Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pernikahan Yang Tergadaikan


__ADS_3

Reno mengendarai mobilnya menuju rumah. Setelah beberapa jam bercinta dengan Dela, kini lagi-lagi pria itu diliputi penyesalan mendalam.


Berulang kali ia menelepon rumah maupun hape istrinya, namun tidak ada jawaban.


Jalanan sedikit macet di beberapa titik karena bertepatan dengan jam pulang kerja.


Beberapa kali Dela mengirim pesan namun Reno enggan membalas.


Jari Reno kembali menekan nomor istrinya.


“Assalamualaykum Papa,” jawab suara di seberang setengah berbisik.


“Aurelie, Waalaykumussalam. Lagi apa?”


“Abis makan terus main sama Adek.”


“Kenapa bisik-bisik? Mama mana, Sayang?”


“Mama lagi bobok pules banget abis nyuapin Adek.“


Hati Reno mencelos, teringat janjinya pulang cepat dan membantu Nafisa menyelesaikan pesanan seratus box jajan pasar untuk acara pengajian dan syukuran tetangga mereka.


“Mama capek tadi sibuk,” sambung Si Sulung dengan polos tanpa sadar jawabannya telah mencubit hati ayahnya.


“Papa otw pulang buat bantu Mama.”


“Udah beres. Tadi Mama kerjain sendiri. Aurelie sama Milo bantuin.”


“Oh …” Jawab Reno dengan rasa bersalah. Saat istri dan anak-anaknya berjibaku, dirinya malah bertukar peluh bersama Dela.


“Sayang, Papa mampir beli makanan dulu, ya. Kasihan Mama pasti nggak sempat masak.”


“Iii Papa. Di rumah udah ada gulai dan ayam goreng. Pagi-pagi Mama masak dulu. Papa cepet pulang aja.”


“Oke, oke. Aurelie jagain Mama dan Adek, ya.”


“Siap. Bye Papa.”


Usai menutup sambungan telepon, Reno memukul-mukul setir.


Penyesalan memang selalu datang sangat terlambat.


***


Wajah Nafisa pias ketika beberapa minggu kemudian Reno dengan wajah pucat pasi menceritakan bahwa Riyadi telah mengambil seluruh uang perusahaan.


Riyadi, orang yang menjadi tangan kanan suaminya ternyata tega membobol rekening dan kini raib entah kemana.


“Abang sudah lapor polisi, tapi kita nggak punya uang untuk membayar cicilan pertama minggu depan.”


“Terus gimana, Bang? Pak Zayn akan sita tanah kita di Klenjer dan rumah ini?”


Reno menutup wajah dengan kedua tangannya.


Nafisa melanjutkan dengan lirih, “Bang, kalau tanah di Klenjer nilainya berapa?”


“Lima milyar.”


“Mestinya aman dong untuk lima bulan? Siapa tau nanti ada investasi dari Uni Dela yang bisa cair.”


“Sayangnya nggak begitu di perjanjian yang Abang setujui.”


“Semua jaminan langsung disita?”


Reno mengangguk putus asa. Namun begitulah jika seseorang terpaksa meminjam pada rentenir berkedok pengusaha. Demi pencairan dana yang cepat, ia harus setuju dengan syarat-syarat tidak masuk akal.


“Minggu depan, Abang akan coba ngomong sama Pak Zayn, semoga dia mau diajak negosiasi.”


“Aku punya sedikit tabungan, Bang. Lima puluh juta. Hasil ngumpulin sedikit-sedikit dari jualan kue.”


Reno menangkup wajah istrinya. Rasa bersalah dan sesal kembali menyelimuti hatinya.


Sudahlah berkhianat, kini kecukupan keluarganya terancam.

__ADS_1


“Abang akan desak Dela. Nggak apa deh kena penalti, yang penting rumah kita aman. Nafi ikhlas kan kalau tanah kita diambil?”


“Ikhlas walau berat karena itu kan tabungan aset kita ya, Bang. Tapi dari pada rumah?”


