Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Lewat di depan Rama


__ADS_3

"Sudah yuk kita masuk!" ajak Putri kepada Ririn. Kedua gadis itu segera pergi menuju ke kelas mereka. Tak disangka dalam perjalanan menuju ke kelas tanpa sengaja mereka melihat Joice yang sedang berbicara dengan Rama. Seolah Joice berusaha mencari perhatian Rama dengan mendekati pria itu.


"Selamat pagi, Pak Rama," sapa Joice memberanikan diri. Rama yang introvert, dia pun hanya mengerutkan keningnya dan menjawabnya dingin. "Pagi juga, em bukannya kamu siswi kemarin yang jatuh di depan kelas kemarin?" pertanyaan itu muncul karena Rama teringat akan wajah Joice yang sudah tidak asing lagi baginya. Siswi baru yang jatuh tepat di sampingnya. Namun, Rama enggan menolongnya.


"Astaga, emang keren banget nih guru. Matanya, hidungnya, gayanya cool banget. Asli nih guru kriteria aku banget. Punya cowok kayak dia mau banget lah, pasti seneng banget," batin gadis itu sambil senyum-senyum.


Joice sangat bahagia ternyata Rama tidak melupakannya. "Iya, betul Pak. Itu memang saya. Saya ke sini untuk minta sama Bapak," ucapnya dengan suara manja.


Rama hanya melihat tanpa menjawabnya. "Apa Pak Rama mau kan memaafkan saya?" Joice lagi-lagi memasang wajah melas untuk mendapatkan maaf dari Rama.


Sementara itu, Putri hanya memperhatikan sang suami yang sedang berhadapan dengan Joice.


"Eh Put, kayaknya kamu harus hati-hati tuh sama adik kelas baru. Tuh cewek emang rada-rada. Aku kurang terlalu suka dengannya," bisik Ririn sambil menatap sinis ke arah Joice.


"Itu bukannya cewek yang nabrak aku tadi?" ucap Putri dengan santai. Karena ia tahu suaminya tidak mungkin menganggap serius kepada Joice.


"Iya kamu benar. Aku lihat tuh cewek keganjenan dan kayaknya dia suka tuh sama Pak Rama. Kelihatan banget dari sikap dan caranya memandang pak Rama. Pokonya jangan biarin Joice ambil perhatian pak Rama. Nggak rela jika hubungan kamu dan pak Rama renggang gara-gara si kunyuk itu. Dia nggak tahu apa kalau pak itu sudah punya istri," ucap Ririn yang ikut kesal melihat sikap Joice kepada Rama.


Putri tersenyum melihat teman sebangkunya itu kesal. "Ya ampun, Rin. Iya aku ngerti maksudmu. Tapi percayalah suamiku tidak akan tertarik dengan gadis itu. Jadi, santai saja. Kayak kamu nggak tahu bagaimana suamiku terhadap semua siswanya. Pernah ngga dia tersenyum sama kalian, enggak kan?" ungkap Putri.


"Ya iya sih, pak Rama itu orangnya introvert banget. Lihat mukanya pas kita dihukum saja kayak sedang lihat kuntilanak beranak. Lebih ngeri malah!" ucap Ririn yang seketika membuat Putri tertawa kecil.


"Ya udah, yuk kita masuk!" ajak Putri sambil menggandeng tangan Ririn. Kedua gadis itu berjalan melalui Rama yang saat itu sedang bersama Joice. Mau tidak mau Putri harus melewati Rama dan Joice.

__ADS_1


Putri dengan santainya berjalan melewati Rama. "Maaf permisi, Pak. Saya mau lewat!" ucap Putri saat Rama baru menyadari jika ada sang istri yang sedang lewat di depannya.


Tentu saja Rama terkejut melihat wajah istrinya yang sedang tersenyum kepadanya. Rama pun tampak salah tingkah. Layaknya cowok yang baru saja jatuh cinta kepada seorang gadis. Rama pun berusaha untuk bersikap manis kepada Putri sehingga membuat Joice melongo.


"Putri, oh ya silakan! Hati-hati kalau jalan ya, nanti terjatuh.Takut nanti kulitnya lecet!" ucap Rama yang tentunya membuat Ririn tersenyum kecil dan merasa ikut salah tingkah. Padahal Putri yang sedang digombalin oleh Rama.


Putri pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak. Permisi!" jawab Putri sambil berjalan terus ke arah kelasnya.


Rama pun tanpa tersenyum dan memperhatikan kepergian istrinya ke kelas 12A.


