Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
(Bukan) Bidadari Surga


__ADS_3

Dokter memeriksa kandungan Valerie.


“Wah, anaknya cewek ni Bu. Cantik kayak mamanya.”


“Papanya juga ganteng, kan?” Tanya Valerie sambil melirik Zayn yang sibuk dengan gawainya.


“Belum terlalu kelihatan, tapi mancungnya seperti ibunya kok.”


“Aah papanya juga mancung. Zayn liat deh, putri kita cantik.”


Zayn tersenyum lalu menjawab, “Bayinya sehat, Dok?”


“Sehat, pak. Tapi tetap harus dijaga. Jauhi rokok, alkohol, banyak bergerak.”


“Kalau ngerjain tugas rumah kayak nyuci gitu boleh, Dok? Kan enggak, ya?”


Dokter wanita itu tergelak.


“Bu, jutaan wanita hamil sambil bekerja di pabrik, jadi buruh, bahkan ada yang tetap nguli atau jadi dokter 24/7 kayak saya. Bayinya sehat aja. Justru kalau hamil harus banyak bergerak kalau diam aja malah nggak sehat.”


“Tapi Dok …”


“Kalau semuanya aman berarti kita ketemu bulan depan ya,” potong Zayn yang tidak ingin Valerie banyak bicara.


“Baik, Pak. Sampai bulan depan. Ini foto 4D nya dibawa saja.”


Zayn membantu istrinya berdiri. Tahu bahwa itu semua hanya akting, Valerie tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan menggandeng erat tangannya.


Waktu periksa ke dokter adalah waktu yang membahagiakan karena Val bebas dari tugas sebagai tukang cuci.


Meski dipekerjakan namun Zayn tetap menyuruh Mbok Mi dan Lastri tetap menjaga kesehatan Valerie. Memastikan wanita hamil itu makan hidangan yang bergizi.


Tubuh Val terlihat sehat walau penampilannya tidak se-glamour dulu.


Dalam mobil Val terus menggandeng tangan Zayn, berbicara dengan nada merayu.


“Please, Zayn, sampai kapan aku akan terus jadi pembantu di rumahmu? Aku ini istri dan ibu dari anakmu.”


Zayn melepaskan jemari dari genggaman Valerie.


“Aku jijik padamu, Val. Bahkan sampai detik ini tidak terlihat penyesalan sedikit pun. Kamu yang menjebakku dengan obat perangsang.


Air mata menggenang di pelupuk Valerie.


“Maafkan aku Zayn. Aku juga bodoh, aku sakit. Bimbing aku untuk sembuh, ya. Kumohon. Aku tidak mau seperti ini terus. Aku mau menjadi istri yang baik untukmu.”


“Terlambat. Jika pun anak dalam kandunganmu adalah anakku, maka sebatas itulah kamu buat aku. Ibu dari anakku. Atas permintaan Ibu, mulai hari ini, kamu tidak akan bekerja lagi di rumahku.”


Mata Valerie langsung berbinar.


“Pulanglah ke rumahmu. Jangan bertingkah. Atau kamu akan kembali menjadi pembantu di rumahku. Tak sulit buatku untuk membuangmu, Val. Hanya sayangnya, aku masih punya Ibu yang punya hati seluas samudera.”


“Terima kasih, Zayn, terima kasih. Aku akan berubah. Kamu akan jatuh cinta lagi padaku.”


“Pindahlah ke mobil lain. Ingat, jangan bertingkah.”


Seorang pengawal membuka pintu Valerie lalu menyuruhnya pindah ke mobil lain.


“Zayn, kamu ikut, kan ..?”


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kendaraan Zayn sudah berlalu.


“Hati seluas samudera. Dasaran aja wanita tua bodoh!” Gumam Valerie mencemooh Maryam.


“Cepat sedikit. Aku sudah nggak sabar tidur di kamarku.”

__ADS_1


Tiba di rumah, Valerie tertawa bak orang gila.


Mengambil sebotol wine dari lemari penyimpanan lalu meneguknya.


“Argh, minuman sultan ini. Setelah sekian bulan hanya minum air putih dan jus.”


