
Zayn memandang istri dan ibunya yang sedang mengobrol di teras rumah. Harapannya terkabul sudah, istri dan ibu, dua wanita yang sangat ia cintai bisa akrab.
Sejak insiden terakhir dengan mertuanya, Valerie memang jauh berubah. Keesokan hari dia datang, bersimpuh dan menangis di hadapan Maryam, meminta maaf atas segala kekasaran dan kesalahannya.
Maryam yang memiliki hati lembut dan tahu bahwa anaknya sangat mencintai Valerie langsung memeluk menantunya. Penuh kelegaan karena doa-doanya dikabulkan.
Mereka pun kini bagai ibu dan anak yang kerap bertukar cerita.
Valerie juga mendekatkan diri pada Nafisa. Dianggapnya Nafisa sebagai adik. Dia sering datang ke kedai. Sekadar membeli kue-kue untuk Zayn atau mengobrol panjang lebar.
Selalu Valerie memposting camilan yang dibeli dari kedai Nafisa ke akun media sosial dengan pujian, hingga kedai Nafisa dibanjiri pelanggan baik offline dan online.
Valerie juga memberi dukungan ketika Nafisa mengajukan review atas hak asuh. Berada di sampingnya ketika Hakim kembali memutuskan untuk menunggu sampai satu tahun sesuai ketetapan sebelumnya.
Ketika Dela hendak mengejek Nafisa, maka Valerie-lah yang membela hingga hampir terjadi pertempuran mulut cukup sengit antara dua wanita dengan emosi setipis tisu.
Kepada Arman, Valerie menyuruhnya pulang ke kampung. Memberi uang dengan jumlah fantastis dan meminta maaf.
Tanpa menunggu lebih lama Arman segera pulang ke kampung halamannya takut jika Valerie berubah pikiran.
Namun tidak. Valerie seperti sudah membuka lembaran baru. Dia menjadi wanita yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Seorang wanita penuh kebaikan dan kelembutan pada suami dan mertua juga menjadi kakak bagi Nafisa.
***
Pekan demi pekan berjalan. Maryam sedang menikmati suasana pagi yang cerah di kebun belakang rumahnya. Bunga aneka warna bermekaran, kupi-kupu bermain dengan bebas diiringi kicau burung bersahutan. Udara sejuk semilir.
Maryam memandang berkeliling. Di rumah hanya ada petugas dapur dan cleaning service yang sedang bekerja di pos mereka masing-masing.
Mbok Mi dan Lastri telah berangkat ke kedai. Zayn dan Mikail sedang dalam perjalanan pulang dari business trip. Valerie ada pemotretan di luar kota dan baru akan pulang siang hari.
Nafisa sudah beberapa hari pulang ke rumahnya sendiri. Maryam rindu dengan celoteh Nafisa dan keceriaan sikapnya. Membaca pesan bahwa Nafisa akan mampir sebelum ke kedai membuat Maryam terhibur.
Tak lama ia melihat sosok wanita bergamis dan cadar biru tua melambai dari teras menunjuk ke arah piring sarapan dan teh yang sudah disiapkan. Mata Maryam berbinar.
Maryam balas melambaikan tangan lalu gegas berjalan ke arah teras dibantu tongkat setianya. Ingin segera sarapan dan mengobrol dengan Nafisa.
Sebetulnya kaki Maryam sudah kuat, namun ia khawatir akan keseimbangan sehingga memutuskan untuk kemana-mana dengan membawa tongkat.
Di teras, Maryam tersenyum melihat hidangan yang sudah disiapkan; bubur kacang ijo, lalampa, dan tak ketinggalan teh poci dengan gula batu kesukaannya.
Maryam mencari sosok Nafisa. Agaknya wanita itu kembali ke dapur.
Wanita sepuh yang selalu nampak cantik itu mulai menikmati bubur kacang ijo. Kemudian menyeruput teh poci hangat secara perlahan.
