
Telepon itu terus berdering, Dinda yang berada di seberang telepon merasa kenapa sang adik mengangkat lama. Akhirnya Dinda meninggalkan pesan WhatsApp kepada sang adik.
"Hai adikku, ini aku Mbak Dinda. Sekarang aku ada di rumah ayah. Mbak kangen sama kamu, maaf kalau mbak ganggu!"
Setelah Dinda mengirimkan pesan untuk Putri. Ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Lantas, Dinda beranjak pergi ke samping rumah untuk menghirup udara yang masih segar.
Dinda melihat pekarangan rumah yang ditumbuhi berbagai bunga dan tanaman cantik. Setidaknya di rumah orang tuanya Dinda bisa melupakan sejenak kepenatannya dengan sang suami.
Tiba-tiba saja ada beberapa tetangga Dinda lewat di depan rumah. Mereka terdiri dari dua orang ibu-ibu yang baru saja pulang berbelanja. Mereka terkejut melihat wajah Dinda yang tiba-tiba kembali hadir. Mereka pun menghampiri Dinda yang saat itu sedang berdiri sambil menyiram tanaman di pekarangan.
"Eh Bu, itu bukannya Dinda ya! Kakaknya si Putri!" seru Bu Rojak kepada Bu Mail.
"Mana toh, Bu?" Bu Mail tampak melihat dengan seksama wajah gadis yang sedang berdiri di pekarangan rumah pak Dedi.
"Itu, yang pakai baju kuning," tunjuk bu Rojak yakin.
"Eh iya loh, itu Dinda. Waaah Dinda sudah balik ke rumah. Kok dia masih berani pulang sih setelah membuat adiknya terpaksa menikah dengan calon suaminya. Kasihan Putri, ya!" bisik Bu Mail dengan sinis. Karena menganggap Dinda sudah membuat kehidupan sang adik terpaksa menjadi seorang istri di usia yang begitu mudah, apalagi Putri masih duduk di bangku SMA.
__ADS_1
"Nggak tahu malu, ya! Bisa-bisanya pulang ke rumah setelah membuat Putri berkorban. Kakak macam apa dia," balas Bu Rojak.
"Tul! Atau jangan-jangan dia mau mengambil calon suaminya kembali? Idih kasihan Putri kan. Maunya apa sih tuh Dinda."
Kedua ibu-ibu itu tampak bergosip sambil berjalan melirik ke arah Dinda yang terlihat cuek dengan kedua wanita itu.
Yang namanya ibu-ibu, tidak akan pernah puas jika tidak bertanya langsung kepada Dinda. Dengan wajah pura-pura baik, kedua wanita itu menyapa Dinda yang sering memegang selang air.
"Selamat pagi Dinda ya ampun, akhirnya kamu pulang juga. Dari mana saja selama ini kok tiba-tiba ngilang aja sih!" seru Bu Rojak. Dinda menoleh ke arah kedua wanita itu dan tersenyum kepada mereka.
"Selamat pagi, ibu-ibu. Iya, saya sudah pulang," balas Dinda dengan santai.
"Iya, suka heran dengan mereka. Orang tua macam apa, nggak mikirin masa depan anaknya," sambung Bu Rojak.
Karena geram kedua orang tuanya disinggung. Dinda pun spontan menyemprot kedua wanita itu dengan air yang ia gunakan untuk menyiram tanaman. Tentu saja kedua wanita itu kelabakan saat sir itu menyemprot ke wajah mereka.
"Aaa ... aduhhh! Dinda kamu ini gimana sih! Dasar gadis sialan! Mudah-mudahan kamu jadi perawan tua biar kapok. Dasar nggak tahu diri. Beraninya sama orang tua!" umpat Bu Mail sambil melihat seluruh pakaiannya yang sudah basah.
__ADS_1
"Iya nih apes banget ketemu nih gadis. Kita sumpahin kamu nggak ada yang nikahin. Biar mampus nggak laku-laku!" sahut Bu Rojak.
Karena kesal Dinda pun menyahuti ucapan kedua wanita itu. "Ibu-ibu pulang sana! Dicari suaminya tuh! Pagi-pagi udah ngerumpi dan memfitnah orang. Kalau nggak tahu apa-apa mending diem, sumpal tuh mulut dengan cabe!"
Mendengar ucapan dari Dinda. Bu Rojak yang terlihat begitu marah. Wanita itu pun mencoba mengambil sesuatu untuk menyakiti Dinda. Wanita itu mengambil sebuah batu kecil dan hendak ia lemparkan ke arah Dinda.
"Hiii nih anak harus aku balas. Rasain nih ... uhhh!!" Bu Rojak mulai melempar batu kecil itu ke arah Dinda yang masih berada di dalam halaman samping rumah. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tangan Bu Rojak.
"Awwww lepaskan! Siapa sih ini!"
Seketika Bu Rojak membalikkan badannya dan melihat seorang pria tinggi besar nan tampan sedang berdiri di belakangnya.
Kedua wanita itu terkejut setengah mati saat melihat wajah seorang pria yang tampan rupawan.
"Ohhhh i-ini pemain Bang Jacob si ganteng Yudha!!"
Seketika Dinda terperanjat saat kedua wanita itu menyebut nama Yudha, suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG