Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Obrolan Rama dan pak Imam


__ADS_3

Tak terima Joice mengatakan hal itu. Bukan Rama atau Putri yang membalasnya tapi Ririn yang sedari tadi sudah sangat geram dengan ucapan gadis sombong itu.


"Eh kamu tuh siapa sih! Baru beberapa hari sekolah di sini udah belagu. Sok kecantikan banget sih jadi cewe. Masih cantikan juga kucingku di rumah. Lagian ya! Pak Rama tuh nggak bakalan melirik siswi sombong kayak kamu! Ngimpi banget nih cewek, heran!" sahut Ririn dengan wajah kesalnya.


Melihat temannya marah. Putri pun segera mengajak Ririn untuk segera pergi meninggalkan gadis itu.


"Udah yuk! Nggak usah diladeni, sayang suara kamu yang bagus habis gara-gara gadis seperti dia," bisik Putri sambil menggandeng tangan Ririn untuk pergi ke kantin.


"Ih biarin aja biar dia tuh harusnya ngaca yang lebar. Biar ngomong tuh dipikir dulu. Dia pikir siapa dia, dia nggak tahu aja siapa sebenarnya kamu. Gemes aku!!" seru Ririn yang masih ingin sekali memaki Joice.


Tak terima Ririn mengatai dirinya. Joice pun membalas ucapan Ririn. "Hello Kaka kelas yang bawel! Situ siapa sih, ikut campur urusan orang. Heran! Kayak listrik aja nyolot terus!!" cerocos Joice yang masih menantang Ririn.


"Heh! Dasar cewek belagu!!" Ririn tampak semakin geram dan gadis itu semakin berani untuk menghadapi Joice.


"Apa!!"


"Apa!! Sini kalau berani!!"


Pada akhirnya Joice dan Ririn saling menjambak. Tentu saja Putri dan Rama menjadi panik. Keduanya pun berusaha untuk memisahkan Joice dan Ririn yang sedang terlibat aksi jambak menjambak dan cakar mencakar.


Rama tampak memegangi Joice sedangkan Putri memegangi Ririn. Pertengkaran kedua siswi itu beruntung tidak banyak yang mengetahui. Hanya Rama dan Putri saja yang mengetahuinya.


"Sudah-sudah, kalian berdua ini kayak anak kecil saja!" seru Rama memisahkan keduanya dengan terus menahan Joice untuk menyerang Ririn.


"Dia tuh Pak! Murid baru ngga tahu diri. Mentang-mentang anaknya pak Sugondo sombong banget!" sahut Ririn yang tampak masih didampingi Putri untuk menenangkan gadis itu.


"Sudah, Rin! Sabar dong. Nggak usah ladenin dia!" ucap Putri sambil mengelus pundak Ririn.


Joice rupanya mengambil kesempatan itu untuk semakin mendekati Rama. Gadis itu tampak pura-pura menangis sambil menyembunyikan wajahnya pada lengan Rama.

__ADS_1


"Huwaaaa Pak Rama lihat sendiri, kan! Kakak kelas Joice kenapa jahat banget sama saya, Pak! Joice masih baru di sekolah ini. Seharusnya mereka memberikan Joice bagaimana lingkungan di sekolah ini. Bukannya memusuhi Joice seperti ini, Pak. Hiks hiks hiks saya sedih, Pak!" Joice berkata sambil terus menempelkan wajahnya pada lengan Rama, seolah gadis itu sedang mencurahkan kesedihannya.


Seketika Rama melihat ke arah sang istri yang tampak menatapnya dengan tajam. Seolah-olah Putri memberikan ulti kepada sang suami untuk menjauhi gadis itu.


"Gawat nih, dilihat dari tatapan matanya sepertinya Putri mau ngancam. Sial! Bakal dianggurin nanti malam kalau dekat-dekat Joice!" batin Rama yang spontan melepaskan tangan Joice dan segera menjauhinya.


"Maaf, saya harus segera pergi ke kantor, dan kamu sebaliknya kembali ke kelas. Jangan sampai masalah ini diketahui oleh siswa lain. Ingat! Jangan sampai kalian bertengkar lagi, jika Bapak melihat kalian bertengkar lagi maka Bapak akan bawa kalian berdua naik ke atas ring. Sekalian tuh tinju di sana, nanggung cuma jambak-jambakan doang!" ucap Rama yang tentunya membuat Putri tertawa kecil. Sedangkan Ririn dan Joice hanya bisa merengut dan saling sinis.


Akhirnya, Rama memisahkan Joice dan Ririn dengan membawa Joice ke kelasnya. Tentunya hal itu disaksikan oleh Putri yang sedang berdiri di samping Ririn.