Wanita itu terus menuangkan wine lalu menyeruputnya perlahan. Menikmati seteguk demi seteguk.


Dia membongkar lemari penyimpanan dan menemukan sebungkus rokok.


“Nikmatnya …”


Asap berhembus dari bibirnya. Sebatang, dua batang, hingga akhirnya Valerie bangkit dengan terhuyung.


Perlahan menaiki tangga sambil membawa botol wine yang hampir habis.


***


Malam hari adalah saat yang menyiksa untuk Zayn. Ia sering duduk di balkon untuk membaca atau terkadang menatap langit.


“Sedang apa kamu, Sayang? Apakah kamu sedang menatap bintang-bintang yang sama?”


Kepergian Nafisa membawa kekosongan yang tak bertepi. Dirinya tidak lagi mencari keberadaan Nafisa karena tahu itu hanya akan menyakiti wanita yang ia cintai.


“Aku selalu merindukanmu, Sayang. Baik-baik dimana pun kamu berada.”


Tanpa disadari, Valerie dari mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana memandang Zayn dengan penuh amarah.


“Apa sih yang kamu rindukan dari babu itu?”


Valerie kemudian melajukan mobilnya.


Mendengar deru kendaraan, Zayn melihat Valerie mengendarai mobilnya, melintas dengan cepat.


Tak menggubris, pria itu tetap asik dengan doa-doa dan harapan yang ia lantunkan untuk Nafisa.


Setibanya di rumah, beberapa teman dekat sudah menunggu. Val mengambil botol-botol wine dan champagne kesukaannya lalu menuangkan ke gelas-gelas.


“Val, kok lu masih minum sih? Ga baek buat debay. Lagian kalau Zayn tau bisa ngamuk.”


“Tenang, Zayn itu cinta mati sama gue, dia nggak akan ngapa-ngapain. Lagian bayinya sehat kok. Cheers, girls.”


“Gile ye, Val bisa bikin Zayn yang angker itu bertekuk lutut. Pantes aja Si Cadar itu ditendang, nggak ada lawan lah…”


“Gue iri sama lu Val, bisa punya lakik bucin.”


Valerie menuangkan wine ke gelasnya dan gelas teman-temannya. Menikmati sanjungan dalam kepalsuan yang ia ciptakan.


Mereka mengobrol dan bercanda sambil menyesap minuman-minuman haram. Sesekali bernyanyi dan bergoyang mengikuti musik yang dipasang keras.


Valerie tertawa dan ikut menari menikmati kebebasannya. Tidak ada lagi cucian yang harus dia urus.


Pintu depan terbuka kasar. Zayn berdiri tegak dengan wajah murka.


“Zayn!” Gumam Valerie yang langsung mematikan musik dan membuang rokok ke asbak.


“Keluar!”


Teman-teman Valerie terdiam melihat kemurkaan di wajah Zayn.


Satu per satu tak bersuara, mereka beringsut meninggalkan rumah Valerie.


“Sayang, aku tau kamu nggak bisa lama jauh dari aku.”


Valerie menggelayut manja ke lengan Zayn. Wajahnya pura-pura merajuk. Berharap teman-temannya masih bisa mendengar ucapannya.

__ADS_1


Dengan gusar Zayn menjauhkan tubuh Valerie. Kedua tangannya memegang lengan istri yang sangat dia benci.


“Val, otak dan hatimu itu kenapa, sih, bisa batu banget? Kamu bukan saja memuakkan dengan semua perilakumu, tapi juga egois.”


Valerie berusaha membuat matanya berkaca-kaca.


“Bahkan tangisanmu tidak membuat hatiku tergerak, Val. Sudahlah. Secara agama dan hukum, kamu memang istriku. Dan mungkin bayi dalam perutmu itu adalah milikku. Tapi sudah sampai di situ saja. Jangan harap lebih. Aku tidak akan mencintaimu karena semua cintaku hanya milik Nafisa Salsabila.”


“Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa memulai semuanya denganku lagi? Dulu kamu sangat mencintaiku. Kita … kita dulu saling mencintai.”


