Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Menghirup angin surga


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu. Rama segera masuk ke dalam kelas tanpa menoleh lagi ke arah Joice. Ketiga siswa itu langsung menghampiri Joice yang sedang duduk di atas lantai sambil memegangi kakinya dan berpura-pura kesakitan.


"Wehee kita tolongin dia, Guys! Ini tugas anak PMR yang suka menolong!" ucap Wiro semangat.


Melihat ketiga pemuda itu mulai menghampirinya, Joice langsung berdiri seolah kakinya tidak terluka sama sekali. Tentu saja Wiro, Paidi dan Nanang melongo melihat Joice yang langsung bisa berdiri dengan sendirinya.


"Loh loh hei dia bisa berdiri, Guys!" sahut Nanang terkejut sambil menunjuk ke arah kaki Joice.


"Wah wah dia cuma ngeprank kita doang, anjay!" sahut Wiro sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan-jangan dia emang pinginnya ditolong sama Pak Rama, Guys!" ucap Paidi menambahkan.


Joice melihat ketiga kakak kelasnya dengan menyipitkan matanya. Ia pun langsung segera pergi ke kelasnya dengan wajah cemberut.


"Aneh tuh cewek! Cantik sih tapi kelihatan judes, amit-amit dah!" sambung Paidi.


Sedangkan Joice tampak kesal karena dirinya gagal cari perhatian kepada Rama. Gadis itu pun langsung masuk ke dalam kelasnya, kelas 11 B.


Sementara itu Rama Sud masuk ke kelas 12 A dan menyapa seluruh siswanya. "Selamat pagi anak-anak!"


Spontan semua yang ada di kelas itu terkejut bukan main. Ada yang sedang duduk di atas meja langsung turun dan duduk di bangkunya. Ada juga yang sedang sibuk ngerumpi langsung bubar dan kembali ke bangku masing-masing. Persis seperti ayam yang digertak. Mereka langsung membubarkan diri ketika sang guru killer datang.


Setelah semuanya duduk di bangku masing-masing. Mereka pun menjawab salam dari Rama. "Selamat pagi, Pak!"


Rama berdiri di depan kelas sambil memperhatikan seluruh siswanya. Tak berselang lama datang ketiga siswa lagi yang tak lain adalah Wiro, Paidi dan Nanang.


Rama melihat kedatangan ketiga muridnya dan menanyakan tentang siswi yang terjatuh di luar kelas tadi.


"Kalian sudah bawa anak itu ke UKS?" tanya Rama. Ketiganya menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kenapa kalian masuk kelas?" seru Rama sembari berdiri di depan mereka bertiga.


"Anak itu ternyata kakinya nggak sakit, Pak! Dia bisa berdiri sendiri, ya kan. Coba tanya Paidi dan Nanang. Beneran Pak!" jawab Wiro sambil melihat ke dua orang temannya.


Rama diam dan ia pun kemudian menyuruh mereka untuk duduk di bangku masing-masing.


"Ya sudah, duduk kalian!" titahnya sambil menunjuk ke bangku ketiga siswanya itu. Baik Wiro, Paidi dan Nanang segera duduk di bangku masing-masing.


Rama segera memerintahkan semua siswanya untuk mengeluarkan buku ulangan. Tentu saja hari ini jadwal utamanya adalah ulangan matematika.


"Hari ini kita tetap ulangan dari bab 5 sampai bab 8. Ingat! Tidak boleh ada yang nyontek, jika ada yang ketahuan nyontek kalian tahu apa hukumannya?" seru Rama ke seluruh siswanya.

__ADS_1


"Tahu Pak!!" sahut semuanya serentak.


"Bagus! Sekarang tulis yang sedang saya baca. Tulis soalnya lalu jawab di kertas masing-masing, mengerti!" ucap Rama sambil meraih tas nya yang ia letakkan di kursi.


Rama mulai membuka tas miliknya tersebut, kemudian ia langsung mengambil salah satu buku matematika yang akan ia buat soal ulangan untuk siswa-siswi nya. Namun, disaat Rama mengeluarkan buku tersebut, tiba-tiba saja ada sebuah benda yang ikut tersangkut di ujung buku. Benda berwarna putih berenda itu ikut nimbrung di dalam tas kerja miliknya.


Yang lebih mengejutkan adalah. Benda itu terjatuh di atas lantai dan tentunya semua siswa kelas 12 A mengetahui itu. Rama melototkan matanya ketika benda yang ia lepaskan dari tubuh sang istri itu ikut terbawa ke dalam tasnya.


"Astaga, jadi benda itu bersembunyi di dalam tasku. Pantas saja Putri tidak menemukannya, ahh sial!!" batin Rama yang langsung mengambil benda itu dari lantai.


Tentu saja, benda lembut itu menjadi pusat perhatian siswa-siswi. Mereka melototkan matanya ketika benda itu ikut terbawa ke dalam tas Rama.


"Guys! Bukannya itu onderdil cewe ya kan?"


"Ho oh tuh, kayak punyaku. Cuma punyaku warnanya kuning,"


"Punyaku warna pink, dulu kan kita belinya barengan sama Putri,"


"Ho oh tuh ingat banget, pas ada diskonan sepuluh ribu dapat 3 kan ya!"


