
"A-apa, itu tidak mungkin. Jadi, Dinda sudah menikah?" sahut Bu Mail yang terkejut setengah mati mendengar kenyataan itu.
Dengan tegas dan jelas, Yudha menjelaskan kepada semua warga tentang hubungannya dengan Dinda. Yudha juga menerangkan bahwa dirinya akan tinggal di kampung bersama istri tercinta dan tentunya penjelasan Yudha langsung meruntuhkan tuduhan keji para tetangga kepo terhadap keluarga pak Dedi.
"Begitulah ceritanya pak RT. Saya dan Dinda sudah menikah secara agama dan sebentar lagi kami akan mengesahkan pernikahan kami ke KUA. Jadi, sekarang sudah jelas bahwa kami adalah pasangan suami istri yang sah. Siapapun yang berani menganggu rumah tangga kami ataupun mengganggu kedua mertua saya. Maka saya tidak segan-segan untuk melaporkannya ke polisi karena tindakan anda semua sudah termasuk fitnah dan pencemaran nama baik," ucap Yudha dengan lantang.
Para warga yang datang pun mulai bubar dan menyoraki kedua wanita pembawa gosip itu.
"Huuuuuuu! Waahh Bu Rojak dan Bu Mail gimana sih! Jangan suka fitnah dong, Bu! Kita juga kan yang nggak enak sama pak Dedi."
"Iya nih Ibu-ibu. Kalau ada berita dipastikan dulu kebenarannya jangan asal nuduh. Kalau seperti ini jatuhnya ibu-ibu udah fitnah Mbak Dinda. Orang mereka memang suami istri kok. Ya wajarlah!"
"Tahu nih, ibu-ibu nggak jelas! Bikin orang gempar saja. Noh minta maaf tuh sama Mbak Dinda yang udah kalian fitnah. Besok-besok kita nggak bakalan percaya lagi sama omongan kalian, dasar tukang fitnah!"
Para warga rupanya sudah geram dengan kedua Ibu-ibu itu. Bu Mail dan Bu Rojak sangat malu dan akhirnya minta maaf kepada keluarga pak Dedi terutama kepada Dinda.
Kedua wanita itu menghampiri Dinda. "Kami minta maaf sama kamu, Din! Kami sudah menuduh kamu yang bukan-bukan. Kami tidak tahu jika kamu sudah menikah dengan Yudha," ucap Bu Mail dengan wajah tertunduk lesu.
"Saya juga minta maaf kepada pak Dedi dan Bu Lili. Kami sudah memfitnah yang bukan-bukan," sambung Bu Rojak.
Pak Dedi pun berkata kepada kedua wanita itu. "Baguslah kalau ibu-ibu sudah sadar. Lain kali jika ada sesuatu ada baiknya ibu-ibu tanyakan dulu. Jangan ambil pendapat sendiri. Nah kalau seperti ini siapa yang malu? Toh ibu-ibu sendiri yang malu, kan!"
Bu Rojak dan Bu Mail tampak menundukkan wajahnya sambil tersenyum malu.
"Sudah ya ibu-ibu. Silakan pulang ke rumah, urus suaminya. Itu lebih berkah daripada ngurusin saya. Lagipula saya udah ada yang ngurusin iya kan, Mas!" sahut Dinda sambil bergelayut pada lengan sang suami.
Yudha tersenyum bangga. "Istri saya benar. Ibu-ibu tidak perlu ngurusin istri saya. Saya lebih pandai mengurusnya," ucap Yudha sambil merremas pantat sang istri. Seketika Dinda menoleh ke arah sang suami yang saat itu terlihat cuek dengan melempar senyum pada para tetangga.
"Ihhh dasar cowok! Tangannya nggak mau diem!" batin Dinda yang membiarkan tangan sang suami merayap-rayap pada bagian sensitifnya.
__ADS_1
*
*
*
Pada akhirnya, semua warga bubar dan fitnah keji itu akhirnya berakhir. Pak Dedi dan Bu Lili teramat senang karena pada akhirnya anak dan menantunya sudah akur kembali.
Dinda mengajak sang suami untuk masuk ke dalam rumah. Yudha terlihat gemas dan mencubit pipi sang istri sambil bercanda. Dinda yang merasa geli, wanita itu mencoba untuk mengusapnya.
"Ihhh Mas, apa sih malu sama ayah dan ibu!"
"Gemas! Pingin cubit aja!" sahut Yudha.
"Cubit cubit! Sakit tahu!"
