
Sementara di tempat lain. Di sebuah rumah yang hanya dihuni oleh pasangan pengantin baru itu terlihat sepi. Bagaimana tidak sepi, penghuni rumahnya sedang berada di dalam kamar dan mereka sedang menikmati indahnya masa-masa pengantin baru. Apalagi di rumah tidak ada Bu Iin dan Pak Bambang. Mereka sedang pergi ke luar kota selama satu bulan karena orang tua Bu Iin sedang sakit.
Tiada waktu selain berduaan. Seolah dunia milik berdua. Rama sendiri setelah pulang mengajar juga tidak pernah lagi pergi nongkrong bersama teman-teman seprofesinya. Meskipun ia masih sering dihubungi oleh teman-temannya hanya untuk sekedar ngobrol di cafe.
Namun, karena di rumah ia sudah mempunyai makanan enak dan makanan terlezat sepanjang masa. Maka, Rama pun menolaknya dengan halus.
Jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari. Waktu subuh yang masih terasa begitu dingin. Putri yang saat itu tidur dengan dipeluk oleh sang suami. Tiba-tiba ia mulai terbangun.
Putri melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul empat pagi. Ia pun segera membangunkan suaminya untuk pergi mandi dan setelah itu sholat subuh.
"Mas, ayo bangun Mas! Kita mandi yuk!" ajak Putri sambil menggerak-gerakkan tubuh suaminya. Rama pun mulai membuka kelopak matanya dan perlahan ia melihat ruangan yang masih terlihat gelap. Matanya masih betah untuk menutup kembali. Ia pun semakin menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher istrinya yang sudah penuh dengan tanda cinta berwarna merah kebiruan.
"Hmmm ... bentar lagi, ya! Aku masih ngantuk banget." Rama semakin mempererat pelukannya dengan menaikkan satu kakinya pada paha sang istri.
"Tapi Mas! Aku harus bangun pagi. Aku harus bersih-bersih, masak, cuci baju dan buatin sarapan untuk kamu," ucap Putri.
"Udahlah, nanti saja. Kamu di sini dulu, temani aku bentar. Aku masih capek banget, semalam kamu bikin aku semangat sampai 4 ronde," ungkap Rama yang seketika membuat Putri tertawa kecil.
"Apaan? Aku nggak ngapa-ngapain kok. Kamu aja yang lebay!" sahut Putri.
"Nggak ngapa-ngapain apanya. Kamu kempit terus gimana nggak pingin nambah!" jawab Rama dengan tangannya mulai bermain pada dua buah Cherry itu.
__ADS_1
"Ahh udah deh, Mas. Jangan mulai lagi. Ayo kita bangun Sholat subuh dulu!" titah Putri mengingatkan suaminya.
Spontan, Rama pun terpaksa harus membuka matanya dan beranjak bangun. "Iya, baiklah istriku yang bawel, ayo kita mandi terus sholat. Makasih ya udah diingatkan. Kamu memang istriku yang paling baik!" puji Rama sambil mencium pipi Putri.
"Bukankah seperti itu, kita harus saling mengingatkan untuk kebaikan. Sekarang waktunya kita menghadap kepada Rabb kita. Jangan sampai lupa untuk bersyukur karena nikmat yang sudah diberikannya kepada kita. Kamu adalah suamiku. Aku ingin menjadi makmum yang baik dan penurut. Aku juga ingin melihat imamku selalu tunduk pada tuhan Nya. Agar Suamiku bisa membawaku ke dalam Jannah Nya." Ucapan Putri semakin membuat Rama bertambah cinta.
"Sekarang istriku sudah sangat pandai membuatku kagum. Ternyata tidak salah aku dijodohkan dengan muridku yang super pemalas ini. Ternyata dibalik sikapnya yang absurd terdapat sifat penyayang dan penurut. jadi makin cinta. Pastinya aku akan selalu membawamu ke dalam surga. Surga kita tentunya!!" sahut Rama dengan senyum smirk.
"Surga kita?? Hmmm iya iya iya. Ternyata menaklukkan pak guru killer itu mudah sekali ya? Cukup disenyumin aja udah klepek-klepek!" ucap Putri sambil tersenyum meledek.
