
Perlahan, Nanang mengusap wajahnya yang terkena semburan dari mulutnya. Rama pun langsung memberikan tisu untuk sang murid sambil menahan tawanya. Sedangkan kedua gadis itu sudah berguling-guling sambil mendekap perut mereka.
"Tega kalian ngetawain aku! Pak Rama kalau kesal sama saya, ngga gini-gini juga dong, Pak. Tadi muka saya dilempar dengan serbet. Eh sekarang malah disembur!" sahut Nanang dengan wajah melasnya.
"Iya, maafkan Bapak. Kamu juga sih! Bikin bapak keselek aja!" ucap Rama.
Nanang pun membersihkan wajahnya dan mengelapnya dengan tisu. Namun, pemuda itu belum puas kalau tidak mencuci wajahnya dengan air.
"Aduhhh! Saya pamit ke kamar mandi dulu ya! pedes nih muka! Bau ilernya pak Rama, njiir!" celetuk pemuda itu sambil beranjak pergi ke kamar mandi.
Akhirnya, Rama pun tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya. Pria itu pun tertawa lepas saat teringat bagaimana ekspresi wajah Nanang saat dirinya menyemburkan makanan dari mulutnya.
Nanang segera membersihkan wajahnya. Tak berselang lama, pemuda itu kembali bergabung bersama pacar, guru dan temannya.
Wajah Nanang terlihat lebih segar dari sebelumnya. Pemuda itu pun ikut makan bersama. Tiba-tiba saja di tengah-tengah mereka menikmati makanan itu. Putri merasakan jika perutnya sangat mual.
Ia terlihat ingin sekali muntah karena perutnya seperti diaduk-aduk. Ririn dan Nanang yang melihatnya Putri ingin muntah. Mereka pun khawatir melihat Putri seperti itu.
"Kamu kenapa, Put?" tanya Ririn.
"Nggak tahu nih! Perutku rasanya seperti diaduk-aduk!" pekik Putri sambil mendekap perutnya.
"Ya ampun! Jangan-jangan kamu masuk angin lagi! Nih aku bawain minyak kayu putih. Biar mualnya sedikit berkurang." sahut Ririn sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Terima kasih banyak, Rin! Tapi kayaknya aku sudah nggak tahan lagi. Perutku rasanya mual sekali apalagi lihat wajahnya Nanang, tambah pingin muntah!" ucapan Putri tentu saja membuat semuanya tertawa kecil kecuali Nanang.
"Njiir! Tambah pingin muntah? Emangnya mukaku ini seperti sampah! Padahal aku baru saja cuci muka loh!" ucap Nanang yang membuat Putri berhenti menertawakan temannya itu.
"Iya, sorry! Tapi beneran nih, aku mau muntah!" Putri pun beranjak untuk menjauhi mereka karena dirinya sudah tidak tahan.
Sementara itu, Rama pun tak kalah khawatir dengan kondisi istrinya. Pria itu segera mengantarkan sang istri untuk memuntahkan isi perutnya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Biar aku antar Putri. Nanang, Ririn, kalian berdua tunggu di sini. Bapak mau ke kamar mandi dulu!" pamit Rama sambil memapah tubuh sang istri.
"Iya, Pak."
"Nggak-nggak, kamu di sini aja, Mas! Biar Ririn aja yang mengantarku. Perutku makin mual bau badan kamu!" ucapan Putri membuat Nanang mengerutkan keningnya.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Ririn! Kamu antar Putri ke kamar mandi ya!" sahut Rama yang pada akhirnya ia tetap berada di tempatnya.
Akhir, Ririn dan Putri pergi. Kini tinggal dua cowok yang beda profesi itu berada di dalam satu meja. Nanang yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Putri. Pemuda itu pun bertanya kepada sang guru.
"Si Putri kenapa sih, Pak? Apa Bapak dan Putri sedang bertengkar?" tanya Nanang sambil berbisik.
"Bertengkar? Enggak, kami berdua baik-baik saja."
"Kok saya lihatnya Putri tuh eneg sekali lihat Bapak. Masa, punya suami cakep malah pingin muntah sih kalau dideketin, kayak wanita yang sedang hamil saja!" celetuk Nanang yang tiba-tiba menyebut tentang wanita hamil.
Rama masih diam karena dirinya tidak ingin murid-muridnya tahu jika Putri sedang hamil. Sebisa mungkin ia harus menyimpannya rapat-rapat sebelum sang istri lulus sekolah.
Wajah pemuda itu pun terlihat sumringah karena dirinya pasti semakin semangat untuk menggoda gurunya itu.
