Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Bau mulut


__ADS_3

Mereka saling tertawa bahagia. Kedatangan pasangan gokil Ririn dan Nanang membuat Putri sangat terhibur. Ia pun sedikit lupa dengan kondisinya yang sebenarnya sedang tidak mood. Apalagi banyolan Nanang yang selalu membuat orang tertawa.


Tak terasa hampir satu jam mereka duduk bersama. Pada akhirnya Nanang pamit untuk pulang.


"Sepertinya saya dan Ririn harus pergi, Pak. Jadi maaf, kami tidak bisa lama-lama," ucapnya kepada Rama.


"Loh, kenapa buru-buru? Makanannya belum dihabiskan loh, siapa dong yang makan? Masih banyak itu sisa makanannya! Mubazir kalau nggak dimakan. Bapak nggak mau ya memakan sisa punya kamu, bisa-bisa Bapak keracunan nanti!" seloroh Rama.


"Anjay keracunan! Iler saya itu steril, Pak. Ngalah-ngalahin ilernya burung Wallet! Noh Ririn aja suka!" jawaban gokil Nanang pastinya membuat sang pacar menabok tangan Rio.


"Haisss Ayank! Jangan ngomong sembarangan ah!" bisik Ririn malu.


"Siapa yang ngomong sembarangan! Aku ngomong apa adanya. Kamu kan suka!" sahut Nanang.


"Siapa juga yang doyan iler kamu, idih jijay!" ucap gadis itu sembari memalingkan wajahnya. Tak terima sang pacar mengatakan hal itu. Nanang pun menjawabnya dengan santai.


"Hhhh apa kamu lupa, kamu tuh suka banget loh aku cium di bibir. Padahal kamu sedang nikmatin ilerku ini, hayo ngaku!" ucap Nanang yang membuat Rama melototkan matanya.


"Nanang! Jadi selama ini kalian sudah berciuman bibir?" tanya Rama dengan wajah garangnya.


Sontak Nanang pun panik karena ia tidak sengaja keceplosan. "Hehehe bukan, Pak. Bapak salah dengar. Anu itu, anu ....!" Nanang panik karena ucapannya yang keceplosan.

__ADS_1


"Ayank sih! Ngomongnya nggak direm, Pak Rama jadi tahu deh!" bisik Ririn sambil mengikut lengan sang pacar.


Kedua sejoli itu terlihat panik. Rama pun memberikan nasihat kepada mereka yang notabenenya masih berstatus muridnya di sekolah.


"Dengarkan kalian berdua! Bapak tahu kalian saling mencintai. Bapak tidak melarang kalian untuk berpacaran. Tapi, ada tapinya nihh! Jangan terlalu jauh berhubungan, apalagi sampai ciuman bibir segala. Kalian sadar nggak, kalian itu bukan muhrim. Pacaran cukup duduk bersama, makan bersama, jalan bersama. Ngapain harus pakai ciuman segala, Nanang, Ririn! Nanti kalian bisa kebablasan nantinya. Terus! Kalau kalian terlanjur jauh siapa yang rugi dan siapa yang mendapat malu? Tentu saja kalian berdua sendiri, faham!"


Keduanya saling menatap malu saat Rama menasehati mereka. "Iya maaf, Pak. Kami sebenarnya tidak ada niatan untuk melakukan ciuman, Pak. Hanya saja kami penasaran gimana sih rasanya ciuman di bibir itu. Kayak di film-film romantis gitu, seperti film Twillight tuh bikin cenut-cenut, Pak. Aje gile ternyata rasanya asoi, Pak!" sahut Nanang yang spontan mendapatkan cubitan kecil di lengannya.


"Huuuuhhh Ayank! Jangan buka kartu dong!" sahut Ririn.


Rama pun semakin melototkan matanya pada pemuda itu. Sementara itu Putri tak tahan lagi ingin tertawa melihat kegokilan teman sekelasnya itu.


"Ya ampun, Nanang. Emangnya yang cenat cenut itu apaan? Nih anak lama-lama bikin aku gila ya. Rin, pacar kamu lama-lama somplak nya makin parah tahu nggak!" sahut Putri sambil menahan perutnya yang kaku karena terlalu banyak tertawa.