"Disenyumin? Iya lihat-lihat dulu bibir mana yang tersenyum!!" sahut Rama dengan senyum seringainya.
"Ihhhh mesum nih pak Rama. Udah ah ayo mandi keburu siang. Aku belum masak, Mas. Nanti kamu nggak sarapan gimana?"
Pasangan pengantin baru itu terlihat begitu romantis dan penuh kemesraan. Usai mereka melakukan sholat subuh. Rama bertanya kepada istrinya tentang doa yang ia panjatkan setelah sholat. Karena Rama melihat sang istri terlihat khusuk memanjatkan doa saat itu.
"Aku mau ke dapur dulu ya, Mas?" pamit Putri setelah ia menyimpan kembali mukena miliknya.
"Tunggu dulu! Buru-buru amat sih! Sini aja dulu!" sahut Rama sambil menarik pinggang istrinya dan mengajaknya untuk duduk.
"Tapi keburu siang, Mas. Sebentar lagi kamu pergi mengajar," ucap Putri sambil mengusap rambut suaminya yang masih kelihatan basah.
__ADS_1
"Halah itu urusan gampang. Nanti kita beli makanan jadi aja. Banyak tuh di pasar, nanti kita pergi beli di sana. Sekarang jawab pertanyaanku. Ngomong-ngomong tadi kamu berdoa apa kok serius banget. Kamu nggak doain aku impoten, kan?" tahu Rama yang memaksa istrinya mencubit hidung Rama.
"Kamu tuh ngomong apaan sih, Mas! Nggak mungkinlah aku mendoakan suamiku impoten!" balas Putri.
"Terus, apa dong? Aku sampai kepo, aku lihat kamu dalem banget doanya!" Rama berkata sembari menyelipkan rambut sang istri yang terjatuh di sebagian wajahnya.
Putri tersenyum malu dan menundukkan wajahnya. "Aku malu. Kamu juga mau tahu aja!"
"Ya nggak apa-apa dong. Bukankah tidak ada rahasia di antara kita berdua? Kalau aku sih berdoa agar rumah tangga kita selalu bahagia sampai akhir hayat memisahkan kita ...."
"Ssssttt jangan bicara seperti itu, Mas! Aku berharap kita selalu bahagia bukan hanya di dunia ini tapi sampai akhirat nanti. Aku ingin kita dipertemukan lagi di kehidupan yang akan datang. Kehidupan yang sebenarnya, semoga pernikahan kita akan selalu abadi sampai ke surganya Allah, dan tentunya semoga segera dihadirkan zuriat untuk kita berdua, keturunan yang shalih dan shalihah. Pintar seperti kamu ....!"
Ungkapan Putri sontak membuat Rama terharu. Istrinya memang masih berusia jauh lebih muda dari dirinya. Namun, pikirannya untuk hari depan sangatlah panjang. Bahkan Putri berharap rumah tangga mereka kekal sampai di akhirat kelak. Itu artinya Putri tidak akan pernah menduakan suaminya meskipun dirinya ditinggalkan Rama pergi terlebih dahulu menghadap ilahi. Karena istri yang setia sampai akhirat adalah mereka yang juga setia ketika ditinggal wafat oleh suaminya.
"Aku beruntung sekali memiliki istri sepertimu. Aku bisa melihat kesetiaan begitu nyata ada pada seorang wanita yang dulu pernah aku marahi. Seorang wanita yang sangat malas sekali mengerjakan tugas matematika. Tapi, kali ini aku baru tahu jika wanita itu tidak malas untuk membahagiakan suaminya. Ia selalu menyebut nama suaminya di dalam doanya. Terima kasih banyak, Sayang! Terima kasih banyak atas semua cinta yang kamu berikan untukku!!" balas Rama sembari mencium tangan istrinya penuh cinta.
Untuk sejenak, Putri melihat dari kedua mata sang suami air mata itu menetes membasahi wajah maskulin Rama. Tentu saja Putri menjadi panik dan segera mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh menetes itu.
"Kamu menangis, Mas!" seru Putri yang merasa bersalah. Apakah ucapannya itu menyakiti suaminya.
"Aku menangis bahagia. Aku sangat bahagia, Sayang!" Rama memeluk istrinya begitu erat seolah ia tidak mau melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...