Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Murid Kesayangan


__ADS_3

"Hmmm ... i-iya, aduh kamu ngomong apa sih, Mas!" balas Putri dengan suara berbisik. Pak Imam pun akhirnya pamit keluar dari ruangan tersebut. Karena pria itu tidak mau mengganggu waktu berdua Rama dan Putri.


Rama tertawa kecil dan ia pun mengajak istrinya untuk makan sate bakso bakar bersama.


"Sepertinya aku harus ke kantin deh, Mas. Ririn pasti udah nungguin aku," ucap Putri sambil beranjak pergi keluar kantor dewan guru.


"Ehh ... kamu mau kemana? Di sini saja temani aku makan!" sahut Rama sambil menahan tangan sang istri.


"Tapi, Mas. Nanti ada yang lihat nggak enak, Mas!" sahut Putri sambil melihat sekeliling di mana dalam ruangan itu tampak sepi, hanya ada dia dan sang suami, sementara guru lainnya banyak yang keluar ruangan.


"Nggak apa-apa, emangnya siapa yang mau lihat. Toh semuanya sudah tahu jika kamu adalah istriku. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Sudahlah ayo kita makan sate bakso ini. Sepertinya sangat menggoda rasanya," Rama menyuruh istrinya untuk duduk lagi di kursi menemani dirinya untuk makan sate bakso bakar.


Sementara Rama mulai membuka bungkus sate tersebut. Dilihatnya ada sepuluh tusuk sate bakso bakar yang dibeli isterinya.


"Waaahhhh, besar-besar sekali baksonya. Ayo makan!" Rama tampak mengambil satu tusuk sate bakso bakar untuk istrinya. Namun, Putri menolaknya dengan alasan ia kurang suka makanan tersebut.


"Kamu makan saja, Mas. Aku nggak mau," Putri menolaknya dengan halus.


"Loh kenapa, enak loh ini!" ucap Rama sambil memakan sendiri satu tusuk sate bakso itu. Sementara itu Putri hanya duduk sambil memperhatikan sang suami yang sedang makan lahap.


"Kamu doyan banget kayaknya, Mas. Mau aku belikan lagi?" tawar Putri.


"Nggak usah, aku sudah kenyang. Ayo dong kamu makan juga!" Rama terus memaksa istrinya untuk membuka mulut agar Putri turut makan bersamanya.


"Tapi Mas. Nanti ada yang lihat, malu!!"


"Nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu nggak buka mulut, aku nggak akan biarkan kamu pergi dari sini. Aku akan menghukummu dengan mengerjakan tugas matematika, kamu mau?" ancam Rama yang pada akhirnya Putri tidak bisa menolaknya.


"Ngerjain tugas matematika? Ihh ogah, tugasnya susah banget. Aku nggak bisa, Mas. Sini-sini, biar aku makan.Tapi satu tusuk aja ya!" sahut Putri sambil menerima satu tusuk sate bakso yang diberikan oleh Rama padanya.

__ADS_1


"Nah gitu dong! Kamu pikir aku enak makan sendirian tapi istriku nggak makan. Biarpun rasa sate bakso ini enak. Tapi bagiku rasanya hambar dan tidak enak karena kamu tidak ikut merasakan apa yang aku makan. Jadi, aku tidak mau kamu menolaknya. Apa yang menjadi kesenanganku kamu harus ikut merasakannya," ucap Rama sambil memperhatikan Putri yang mulai memakan sate bakso tersebut.


Sementara itu di luar kantor. Rupanya ada sepasang mata yang sedang melihat Rama dan Putri yang sedang berada di dalam kantor hanya berdua saja.


"Ck! Ngapain sih Kak Putri deket-deket sama pak Rama, tuh cewek emang caper banget sih, kesel banget!" umpat Joice yang berhenti di depan pintu kantor ruangan guru dengan tatapan kesal.


Si saat yang bersamaan, tanpa sengaja Putri melihat ke arah pintu, di mana letak meja guru yang ditempati Rama duduk sedikit membelakangi pintu masuk. Sehingga membuat Putri yang duduk di depan Rama tahu jika ada Joice yang sedang melihat mereka sedang berdua.


"Joice! Ngapain dia ada di sana!! Ohh dia pasti sedang mengintip kami. Dia ingin mendekati suamiku? Coba aja kalau bisa. Tidak semudah itu kamu bisa menggoda Mas Rama," batin Putri sambil berusaha membuat Joice kepanasan dengan berpura-pura bibirnya tergigit saat makan sate bakso bakar tersebut.


"Aduhhh awwwwww!!" seru Putri merintih sambil memegangi bibirnya.


Seketika Rama pun panik dan melihat sang istri yang sedang kesakitan. "Putri, kamu tidak apa-apa, kan? Kamu kenapa?" tanya Rama sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya, kemudian mendekati sang istri dan melihat ke arah wajah Putri.


"Nggak apa-apa, Mas. Cuma nggak sengaja bibirku tergigit," ucap Putri dengan suara manjanya.


