
Setelah acara memancing dan bergosip tentang istri-istri mereka. Pak Dedi mengajak kedua menantunya untuk membawa ikan lele agar segera dimasak oleh para wanita.
Mereka semua terlihat bahagia. Pak Dedi dan keluarganya berkumpul untuk makan bersama. Tapi sayangnya, saat ini Putri sedang tidak mood untuk makan karena perutnya masih mual-mual.
"Put, ayo dimakan!" seru Bu Lili kepada putrinya yang hanya melihat mereka makan.
"Perut aku nggak enak, Bu. Masih mual banget. Putri istirahat saja ya di kamar. Putri mau tiduran aja!" ucap gadis itu.
"Ibu benar, kamu harus makan, Sayang. Kasihan tuh anak kita kalau kamu nggak makan," sahut Rama kepada istrinya.
"Tapi aku emang nggak enak makan, Mas. Masa dipaksa juga. Tambah mual aja, huekk!"
Pada akhirnya Putri tidak bisa menahan rasa mual di perutnya. Ia beranjak pergi ke kamar mandi, sementara itu Rama mengikuti kepergian sang istri dan berkata kepada kedua mertuanya. "Permisi, Yah, Bu. Saya mau mengantar Putri dulu!"
Pak Dedi dan Bu Lili mengangguk. Sementara itu Yudha dan Dinda saling menatap. "Ya ampun, kasihan sekali adikku. Apa hamil muda itu sakit sekali ya! Kok jadi takut nih kalau hamil," ucap Dinda.
Mendengar ucapan dari sang istri, Yudha berkata kepada Dinda. "Ngapain harus takut. Itu cuma sementara, Sayang. Paling cuma 3 bulan saja. Setelah itu kamu tidak akan merasakan mual muntah lagi."
"Iya sih! Tapi tetap saja aku takut, Mas. Lebih baik aku tunda dulu aja deh untuk hamil. Lihat Putri kok kasihan sekali," sahut Dinda.
Pak Dedi dan bu Lili yang tak sengaja mendengar pembicaraan antara putri dan menantunya. Mereka pun menjawab. "Tidak usah takut. Lagipula hamil itu menyenangkan, sebuah anugerah terindah bagi kaum wanita. Banyak loh mereka yang sudah lama menikah tapi tak kunjung hamil. Tidak perlu ditunda-tunda. Dulu ibu saja nggak menunda untuk hamil kamu. Iya kan, Yah!" ucap bu Lili.
__ADS_1
"Ibumu benar. Ngapain ditunda-tunda. Lagipula ayah dan ibu ingin segera punya cucu banyak. Kamu juga sudah pantas untuk punya anak. Lah adek kamu saja udah berani punya anak, padahal usianya masih 18 tahun." Sahut pak Dedi.
Tiba-tiba terdengar sautan suara dari dalam. Suara Putri yang baru saja masuk lagi ke ruang makan. "Ya itu gara-gara ayah dan ibu nikahin Putri terlalu muda. Jadi kek gini deh!"
Semua menoleh ke arah Putri yang saat itu sedang bersama Rama yang terlihat sedang garuk-garuk kepalanya.
"Eh bukan begitu maksud ayah dan ibu, Put! Kamu nikah kan menggantikan kakak kamu. Ayah ngga bermaksud menikahkanmu di usia muda. Itu ... itu ... karena."
Melihat sang ayah tidak bisa menjawab dengan mudah. Dinda pun menyahuti ucapan pak Dedi dan membela ayahnya. "Udah deh nggak usah bicara seperti itu. Harusnya kamu bersyukur karena kamu akhirnya bisa hidup bahagia bersama Rama. Toh akhirnya kalian berdua saling mencintai. Jadi, aku nggak nyesel sama sekali sudah minggat di acara pernikahan itu. Karena jodoh Kamu itu ternyata guru Kamu sendiri. Enak, kan!"
"Tuh! Dengerin ucapan kakak kamu. Eh ngomong-ngomong kamu udah nggak mual lagi?" tanya pak Dedi saat melihat sang anak yang sudah baik-baik saja.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di kamarmu. Dan Nak Rama biarkan makan bersama kita," seru pak Dedi.
"Oh tidak Yah. Biar saya menemani Putri saja. Mungkin dia membutuhkan sesuatu. Saya makan nanti saja!" tolak Rama dengan halus yang masih mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Eh kamu juga harus makan dong. Jangan ikut-ikutan seperti istrimu!" pak Dedi masih memaksa menantunya untuk makan bersama.
"Aduhhh, Yah. Ayah gimana sih! Biarkan saja mereka ke kamar. Mungkin bayi mereka pingin dielus-elus sama ayahnya. Makanya mual mulu." sahut Dinda.
"Ya sudah! Kalian ke kamar dan istirahatlah!" lanjut pak Dedi menyuruh Putri dan Rama untuk pergi ke kamar. Keduanya pun segera pergi ke kamar yang dulu Putri tempati. Sementara itu Pak Dedi dan lainnya pun melanjutkan makan bersama.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar. Putri yang sudah sampai di kamar pribadinya. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya dulu. Dirinya begitu merindukan kamarnya yang dulu.
"Ya ampun, aku kangen banget dengan kamarku. Sudah lama aku nggak tidur di kamar ini. Mas, kita nginep sehari saja ya di sini? Aku mau bobo di kamarku. Aku kangen dengan boneka-boneka aku, suasana kamar aku, pokoknya aku rindu suasana di sini!" ucap Putri sambil memeluk boneka-boneka kesayangannya.
Rama tersenyum melihat tingkah istrinya yang bahagia. Ia tak menampik jika Putri masih berusia remaja. Tentunya sang istri masih ingin melewati masa-masa remajanya dengan bahagia.
"Tentu saja boleh! Kamu bisa menginap kapan saja jika kamu mau," balas Rama yang seketika membuat Putri langsung tersenyum bahagia.
"Makasih banyak, Mas. Kamu emang baik banget!" Putri langsung memeluk suaminya dengan senang. Sampai ia lupa jika dirinya sebenarnya sedang sensitif dengan aroma tubuh sang suami.
"Demi kamu. Apapun akan Mas lakukan. Kamu bahagia aku juga bahagia," balas Rama.
Sejenak, Putri melepaskan pelukannya dan berkata. "Ternyata ayah dan ibu nggak salah maksa aku nikah sama kamu. Kamu baik banget," puji Putri kepada suaminya.
"Baru sadar ya, bukan hanya baik. Suamimu ini juga ganteng. Jadi, kamu tidak perlu malu memiliki suami seperti aku," sahut Rama sambil mencubit pipi istrinya.
"Siapa juga yang malu. Ganteng sih cuma sayangnya mesum banget! Justru, bukannya kamu yang malu punya istri kayak aku. Masih ingusan dan cerewet. Kadang manja dan pecicilan!" sahut Putri dengan wajah malu-malu.
Rama terkekeh mendengar ucapan dari istrinya. "Mesum!! Ya iyalah mesum ke istri sendiri nggak apa-apa dong. Biarpun kamu cerewet dan pecicilan justru itu yang membuat aku semakin cinta sama kamu. Kamu tuh bukan cuma muridku yang antik tapi sekaligus istriku yang unik. Cerewet tapi gemesin!" ucap Rama sembari memainkan ujung hidung mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1