“Maafin Abang, ya Sayang. Maaf sudah salah perhitungan dengan berinvestasi sama Dela.”


Nafisa menempelkan keningnya ke kening suaminya.


“Kita hadapi bersama, ya, Bang. Semoga Pak Zayn mau kasih perpanjangan waktu. Tapi yang penting kita berjuang demi anak-anak, Bang.”


“Demi keluarga kita, Sayang. Makasih ya, udah jadi istri yang menenangkan dan mau berjuang bersama. I love you. Cuma kamu.”


“I love you too, Abang.”


***


Reno berada di ruangan Zayn Malik, memohon keringanan karena tidak bisa membayar cicilan pertama.


“Pak Zayn, mengertilah, bukannya saya tidak mau bayar, tapi pegawai saya mengambil semua uang di perusahaan. Saat ini saya ada uang lima ratus juta. Ijinkan saya membayar sejumlah itu dulu. Lagi pula Bapak sudah pegang sertifikat tanah di Klenjer dan juga rumah.”


Zayn mendengus.


“Jujur saja, kemarin perasaan saya sudah nggak enak waktu memberikan pinjaman ke Anda. Saya terlalu percaya sama Dela. Sialan!”


“Pak tolong lah, beri saya waktu. Saya yakin investasi saya di Dela sudah bisa cair. Beberapa bulan ke depan.”


Zayn lagi-lagi mendesis. Wajahnya yang ala mafia dengan tato menyembul dari dada kanan membuat nyali Reno menciut.


“Lagian kok bisa sih dana perusahaan dimasukin ke investasi jangka panjang. Masa sih Anda nggak memperhitungkan risiko seperti ini?”


Reno menunduk, bulir-bulir keringat membasahi keninganya. Dia sangat membenci situasi ini. Situasi yang tanpa sadar diciptakan sendiri.


“Pak saya mohon, beri waktu. Saya akan desak Dela untuk mencairkan investasi di sana.”


“Seminggu. Anda bayar lagi sisa cicilan ditambah bunga keterlambatan. Total satu koma dua milyar.”


Reno terbelalak.


“Pak, cicilan saya kan satu milyar.”


Tak punya pilihan lain, Reno memijat kepalanya. Dela adalah harapan terakhir.


“Lewat dari seminggu, tanah Klenjer dan rumah saya ambil.”


“Pak Zayn, mohon beri waktu sebulan.”


Zayn menggebrak meja.


“Jangan ngelunjak! Seminggu ya seminggu! Silakan tinggalkan kantor saya. Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”


Rena menghela napas. Dia harus segera bicara pada Dela.


***


Seminggu berlalu. Dela belum bisa mencairkan apa-apa.


Reno tidak pagi mampu berkata. Dia sudah memaki bahkan mengancam untuk melaporkan Dela.


Namun posisinya sulit karena perjanjian yang mengatakan bahwa dia tidak akan bisa mencairkan dana sebelum satu tahun.


Masih ada enam bulan. Masa kritis yang harus dilalui Reno.


Pagi itu, bagai pesakitan Reno menemui Zayn. Dia sudah siap pasang badan karena tidak bisa membawa sisa cicilan plus bunga sesuai ketentuan.


Di ruangannya, Zayn nampak lebih kusut dari biasanya. Tidak ada sorot ramah di mata yang memang cenderung dingin.


Tanpa tegur sapa, Zayn langsung berkata, “Anda ini penipu ternyata, ya? Sertifikat tanah Klenjer itu bermasalah!”


Wajah Reno berubah pucat.


“Nggak mungkin, Pak. Waktu beli kami sudah cek ke BPN dan sertifikat juga asli.”


Zayn memijat pucuk hidungnya.

__ADS_1


“Nih, baca!” Ujarnya sambil melempar berkas.


Mata Reno terbelalak. Tanah Klenjer yang dibeli dari hasil menabung kini dipersengketakan oleh beberapa ahli waris.


