
Dinda spontan melihat ke arah kedua wanita itu. Benar saja ternyata itu apa yang dikatakan oleh kedua wanita itu benar-benar suaminya.
"Mas Yudha!" Dinda terperangah dan melepaskan selang air begitu saja. Lantas ia pun segera berlari masuk ke dalam rumah untuk bersembunyi.
Yudha melihat Dinda berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu pun segera meninggalkan kedua wanita itu begitu saja dan langsung masuk ke halaman rumah pak Dedi.
"Eh ya ampun Yudha Permana, aktor tampan idola kita ada di sini. Mimpi apa aku malam ini bisa ketemu artis tampan," seru Bu Rojak.
"Iya nih mas Yudha. Kita merasa terhormat di desa kita ini kedatangan aktor ganteng. Tahu nggak sih Mas Yudha. Kita tuh baper banget dengan aktingnya sebagai bang Jacob. Ya ampun menjiwai sekali, bikin hati kita meronta-ronta," sambung Bu Mail. Namun sayang, rupanya ucapan kedua wanita itu tidak digubris sama sekali oleh Yudha. Karena nyatanya Yudha sedang berlalu masuk ke halaman rumah pak Dedi.
"Ihhh kok malah pergi sih!"
"Ngapain Yudha ke rumah pak Dedi? Ada perlu apa dia?"
Kedua wanita itu tampak bingung. Mereka berdua pun mengintip Yudha yang saat itu sedang bertamu ke rumah pak Dedi.
"Kita intip di sini, Bu. Mau apa sebenarnya Yudha. Masa, artis terkenal kok datang ke rumah pak Dedi. Ihhh nggak level kan dengan Yudha yang ganteng dan kaya," sahut Bu Mail yang mengajak Bu Rojak memata-matai Yudha.
Sementara itu, Bu Lili dan pak Dedi terkejut saat melihat sang anak yang tiba-tiba berlari dan masuk ke dalam kamar, setelah itu Dinda segera mengunci pintunya.
"Dinda kenapa, Bu?" tanya sang ayah.
"Nggak tahu, Yah! Kayaknya dia ketakutan gitu!" balas Bu Lili yang juga bingung.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Dinda yang sudah berada di dalam kamar, ia pun semakin tidak tenang. Bagaimana bisa sang suami menyusul dirinya.
__ADS_1
"Mas Yudha, bagaimana dia tahu alamat rumahku? Ihhh aku tuh masih kesel sama kamu, Mas!" ucap Dinda yang terlihat khawatir. Wanita itu mondar-mandir dan merasa sangat tidak tenang. Ia pun merasa jika Yudha pasti akan merayunya untuk kembali pulang.
"Pokonya aku nggak mau balik ke kota. Aku ingin tinggal di sini saja. Mas Yudha nggak bisa memaksaku untuk tinggal bersamanya," gerutu Dinda yang terlihat semakin cemas.
Sementara itu, Bu Lili segera membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi sekali.
Setelah Bu Lili membuka pintunya. Wanita itu sangat terkejut saat melihat wajah sang menantu yang sedang tersenyum kepadanya.
"Assalamualaikum, Bu!" sapa Yudha sambil mencium tangan ibu mertuanya.
"Waalaikum salam Nak Yudha, astaghfirullah. Ibu kira siapa, ayo masuklah!" Bu Lili segera membawa menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Pak Dedi pun juga dibuat terkejut dengan kedatangan Yudha. Tentu saja kedua orang tua itu sangat bahagia ternyata Yudha datang ke rumah mereka untuk putrinya.
"Assalamualaikum, Yah! Bagaimana kabar kalian?" sapa Yudha kepada pak Dedi.
"Waalaikum salam. Kami baik-baik saja, ayo duduk!" jawab pak Dedi sambil mengajak menantunya duduk di kursi.
Pak Dedi menghela nafas, tentunya pria paruh baya itu tahu maksud kedatangan Yudha ke rumah, kalau bukan untuk menjemput putrinya.
"Hmm pantes saja Dinda lari ketakutan. Ternyata dia sudah melihat kamu terlebih dahulu. Ayah turut prihatin dengan masalah kalian. Dinda sudah cerita semuanya," ucap pak Dedi kepada Yudha.
