genggam. Karena mereka yakin jika kamu pasti bisa menjadi suami yang baik untukku. Kemarilah, Mas! Mungkin mataku memang buta. Tapi hatiku masih bisa merasakan kebaikan dan ketulusan hatimu. Jika memang malam ini Allah mengharapkan kita untuk menyempurnakan ibadah ini. Maka, aku ikhlas memberikannya dan aku siap lahir dan batin ...."


Yudha tidak percaya jika Dinda berkata seperti itu. Dinda bukan hanya sekedar berkata. Namun, dirinya juga melepaskan pakaiannya satu persatu. Hingga kini gadis itu tampak tidak menggunakan apapun yang menutupi tubuhnya. Ia langsung menyembunyikan tubuhnya di balik selimut karena tentunya ia masih malu karena baru kali ini ada seorang makhluk yang disebut sebagai suami yang melihat seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.


Yudha masih terkesiap dan ia pun mulai berkeringat dingin. Apalagi Dinda merentangkan kedua tangannya dan seolah mengundang Yudha untuk datang memeluknya.


"Kau ingin aku memelukmu?" tanya Yudha yang masih deg deg ser untuk menyambut pelukan istrinya.

__ADS_1


"Bukan hanya sekedar memeluk. Kamu bebas melakukan apapun. Karena aku ingin mencari Surga lewat ridho suamiku. Lakukanlah, Mas!!"


BERSAMBUNG


__ADS_2