
Beberapa hari setelah Reno mengamuk di kedai, Nafisa sedang mengaji di kamar tidur ketika hapenya berbunyi.
“Assalamualaykum, Bu. Saya Ratih pengasuhnya Den Milo. Udah dua hari ini Den Milo anget dan malam ini panas. Dari tadi merengek pengin tidur sama Ibu.”
“Waalaykumussalam. Oh, mau saya jemput?” Suara Nafisa terdengar khawatir.
“Sudah otw ke rumah Ibu sama Non Aurelie juga.”
“Milo mana? Saya mau bicara.”
Terdengar suara telepon bergeser.
“Mama, Milo pengin sama Mama. Bobok sama Mama. Diceritain tentang Nabi Sulaeman.”
“Iya, Sayang. Mama juga akan masakin sup kesukaan Milo dan Aurelie.”
“Yaay!” Walau terdengar lemah, suara Milo lebih ceria.
Gegas setelah menutup hape, Nafisa memasak sup ceker kesukaan anak-anaknya. Meski sederhana dan semua bisa memasaknya, tapi tetap saja Milo dan Aurelie berkata sup ceker buatan Mama tidak ada duanya.
Nafisa juga langsung membuat jus pepaya jeruk kesukaan Milo. Sedangkan untuk Aurelie smoothie pisang strawberry.
Setelah beres, Nafisa menunggu di teras. Beberapa menit kemudian mobil yang membawa anak-anaknya tiba.
Tak sabar, Nafisa menggendong Milo.
“Sayang, sini sama Mama.”
“Mama, Milo kangen. Jangan pergi lagi.”
“Iya, Sayang.”
Malam itu, Milo dan Aurelie tidur mengapit ibunya. Nafisa tekun membalur tubuh putranya dengan minyak bawang. Biasanya panasnya akan segera turun.
Milo tidak mau melepaskan pelukan dari Nafisa. Anak kecil itu terus bergelung merasakan nyaman.
Tak lama, Nafisa bisa merasakan tubuh Milo mulai berkeringat.
“Alhamdulillah. Sayang, ganti baju dulu, yuk.”
Perlahan Nafisa mengganti baju Milo yang tetap tidur lelap.
Pengasuh Milo dan Aurelie mengetuk lalu melongok masuk.
“Alhamdulillah sudah turun panasnya, ya, Bu? Sebetulnya dari kemarin Bapak udah minta Milo diantar ke sini, tapi nggak boleh sama Bu Dela. Tadi juga Bapak sempat berdebat.”
“Yang penting sekarang udah keringetan banyak. Kalian istirahat gih, pasti capek gendongin Milo terus. Tidur di kamar anak-anak aja. Mereka kan tidur di sini.”
“Boleh, Bu?” Dua pengasuh itu saling bertukar pandangan karena heran.
“Boleh dong. Makan dulu gih. Tadi saya males masak jadi cuma bikin telor balado sama tumis daun pepaya. Masih ada di microwave panasin aja. Terus istirahat.”
“Maa syaa Allah, makasi banyak, Bu. Kalau ada apa-apa panggil kami.”
“In syaa Allah nggak ada apa-apa. Milo udah enak.”
***
Selama seminggu, Aurelie dan Milo tinggal bersama Nafisa. Seminggu yang membahagiakan.
Tak kalah senang adalah Maryam. Dia bahkan ngotot mau menginap di rumah Nafisa.
Dua anak kecil itu juga sangat girang setiap Maryam datang. Berbeda dengan Dela yang sering membelikan mainan, Nafisa dan Maryam lebih suka mengajak anak-anak mengasah kreativitas.
“Emang bener ya, sayangnya ibu kandung itu nggak tergantikan,” celetuk Imah, pengasuh Aurelie ketika mereka sedang menjaga para bocil di taman kompleks bersama Nafisa dan Maryam.
Ratih, pengasuh Milo menyambung, “Kami berdua ini senasib dengan Bu Nafisa. Kerja banting tulang eh walhasil bojo kawin lagi.”