"Saya minta maaf, Ayah. Saya merasa bersalah sudah tidak berkata jujur kepada Dinda. Seharusnya waktu itu saya bilang terus terang saja daripada akan jadi seperti ini. Saya sangat mencintai istri saya. Saya ingin meminta maaf kepadanya," ucap Yudha sambil menundukkan wajahnya yang sedih.
"Kami tahu perasaan Nak Yudha. Ayah dan ibu sudah berusaha untuk membujuk Dinda. Tapi saat ini Dinda masih susah diajak bicara. Sepertinya Nak Yudha harus sabar. Dinda memang sedikit keras kepala. Mohon dimaklumi sikapnya. Tapi percayalah Dinda sebenarnya juga sangat mencintai Nak Yudha. Ibu bisa merasakan itu. Perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi oleh anaknya. Meskipun Dinda berusaha meyakinkan kami bahwa dia kecewa dengan Nak Yudha. Percayalah! Sebenarnya Dinda sangat menyayangi Nak Yudha," sambung Bu Lili yang cukup membuat Yudha sedikit lega. Paling tidak dirinya menjadi semangat untuk merayu sang istri untuk pulang bersamanya.
Cukup lama Yudha berbincang-bincang dengan pak Dedi dan Bu Lili. Membuat tetangga mereka menjadi curiga. Terutama Bu Rojak dan Bu Mail yang sedari tadi mengintip Yudha.
__ADS_1
"Ih kok lama ya Yudha bertamunya? Sebenarnya mereka itu ada hubungan apa sih? Apa mungkin Yudha ada hubungannya dengan Dinda?" pikir Bu Rojak penasaran.
"Ya nggak mungkinlah, Bu. Emangnya siapa si Dinda itu sampai-sampai Yudha ada hubungannya dengan gadis itu. Ihh nggak mungkin banget!" sahut Bu Mail.
Karena terlalu lama menunggu Yudha keluar, akhirnya kedua wanita itu pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Sementara itu di dalam kamar. Dinda tidak berani keluar kamar sedikitpun. Karena ia sudah menduga jika Yudha pasti sudah berada di dalam rumahnya.
Tak berselang lama, Bu Lili mengetuk pintu kamar Dinda. Wanita itu mengajak menantunya untuk menemui putrinya dan berharap hubungan mereka bisa membaik.
"Dinda, ayo keluar, Nak! Ada Nak Yudha datang ingin bertemu denganmu," seru Bu Lili dari luar kamar.
"Dinda nggak mau ketemu, Bu. Suruh saja Mas Yudha pulang. Dinda mau tinggal di sini saja bersama ayah dan ibu," sahut Dinda.
"Jangan begitu, Nak! Suamimu jauh-jauh datang dari kota hanya untuk ingin bertemu denganmu," balas Bu Lili.
"Pokonya Dinda nggak mau ketemu sama Mas Yudha, Dinda masih kesel sama dia!"
Mendengar pengakuan dari istrinya dari balik pintu. Yudha pun meminta izin untuk berbicara kepada Dinda. Bu Lili mengizinkannya dan wanita itu pun pergi agar menantunya bisa berbicara sepuasnya dengan sang putri. Yudha mendekatkan dirinya di depan pintu kamar Dinda dan mulai mengambil nafas.
"Dinda, Mas tahu kamu marah. Tapi aku mohon buka pintunya dong, Sayang! Mas kangen banget sama kamu, Mas ingin kamu menatap wajah Mas. Karena Mas tahu bahwa sebenarnya kamu sudah bisa melihat. Mas bahagia sekali mendengarnya. Ayolah Dinda, buka pintunya!" seru Yudha yang tentunya terdengar dari balik pintu.
"Aku masih marah sama kamu, Mas. Kamu jahat! Aku nggak mau ketemu sama kamu!" sahut Dinda dengan wajah sedihnya.
"Apa kamu tidak rindu sama Mas, ha! Mas nggak bisa tidur tanpa kamu, Sayang. Buka pintunya! Mas pingin peluk kamu. Mas kangen berat!"
__ADS_1
Mendengar suara sang suami. Dinda tampak berkaca-kaca. "Sebenarnya aku juga kangen banget sama kamu, Mas!" gumam Dinda dalam kegalauannya.
...BERSAMBUNG...