Pak Dedi dan Bu Lili ikut tertawa melihat tingkah keduanya. Sehingga mengingatkan pak Dedi akan masa mudanya bersama sang istri.
"Melihat kebahagiaan mereka jadi ingat pas kita pacaran dulu ya, Bu! Ibu masih ingat nggak!" bisik pak Dedi sambil melirik ke arah sang istri.
"Hah! Pas kita pacaran!?" sahut Bu Lili mengingat-ingat.
"Iya, masa ibu lupa sih. Kita kejar-kejaran gitu kan! Kayak di film-film India tuh!" ucap pak Dedi sambil senyum-senyum sendiri.
"Heleh, Ayah ayah. Kita tuh bukan kejar-kejaran karena romantis-romantisan tapi ibu nagih hutang karena ayah janji bayar hutang, eh tapi ternyata nggak dibalikin duit ibu, lupa ya kalau pernah pinjem duit dua puluh ribu buat beli bensin, alasannya dompet ketinggalan tapi sebenarnya nggak punya duit, kan!" ucap sang istri yang membuat pak Dedi lemas.
"Hhh itu kan dulu, Bu. Biarpun Ayah bokek toh Ibu juga cemburu kalau ayah bonceng si Mila, anaknya pak lurah!" sahut pak Dedi yang tidak mau kalah dengan istrinya.
Spontan Bu Lili berkacak pinggang dan menjewer telinga sang suami. "Ehh malah nyebut-nyebut nama si Mila. Ya udah kawin sono sama si Mila. Enak tuh jadi mantu pak lurah," ucap Bu Lili yang terlihat mulai bersedih. Melihat sang istri yang tampak cemberut. Pak Dedi pun mulai merayu sang istri dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
"Aduh jangan marah dong, Bu. Ayah kan cuma bercanda. Lagipula siapa juga yang demen sama Mila. Ayah cuma cinta sama ibu aja. Mila emang anaknya pak lurah. Tapi ibu kan kembangnya desa. Sebagai cowok terganteng sekampung ya Ayah pilih ibu lah. Biar nanti anak-anak kita ikut cakep juga eheee!" ungkap pak Dedi sambil tersenyum malu.
"Halah gombal!" Bu Lili langsung menyahuti dengan kesal.
"Kok gombal sih, kalau Ayah nggak cinta sama ibu mana mungkin ada Dinda dan Putri yang cantik jelita. Lihat suami-suami mereka! Nggak ada yang berwajah pas-pasan. Mantu kita ganteng-ganteng kayak Ayah, tapi banyakan mereka sih. Dinda dan Putri ada karena adanya cinta kita berdua, Bu."
Ucapan pak Dedi tiba-tiba membuat Bu Lili tersipu malu sambil mencubit pinggang suaminya. Kemesraan dan kehangatan pak Dedi dan Bu Lili membuat Dinda dan suaminya terpaku.
Pasangan pengantin baru itu ikut senyum-senyum melihat pasangan yang sudah puluhan tahun itu masih terlihat mesra.
"So sweet banget ya mereka!" ucap Yudha tiba-tiba.
"Hmmm dari dulu Ayah dan ibu selalu menunjukkan kekonyolan mereka. Biarpun begitu mereka tidak pernah sekalipun menunjukkan kepada kami anak-anaknya saat mereka bertengkar. Mereka selalu mengajarkan kepada kami tentang kasih sayang dan saling mencintai," sambung Dinda sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Yudha bersedih saat Dinda menceritakan kebahagiaan keluarganya. Pria itu mendadak berkaca-kaca dan teringat akan kedua orang tuanya sudah lama meninggal.
"Kamu sangat beruntung masih memiliki orang tua yang utuh dan menyayangimu. Sedangkan aku ...."
Yudha tidak melanjutkan kata-katanya karena dirinya tak kuasa menahan rasa sedih karena teringat akan kedua orang tuanya yang sudah tiada. Dinda seketika memeluk sang suami dan memberikan kenyamanan untuk pria itu.
"Kamu tidak sendirian, Mas. Aku akan selalu bersamamu. Ayah dan ibu pasti menyayangimu seperti anak kandung sendiri. Percayalah! Kami semua menyayangimu," seru Dinda.
Yudha menyambut pelukan sang istri dan menciumi puncak kepala wanita yang sudah menjadi bagian terpenting dari hidupnya itu.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Dinda! Hanya kamu wanita yang bisa membuat hidupku bersemangat lagi, aku sangat mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu, Mas!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1