"Tergigit? Coba aku lihat!" Rama memaksa istrinya untuk diam dan ia segera melihat kondisi bibir sang istri. Putri pun membuka sedikit bibirnya dan Rama mulai memeriksanya, apakah ada bekas luka gigitan yang telah disebutkan oleh Putri.


"Masa sih, Mas. Ada Mas coba periksa terus!" balas Putri yang memang sengaja membuat Joice berpikir seribu kali untuk mendekati suaminya yang terlanjur bucin itu. Putri semakin mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami.


Rama menyunggingkan senyumnya dan tanpa basa-basi ia pun langsung mencium bibir sang istri. Sontak Putri menutup mulut Rama untuk tidak mencium dirinya.


"Hmmmpptt, apa sih, Sayang! Aku kan ingin menciummu," Rama tampak masih belum sadar jika ada Joice yang sedang mengintai mereka berdua.


"Jangan, Mas! Kita ini di sekolah. Tidak etis jika kamu mencium aku di sini, meskipun aku adalah istrimu. Di rumah saja, hmm! kamu bebas melakukan apapun kepadaku," ucap Putri dengan tatapan matanya yang menggoda.


"Astaga, hampir saja aku tergoda. Iya aku mengerti. Mungkin aku sudah terlanjur cinta sama kamu!" Rama tampak menyesali kekhilafannya yang hampir saja mencium bibir sang istri.


"Ya sudah, aku keluar dulu, Mas. Nggak enak lama-lama berduaan sama kamu. Nanti jadi perbincangan guru-guru. Aku juga sedang menjaga nama baikmu, Mas," ucap Putri beranjak dari tempat duduknya dengan tersenyum nakal sebelum dirinya keluar.

__ADS_1


"Hmm iya hati-hati!" ucap Rama sambil terus memperhatikan Putri yang sudah beranjak keluar dari ruangannya.


Tentu saja pemandangan itu membuat Joice meradang. "Ck! Ngapain mereka sedekat itu? Pak Rama juga ngapain sih pegang-pegang Kak Putri. Apa jangan-jangan mereka sebenarnya punya hubungan? Waaahhhh parah nih. Ini tidak bisa dibiarkan, pokonya pak Rama nggak boleh deket-deket dengan Kak Putri. Aku nggak rela!!" Joice bergumam kesal sambil memukul dinding.


Ia pun mulai berpikir untuk mengadukan Putri kepada guru lainnya karena Putri ketahuan sedang berusaha untuk menggoda sang guru.


Kebetulan, Joice melihat pak Imam yang berada di depan kantor. Rupanya saat itu pak Imam sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


Joice mendekati pak Imam yang juga merupakan wakil kepala sekolah itu dengan tujuan untuk mengadukan apa yang sudah dilihatnya di dalam ruangan guru. Berharap pak Imam percaya pada dirinya jika Putri sudah berusaha untuk menggoda gurunya sendiri.


"Pak Imam, saya mau bicara, Pak!" seru Joice buru-buru.


"Joice, ada apa?" balas pak Imam sembari menutup teleponnya.


"Pak Imam tahu nggak sih, itu Kak Putri sedang merayu pak Rama, Pak. Masa mereka berdua saja di kantor. Kan mencurigakan, Pak!" ucap Joice yang membuat pak Imam garuk-garuk kepala.


"Hmm ... ya mungkin saja kamu salah lihat. Putri sudah biasa datang menemui pak Rama. Putri itu siswi kesayangan pak Rama. Dia sering kena hukuman dari pak Rama. Jadi, kamu tidak perlu curiga yang berlebihan. Mereka tidak ada hubungan apa-apa," pernyataan pak Imam cukup membuat Joice heran.


"Hah! Sering kena hukuman kok jadi murid kesayangan sih, gimana sih Pak!!" sahut Joice bingung.


Pak Imam pun berusaha untuk menutupi hubungan rekan kerjanya itu dari Joice. Karena dikhawatirkan Joice akan bicara kepada ayahnya dan itu bisa berdampak buruk bagi sekolah.


"Ya iya, gimana nggak jadi murid kesayangan. Setiap hari Putri selalu menjadi langganan mendapatkan hukuman dari Pak Rama," ucap pak Imam.


"Ya harusnya bukan murid kesayangan, Pak. Sering kena hukuman kok jadi murid kesayangan, aneh!!" sahut Joice tak terima.


Di saat yang bersamaan. Putri keluar dari ruangan sang suami. Tentu saja itu membuat Joice menatapnya sinis.


"Kak Putri ngapain dari ruangan pak Rama?" pertanyaan Joice yang tiba-tiba membuat Putri menoleh ke arah gadis itu. Putri mendekatinya dan dengan santai menjawabnya. "Emang kamu siapa tanya-tanya aku sedang apa di dalam? Bukan urusanmu lah!!" sahut Putri sembari berlalu meninggalkan Joice yang terlihat semakin kesal.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2