Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Makan daging mentah


__ADS_3

Setelah seharian Rama dan Putri berkunjung ke rumah pak Dedi. Akhirnya pasangan itu kembali pulang ke rumahnya. Mereka berdua berpamitan kepada pak Dedi dan Bu Lili.


"Kami berdua pulang dulu, Bu!" Putri mencium tangan ibunya. Sedangkan Rama mencium tangan sang ayah mertua.


"Hati-hati di jalan. Ingat Put! Kamu jaga kandunganmu baik-baik. Kamu harus nurut sama suami." Bu Lili memberikan nasihat kepada putrinya sebelum pergi.


"Iya, Bu. Putri pasti ingat kata-kata ibu," jawab Putri sambil tersenyum. Kemudian bu Lili pun berkata kepada menantunya. "Tolong jaga Putri ya, Nak. Dia ini sedikit keras kepala kalau dinasehati. Ibu khawatir dia makan sembarangan dan tidak tahu bahayanya makan sembarangan untuk ibu hamil." ucap Bu Lili yang tahu persis bagaimana sifat putrinya.


"Astaga Ibu. Putri ngerti kok makanan apa saja yang bergizi untuk ibu hamil. Semuanya harus matang dan sehat. Asalkan ngga makan daging mentah aja!" sahut Putri yang seketika dibalas oleh Dinda yang saat itu juga mengantarkan adiknya ke depan rumah.


"Daging mentah juga enak kok, Put! Iya nggak!" sahut Dinda sambil menahan senyumnya. Semuanya melongo dan menatap wajah Dinda. Apalagi Yudha yang langsung mengerti maksud ucapan istrinya.


"Hehehe daging mentah!! Iya juga sih, enak nggak ada obat. Pasti Kak Dinda doyan banget makan itu ya tiap malam? Aku sekarang nggak terlalu doyan, Mbak. Suka mual-mual soalnya kalau bau badan suami!" balas Putri yang seketika membuat pak Dedi jadi mengerti kemana arah pembicaraan kedua putrinya.


Pria itu pun cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar percakapan unik kedua putrinya.


"Aduh! Perasaan Ayah nggak pernah ngajarin kalian makan daging mentah? Bagaimana bisa kalian sangat suka. Kayak ibu kalian aja. Sampai sekarang masih doyan. Padahal bilangnya ogah sudah tua. Eh pas disuapi buka juga tuh mulut! Dimakan juga dagingnya!" celetuk pak Dedi yang sontak membuat Putri dan Dinda tertawa.


Bu Lili yang mendengar itu langsung mencubit lengan suaminya. "Ihhh apaan sih Ayah ini!"


"Aduh sakit, Bu. Jangan dicubit dong. Nanti Ayah nggak kasih makan daging mentah loh!" sahut pak Dedi yang semakin nakal ucapannya kepada bu Lili.


Anak dan menantu mereka saling tertawa melihat tingkah kedua pasangan pengantin tua itu. Meskipun usia pernikahan yang sudah tidak muda lagi. Namun pak Dedi dan istrinya masih terlihat konyol dan mesra.


Pada akhirnya, Putri dan Rama pun kembali ke rumah. Perjalanan yang cukup melelahkan bagi Putri. Ia dibonceng oleh suaminya sambil berpegangan erat-erat pada pinggang Rama. Sambil menyetir motornya Rama mengusap lembut tangan sang istri dengan satu tangannya. Ia melajukan motornya pelan-pelan untuk memberikan kenyamanan kepada Putri.

__ADS_1


Mereka bersepeda sampai hampir malam. Sambil menikmati keindahan suasana kota yang mulai ramai.


"Pemandangannya bagus banget ya, Mas." ucap Putri sambil melihat ke arah taman kota yang dipenuhi oleh lampu-lampu warna-warni.


"He em! Apa kamu mau mampir dulu, mungkin kamu ingin beli sesuatu atau ingin makan apa gitu!" tawar Rama kepada istrinya.


"Enggak deh, Mas. Aku mau pulang aja, pingin ketemu bantal dan guling. Pingin peluk mereka!" balas Putri yang merasa tubuhnya benar-benar lelah.


"Loh! Kok cuma bantal dan guling saja yang ingin dipeluk! Apa kamu juga tidak ingin memeluk suamimu?" sahut Rama protes.


