
Yudha terus mengetuk pintu kamar Dinda. "Ayo lah, Sayang! Plis buka pintunya. Aku tidak akan pergi sebelum kamu membukakan pintu untukku. Aku minta maaf, tapi percayalah aku sangat mencintaimu, Din! Kau tahu itu!" Dinda mendengarkan ucapan sang suami. Namun, hatinya terlanjur kecewa. Hal yang sangat tidak ia sukai adalah kebohongan dan Yudha sudah membohongi dirinya mentah-mentah.
Cukup lama mereka masih menempel pada daun pintu. Sampai Yudha harus terduduk di lantai dan berharap sang istri segera membuka pintu untuknya. Begitu juga dengan Dinda. Ia pun juga terduduk di atas lantai sembari memeluk kedua lututnya. Kepalanya mendongak dan ia pun berpikir keras bagaimana caranya menghadapi sang suami.
Sementara itu Bu Lili dan pak Dedi begitu kasihan melihat menantu mereka yang begitu menyayangi putrinya. Pria itu rela bersimpuh di depan pintu menunggu Dinda yang tak kunjung keluar dari kamar.
"Dinda benar-benar keterlaluan. Kasihan suaminya, Bu! Biar Ayah yang memanggil Dinda lagi!" ucap pak Dedi yang hendak membuka paksa pintu kamar Dinda.
"Tunggu, Yah! Coba lihat!" sahut Bu Lili saat handel pintu kamar Dinda mulai bergerak. Sepertinya Dinda akan segera membuka pintu kamarnya.
Benar saja, Dinda memang membuka pintu kamarnya. Seketika itu Yudha segera berdiri dan menatap wajah sang istri yang sangat dirindukannya. Dinda menatap wajah sang suami untuk kali pertama.
"Omaigad, ini beneran wajah suamiku? Ternyata Mas Yudha lebih tampan dari di tipi-tipi, ya ampun jadi setiap malam aku bercinta dengan Mas Yudha. Pantesan aku suka nambah. Ternyata suamiku emang ganteng! Eh eh aku kan lagi marahan ceritanya. Hmm okelah kamu bohongin aku, Mas. Tapi aku juga akan mengerjaimu dulu, kayaknya kamu harus merasakan sedihnya dibohongi." Dinda membatin sembari menatap wajah sang suami yang teramat sangat tampan.
"Dinda, istriku! Aku kangen sekali padamu, Sayang!"
Yudha langsung memeluk sang istri dengan penuh kerinduan. Namun, rupanya Dinda tengah menerapkan sandiwaranya dan berpura-pura tidak peduli. Tapi sebenarnya ia juga sangat merindukan suaminya.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Mas! Hmm harum tubuh kamu ini yang bikin aku pingin peluk kamu terus. Tapi aku sedang gondok sama kamu. Aku akan sapih kamu sebagai hukuman karena kamu udah berani bohong," jawab Dinda dalam hatinya.
Masih dalam ekspresi datar, Dinda tidak membalas pelukan sang suami. Justru ia mendorong tubuh suaminya sehingga Yudha sedikit mundur.
"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, Mas. Sebaiknya kamu pulang saja!" ucap Dinda sambil tertawa kecil dalam hatinya.
__ADS_1
"Pulang katamu? Aku akan pulang jika kamu ikut bersamaku. Aku tidak akan pulang sebelum membawamu kembali," kata Yudha dengan memohon.
"Jika aku tidak mau? Kamu mau apa? Aku tidak mau lagi bertemu dengan mantan pacarmu itu yang sok itu,"
"Zora, kamu tidak usah mendengarkan wanita itu. Dia itu gila. Aku akan tetap di sini bersamamu. Bahkan, jika perlu aku akan meninggalkan dunia keartisan yang selama ini sudah membesarkan namaku. Aku lebih memilih tinggal di sini bersamamu. Asalkan kita selalu bersama," jawab Yudha dengan tatapan matanya yang penuh kerinduan.
Sekilas Dinda melihat ke arah sang suami. Sungguh, dirinya ingin sekali memeluk suaminya dan tidak akan melepaskannya. Tapi kali ini Dinda ingin tahu seberapa besar cinta Yudha kepadanya, sebagai bukti jika Yudha benar-benar minta maaf.
"Ya ampun, Mas. Aku tuh pingin banget peluk kamu. Aku kangen nyium bau ketek kamu, Mas. Hmm tapi tidak sekarang. Aku mau tahu dulu seberapa kamu berjuang untuk mendapatkan aku. Bukan cuma omongan saja yang aku perlukan. Tapi bukti, apa kamu bisa menjauh dari kehidupan glamormu demi hidup sederhana bersamaku di tempat ini," batin Dinda yang terlihat gelisah.
