
Joice mengepalkan tangannya dan menatap kepergian Putri dengan wajah cemberut. Putri tampak tersenyum menyeringai dan pergi begitu saja ke arah kantin tanpa memperdulikan Joice yang kepanasan.
"Hmm ... mau nyoba deketin suamiku, coba aja kalau bisa!" batin Putri yang tidak khawatir sama sekali. Karena ia tahu betul bagaimana sifat suaminya.
"Tuh cewek kayaknya sok banget. Sok dekat dengan pak Rama. Dihh siapa dia, aku adalah murid baru di sekolah ini. Tidak sulit buatku jika hanya untuk mendapatkan perhatian pak Rama. Apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan. Dengan bantuan papa, aku akan membuat pak Rama semakin dekat denganku, dan Kak Putri tidak akan menjadi murid kesayangan pak Rama. Karena perhatian pak Rama akan kuambil," pikir Joice yang sedang berencana untuk mendekati Rama.
Setelah Putri keluar dari ruangan Rama. Kini, giliran Joice yang pura-pura datang untuk menemui Rama. Hari itu juga Joice datang dengan membawakan Rama minuman berupa jus jeruk yang ia bawa sendiri dari rumah. Berharap Rama bersedia untuk menerima pemberiannya.
"Selamat siang Pak Rama!" sapa Joice sambil mengetuk pintu. Rama menoleh ke arah pintu dan dilihatnya Joice sedang berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah botol minuman.
"Selamat siang, iya ada apa?" tanya Rama kepada Joice.
"Bolehkah saya masuk, Pak?"
"Silakan!" jawab Rama dengan wajah datar, seolah ia tidak terlalu menghiraukan kedatangan Joice.
Joice pun masuk ke dalam ruangan Rama, di mana pak Imam juga ikut masuk ke dalam ruangan tesebut. tempat duduk pak Imam bersebrangan dengan Rama.
Dengan percaya diri, Joice masuk dan duduk di depan Rama. Gadis itu tersenyum sambil menyerahkan sebotol jus buah yang ia bawa dari rumah.
"Ada apa, emm oh ya siapa namamu? Dari tadi Bapak cuma tahu kamu tapi tidak tahu siapa namamu," tanya Rama yang sebetulnya ia belum hafal betul nama gadis itu.
"Joice, Pak! Anak baru kelas 11 saya ini anaknya pak Sugondo, pasti Pak Rama tahu, kan?" jawab Joice dengan bangganya.
"Oh iya, kamu putrinya pak Sugondo yang terkenal badung itu, ya! Suka bolos di sekolah yang lama. Maaf, meskipun kamu putrinya pak Sugondo jika kamu tidak memiliki prestasi pasti saya tidak mungkin mengenalmu," ucap Rama yang seketika membuat pak Imam ikut tertawa kecil.
"Ihh Pak Rama jangan gitu dong! Biarpun saya ini tidak punya prestasi. Tapi saya ini anaknya orang kaya, Pak. Semua orang juga tahu siapa papa saya. Bahkan Papa saya tuh bisa aja membeli sekolah ini jika mau!" ucap Joice dengan sombongnya.
"Hmmm begitu ya!" Rama hanya menjawabnya singkat dan menganggap omongan Joice hanya omongan anak kecil. Ia pun tidak menghiraukan terlalu serius ucapan Joice.
"Iya Pak. Oh ya Pak. Saya ke sini mau ngasih ini sama Bapak. Pasti Pak Rama haus, kan!" ucap Joice sambil menyodorkan sebotol jus kepada Rama.
"Apa ini?"
"Itu jus jeruk, Pak. Saya bawa sendiri dari rumah. Karena saya tuh selalu menjaga makanan dan minuman apapun yang masuk ke dalam tubuh. Saya tidak mungkinlah beli makanan atau minuman di kantin sekolah. Nggak level!! Pasti makanannya nggak higienis," ucap Joice sambil mengibaskan rambutnya.
Rama hanya mengerutkan keningnya. "Jadi, kamu kesini untuk mengatakan jika makanan di kantin sekolah itu tidak higienis? Memangnya kamu sudah memeriksanya di laboratorium? Atau kamu sudah observasi ke kantin secara langsung? Bisa-bisanya kamu bilang jika makanan di kantin ini tidak higienis. Baru saja saya makan sate bakso bakar, enak-enak aja tuh. Nggak bikin mati!!" ucap Rama sambil memeriksa buku-buku siswanya. Seolah kehadiran Joice tidak terlalu penting baginya.