“Bu Dela sih nggak jahat ke anak-anak, tapi juga nggak kayak Ibu. Beda deh,” cetus Imah.
Enggan membicarakan buruk tentang ibu sambung kedua anaknya, Nafisa menyahut singkat, “Yang penting Bu Dela baik sama Aurelie dan Milo.”
Maryam mengangguk, mengapresiasi tanggapan Nafisa yang singkat namun mengena.
“Tapi Bu Dela tu insecure banget sama Ibu.”
“Biarlah, kami masing-masing pasti punya pendapat dan perasaan mengenai hal ini. Sangat manusiawi, kok. Kami dihadapkan pada situasi yang pelik terkait perkawinan dan anak. Jadi mari kita ucapkan bismillah, tetap tegar dan baik kepada orang lain,” tegas Nafisa lagi.
Dua pengasuh itu manggut-manggut.
Nafisa dan Maryam kemudian mendekati Aurelie dan Milo untuk bermain dan bercanda bersama.
Benar-benar sore yang menyenangkan.
Keesokan hari, tak disangka Dela menjemput Aurelie dan Milo. Dua anak itu memeluk Dela sambil menceritakan keseruan selama bersama Nafisa.
Maryam melihat dari dalam rumah dengan pandangan tak senang. Dia tak mengerti apa yang dilihat Reno dari wanita sekelas Dela. Hamil besar tapi memakai pakaian mini-mini.
“Sabar, Bu.”
__ADS_1
“Mbok sadar diri gitu badan udah segede gitu pake baju mrecet.”
“Nafisa temuin dulu ya.”
Belum sempat Nafisa keluar, Dela sudah masuk ke dalam rumah.
“Makasi ya udah jagain Milo.”
“Sudah kewajiban, dia anakku,” jawab Nafisa tenang.
“Anakku juga, aku udah nikah sama Bapaknya,” sahut Dela cepat, ingin menyakiti hati Nafisa.
Sambil memberikan tas milik Milo ke Dela, Nafisa berkata, “Titip anak-anakku, ya.”
Sengaja Nafisa sekali lagi menekankan pada kata “anak-anakku”, menempatkan Dela sebagai ibu sambung.
“Kenapa kamu mempercepat pengajuan hak asuh?”
Kening Nafisa berkerut.
“Karena aku ibunya dan mereka masih di bawah dua belas tahun.”
Dela mendesis gusar.
“Kami sudah bahagia tanpamu.”
Walau hati Nafisa merasa pedih mendengar ucapan Dela namun dia bertahan.
“Mereka bisa tetap bahagia bersamaku. Setiap minggu mereka akan mengunjungi kalian. Lagi pula sebentar lagi kamu akan melahirkan, bukan?”
“Reno nggak suka. Tak akan kubiarkan kamu melanjutkan permohonanmu.”
“Suami tak suka, istri bertindak. Begitu kah?” Nafisa terkekeh.
“Apakah menurutmu ini becanda?” Sentak Dela.
Nafisa mendekat, dilihatnya Milo dan Aurelie sedang bermain di halaman depan bersama para pengasuh. Ia tidak ingin kedua anaknya melihat ketegangan antara dirinya dan Dela.
Wanita itu bicara dengan perlahan, memaknai setiap katanya.
“Tidak ada yang menganggap ini becanda. Kalian bukanlah orang tua yang patuh dicontoh. Yang laki pengkhianat, yang perempuan tukang nyosor. Aku nggak rela anak-anakku diasuh dengan kalian yang memulai pernikahan dari dosa.”
Dela tertawa sinis.
“Sudah kuduga, kamu ingin kembali ke Reno. Jangan mimpi.”
“Kamu yang jangan mimpi. Selamanya Aurelie dan Milo adalah anak-anak KANDUNGKU. Dan urusan Reno, silakan ambil. Aku sudah menganggap laki-laki itu sampah.“
“Masih cinta nih? Segitu marahnya.”
