
Pov Zayn
Menyadari Nafisa sudah tidak ada di sampingku ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan awak media, aku sedikit panik.
Bersama Mikail, kami mencari ke rumahnya, bahkan menitip pesan pada tetangga jika melihat Nafisa untuk segera menghubungiku jika melihat Nafisa pulang.
Kami pergi ke sekolah anak-anaknya. Aku bertanya pada orang-orang di sana apakah melihat seorang wanita bercadar? Taknada yang melihat Nafisa.
Kemudian ke kedai, hatiku ciut ketika melihat kedai yang kutahu dibangun dengan susah payah oleh Nafisa kini tutup. Di rolling door tertulis kalimat: Milik Pembunuh.
Aku tahu jika Nafisa melihat maka kalimat itu akan sangat menyakitinya. Kuperintahkan karyawan cleaning service untuk membersihkan hingga hilang sama sekali. Kalau perlu mengganti rolling door dengan yang baru.
Membelah kemacetan ibu kota, kami kembali ke rumah Nafisa. Dalam perjalanan, Ibu menelepon berkali-kali. Agaknya Ibu melihat tayangan ketika Nafisa bebas dari penjara.
Ibu mewanti-wanti agar membawa Nafisa menemuinya dan pulang ke rumah Ibu.
Sesampai di rumah Nafisa, beberapa tetangga memberitahu kalau Nafisa sudah pulang.
Hari sudah gelap, namun tidak satu pun lampu menyala di rumah wanita yang sudah kubuat hidupnya menderita selama beberapa bulan terakhir.
Beberapa kali mengetuk pintu, tidak ada respon, hingga akhirnya Mikail mendobrak pintu.
Nafisa kami temukan tergeletak di atas sajadah. Tubuhnya demam, dia terus menggumam agar tidak ditangkap dan jangan disiksa.
Hatiku miris.
Kuangkat tubuhnya, kaget ternyata dibalik gamis longgar yang ia pakai, meski cukup semampai namun tubuhnya sangat enteng.
Kuperintahkan driver untuk memacu kendaraan menuju rumah sakit tempat Ibu dirawat.
Selama perjalanan, Nafisa terus mengingau. Matanya terpejam, ada bulir-bulir air mata mengalir dari sudut netra.
Bibir wanita itu pucat, kulihat di telapak tangannya banyak bekas luka lecet. Meski tahu bahwa aku tidak boleh menyentuh, tapi kugenggam jemari kurusnya. Dingin. Berlawanan dengan tubuhnya yang demam tinggi.
Di rumah sakit, dokter mengatakan fraktur di lutut menyebabkan peradangan berat. Jika tidak segera ditangani maka Nafisa akan cacat permanen.
Dokter juga menyarankan visum menyeluruh melihat ada bekas luka dan lebam di tubuhnya.
Aku menyetujui. Mikail menatap wanita yang terlihat ringkih tak berdaya di atas brankar. Sepupuku menyukai Nafisa atau setidaknya pernah menyukai wanita itu.
Tatapannya penuh rasa bersalah. Sama seperti tatwpanku ke Nafisa. Tapi kesalahan mutlak ada padaku. Selama Nafisa di penjara, dengan kekuasaan dan koneksi yang kumiliki, aku memerintahkan sipir dan tahanan untuk menyiksanya.
Waktu itu aku benar-benar murka ketika melihat semua bukti mengarah ke Nafisa. Aku ingin dia mendapat balasan lebih berat dari kejahatannya pada Ibu.
Ternyata, istriku sendiri yang telah meracuni Ibu. Mengharapkan kematian wanita yang melahirkanku.
Aku memijat pucuk hidungku saat dokter datang dengan hasil visum.
Lututku mendadak lemas ketika mendengar Nafisa pernah mengalami kekerasan seksual yang menyebabkan area intinya mengalami infeksi.
Dokter menyarankan agar Nafisa dirawat di ICU karena ternyata ia juga terkena bronchitis. Aku menurutinya, meminta semua memberikan perawatan terbaik untuk Nafisa.
Ibu bolak-balik menanyakan Nafisa. Ketika tak sengaja melihat Nafisa didorong di atas brankar menuju ruang ICU, tubuh Ibu gemetar hebat. Air mata tak terbendung.
Dokter akhirnya menyuntikkan obat tenang agar ibuku tertidur.
Selama berhari-hari, Nafisa tidak sadarkan diri. Kondisinya begitu parah sehingga dokter pun heran bagaimana ia bisa bertahan hidup selama itu di penjara.
Lagi-lagi semua salahku. Aku terlalu buta melihat bahwa tidak mungkin Nafisa tega menyakiti Ibu dengan alasan apapun.