"Huuuuhhh dasar cewek sialan! Sumpah gedek banget sama dia!" umpat Ririn ketika melihat Joice yang pergi bersama Rama.


"Udah yuk! Kita pergi ke kantin!" Putri pun segera mengajak temannya untuk segera pergi ke kantin.


Sesampainya di kantin, Putri segera membeli sate bakso bakar pesanan suaminya. Setelah membelikan sate bakso bakar tersebut, ia pun segera mengantarkan makanan itu ke dalam ruangan Rama.


"Selamat untuk pak Imam, pasti bahagia sekali saat Bapak tahu saat istri Bapak sedang hamil," seru Rama yang turut berbahagia mendengar berita kehamilan istri pak Imam.


"Tentu saja kami sangat bahagia, 3 tahun penantian baru sekarang istri saya hamil, Pak. Tapi ya itu istri saya berubah sedikit galak, kata dokter itu wajar dan bawaan bayi juga," ungkap pak Imam.


"Galak gimana, Pak? Sering uring-uringan gitu? Bukannya wanita hamil itu suka mual dan muntah, atau juga pusing-pusing, badan lemes," tanya Rama penasaran.


"Iya sih Pak, itu hal yang wajar dan lumrah. Tapi istri saya ini beda, Pak. Dia nggak mual dan nggak muntah tapi dia suka uring-uringan kalau kemauannya nggak diturutin. Mana dia maunya seperti itu, aduhhh!!" jelas pak Imam sambil memijit pelipisnya.


"Memangnya istri Bapak mau apa? Pasti ngidamnya aneh-aneh?" sahut Rama yang antusias mendengarkan cerita pak Imam.


"Bukan aneh lagi, Pak. Saya dibuat encok setiap malam," seketika Rama melongo dengan pengakuan dari pak Imam. Dalam pikirannya pak Imam pasti sedang melakukan hohohihe kepada istrinya.


"Waduh ganas juga istri Bapak!"

__ADS_1


"Itu dia, Pak. Saya sampai bingung, jika tidak dituruti, dia pasti marah besar dan saya tidak dihiraukan selama dua hari," terang pak Imam. Kedua pria itu cekikikan hingga akhirnya tiba-tiba Putri datang mengetuk pintu.


Seketika kedua pria itu menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Putri yang sedang membawa makanan pesanan suaminya.


"Permisi, Pak. Ini sate bakso bakar pesanan Pak Rama," seru Putri sambil menunjukkan jajanan yang dibawanya dari kantin.


"Masuklah!" titah Rama kepada istrinya. Putri pun masuk ke dalam ruangan dan segera memberikan pesanan suaminya. Kebetulan Putri melihat ada pak Imam yang sedang ngobrol dengan sang suami. Putri pun menyapa guru kelas 11 itu.


"Eh ada pak Imam. Selamat siang, Pak!"


"Selamat siang Nyonya Rama," balas pak Imam sembari tersenyum.


"Kok Nyonya Rama sih, Pak?" Putri mengerutkan keningnya karena pak Imam memanggilnya seperti itu.


"Loh bener, kan? Bukannya sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Rama, istrinya pak Rama?" ucap pak Imam menggoda Putri.


Putri tersenyum lalu berkata. "Di rumah saya memang istrinya pak Rama. Tapi di sekolah saya murid seperti biasa dan murid pak Imam juga. Saya permisi dulu ya, Pak. Saya mau makan, lapar!!" pamit Putri sebelum dirinya pergi kembali ke kantin.


"Loh ngapain kamu pergi. Di sini saja temani pak Rama makan. Biar saya yang pergi keluar. Masa suaminya ditinggal makan sendirian!" balas pak Imam sembari beranjak pergi dari ruangan tersebut.


"Loh pak Imam mau kemana? Nggak mau mencicipi sate bakso bakar dulu, Pak? Ini enak loh rasanya," sahut Rama menawarkan sate bakso bakar tersebut kepada pak Imam.


"Tidak usah terima kasih banyak, Pak. Saya tidak suka sate bakso bakar, Pak. Saya lebih suka olahan bakso biasa saja, yang ada kuahnya panas-panas," ucap pak Imam menolaknya dengan halus.


Rama pun menjawabnya dengan bercanda. "Pak Imam ini bagaimana sih. Sate bakso itu enak, Pak. Selain bulat, berdaging dan empuk, baksonya juga bisa ditusuk, dibolak-balik di atas api yang membara. Belum lagi dikasih saus mayones yang nikmat. Pasti bikin doyan dan nagih. Benar kan, Put??" ucap Rama sembari menatap ke arah sang istri dengan senyum nakal.


Seketika Putri membulatkan matanya dan tampak mengedipkan mata berkali-kali karena melongo dengan ucapan suaminya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2