“Kalah marah karena perzinahan kalian, oh tentu tidak. Jika ada satu hal saja yang kusesali adalah kenapa harus manusia seperti Reno yang jadi ayah dari anak-anakku.”
Dela mengepalkan tangan. Sementara Nafisa menghadapi wanita yang sudah memporak-porandakan kehidupan perkawinannya dengan tenang.
“Kamu merasa lebih baik dari pada aku dan Reno?”
“Minimal, aku tidak pernah berzinah atau merebut suami orang. Silakan nilai sendiri.”
“Jangan sampai kamu menyesal berhadapan denganku.”
“Ck sudah kubilang penyesalanku hanyalah karena Reno adalah ayah dari Aurelie dan Milo. Kamu, cuma debu dalam kehidupanku.”
Dela menyeringai sadis. Dia maju namun dihadang oleh tongkat Maryam.
“Pulanglah. Jaga anak-anak Nafisa dengan baik.”
“Ibu tua, Anda akan menyesal membela dia.”
Dengan kalimat itu, Dela berbalik keluar lalu memanggil Milo dan Aurelie dengan menunjukkan sayang yang dilebih-lebihkan.
“Anak-anak, kita ke Mall yuk, Mama Dela akan belikan kalian mainan.”
“Yay! Bye Mama, assalamualaykum,” seru Aurelie dan Milo bersamaan sebelum masuk ke dalam mobil.
***
Beberapa hari berlalu. Nafisa memutuskan untuk tinggal lebih malam di kedai untuk menyelesaikan beberapa pesanan.
Seminggu selama anak-anaknya tinggal di rumah, ia memutuskan untuk tidak ke kedai. Semua dititipkan pada Mbok Mi dan Lastri yang sudah gape mengelola kedai.
Malam itu ia membuat figur putri duyung dari fondant untuk pesanan kue ulang tahun.
Kemudian ia membuat hiasan beberapa bentuk koper untuk kue ulang tahun pesanan anak muda yang ingin memberi kejutan untuk ibundanya.
Nafisa asik mengerjakan di dapur ketika ia mencium bau asap.
Seorang diri di kedai, ia bangkit dari tempat duduknya untuk memeriksa area depan.
Alangkah terkejutnya ketika ia tidak bisa membuka pintu dapur. Sementara dari sela pintu, asap mulai memasuk.
__ADS_1
Nafisa segera mencari hape.
“Innalillaahi, tasnya udah di meja depan.”
Dengan panik, Nafisa sekuat tenaga berusaha mendobrak pintu. Melihat usahanya sia-sia, Nafisa segera memutus aliran gas dan listrik.
Kedainya berada di bangunan ruko yang akses keluar hanya dari pintu dapur menuju ke area depan.
Asap hitam mengepul masuk. Nafisa mengambil lap lalu membasahinya dengan air. Kemudian ditutupkan ke mulut dan hidung.
Ia mulai terbatuk-batuk. Matanya berair.
Semakin panik, ia membasahi pakaiannya. Lalu berlari ke pintu dapur yang tetap tidak bisa dibuka.
Semakin lama, asap makin tebal. Nafisa yang putus asa akhirnya memutuskan untuk berlindung di ruangannya.
“Ya Allah, jaga hamba. Laa ilahailallah.”
Bibirnya terus mengucapkan kalimat tauhid. Jika memang itu akhir hidup, maka ia ingin mati dalam keadaan husnul khotimah.
Napas Nafisa mulai sesak. Dari jendela ruangannya ia melihat api mulai merambat ke area dapur.
Kini matanya mulai sulit melihat. Asap sudah memenuhi seluruh ruangan. Napas pun mulai sulit. Tak sanggup bertahan Nafisa tergeletak. Air mata menetes.
Terbayang wajah kedua anaknya.
Bibirnya terus mengucapkan tahlil.
Hingga ia merasa tubuhnya diangkat oleh seseorang menembus kobaran api. Lalu semuanya gelap.