Nafisa mendapatkan infus antibiotik dosis tinggi dan anti radang.
Selama berhari-hari pula aku membiarkan Valerie mendekam di gudang. Tempatku memberi pelajaran pada mereka yang mangkir dari cicilan hutang dan berusaha kabur atau berani menentang keputusanku.
Namun hati ini tetap tak tega menyiksa Valerie, wanita yang sangat kucintai. Perintahku adalah agar ia ditahan di sana. Itu saja.
__ADS_1
Berbeda dengan Nafisa yang aku sendiri pernah menampar dan menendang perutnya karena murka atas perbuatan yang dituduhkan padanya.
Hari-hari berlalu dimana aku fokus memantau Ibu yang semakin kuat dan Nafisa yang semakin lemah.
Jika sampai Nafisa tidak bertahan, maka akulah pembunuhnya.
End of POV
***
Seorang dokter mendekati brankar tempat Nafisa terbaring dengan banyak selang infus mengantarkan cairan obat ke pembuluh darahnya.
Memasuki hari ke empat belas, Nafisa masih betah memejamkan mata. Kondisinya masih belum stabil. Meski infeksi dan peradangan sudah teratasi, namun tidak dengan paru-parunya.
Napas Nafisa masih sulit sehingga kini dia dibantu dengan ventilator.
Seorang perawat melaporkan perkembangan Nafisa, dokter itu mengangguk lalu memeriksa infus-infus.
Setelah perawat pergi, dokter itu mendekatkan wajahnya ke telinga Nafisa.
“Bertahan, ya, Sayang. Kamu kuat, kamu bisa.”
***
Mendengar pintu gudang dibuka, Valerie mengangkat wajahnya yang tertelungkup di meja. Entah sudah berapa hari dia disekap di tempat terkutuk itu.
“Zayn, bukan aku yang mencelakai Ibu. Aku memang tidak bisa akur bahkan tidak menyukai beliau, tapi berilah kesempatan sekali lagi. Kumohon,” racau Valerie setelah menghambur lalu bersimpuh ke kaki suaminya.
Penampilan istri Zayn Malik sangat berantakan. Berhari-hari ia disekap di ruang sempit dengan kamar mandi seadanya. Tidak ada kasur sehingga untuk pertama dalam hidup ia tidur di lantai.
Zayn bergeming tak bersuara. Matanya memandang wanita yang tengah bersujud dan menangis di kakinya.
“Berdirilah, Val.”
“Terima kasih, Sayang. Aku tau kamu akan percaya padaku. I love you …”
“Zayn? Kamu percaya padaku, kan?
“Valerie Bianca Radisson, kuceraikan kamu dengan talak tiga. Kemasi barang-barangmu dari rumah. Hari ini juga kamu harus pergi dari sana!”
“No! Zayn! Kamu nggak boleh menceraikan aku. Ini semua hanya salah paham.”
Zayn melangkah pergi, Valerie memeluk tubuh pria itu dari belakang.
“Sayang, aku tau kamu sangat mencintaiku. Yuk kita pergi dari sini dan tinggal dimana pun kita mau. Zayn, kamu yang selalu bilang padaku kalau kamu tidak bisa hidup tanpaku.”
Dengan kasar Zayn mengurai tangan Valerie. Dia berbalik kemudian menatap istri yang baru diceraikan dengan mata nyalang.
Maju selangkah demi selangkah. Tatapan menghujam ke netra Valerie hingga wanita itu bergidig dan mundur.
“Kenapa, Val? Kenapa kamu tega mencelakai Ibu? Kamu mau membunuh Ibu? Selama ini kamu memanas-manasiku dengan mengatakan Nafisa iri dengan kedekatanmu pada Ibu. Aku hampir membunuh wanita itu, Val!”
“Aku tidak memanas-manasimu Zayn. Memang Nafisa biang kerok di sini. Sudah kukatakan dia membenciku. Dia nggak mau Ibu dekat denganku.”
“Lalu bisa jelaskan kenapa berbulan-bulan gelang kamu bisa ada di genggaman Ibu? Bahkan masih ada bekasnya di telapak tangan Ibu. Bisa kamu jelaskan, Val?”
“Aku juga nggak tau, Sayang. Mungkin saat aku menjenguk, Ibu ingin meraih tanganku dan …”
“DIAM! Tutup mulutmu Val! Sekarang kamu mau menyalahkan Ibu?”
Valerie tersentak. Zayn tak pernah membentaknya.
Dengan suara bergetar menahan marah, Zayn melanjutkan, “Aku sudah memeriksa rekaman dan tidak sekali pun Ibu bergerak selama bulan-bulan. Gelang itu ditarik saat kamu berada di samping Ibu menyamar sebagai Nafisa. Kamu cukup pintar untuk tahu mana CCTV blank spot di rumah Ibu.”