“Ya, aku memang pernah begitu buta hingga jatuh cinta padamu. Wanita egois, keras kepala, dan kejam. Bahkan sampai sekarang, tidak sekali pun aku mendengar permintaan maaf yang tulus kepada ibuku,” balas Zayn menahan emosi yang menggelegak.


“Yang kulakukan dulu hanyalah meminta hak untuk dihormati. Ibu tidak pernah menghormatiku. Aku benci padanya.”


Zayn terbelalak.


“Siapa kamu hingga Ibu harus menghormatimu? Sebegitu burukkah kedua orang tuamu mengajarkan tata krama. Aku tahu Amerika negara bebas, tapi lima belas tahun aku di sana cukup bisa melihat betapa sopan santun masih ada antara orang yang lebih muda kepada yang lebih tua,” ucapnya keras.


“Fine. Aku minta maaf. Tapi aku istrimu. Setidaknya dia harus menghormatiku untuk itu.”


“Ibuku memang tidak setuju dengan pernikahan kita dulu, tapi akhirnya beliau merestui. Tidakkah itu cukup? Apa yang kamu mau? Ibuku bersujud padamu? Lalu kamu marah ketika hal itu tidak terjadi hingga memutuskan untuk meracuninya. Otakmu dimana, Val?”


“Semua itu aku lakukan karena sangat mencintaimu, Zayn!”


“Stop bicara cinta! Jika kamu memang mencintai, kamu akan berusaha menyayangi ibuku sepenuh hati, menjaga kehormatan sebagai istri. Bukannya main gila dengan laki-laki mudah yang kamu siksa demi kepuasanmu.”


“Tidak! Cintaku hanya untukmu Zayn, kumohon. Aku akan memperbaiki semuanya.”


“Kamu hanya cinta menjadi istri seorang Zayn Malik. Berada di puncak tangga sosialita. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki, Val. Akal licikmu memfitnah Nafisa membuka jalan buat kami untuk bersama. Hanya kepadanya cintaku berlabuh. Meski aku harus kehilangan, tapi dia tidak akan tergantikan.”


“Zayn …”


“Aku kemari bukannya sayang dan ingin melindungimu. Ada janin yang berhak hidup dan kamu membahayakan keselamatannya dengan tingkah liarmu. Anakku atau bukan, janin itu harus lahir sehat.”


“Dia anakmu …”


“Kita lihat nanti. Awas kalau anak itu cacat gara-gara perbuatanmu!”


“Aku benci anak ini!”


Val meraih pisau yang tergeletak di samping piring buah lalu mengarahkan ke perut.


“Aku akan membunuhnya, Zayn!”


Zayn tersenyum sinis.


“Lalu apa?”


“Aku nggak main-main, Zayn! Anak ini akan mati!”


Zayn duduk di sofa dengan tangan menopang sisi keningnya. Satu kaki menyilang di atas kaki yang lain. Matanya menatap lurus ke arah Valerie.


Wanita hamil itu terus menempelkan pisau ke perutnya. Matanya menatap nyalang.


“Aku harus bilang waw gitu dengan tingkah nekatmu? Sekali pun anak itu mati, aku nggak punya kewajiban lagi untuk mempertahankan pernikahan sialan ini,” ucap pria itu dengan nada dingin.


Tangan Valerie gemetar. Wanita itu sebetulnya tidak peduli apakah bayi dalam perutnya hidup atau tidak.


“Aarrrg!” Teriak Val sembari membuang pisau buah lalu terduduk dan menangis tersedu-sedu.


“Sudah kuduga,” celetuk Zayn lagi kemudian berdiri dan merapikan kemejanya.


“Setidaknya, berusahalah menjadi ibu yang baik untuk jaminan dalam perutmu,” pungkas Zayn. Matanya melirik ke arah botol-botol minuman yang sudah kosong dan puntung rokok yang menggunung di asbak.


“Brengsek, kau Zayn! Bajingan!” Valerie berteriak marah.

__ADS_1


Zayn melangkah keluar. Terdengar suaranya berkata, “Ya ya, dan kamu adalah bidadari dari surga.”


***


__ADS_2