Dinda terdiam hingga akhirnya Bu Lili dan pak Dedi menghampiri mereka berdua. "Dinda, lihatlah suamimu! Dia benar-benar ingin minta maaf padamu, Nak. Maafkanlah dia, lupakan kejadian itu, toh sekarang kamu sudah bisa melihat. Kamu juga sudah kelihatan lebih sehat. Nak Yudha sudah menunjukkan kesungguhan dan cintanya kepadamu. Maafkan ya, Din!" seru pak Dedi.
"Iya, Din. Apa kamu tidak kasihan kepadanya. Coba lihat! Nak Yudha sepertinya sangat merindukanmu. Lebih baik kalian berbaikan gih! Kita pasti senang kalau kalian baikan lagi. Biar kita cepet-cepet punya cucu. Iya kan, Yah!" sahut Bu Lili sambil tersenyum kepada suaminya. Yudha pun tersenyum malu-malu saat kedua mertuanya menyinggung tentang cucu.
Sementara itu Dinda tampak cuek dan berkata. "Pokoknya Dinda masih kesal sama Mas Yudha. Ayah dan ibu plis jangan maksa aku untuk baikan dengannya."
Mendengar ucapan dari sang mertua. Yudha pun menjawab. "Tidak apa-apa, Yah. Saya bisa mengerti perasaan Dinda. Saya akan bersabar sampai Dinda mau memaafkan saya. Saya tidak akan kembali ke kota sampai Dinda mau menerima saya lagi,"
"Loh, terus bagaimana dengan sinetron yang kamu bintangi kalau kamu tinggal di sini terus? Kamu juga punya kesibukan, Nak!" sahut bu Lili.
"Saya sudah memikirkan matang-matang, Bu. Saya tidak akan kembali ke kota jika Dinda juga tidak mengizinkannya. Saya akan tinggal di sini dan menjalani rumah tangga di kota kecil ini. Tentunya bersama istri," ungkap Yudha yang membuat kedua orang tua itu terharu.
"Ya ampun, Din! Kurang apa coba baiknya suamimu ini. Dia rela meninggalkan dunianya demi kamu. Sudah, maafkan saja! Nggak usah ngambek-ngambek segala. Ayo peluk suamimu!" titah sang ayah kepada putrinya.
__ADS_1
"Tapi, Yah!"
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya ayah tidak mau putri ayah menjadi istri yang membuat suaminya bersedih. Cepat ajak suamimu masuk!" sekali lagi pak Dedi memaksa Dinda untuk berbaikan dengan Yudha.
"Iya iya!" Dinda terpaksa menurunkan egonya. Meskipun sebenarnya ini cuma prank semata. Karena sesungguhnya Dinda juga ingin sekali memeluk sang suami.
Dengan perlahan, Dinda melangkahkan kakinya menuju ke arah sang suami. Yudha terlihat begitu bahagia. Bahkan pria itu merentangkan kedua tangannya dan menyambut kedatangan sang istri ke dalam pelukannya.
Hampir saja Dinda sampai di hadapan sang suami. Dengan cepat Yudha menarik tangan sang istri dan segera membawanya ke dalam pelukannya. Dinda menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami. Meskipun ia sedang akting marah tapi tak bisa dipungkiri jika dirinya begitu bahagia memeluk suaminya.
"Terima kasih, Sayang! Akhirnya aku bisa bersamamu lagi," ucap Yudha sambil menciumi puncak kepala sang istri.
Melihat pemandangan itu. Pak Dedi dan Bu Lili terlihat begitu bahagia. Mereka pun segera meninggalkan kedua pasangan itu agar bisa leluasa untuk berbicara.
"Mas Yudha, aku tuh kangen banget, Mas. Aku kangen dipeluk seperti ini," batin Dinda sembari memejamkan matanya mendekatkan tubuh mereka.
Cukup lama mereka berpelukan. Seketika Dinda membuka kedua matanya saat ia merasakan sesuatu yang terasa mulai mengganjal di perutnya.
"Kok keras!" pikir Dinda yang mulai piknik.
Spontan Dinda mendorong dada suaminya dan mendongak ke atas. "Ada apa?" tanya Yudha sambil terus memeluk istrinya.
"Ada yang mengeras!" balas Dinda yang tentunya membuat Yudha tertawa kecil.
__ADS_1
"Hmm ... sepertinya dia tahu jika ada lawan mainnya di sini!" jawab Yudha sambil tersenyum smirk.
...BERSAMBUNG...