Ia menunggu kedatangan Nafisa untuk duduk bersamanya sebelum ia merasa sakit kepala yang begitu hebat dan jantungnya yang berdebar.
Panik, Maryam memanggil nama Nafisa berulang kali. Namun lehernya seperti tercekik.
Keringat mulai membasahi tubuhnya. Sakit kepala semakin mendera. Matanya mendelik sementara lidahnya mulai menjulur seperti hendak memuntahkan isi perut.
Tak kuat, Maryam terguling dari kursinya. Dalam keadaan terkapar di lantai ia melihat Nafisa jalan mendekat.
__ADS_1
Tangan Maryam menggapai, heran karena Nafisa berjalan dengan santai.
Maryam mulai kehilangan napas. Ia terus menatap ke arah Nafisa. Tatapannya bertanya.
Begitu dekat, Nafisa duduk di samping Maryam. Terus memandang lekat. Maryam menggapai tangan ke wajah Nafisa, tak sengaja menarik cadar.
Wajah di balik cadar itu menyeringai sambil terus menatap dingin dan kejam tanpa berbuat apapun. Tangan kanannya meraba wajah wanita yang sedang meregang nyawa.
Tangan Maryam mencengkeram erat tangan yang masih merabai wajahnya, hingga napasnya terasa berat dan dia tak kuat lagi untuk bertahan.
Tubuh Maryam menjadi kaku. Matanya terbelalak.
“Selamat tidur, Ibu Sepuh.” Terdengar suara lembut yang berjalan menjauhi wanita yang napasnya tinggal satu-satu.
***
Nafisa berada di rumahnya, sedang mendesain kue pernikahan yang dipesan untuk anak pelanggan setianya.
Hari itu ia sedang tidak enak badan. Maka memutuskan untuk berada di rumah saja. Ia sudah mengabari Mbok Mi dan Lastri serta mandor yang sedang mengerjakan pembangunan kedainya yang habis terbakar.
Tengah asik berkreasi, ia melihat beberapa mobil parkir di depan rumahnya.
Nafisa mengerutkan kening, tidak mengenali mobil-mobil itu, menganggap mungkin mereka adalah tamu tetangganya.
Ketika beberapa laki-laki, perempuan dan beberapa orang berseragam polisi mendekati rumahnya, Nafisa pun memasang cadarnya lalu membuka pintu.
“Selamat siang, Ibu Nafisa?”
“Ya?” Tanya Nafisa heran.
Mata Nafisa terbelalak. Dia membaca surat tersebut berulang kali membaca nama dan tuduhan yang tertera di sana.
Ia menggelengkan kepala.
“Nggak mungkin. Bagaimana kondisi Ibu Sepuh sekarang? Saya harus ke sana,” ucap Nafisa sambil menggumam.
Seorang polwan lalu memasangkan borgol plastik. Nafisa menggeleng kuat dan mulai meronta.
“Tolong, saya harus melihat Ibu Sepuh. Bagaimana kondisinya?” Pekiknya panik.
“Ikut kami ke kantor polisi!” Jawab Polwan ketus sambil berusaha menghentikan perlawanan Nafisa.
Para tetangga mulai berkerumun.
Mata Nafisa terlihat bingung dengan semua yang terjadi. Dua orang polwan setengah menyeretnya.
Nafisa terus membantah tuduhan yang ditimpakan. Namun polisi-polisi itu tidak bergeming dan segera memasukkannya ke dalam mobil.
Sebelum pintu ditutup, ia sempat mendengar bisik-bisik tetangga, “ Ya Allah, masak, sih? Kayaknya baik tapi tega ngebunuh orang?”
Berulang kali Nafisa memejamkan mata, berharap ini semua adalah mimpi.
Seorang polisi masuk ke dalam mobil membawa kantong plastik.