Sedangkan pak Imam tampak cekikikan melihat rekan seprofesinya itu yang terlihat cuek dengan murid barunya itu.
"Uhhh Pak Rama kok gitu sih!" Joice pun berusaha bersikap manja agar bisa membuat Rama tertarik. Bukannya tertarik, Rama justru merasa sumpek karena Joice cukup mengganggu waktunya untuk memeriksa tugas-tugas siswanya.
__ADS_1
"Udah ya! Bapak mau memeriksa tugas murid-murid Bapak. Jika tidak ada lagi yang perlu disampaikan, kamu silakan keluar! Saya masih banyak tugas!" titah Rama sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Tak terima diusir, Joice pun protes. Kenapa jika dirinya yang masuk dan menemui Rama, seolah Rama tidak mengizinkan. Tapi tidak dengan Putri.
"Ihh Pak Rama mengusir saya? Kok Pak Rama gitu sih. Sama Kak Putri saja dibolehin lama-lama di sini. Giliran saya Pak Rama usir!!" Joice berkata sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sama Putri beda, dia murid Bapak yang butuh bimbingan khusus dari Bapak. Dia itu butuh Bapak karena tidak bisa mengerjakan tugas matematika, jadi kewajiban bapaklah yang harus mengajarkannya!" ucap Rama dengan tegas.
"Kenapa cuma Kak Putri saja. Saya juga tidak bisa pelajaran matematika. Apa saya tidak bisa mendapatkan bimbingan khusus dari pak Rama!" sahut Joice yang masih ingin menekan Rama.
"Kamu tuh muridnya pak Imam. Ya pastinya pak Imam yang akan mengajarkan kamu, saya khusus mengajar kelas 12, paham!!" ucap Rama yang kali ini tidak bisa Joice sergah. Karena dirinya memang masih kelas 11.
"Tapi saya maunya dibimbing sama Pak Rama seperti Kak Putri. Bisa ya, Pak!" rengek gadis itu yang seketika membuat Rama semakin muak Joice berada di ruangan kantor.
Rama berdiri dan pamit kepada Joice. "Sepertinya perut Bapak mules kelamaan lihat kamu, Bapak ke toilet dulu!"
Rama pun segera keluar dari ruangannya dan menitipkan Joice pada pak Imam.
"Pak Imam, tuh muridnya minta bimbingan matematika. Saya mules, Pak! Saya ke toilet dulu. Nah Joice, ngomong saja sama pak Imam, ya!!"
"Loh Pak, kok pergi sih!" Joice tampak garuk-garuk kepalanya melihat kepergian Rama. Pak Imam hanya tertawa kecil melihat Joice yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Rama.
"Pak Rama benar-benar suami yang setia, Joice nggak tahu saja jika Pak Rama dan Putri itu suami istri. Apa jadinya jika gadis itu tahu. Pasti dia langsung laporan ke bapaknya. Semoga saja rahasia pernikahan pak Rama dan Putri tetap aman sampai Putri lulus," batin pak Imam ketika melihat Joice yang langsung ikut keluar setelah Rama keluar dari ruangan guru.
"Hufft! Akhirnya aku bisa keluar. Dasar bocah! Dikiranya aku bakal tergoda dengan rayuannya. Eh itu Putri, mau kemana dia!"
Tiba-tiba saja Rama melihat istrinya sedang bersama Ririn sedang keluar dari kantin. Kedua gadis itu rupanya sedang berjalan menuju ke perpustakaan sekolah. Rama pun mengikuti kedua muridnya itu sampai ke perpustakaan.
Sesampainya di dalam perpustakaan, Putri dan Ririn sedang bacaan untuk referensi membuat makalah pelajaran IPA. Kedua gadis itu sedang sibuk mencari sumber informasi tentang bab yang akan mereka buat makalah.
Di saat Putri sedang sibuk memilih buku di dalam rak. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan wajah suaminya yang sedang tersenyum diantara buku-buku tersebut. Spontan Putri terkesiap dan mengeluarkan kata-kata mutiaranya. "Eh buset wajah suamiku anjrit!" spontan Putri menjauh rak buku tersebut sambil mengelus dadanya.