"Ahaaaa! Sekarang saya tahu kenapa Putri bisa seperti itu, Putri pasti sedang hamil. Iya kan, Pak?"
Rama terkejut dan berusaha untuk tetap menutupi kehamilan sang istri. "Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Memangnya kamu tahu tentang wanita yang sedang hamil?" tanya Rama sambil terus makan.
"Ya elah! Tahulah Pak. Emak saya pernah bercerita sama saya. Dulu katanya pas emak saya hamil Nanang. Emak juga mual-mual gitu, Pak. Setiap hari muntah terus sampai badan emak saya lemes ngga bertenaga. Apalagi pas didekati bapak, beuh! Makin parah tuh muntahnya," ungkap Nanang yang tiba-tiba membuat Rama penasaran.
"Lalu?" Rama semakin antusias karena pengalaman ibunya Nanang hampir sama dengan dirinya.
"Ya gitu, Pak. Bapak saya terpaksa menjauh sebentar dengan emak nya Nanang. Takut jika emaknya Nanang semakin parah. Ada bapak saya lewat saja, Emak sudah menutup hidungnya. Sebenarnya kasihan juga sama bapak."
"Kenapa kasihan? Ya pastinya lebih kasihan Emak kamu lah!" sahut Rama yang menyamakan kondisi ibunya Nanang dengan sang istri.
__ADS_1
"Gimana nggak kasihan, Pak. Emak dan bapak tidur terpisah selama 3 bulan eh bukan 4 bulan, Pak."
Mendengar ucapan dari sang murid. Tentu saja Rama tercengang setengah mati. Sehari tidak tidur dengan istrinya saja. Rama seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Apalagi 4 bulan. Bisa-bisa Rama seperti orang depresi.
"Hah! 4 bulan tidur terpisah?? Kuat banget bapakmu? Emang bisa tahan selama 4 bulan nggak bareng emak kamu?" sahut Rama yang membuat Nanang semakin ingin menggoda sang guru.
"Makanya itu, Pak. Sehari dua hari sih nggak masalah. Ini 4 bulan nggak loh, Pak. Coba Pak Rama thinking, Bapak yang biasanya bobo bareng sama Putri, adu skill tiap malam. Eh, tiba-tiba terpisahkan gara-gara hamil. Pasti nggak enak banget kan, Pak!" ucap Nanang dengan serius. Rama pun lebih serius karena dirinya sedang mengalami.
"Ya emang pasti nggak enak banget! satu hari nggak nge-charge saja rasanya lemes banget apalagi sampai 4 bulan. Kebangetan banget tuh, kasihan bapak kamu!" ucap Rama.
"Njiir, pak Rama setiap hari nge-charge rupanya. Awokoko!"
Nanang tersenyum girang saat tahu jika pernyataan Rama.
"Huss! Kamu jangan berpikiran macam-macam." sahut Rama.
"Saya nggak macam-macam kok, Pak. Tapi suer sih! Saya yakin tuh si Putri sedang hamil. Gimana nggak hamil, tiap hari dicolok sama Bapak, eh! Jadi pingin nikah juga kayak Bapak sama Putri. Bisa nyolok setiap hari tanpa takut dosa!"
Rama pun memijit pelipisnya berkali-kali. Entah makan apa muridnya itu sampai membuat dirinya capek meladeni Nanang yang super somplak.
"Nanang!!! Dari tadi kamu tuh bicaranya ngawur terus! Kamu tuh masih sekolah. Pikirkan saja sekolah kamu. Nggak usah mikirin kawin dulu!" sahut Rama.
"Hehehe, maaf Pak. Habisnya teman-teman tuh pada bilang kalau kawin itu enak, Pak. Emang gitu ya, Pak? Soalnya saya kan masih perjaka ting-ting. Jadi belum pernah begituan!" seloroh pemuda itu dengan berkata lirih. Rama pun tidak percaya dengan ucapan muridnya.
"Yakin belum pernah begituan? Lihat dari muka kamu tuh udah ketahuan kalau kamu pernah merasakannya, hayo ngaku?" sergap Rama yang tentunya membuat Nanang cengar-cengir.
"Nah kan? Pasti udah pernah melakukannya? Gitu ngomongnya perjaka ting-ting, preet!"
"Hehehe, emang sih Pak saya pernah melakukannya. Tapi suer dah Pak. Saya masih perjaka ting-ting, orang saya melakukannya dengan si sabun colek, enak awalnya. Setelahnya perih banget pak anjay. Setelah itu kapok dah saya!" aku Nanang.
"Astaga nih anak! Ngapain juga kamu pakai sabun colek, Nanang!" ucap Rama yang bisa bayangkan bagaimana kondisi si otong setelah dipakaikan sabun colek.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...