***
Nafisa bangun dengan kepala terasa berat.
“Alhamdulillah, kamu akhirnya sadar, Sayang.” Terdengar suara Maryam dengan nada lega.
Maryam mengelus kepala Nafisa dengan penuh kasih sayang.
“Kamu sudah aman. Alhamdulillah nggak ada luka, hanya paru-parumu sempat dipenuhi asap hingga tak sadarkan diri.”
“Bu … kedai?” Tanya Nafisa lirih.
“Sssh, nggak usah dipikirkan. Ibu sudah minta orangnya Zayn untuk urus asuransi. Mika sedari kemarin menunggui kamu di sini.”
“Terbakar habis, Bu?”
Maryam ragu menjawab, namun akhirnya mengangguk.
Air mata mengalir dari sudut mata Nafisa. Kedai yang terbakar adalah kedai pertama yang dibuka dengan usaha keras dan cucuran keringat.
“Nak, ikhlasin ya. Yang penting kamu selamat.”
Nafisa mengusap air matanya.
“Bu, siapa yang membawa Nafisa ke rumah sakit?”
“Nah itulah yang kami nggak tau. Kamu dibawa ke klinik 24 jam, tapi orangnya hanya mengantar dan langsung pergi. Dia bilang kamu korban kebakaran. Maka klinik langsung mengantar ke rumah sakit ini.”
Maryam mengingat kejadian malam nahas itu.
Sambungnya, “Malam itu kami dikabari kalau kedai kebakaran dan kamu kerja lembur. Ibu sudah mau pingsan, Nafisa. Zayn langsung mengawal Ibu. Mika sudah lebih dulu di sana. Alhamdulillah ada orang yang lihat seorang laki-laki menggendong wanita keluar dari kedai. Langsung kami gerilya mencari kamu.”
Nafisa memejamkan mata. Kulitnya merinding mengingat malam itu dia sudah terjebak di antara kobaran api dan asap pekat.
“Sudah ada penyelidikan, Bu? Yang jelas bukan korsleting listrik atau kebocoran gas karena Nafisa yang memutus aliran keduanya begitu ada api. Dan anehnya ketika awal-awal Nafisa mencium asap dan mau ke depan, pintu dapur nggak bisa dibuka.”
“Nafisa, Ibu mohon. Tinggalah bersama Ibu. Polisi memang melihat ini ada unsur kesengajaan. Percobaan pembunuhan.”
Nafisa terperanjat. Aie mata mulai menggenang. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Ada yang coba bunuh Nafisa? Ya Allah, Bu. Dosa besar apa yang saya buat sampai ada yang mau mencelakai?”
“Mungkinkan mantan suamimu dan istrinya?”
“Subhanallah, masa si, Bu? Karena apa? Gara-gara hak asuh? Harta juga nggak mungkin.”
“Cinta? Dela kan jelas-jelas menyangka kamu masih mengharapkan Reno.”
“Amit-amit, naudzubillah. Bergidig aku, Bu. Ngebayangin pas masih nikah dan dia begituan sama Dela aja aku pengin muntah. Biarlah penyelidikan ini jadi ranah polisi. Kita nggak usah su’udzon.”
“Kamu emang anak baik. Banget. Ya udah mau ya tinggal sama Ibu. Zayn juga udah setuju. Nanti dia akan kirim orang untuk jaga rumah kamu.”
“Lebih baik Nafisa di rumah sendiri aja, Bu. Ngerepotin.”
“Nggak boleh. Nafisa Salsabila, kamu sementara tinggal di rumah Ibu atau Ibu yang tinggal di rumah kamu. Kalau kamu masih ngeyel, Ibu panggil Zayn ke sini.”
Nafisa tergelak tangannya terulur hendak mencium takzim wanita di depannya, namun Maryam malah memeluknya erat.
“Ibu lega banget kamu baik-baik saja. Kamu harus tetap tegar ya.”
__ADS_1
“Tegar dan baik hati, in syaa Allah.”
***