Seketika Ririn terkejut saat mendengar Putri berkata seperti itu. "Ada apa, Put?"
"Nggak, tadi aku lihat ada wajah suamiku di sana. Kan kaget jadinya! Apa aku sedang berhalusinasi?" balas Putri sambil menunjuk ke arah buku yang baru saja ia lihat wajah sang suami di antara deretan buku-buku di perpustakaan tersebut.
"Pak Rama!! Hhh mungkin kamu sedang terngiang-ngiang dengan pak Rama. Makanya jadi teringat terus!" ucap Ririn.
"Bukan, emang beneran aku lihat wajah suamiku. Tapi nggak mungkin dia ada di sini. Orang tadi aku tinggalin dia di kantor kok!" sahut Putri yang masih tidak percaya.
karena penasaran, Ririn akhirnya beranjak untuk melihat di balik rak buku yang berseberangan dengan mereka berdiri saat ini. Benar saja, memang ada Rama yang sedang berdiri sambil senyum-senyum di balik rak buku yang baru saja Putri lihat.
__ADS_1
"Hmm dasar pasangan bucin!" batin Ririn sambil tertawa kecil. Ia pun kembali ke samping Putri dan berkata. "Tuh kan aku sudah bilang. Pak Rama tuh bucin akut sama kamu. Tuh lihat saja di belakang rak!" titah Ririn sambil menunjukkan Putri di mana suaminya berada.
Seketika Putri menghela nafasnya saat melihat sang suami yang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada rak buku dengan menyilangkan kedua tangannya tersenyum kepada sang istri.
"Ya sudah, kalau begitu saya ke sana dulu. Pak Rama dan Putri silakan mengobrol, saya tidak akan menganggu, daaahh!" pamit Ririn yang akhirnya ia memilih membaca di ruangan lain agar tidak mengangguk Putri dan Rama.
Setelah Ririn pergi. Putri pun mendekati sang suami. "Kamu ngapain di sini, Mas! Bukannya tadi kamu ada di kantor?"
Sambil memperhatikan sekeliling, setelah dirasa sepi. Rama menarik pinggang istrinya dan mendekatkan tubuh mereka. "Aku bosan di kantor, aku keluar dan melihat kamu pergi ke sini. Jadi aku ikutin kamu saja!" ucap pria itu sambil menempelkan dahi mereka. Beruntung, situasi di dalam perpustakaan itu cukup sepi sehingga tidak ada yang tahu jika keduanya sedang bersama.
"Bukannya tadi ada Joice!!" goda Putri sambil menyunggingkan senyumnya. Rama pun terlihat berubah ekspresi saat sang istri mengingatkan dirinya tentang Joice.
"Joice! Memangnya kenapa kamu membicarakan tentang Joice! Nggak penting!" jawab Rama yang masa bodo dengan Joice.
"Sepertinya Joice naksir sama kamu, Mas!" Putri lagi-lagi menggoda suaminya.
"Masa bodo!" jawab Rama spontan.
Putri pun hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Rama sambil menatap dalam-dalam wajah sang istri.
"Nggak apa-apa, lucu aja sih lihatnya!" jawab Putri sambil memainkan kerah baju suaminya.
"Lucu katamu! Bagiku itu memuakkan. Dah lah tidak usah membicarakan tentang Joice lagi. Oh ya sedang mencari buku apa kamu?" ucap Rama mengalihkan pembicaraan.
"Oh ... aku dan Ririn sedang ada tugas makalah biologi, Mas. Aku dan Ririn sedang mencari informasi untuk makalah kami nanti, tapi belum juga mendapatkan buku referensinya, kamu udah ngagetin aku saja!" balas Putri yang seketika membuat Rama tersenyum smirk.
"Memangnya tema apa yang akan kalian buat makalah!" tanya Rama.
"Sistem reproduksi manusia dan hewan, Mas."
"Itu gampang! Nanti aku bantu di rumah!" jawab Rama dengan percaya diri.
"Emang kamu bisa? Biologi bukan bidangmu, Mas?" sahut Putri sambil mengerutkan keningnya.
"Memang bukan. Tapi aku bisa langsung mempraktikkannya di rumah. Nanti kamu bisa langsung merangkumnya dengan mudah," ucapan Rama seketika membuat Putri mencubit hidung sang suami.
"Dasar pak Rama mesum!!"
Rama tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah sang istri.
__ADS_1
BERSAMBUNG