"Tapi punya Putri kok masih bagus, sedangkan punyaku udah bolong,"


"Kamu makainya nggak hati-hati sih, main tarik aja,"


"Wah parah nih Pak Rama. Saking tergila-gilanya sama Putri, sampai-sampai tuh CD dibawa ke sekolah,"


"Mungkin mereka habis nganu huhuhu!"


"Bikin dede bayi huaaa!!"


Para siswa cewek saling berbisik karena mereka tahu betul jika itu adalah celana dalaam wanita. Mereka pun cekikikan ketika melihat benda itu terjatuh di atas lantai dan membayangkan adegan Rama melepaskan benda itu dari tubuh Putri.


Setelah Rama berhasil mengambil benda tersebut. Ia pun langsung menyimpannya di dalam tas dan ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal siswa-siswanya sudah heboh cekikikan melihat Rama yang panik karena celana dalaam istrinya ikut terbawa.


Rama berdehem dan tetap menunjukkan wajah killernya. Tak perduli jika baru saja benda keramat istrinya hampir saja membuat dirinya panik dan kalang kabut.


Rama melihat beberapa siswi sedang berbisik dan saling tertawa. Ia pun dengan tegas berkata kepada mereka. "Heh! Sekarang waktunya ulangan, bukan waktunya ngerumpi!" seru Rama dengan wajahnya yang dingin.


Beberapa siswa tersebut menundukkan kepalanya dan tampak takut sekali. "Ma-maaf Pak!" ucap mereka sambil saling melirik.


"Maaf maaf, apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak tahu apa kalau sekarang waktunya ulangan?" cecar Rama dengan membulatkan matanya.

__ADS_1


"Kami minta maaf, Pak. Tadi kami nggak sengaja lihat benda itu jatuh dari tas Bapak, Itu milik Putri kan, Pak? Soalnya itu mirip sekali dengan punya kami. Karena kami dulu pernah beli benda itu pas ada diskonan, Pak. Murah meriah cuma 10 ribu dapat tiga, tapi punya Putri kok masih bagus. Sedangkan punya saya udah aus karetnya. Dipakai melorot sendiri. Makanya kami heran!" ucap salah seorang muridnya yang bernama Nunung.


Spontan semua murid-murid Rama tertawa mendengar ucapan Nunung. Membuat Rama garuk-garuk pelipisnya.


"Aih si Bapak, cinta banget ya sama Putri, sampai dibawa segala tuh celana!" celetuk Wiro.


"Cieee besok bisa saya tiru ya, Pak. Jika nanti saya sudah punya istri. Saya juga mau bawa itu ke tempat kerja," sambung Paidi.


"Mantap, Pak! Mungkin itu adalah semangat Pak Rama! Semangat Pak!!" seru Nanang dengan gembiranya. Spontan wajah Rama berubah menjadi merah karena ucapan dari murid-muridnya.


"Sudah-sudah cukup! Sekarang kita mulai ulangannya!!" ucap Rama sedikit berteriak dan sontak semua siswa-siswinya diam.


Rama melihat semua siswanya sudah tenang dan menurut kepadanya. Ia pun segera melanjutkan membaca soal ulangan itu di depan kelas.


Setelah Rama membacakan soal ulangan. Ia pun segera memerintahkan siswanya untuk segera mengerjakannya dalam waktu tiga puluh menit.


"Soal harus selesai dalam waktu 30 menit. Selesai tidak selesai kalian harus segera mengumpulkannya, mengerti!" ucap Rama dengan tegas.


"Mengerti, Pak!!"


Rama pun mulai duduk di kursi guru sambil mengawasi siswanya yang sedang ulangan. Suasana terlihat aman dan serius. Murid-muridnya mengerjakan soal-soal ulangan dengan tertib.


Tiba-tiba saja ia melirik ke dalam tas di mana ia memasukkan benda itu di dalamnya. Ada senyum terukir dari bibir pria introvert itu. Senyum saat teringat dirinya melepaskan celana itu dari tubuh Putri.


Rama perlahan mengambil benda lembut itu lagi. Ia menggenggamnya. Ukuran dan bahan yang dibuat benar-benar lembut. Membuat Rama mudah untuk menggenggamnya. Rama mengangkat tangannya yang sedang menggenggam benda milik istrinya. Setelah itu ia meletakkan genggaman berisi benda itu sejajar dengan wajahnya.


Rama memejamkan matanya ketika ia seolah sedang menghirup angin surga yang tentunya membuatnya candu dan tergila-gila. Seolah harum tubuh istrinya mampu membuat Rama lupa segalanya.


Di saat yang bersamaan, siswa-siswanya melihat Rama yang sedang terpejam dengan kedua tangannya berada pada wajahnya. Tentu saja pemandangan itu membuat murid-muridnya memanfaatkan situasi itu saling mencontek.


"Woi, Pak Rama tumben ngantuk?" bisik Wiro.


"Mungkin semalam dia begadang bikin dede bayi, kecapekan!" sahut Paidi.


"Asekkk kita bisa nyontek nih! Lihat punyamu dong, nomor 5 jawabannya apa?" sahut Wiro sambil melihat lembar jawaban Paidi.


"Eh jangan dong! Aku susah-susah mikir kamu contek. Ogah ah, mikir sendiri!" balas Paidi.


"Ahhh dasar pelit! Aku sumpahi kuburanmu sempit tahu rasa!" umpat Wiro.


Di saat murid-muridnya sibuk mencontek, Rama justru sibuk nge-fly dan menikmati harum tubuh sang istri yang tertinggal pada benda itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2