
Nanang pun terlihat cengar-cengir. Pemuda itu tampak garuk-garuk kepalanya. Akhirnya Ririn mengajak mengajak pacarnya pergi daripada Nanang terus mengganggu kemesraan guru mereka.
"Ayank, udah ah! Ayo kita pergi! Kita gangguin mereka mulu!" Ririn segera menarik tangan pacarnya dan mengajaknya pergi. Namun, tiba-tiba saja Rama memanggil Keduanya.
"Kalian mau kemana?"
Nanang dan Ririn pun menoleh ke sang guru yang sedang bertanya.
"Kami mau duduk di sana saja, Pak! Di sini entar Pak Rama bakal sunat nilai kita!" sahut Nanang.
"Siapa juga yang mau sunat nilai kalian. Bapak justru pingin banget nyunat kamu, Nanang! Pikiran kamu tuh kotor terus!" ucap Rama yang sama sekali tidak berekspresi. Sedangkan mereka bertiga terlihat saling menatap.
"Waduh! Pak Rama pasti bercanda nih! Kalau disunat kasihan Ririn Pak!" celetuk Nanang yang selalu saja membuat Ririn pusing. Apalagi Putri yang tak habis-habisnya tertawa melihat tingkah konyol kedua temannya itu.
"Kok aku sih! Apa hubungannya coba!" ucap gadis itu sambil memainkan ujung rambutnya.
"Heh! Apa hubungannya dengan Ririn! Toh yang aku sunat itu kamu!" sahut Rama yang masih bisa tahan melihat ekspresi muridnya yang gokil itu.
"Ya ada dong, Pak. Nanti Ririn nggak bisa puas kalau pak Rama nyunat saya. Padahal yang panjang itu yang enak!"
Sontak apa yang dikatakan oleh Nanang membuat Ririn semakin penasaran. Gadis itu pun berpikir tentang apa yang panjang.
"Apaan sih yang panjang, apaan sih Yank?" tanya gadis itu sembari menggoyang-goyang badan sang pacar.
Di saat yang bersamaan, pesanan mereka sudah datang. Seorang gadis muda sedang meletakkan piring-piring berisi makanan ala-ala angkringan tersaji dengan cepat. Rama mengajak kedua muridnya untuk gabung. Setidaknya mereka bisa menjadi teman istrinya di saat sang istri sedang mengalami bad mood karena kehamilannya.
"Udah, kalian di sini saja! Makan bareng kita," ucap Rama kepada Nanang dan Ririn.
"Serius nih, Pak? Nggak bakalan gangguin Bapak pacaran sama Putri?" tanya Nanang.
__ADS_1
"Enggak! Sudah duduk!"
"Aseekk, ini momen kayaknya harus diabadikan. Biar teman-teman pada iri, kalau Nanang si cowok terkeren di kelas 12A makan bareng guru killer, eh salah! Guru tercakep se Antero sekolah!" celetuk pemuda itu sambil mengeluarkan ponselnya dan berselfi ria dengan Rama.
Rama pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan absurd murid-muridnya. Meskipun Rama tak pandai bergaya di depan kamera. Ia pun berusaha untuk senyum.
"Senyum dong, Pak! Di depan kamera kita tuh harus ceria, jangan merengut mulu, Pak. Entar cakepnya hilang loh," seru Nanang sambil tersenyum di depan kamera.
"Lagian ngapain sih pakai selfi segala! Nih anak ada-ada saja!" sahut Rama yang merasa tidak percaya diri di depan kamera.
"Ya elah Pak Rama kuno banget sih! Hari gini nggak suka selfi? Aduh Pak! Padahal muka Bapak itu ganteng loh! Harusnya Bapak percaya diri dong. Kalau saya punya muka seperti Bapak. Pasti saya jadi play boy kelas kakap, Pak!"
Mendengar ucapan sang pacar, Ririn spontan menyentil telinga Nanang sehingga membuat pemuda itu mengusap telinganya.
"Aihh Ayank sadis beud! Kok disentil sih!" sahut Nanang. Putri dan Rama terlihat menahan tawa mereka. Melihat tingkah kedua siswanya, sebenarnya membuat Rama ingin sekali tertawa. Namun, ia masih mempertahankan sikap killer nya di depan mereka.
