Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Bangun, Sayang


__ADS_3

“Sayang, jangan lama-lama tidurnya. Kamu harus bangun, ya.”


Sayup-sayup Nafisa mendengar suara yang tak asing.


Sudah beberapa kali Nafisa antara sadar dan tidak mendengar suara itu berbisik di telinganya.


Ingin bertanya, namun lidahnya kaku. Ingin melihat namun mata masih ingin terpejam.


“Janji, ya, kamu harus kuat. Jangan pergi. Bangun yuk, Sayang.”


Nafisa mendengar suara wanita berkata sesuatu pada laki-laki yang baru saja berbisik di telinganya, kemudian keduanya menjauh.


“Ha … us.”


Kali ini Nafisa berusaha keras menggerakkan lidahnya. Seperti ada benda yang menghalangi.


“Ya Allah. Pasien Nafisa sadar.” Terdengar suara wanita.


“Mi.. num,” ucap Nafisa lemah.


“Dokter, cepat periksa. Lah kemana dokter barusan?”


***


Zayn duduk di gazebo yang terletak di kebun belakang rumah Maryam.


Sejak ibunya diperkenankan pulang, Zayn memutuskan untuk tinggal di sana. Sekaligus enggan kembali ke rumah yang pernah ditempati bersama Valerie.


Meski kini ia membenci Valerie, namun kenangan indah bersama wanita yang pernah menjadi istrinya selama bertahun-tahun sering berkelebat.


“Nak, kok ngelamun? Nanti kesambit.”


Tenggelam dalam pikirannya, Zayn tak sadar ibunya sudah lama berdiri di sana.


“Loh, kok jalan sendiri ke sini? Mana Mbok Mi?”


Maryam mengelus wajah Zayn yang terlihat lusuh. Jenggot tebal, kumis tak beraturan, dan kantung mata yang menghitam.


“Mbok Mi Ibu suruh beresin kedai. Ibu ingin kedai jalan lagi. Jadi kalau Nafisa bangun, semua sudah sepertindulu. Btw, kamu berantakan banget sih? Walau begitu kamu tetap anak Ibu yang paling ganteng, kok,” seloroh Maryam.


Zayn mendengus namun dari bibirnya terbit seulas senyum.


“Anak Ibu cuman satu,” jawabnya singkat sambil mengangkat kedua alisnya.


“Kan ada Mika,” balas Maryam tak mau kalah dengan mata mengerling jenaka.


“Oiya, suka lupa sama manusia satu itu.”


Keduanya tertawa sembari Zayn menuntun ibunya untuk duduk di bangku taman.


Pagi cerah, taman yang beberapa bulan ditinggal pemiliknya kini nampak bersemi lagi.


“Zayn sudah menceraikan Valerie. Maafkan Aku, Bu. Jika saja dulu aku menuruti kata-kata Ibu untuk tidak menikahinya,” ucap Zayn lirih.


“Yang berlalu sudahlah berlalu. Kini fokus ke depan. Jadikan kesalahan sebagai pelajaran.”


Maryam tidak berniat meminta putranya untuk memikirkan kembali tentang perceraian. Baginya Valerie adalah manusia dengan jiwa yang rusak.


Zayn menatap jauh ke langit biru. Awan berarak. Kulitnya merasakan angin lembut berhembus. Matanya terpejam.


Diam-diam Maryam melirik anaknya.


“Tumben pake baju koko. Ibu malah nggak tau kamu punya.”


“Baru beli kemarin. Tadi aku subuh di mesjid.”

__ADS_1


“Maa syaa Allah. Zayn, alhamdulillah, Nak. Kamu sholat lagi.”


Menunduk, sebutir air mata menetes.


“Sayang, kenapa? Ada apa?”


“Zayn ini manusia laknat, Bu. Laknat.”


Untuk pertama kali Maryam melihat Zayn terisak. Putranya adalah manusia kulkas yang jarang menunjukkan perasaannya.


