Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Sambal terong


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain. Keromantisan Dinda dan Yudha pun tak kalah dengan Rama dan Putri. Keduanya terlihat semakin akur dengan sarapan pagi bersama. Dinda terlihat menyuapi sang suami dengan senang.


Meskipun menu sarapan hanya tahu dan tempe goreng, disertai dengan sambal terong yang nikmat. Tapi Yudha terlihat lahap menyantapnya. Apalagi makanan itu langsung disuapi dari tangan istrinya.


"Kamu mau terong, Mas?" tawar Dinda sambil mengambil sambal terong yang pedas itu. Karena Dinda khawatir jika suaminya tidak suka dengan makanan sederhana seperti itu.


"Terong? Kayaknya enak, boleh juga!" jawabnya sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Dinda pun menyuapi sang suami dan seketika Yudha menahan tangan jari jemari istrinya untuk tetap berada di dalam mulut.


"Aduhhh, Mas! Lepaskan tanganku. Kamu mau makan tanganku juga!" ucap Dinda sambil menarik tangannya dari mulut suaminya. Namun Yudha justru menahannya dengan tangannya lalu pria itu menjiilati jari jemari Dinda yang masih ada sisa nasi dan sambal terong yang menempel.


Dinda merasa geli ketika lidah suaminya menjiilati jari-jarinya. Karena Yudha melakukannya dengan menatap wajah istrinya dalam-dalam.


"Sudah, Mas. Jangan lakukan itu lagi!" ucap Dinda sambil tersenyum malu.


"Sambal terong nya enak sekali, juga sambalnya yang pedas. Aku sangat suka!" ucap Yudha sambil tersenyum mesum.


"Syukurlah kalau kamu suka. Setiap hari sambal terong adalah menu favorit di keluarga kami. Aku takut saja nanti kamu bosan jika aku terus memberikan sambal terong untukmu!" ucap Dinda sambil mengambil lagi makanan yang akan ia suapkan lagi kepada suaminya.

__ADS_1


Yudha pun menahan tangan istrinya dan berganti dirinya yang akan menyuapi Dinda. "Kenapa, Mas?" tanya Dinda saat sang suami menyingkirkan tangannya.


"Sekarang giliranku untuk menyuapimu!" balas Yudha. Lantas, Dinda pun tersenyum malu dan Yudha mulai mengambil nasi dengan sambal terong, kemudian ia suapi istrinya dengan lembut. Dinda membuka mulutnya dan memakan nasi yang diberikan oleh sang suami.


"Bagaimana, apa terlalu banyak nasinya atau terlalu besar terongnya?" Yudha berkata sembari mengusap sebulir nasi yang tertinggal di ujung bibir sang istri. Dinda menggelengkan kepalanya sambil mengunyah nasi itu.


Setelah Dinda menelan makanannya yang ada di dalam mulut. Lantas, ia pun berkata kepada sang suami. "Terongnya sangat enak, Mas. Tapi, tidak seenak terong punya kamu!"


Sontak apa yang dikatakan oleh istrinya. Yudha tampak tersenyum lebar. "Oh ya! Memangnya kamu bisa membedakan rasanya seperti apa?"


"Ya tahulah, Mas. Sambal terong memang membuat mulutku kepedasan. Tapi, terong kamu bikin aku mendesaah!" ucap Dinda yang seketika membuat keduanya saling tertawa.


"Itu semua juga gara-gara kamu. Kamu yang ngajarin aku seperti ini, kan?" sahut Dinda.


"Hmmm sepertinya kamu akan berhadapan dengan terong setiap hari. Siang dengan terong asli, malamnya giliran dengan terongku!" ucap Yudha sambil berbisik manja pada telinga istrinya. Dinda pun tertawa kegelian sambil memegang sebuah terong mentah di tangannya. Mereka pun saling mencubit hidung dan memainkan terong yang belum dimasak.


*

__ADS_1


*


*


Setelah Nanang dan Ririn pergi. Rama dan Putri melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Putri. Tentu saja mereka akan memberi tahukan berita bahagia tentang kehamilan Putri.


Cukup memakan waktu hanya seperempat jam, akhirnya Putri dan Rama tiba di depan rumah pak Dedi dan Bu Lili. Pasangan yang sedang berbahagia itu terlihat begitu mesra sehingga membuat para tetangga lagi-lagi membicarakan kehadiran Putri dan Rama.


"Duh Putri! Sekarang makin cantik aja sejak nikah. Apa jangan-jangan Putri sedang hamil ya!" seru Bu Rojak yang pernah mencibir sang kakak.


Putri pun tersenyum kepada para tetangganya. "Eh ada ibu-ibu. Nggak masak, Bu? Nggak nyuci? Suaminya nanti nyariin loh! Nggak takut kalau suaminya makan di warung? Hati-hati loh ibu-ibu. Nanti suaminya bisa-bisa nggak kerasan di rumah, ditinggal nimbrung mulu ke tetangga. Giliran suaminya digondol pelakor nangis-nangis, berasa sok tersakiti. Padahal ibu-ibu sibuk ngerumpi di jam dinas melayani kebutuhan suami. Mending ibu-ibu pulang, oke!" seru Putri sambil meninggalkan sekumpulan tetangga julidnya.


Rama tersenyum kecil melihat jawaban menohok sang istri kepada para tetangganya itu. Lantas, ia pun berkata kepada sang istri.


"Beruntungnya aku punya istri seperti kamu."


"Kenapa bisa begitu?" tanya Putri.

__ADS_1


"Ya! Selain masih muda, pinter, cerdas, juga bisa tahu kewajibannya sebagai seorang istri. Mana mungkin aku kepikiran untuk pindah ke lain hati!" ucap Rama yang membuat Putri tersipu malu.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2