"Salah sendiri! Kalau ngomong tuh dijaga! Beruntung cuma Pak Rama doang yang punya wajah keren di sekolah. Harusnya kamu tuh bersyukur dapat pacar kayak aku. Muka pas-pasan aja banyak tingkah!" sahut Ririn dengan wajah kesalnya.
"Hehehe iya, Pak. Maafkan calon istri Nanang, Pak. Biasa, dia lagi dapet makanya sedikit sensi, Eh! Kita foto dulu dong! Pak Rama sedikit mendekat lah dengan Putri. Jangan berjauhan gitu kayak lagi berantem saja!" ucap Nanang sambil cengar-cengir. Rama semakin dibuat pusing dengan ucapan muridnya yang sedikit somplak itu. Lantas, Rama pun semakin menggeser posisi duduknya dengan semakin dekat dengan sang istri.
Putri pun langsung memakai maskernya kembali saat ia diajak foto bersama. Karena bagaimanapun juga Putri masih sensitif terhadap bau badan sang suami, sehingga membuat Nanang terkejut.
"Eh Put! Kenapa musti pakai masker sih? Nggak kelihatan wajahnya dong?" seru Nanang.
"Nggak apa-apa gini aja!" balas Putri yang sudah menggunakan maskernya.
"Ya elah! Foto bareng sama suami kok malah ditutup mukanya. Jangan-jangan Pak Rama bau ketek nih!" seloroh Nanang yang tak juga mengambil foto.
Rama pun dibuat tak sabar. "Heh! Kamu ini mau ambil foto apa mau nyium aroma ketek, Bapak? Dari tadi nggak jadi-jadi! Lama banget sih!" balas Rama yang spontan membuat Nanang panik.
__ADS_1
"Waduh, iya iya Pak! Sensi amat! Ayo ayo senyum semuanya, cisss!!"
Mereka semua pun mulai berpose dan Nanang pun berhasil mengambil momen kebersamaan mereka. Namun tetap saja, Rama masih menunjukkan wajah dinginnya meskipun Nanang dan Ririn sudah full senyum.
"Astogehh, Pak Rama benar-benar ya! Konsisten dengan wajah killer nya!" ucap Nanang saat ia melihat hasil jepretan kamera miliknya.
Setelah itu, Rama mempersilakan Nanang dan Ririn untuk makan. Tentu saja Nanang sedikit sungkan karena dirinya berniat untuk mentraktir sang pacar. Justru dirinya mendapatkan rejeki mendadak dengan bertemu Rama dan Putri.
"Saya juga ikut makan, Pak?" sahut Nanang yang merasa tak enak. Karena bagaimanapun juga Rama adalah gurunya. Meskipun Nanang selalu bersikap somplak, tapi pemuda itu selalu hormat kepada Rama.
"Enggak! Kamu diam saja!" balas Rama.
"Hah! Diem doang lihatin kalian makan?" sahut pemuda itu dengan matanya yang membola.
"Ya makanlah, Nanang! Keburu mood Bapak hilang, cepat makan!" ucap Rama.
"Hehehehe iya Pak! Asiap, makasih banyak, Pak! Ternyata Pak Rama baik beud! Besok-besok saya akan lebih rajin belajar matematika, Pak! Biar disayang Pak Rama. Jadi murid teladan!"
Lagi-lagi ucapan Nanang membuat kedua gadis yang ada di sana tertawa kecil. Karena mereka tahu jika Nanang tak pandai pelajaran matematika.
"Yakin mampu belajar matematika? Ulangan saja dapat telur ceplok! Gimana bisa jadi kesayangan pak Rama!" celetuk sang pacar, Ririn.
"Eh! Jangan salah, Putri aja sekarang pinter matematika. Masa aku nggak bisa! Aku nggak mau kalah dong sama Putri!" ucap Nanang tak terima.
"Ya beda dong, Ayank! Putri sih les privat diajarin sendiri sama Pak Rama. Makanya cepat bisa! Lah kita??" sahut Ririn membuat Nanang spontan menjawab. "Eh iya ding! Tentunya Putri dapat les tambahan dong ya! Pasti Les privatnya ada plus-plus nya!"
Seketika Rama yang saat itu sedang makan sate usus mendadak ia menyemburkan makanan dalam mulutnya pada wajah Nanang yang duduk tepat di depannya.
Sontak, Putri dan Ririn melototkan matanya saat wajah Nanang penuh dengan semburan dari mulut Rama. Tak berselang lama, kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Nanang.
__ADS_1
BERSAMBUNG