Masih terus gigih bertahan, Valerie membujuk Zayn dengan lembut, “Bukan, Sayang. Itu Nafisa. Dan jangan tanya padaku bagaimana Ibu mendapatkan gelang itu.”
__ADS_1
Zayn menatap jijik ke arah mantan istrinya.
“Mika, bawa laptop berisi rekaman kejadian.”
Mikail yang menunggu di luar ruangan gegas datang lalu menyalakan rekaman.
Di sana terlihat Nafisa sedang membuat tutorial kue seperti yang sering dia bagikan di kanal media sosialnya.
Valerie mendengus kesal.
“Kenapa aku harus nonton perempuan jahanam itu sih?”
Zayn menjawab dengan ketus, “Lihat punggung telapak tangannya. Terdapat bekas luka bakar yang diperoleh saat kedainya terbakar habis. Sekarang lihat rekaman ini.”
Rekaman ketika Maryam meregang nyawa disaksikan seorang wanita dengan gamis dan cadar.
Terlihat wanita itu menyentuh wajah Maryam dengan tangan kanannya. Mulus tak ada bekas luka, namun samar terlihat tanda lahir di dekat kelingking.
Valeri refleks menutupi punggung tangannya.
“Bodohnya aku tidak pernah melihat lebih jelas waktu itu. Sekarang apa pembelaanmu? Nafisa menutupi bekas lukanya dan membuat tanda lahir seperti kepunyaanmu?” Tanya Zayn sinis.
“Pergilah, Val, mumpung suamimu belum melampiaskan kemurkaannya padamu,” imbuh Mikail pelan.
“Diam! Jangan-jangan kamu bersekongkol dengan Nafisa untuk menuduhku, kan? Nggak semudah itu kalian bisa menyingkirkanku!” Bentak Valerie kasar.
“Cukup, Val! Jangan sampai aku melihatmu lagi! Aku sendiri yang akan menyiksamu lebih parah dari Nafisa. Kesabaranku mulai habis.” Zayn mendesis berusaha menahan murkanya.
“Zayn. Sayang, beri aku kesempatan sekali lagi.”
Tiba-tiba kedua pipi Valerie terasa panas. Zayn menampar keras hingga darah keluar dari sudut bibir.
“Ibuku hampir meninggal gara-gara ulahmu. Aku hampir membunuh wanita tak bersalah karena fitnahmu. Sebesar apapun cintaku dulu, sudah hilang. Kamu adalah wanita laknat. Pergi dari hidupku, selagi kaki-kakimu belum kupatahkan.”
Tanpa menunggu reaksi Valerie, Zayn segera keluar ruangan diikuti Mikail.
Valerie jatuh terduduk memikirkan nasibnya. Merutuki Maryam yang kembali dari mati. Mendoakan Nafisa agar wanita itu tidak selamat.
Seorang bodyguard datang lalu memerintahkannya untuk pergi.
“Hey mana, mobil untuk mengantarku?” Bentak Valerie.
“Kamu bukan lagi Valerie Malik yang bisa memerintah kami. Pergi!”
Geram, Valerie mengancam, “Zayn akan memohon padaku untuk kembali. Dan jika saat itu tiba …”
Bodyguard itu tergelak, “Ba-cot. Cepat keluar! Ada ojeg di pangkalan. Taksi online nggak sampe sini. Buru!”
Dengan tak sabar, pria muda itu mendorong Valerie untuk keluar dari area gudang kemudian mengunci pintu gerbang.
Valerie berjalan menuju pangkalan ojeg. Terseok-seok dengan hak tinggi yang menapaki tanah becek.
Beberapa babang ojek bersiul melihat tubuhnya yang terekspos karena pakaian kurang bahan.
Tak berapa lama, Valerie tiba di rumah yang ditempati bersama Zayn.
Hatinya mencelos melihat mobil mini copper merahnya sudah berada di luar pagar dengan koper-koper dan kotak barang-barang.
Gerbang tertutup rapat. Valerie mengetok bahkan menggedor minta dibukakan. Tak ada satu pun penjaga yang menjawab.
Gontai, ia memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil lalu melaju ke rumah miliknya sendiri.
Sesampainya, Valerie langsung masuk ke dalam kamar. Mengambil wine lalu menyesapnya pelan untuk mencari ketenangan.
Hapenya berbunyi. Sebuah tautan dikirim oleh manajernya.
__ADS_1
Matanya terbelalak membaca judul berita yang sedang viral; Zayn Malik Menceraikan Valerie. Mungkinkah Dia Penjahat yang Sebenarnya?
***