"Kenapa jika Istriku ada di dekatku. Pingin aku gigit aja, gemes! Padahal dia udah gigit aku semalaman sampai gempor nih kaki." Rama membatin dengan tatapan penuh keceriaan.


Sementara itu ada yang bingung dengan sikap Rama. Iya, tak lain adalah Joice. Gadis itu sangat heran bagaimana sikap Rama bisa berubah seratus delapan puluh derajat saat Putri lewat di depannya. Bedanya Rama sangat cuek dan terkesan killer jika pria itu berbicara dengan Joice. Tapi di saat berbicara dengan Putri. Rama menunjukkan sikap ramahnya dan senyumannya.


Sementara itu, Ririn yang berjalan dengan Putri. Gadis itu tidak bisa berhenti senyum-senyum. Ternyata guru matematika yang selama ini tidak pernah menunjukkan senyum manisnya itu. Hari ini Ririn bisa melihatnya. Bahkan, ia tahu bagaimana caranya Rama menggombali Putri.


"Ya ampun, Put. Sumpah aku nggak nyangka banget pak Rama bisa seromantis itu. Cie ... kelihatannya pak Rama cinta banget sama kamu," ucap Ririn.


"Hmm ... ya begitulah." Putri hanya menjawab seperlunya.


"Pasti di rumah pak Rama lebih romantis dari tadi iya, kan! Waaahhhh pasti seneng banget punya suami seperti itu," ucap Ririn sambil berkhayal jika dirinya memiliki suami seperti Rama.


Mereka berdua pun sampai di dalam kelas.

__ADS_1


"Hmm iya, dia memang romantis. Cuma romantisnya keterlaluan. Beruntung aku nggak masuk angin," balas Putri sambil duduk di bangkunya dan meletakkan tas sekolahnya.


"Apa! Masuk angin? Gimana ceritanya. Emang kamu nggak boleh pakai baju? Waduh di rumah telanjang terus dong!!" sahut Ririn dengan membulatkan matanya.


"Bukan itu. Aku tetap pakai baju lah. Kalau enggak ya lucu kali, masa aku jalan-jalan di dalam rumah dengan tanpa baju, nggak enak dong. Berasa pepaya ini bergelantungan dan nggak nyaman banget!!" ungkap Putri yang semakin membuat Ririn penasaran.


"Terus?"


Putri menoleh ke arah Ririn yang terlihat begitu penasaran. Putri mendekati telinga Ririn dan berbisik. "Aku nggak pernah pakai celana dalaam kalau di rumah, serius!!"


Seketika Ririn melototkan matanya saat Putri berkata demikian. Putri tertawa melihat ekspresi wajah Ririn yang seolah gadis itu membayangkan apa jadinya berada di dalam rumah hanya berdua saja dengan suami. Sementara itu celana dalaam sengaja nggak dipakai. Pasti bola itu sering masuk ke dalam gawang tak perduli waktu.


"Haaahh gila beud! Aaarrrgggghhhh otakku tercemar nih. Ahhhhh Putri kok aku jadi bayangin sih. Misal aku nikah sama Nanang dan setiap hari nggak pakai itu! Huwaaaaa bulan depannya pasti ngisi nih rahim. Auto setiap hari suami nanam benih!" sahut Ririn dengan menggerak-gerakkan bola matanya.


Putri tertawa kecil dan akhirnya datang juga guru pelajaran pertama yang tak lain adalah pelajaran matematika. Tentu saja Rama masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam kepada murid-muridnya.


"Selamat pagi semuanya!"


Seketika Ririn dan Putri melihat kedatangan pria yang baru saja mereka bicarakan. "Eh panjang umur nih guru. Tahu aja kalo sedang dibicarakan. Eh Put, sumpah ya kamu benar-benar gokil bisa membuat pak Rama yang sedingin itu bisa romantis banget di rumah. Tambah sayang dong tentunya. Pantesan aja kemaren tuh pak Rama sampai bawa celana dalaam kamu ke sekolah, pak Rama kayaknya udah candu banget dengan celana kamu sampai dicium begitu dalam!" ungkap Ririn yang masih ingat betul kejadian kemarin saat Rama tidak sengaja membawa celana dalaam miliknya.


"Hah? Masa sih sampai seperti itu? Suamiku nyium celanaku?" bisik Putri.


"Iya beneran. Tuh celana aku ingat betul. Kamu belinya bareng kita yang ada obral sepuluh ribu dapat tiga itu loh. Ingat, kan? Tapi punyamu masih bagus dan cerah, lah punyaku udah pada kuning hihihi!!" sahut Ririn sambil cekikikan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2