__ADS_1
“Sudahlah, jangan sok bingung. Ini racum yang kamu pakai untuk membunuh Maryam Malik, kan?”
Nafisa memandang lurus ke tangan polisi yang mengacungkan barang bukti, yakin bahwa ia tidak pernah membeli obat apapun. Apalagi sebagai perawat ia tahu jenis obat-obat berbahaya.
Tak mampu berkata-kata, Nafisa memutuskan untuk tidak membantah.
Dalam waktu sekejap, berita penangkapan Nafisa pemilik kedai yang sedang happening, sekaligus influencer dekorasi rumah, viral di jagat maya.
Tuduhan meracuni Maryam Malik langsung membuat kedainya sepi pengunjung. Bahkan tidak sedikit customer yang baru membeli mengembalikan kue-kue karena takut Nafisa gila dan meracuni mereka.
Dalam sekejap, reputasi Nafisa hancur.
Di kantor polisi, Nafisa segera diproses. Setelah pendataan dan foto, ia dipakaikan jaket oranye kemudian digiring untuk konferensi pers.
Di balik cadar, Nafisa menangis. Ia memikirkan kondis Maryam dan juga nasibnya. Lututnya lemas, namun ia berusaha kuat.
Polisi yang memimpin konferensi pers menegaskan bahwa karena bukti sudah kuat, maka berkas akan dilimpahkan ke kejaksaan untuk proses hukum lebih lanjut.
Bibir Nafisa terus menyebutkan kalimat dzikir memohon kekuatan dan petunjuk agar bisa keluar dari kejahatan yang dituduhkan.
Ketika ia hendak dibawa ke tahanan, seorang wartawan menyeletuk, “Dasar munafik, udah banyak ditolong malah ngeracunin!”
“Hukum mati aja! Hukum matiiiiii!”
***
Berita tentang Nafisa sampai juga ke telinga Dela dan Reno.
”Tuh kan, liat nih mantan istrimu yang sok alim itu ternyata pembunuh berdarah dingin. Bahkan anjing aja nggak mungkin menggigit tuannya.”
Reno yang sudah membaca berita tentang Nafisa dan sedang bermain dengan Aurelie dan Milo tidak menjawab. Ia memeluk kedua anaknya erat-erat.
***
Seorang laki-laki duduk di kursi roda. Sudah belasan tahun ia mengalami kelumpuhan akibat cedera otak. Tidak bisa berbicara. Hiduonya bergantung pada orang lain untuk membantunya.
Salah seorang perawat dari Indonesia mengeraskan volume TV.
Pembawa acara dalam bahasa Inggris membacakan berita.
”Seorang pengusaha kuliner yang dekat dengan keluarga Zayn Malik dituduh melakukan pembunuhan kepada Maryam Malik. Ibunda dari Zayn Malik. Saat ini Nafisa Salsabila sudah ditahan oleh kepolisian dan sedang menunggu proses hukum selanjutnya. Dikabarkan bahwa Nafisa akan dituntut dengan hukuman mati.”
Seorang perawat berkata pada rekannya.
”Innalillaahi. Hati orang nggak ada yang tau ya. Gue suka banget ngikutin akun Si Nafisa itu. Kayaknya baik dan seru. Rumahnya kecil tapi cakep.”
”Sama, gue juga. Padahal udah niat kalau pulang ke Indonesia pengin cobain kue-kuenya. Ya Allah, amit-amit, taunya nanti dia salah nuang racun ke adonan.”
Wajah seorang wanita bercadar dengan jaket tahanan memenuhi layar TV.
”Padahal kalau cadarnya dibuka kayaknya cantik, ya. Liat aja matanya bisa abu-abu gitu. Keliatan baek ternyata pembunuh.”
“Siapa tadi nama lengkapnya?”
__ADS_1
Belum sempat perawat itu menjawab, terdengar suara serak berkata, “Naaaa …. fiiii…. saaa. Aaaa … nak…ku.”
***