"Enggak!" sahut Putri dengan cepat.


"Loh kok gitu? Memangnya kenapa?" tanya Rama penasaran.


"Kalau aku yang peluk kamu. Yang ada aku nggak bisa tidur. Mending peluk bantal dan guling saja, kan mereka nggak berani ngapa-ngapain aku. Diem aja meskipun aku peluk dengan erat. Nggak kayak kamu. Semakin aku peluk semakin aku ditusuk! Yang ada nggak bisa tidur!" ucap Putri yang tentunya membuat Rama terkekeh.


"Gimana mau nolak! Kamu kekepin mulu. Nggak bisa gerak-gerak deh!" sahut Putri sambil melihat-lihat sekeliling jalanan yang mulai ramai.


"Hehehe, biarpun kamu nggak gerak-gerak. Tapi gigitanmu kuat sekali. Jadi nggak mau berhenti nusuk lah!" jawaban Rama yang ceplas-ceplos, spontan Putri mencubit paha suaminya dan berbisik. "Dasar pak Rama mesum!" gerutu Putri.


"Dihh emang gitu kok! Katanya nggak mau tapi diam-diam kamu menikmatinya. Hhhh dasar! Kamu nya aja pura-pura nggak mesum. Tapi sebenarnya suka sekali, kan?"


Putri menahan senyum malunya sambil terus menggelitik pinggang Rama. Keduanya pun saling bercanda di atas motor. Sampai akhirnya keduanya tidak sengaja menabrak sepasang sejoli yang sedang menyebrang.


Ternyata, pasangan muda itu adalah Nanang dan Ririn yang masih berada di jalan.

__ADS_1


"Woi awas!" teriak Putri saat ia tahu kedua temannya sedang menyeberang dan suaminya hampir saja menabrak mereka.


Seketika Nanang dan Ririn berhenti mendadak dan terdengar berteriak saat motor Rama kian mendekat. Beruntung Rama bisa mengendalikan laju motornya sehingga ia tidak sampai menabrak kedua muridnya itu.


Motor Rama pun berhenti tepat di depan kedua pasangan kekasih itu.


"Pak Rama!" seru Nanang saat melihat wajah sang guru lagi.


"Kalian lagi! Heh kalian kenapa nggak pulang? Ini sudah malam loh, besok kalian harus sekolah! Ini malah pacaran terus!" sahut Rama sambil membuka helmnya.


"Hehehe iya Pak sebentar lagi kami pulang. Pak Rama sendiri kenapa belum pulang juga! Besok Bapak kan harus mengajar. Ini malah boncengan mulu!" seru Nanang balik bertanya.


Sang pacar, Ririn tampak menepuk jidatnya mendengar ucapan konyol sang pacar.


"Ya suka-suka Bapak dong! Putri istrinya bapak jadi wajar boncengan terus. Lah kalian itu masih pacaran. Nggak boleh sering-sering, berduaan!" sahut Rama yang harus ekstra sabar menghadapi murid satunya itu.


"Hehehe iya sih, Pak. Maksud Nanang kan gini. Kasihan tuh bayinya dalam perut Putri. Angin malam nggak baik untuk kesehatan. Takutnya bayinya masuk angin!" ucap pemuda itu sambil cengar-cengir.


"Ohhh, iya ini juga sedang dalam perjalanan pulang." Ucap Rama.


"Ya bagus deh, Pak. Cepetan pulang gih! Kata emak saya, ibu hamil tuh nggak boleh keluar di malam hari. Takutnya ada kolong Wewe yang suka gangguin!" ucap pemuda itu dengan ekspresi wajah yang menakut-nakuti.


Seketika Rama pun segera pamit dan berkata. "Dengar ya! Bukan kolong Wewe yang bapak takutkan. Bapak cuma takut saja nanti anak bapak jadi ikut somplak kayak kamu. Dari tadi bapak ngetawain kamu terus, Nanang. Udah minggir-minggir!" sahut Rama sambil menghidupkan kembali mesin motornya.


"Ya bagus dong Pak jika anak bapak nanti niru saya. Bukankah saya ini ganteng dan unik? Pasti bikin ketawa mulu anaknya. imut dan cute seperti saya!" celoteh Nanang dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2