“Saya nggak tau masalah ini. Waktu saya beli sudah ada surat persetujuan dari ahli waris.”


Zayn tidak berkata.


“Kosongkan rumah Anda. Tinggal itu jaminan, dan masih belum cukup.”


Reno menelan saliva.


“Pak Zayn, saya mohon.”


“Saya beri waktu dua hari! Saya benar-benar menyesal memberi pinjaman ke Anda. Ini semua gara-gara Dela.”


“Gara-gara saya yang ceroboh. Bapk jangan salahkan Dela.”


Zayn menatap tajam lalu berkata, “Saya nggak mau ikut campur urusan Anda dengan Dela, tapi kalau dalam dua hari Anda tidak mengosongkan rumah, Dela juga akan saya tuntut pertanggungjawaban. Anda jangan main-main.”


Reno menggeleng, dalam waktu dua hari dia tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak yang harus dibayarkan. Tapi dia juga tidak ingin Dela terseret dalam kesulitannya.


Putus asa, Reno berlutut di hadapan Zayn.


“Pak saya mohon, beri waktu lebih. Entah dari mana saya akan usahakan untuk mendapatkan uang. Tapi tolong jangan ambil rumah saya dan jangan libatkan Dela.”


Dua orang berbadan tinggi besar masuk dan langsung membekuk Reno.


“Lepaskan! Lepas!”


Dengan nada dingin Zayn bertitah, “Lempar dia keluar! Dua hari kita ambil rumahnya.”


“Siap!” Jawab dia bodyguard yang bersiap menyeret Reno keluar ruangan.


“Pak Zayn, tolong. Jangan dulu. Pak!” Pekik Reno sambil meronta-ronta kesetanan.


Hape di atas meja Zayn berbunyi. Pria berwajah dingin itu makin kusut.


“Ya, Sayang.”


Terdengar suara wanita di speaker, “Zayn, ini susternya Mama kamu minta berhenti. Udah nggak kuat jagain. Zayn! Ini udah suster ke dua belas yang mental. Mama kamu emang ngerepotin.”


“Tinggal cari ke yayasan.”


“Paling juga sebentar keluar lagi. Udahlah mama kamu ni taro panti jompo aja.”


“Val, kamu kok gitu.”


Reno berseru, “Istri saya perawat. Dia akan tinggal dan merawat ibu Anda sampau saya bisa menyicil hutang!”


Zayn terdiam.


“Sebentar, Val, nanti aku telepon lagi.”


Dua bodyguard melepaskan cengkraman mereka dari lengan Reno.


“Istri saya perawat. Dia akan jadi jaminan hutang-hutang saya. Tapi beri waktu dan ijin kan saya dan anak-anak tetap tinggal di rumah.”


Tatapan Zayn tidak bisa diartikan. Di satu sisi ia melihat peluang jalan keluar, di lain pihak dia tak habis pikir dengan pria di depannya.


Sudah lah mislek dalam bisnis kini tega menggadaikan istrinya. Seorang istri pengusaha yang disuruh bekerja sebagai perawat rumahan.


Reno terus menatap Zayn penuh harap. Dalam waktu yang bersamaan di hape Zayn masuk pesan dari Valerie, istrinya yang mengeluh panjang pendek tentang merawat ibunda dari suaminya.


Lagi-lagi Zay memijat pucuk hidungnya.


“Ibu saya tinggal di Yogya, bagaimana?” Tanya Zayn akhirnya.


“Siap! Istri saya pasti bersedia.”


“Tiga bulan! Saya kasih waktu kamu tiga bulan. Lalu jemput istrimu dengan cicilan yang harus dibayar selama tiga bulan.”


“Siap! Terima kasih Pak Zayn! Terima kasih.”

__ADS_1


Reno pun melesat keluar dari kantor Zayn Malik menuju rumahnya. Dengan penuh keyakinan bahwa Nafisa akan setuju untuk bekerja merawat ibunda Zayn.


***


__ADS_2