Seketika Putri terdiam sembari menatap wajah sang suami yang terlihat memerah. "Hmmm ya iyalah aku udah tahu. Tapi aku dan Pak Rama kan udah resmi. Sedangkan kalian tuh masih pacaran woi! Dosa loh!" sahut Putri menakut-nakuti mereka berdua.


"Ya gimana dong! Emang itu godaan sih! Padahal nafas dia bau Pete anjir!" seloroh Nanang yang seketika membuat Ririn marah. Gadis itu spontan memukul Nanang dengan tas selempang yang ia pakai.


"Ihhh Ayank kok tega banget sih bilang nafasku bau Pete! Dasar cowok! Sok paling si nafas bau wangi. Padahal mah, nafas kamu lebih busuk dari kentutmu!" sahut Ririn sambil beranjak pergi.


"Loh, Ayank! Tunggu dong! Aku cuma bercanda." Nanang menahan tangan sang pacar dan minta maaf. Keduanya yang semula mesra tiba-tiba mereka bertengkar karena bau nafas masing-masing.

__ADS_1


"Ihh apaan sih lepaskan!" Ririn terlihat masih kesal dengan ucapan sang pacar yang menyinggung bau nafasnya.


"Hehh aku minta maaf beneran! Tadi aku keceplosan bilang begitu karena ada pak Rama."


"Iya, tapi nggak gitu juga kali sampai dibilang seperti bau Pete, aku malu! Ya udah kalau kamu emang udah nggak suka tinggal ngomong aja, ngga usah ngejelekin aku di depan pak Rama dan Putri," ucap Ririn yang terlihat bersedih.


"Eh Ayank! Jangan salah paham dong! Aku cuma bercanda. Maafkan aku ya plis! Besok-besok lagi aku nggak akan ngomong macam-macam lagi. " ucap Nanang sambil memohon agar Ririn memaafkan dirinya. Namun gadis itu tetap pada pendiriannya.


"Halah gombal! Bilangnya nafasku bau Pete tapi kenyataannya kamu doyan banget mencium bibirku. Padahal sebenarnya aku yang ogah dicium. Kamu jarang sikat gigi. Kamunya maksa terus sih! Padahal akunya yang eneg!" sahut Ririn membalas.


"Njiir eneg cuuuukkkk! Padahal aku setiap hari sikat gigi sampai lima kali dalam sehari. Sampai odolnya ikut aku telan. Biar bisa mendapatkan gigi yang putih bersih. Tapi kenyataannya kamu tega bicara seperti itu!" ucap Nanang.


"Bodo! Emang aku peduli!" sahut Ririn yang masih terlihat kesal.


Sementara itu Rama dan Putri menyaksikan keduanya yang terlihat salah paham. Hanya gara-gara bau mulut masing-masing. Nanang dan Ririn mendadak menjadi bertengkar.


Rama pun berusaha untuk mendamaikan mereka berdua. "Hei, sudah-sudah! Jangan bertengkar lagi. Masalah bau mulut saja dipersoalkan. Lain kali kalian tidak boleh melakukan hal itu, mengerti! Nanti kalian pasti puas-puasin ciuman kalian tapi kalian harus menikah dulu. Bapak tidak mau ya kalian berdua pacaran secara tidak sehat!" ucap Rama yang spontan dibalas oleh Nanang.


"Ya ... Bapak! Siapa bilang kita pacaran secara tidak sehat! Kalau pun saya tidak sehat nggak mungkin saya bisa bertemu dengan Pak Rama dan Putri di sini. Buktinya saya masih sehat dan bugar! Ririn juga. Aduhhh Pak Rama gimana sih! Kita berdua pasti pacaran secara sehat dong! Setiap hari sebelum apel saya mandi dan tidak lupa menggosok gigi. Biar gigi nggak kuning dan bau jigong. Ahhhhh Pak Rama ketinggalan zaman nih!"


Lagi-lagi ucapan Nanang membuat Rama benar-benar menghela nafas panjang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2