“Istighfar, Sayang. Allah Maha Pengampun.”


“Aku hampir membunuh seseorang yang tak bersalah.”


“Ya Allah … Apa yang kamu perbuat?”


Zayn menutup muka dengan kedua tangannya lalu menggeleng.


“Aku hampir membuat Nafisa terbunuh. Selama dia di penjara, aku menyuruh seluruh tahanan dan sipir untuk bersikap jahat padanya. Aku marah, Bu. Kupikir dia yang mencelakai Ibu.”


“Innalillaahi wa innaailayhi rooji’un. Zayn, hidup dan mati seseorang ada di tangan Allah. Jika Ibu meninggal pun saat itu, hal terakhir yang Ibu inginkan adalah kamu menjadi pembunuh.”


Berita yang baru didengar Maryam membuatnya terguncang.


Selama ini Maryam berpikir Nafisa memang mengalami kekejaman di penjara. Tapi semua itu ternyata atas perintah putranya.


Menjadi kejam bukan barang baru untuk Zayn Malik, apalagi bisnis yang ditekuninya berkaitan dengan pinjam meminjam uang dalam jumlah milyaran.


Sudah banyak debitur mangkir yang merasakan hukuman keji dari Zayn Malik. Dan dia tidak merasa bersalah karena memang para debitur mangkir itu sering beralasan dan kabur dari tanggung jawab membayar hutang dan bunga.


Ia sering membuat debitur nakal babak belur, namun tidak pernah ada kasus yang sampai dilaporkan ke polisi.


Meski demikian, Zayn tidak pernah menyakiti wanita secara fisik. Jika ada debitur wanita yang nakal, maka Zayn cukup menggertak dan mengancam. Tidak pernah ada kekerasan fisik.


Maryam tidak diberitahu persis mengenai kondisi Nafisa karena takut akan shock dan kondisinya kembali melemah.


Dia hanya tahu Nafisa terkena bronchitis, namun tidak dengan pukulan, cedera lutut, dan kekerasan seksual yang diterima Nafisa.


Karena kondisi yang masih harus dijaga, Maryam juga tidak diperkenankan menjenguk langsung. Setiap hari Zayn atau Mikail yang memberi kabar perkembangan Nafisa.


Mbok Mi dan Lastri sering membezoek Nafisa. Mereka pun diminta untuk tidak membicarakan kondisi Nafisa sebenarnya pada Maryam.


“Bu, Zayn takut jika Nafisa tidak selamat.”


“Tenanglah, Zayn, in syaa Allah jika bronchitis, para dokter bisa menyembuhkan.”


Kedua alis Maryam bertautan, melihat Zayn memijit pangkal hidungnya. Kebiasaan yang menurun dari almarhum suami jika sedang dilanda masalah besar.


“Sayang, ceritakan semuanya biar kamu lega.”


“Nafisa disiksa sedemikian rupa, hingga lututnya cedera. Meski dokter sudah memberi penanganan terbaik, ada kemungkinan Nafisa akan berjalan dengan pincang. Lalu … lalu ada kemungkinan juga dia trauma karena … karena kekerasan … seksual …”


“Zayn … semua atas perintahmu?”


“Kecuali kekerasan seksual.”


“Nafisa …”


Air mata mengalir dari sudut netra. Zayn bersimpuh di hadapan Ibunya.


“Bu, maafkan Zayn …”


Netra Maryam terpejam membayangkan penderitaan demi penderitaan yang harus dialami oleh Nafisa sejak dulu hingga sekaranf.


Hidup tanpa tahu masa lalu, sebatang kara, diceraikan, diambil haknya atas anak, difitnah, hingga disiksa di penjara.

__ADS_1


Pelecehan seksual adalah puncaknya.


“Bu, maafkan Zayn …”


“Ibu nggak ngerti mesti ngomong apa, Zayn. Kenapa kamu bisa jadi monster yang mengerikan?”


Zayn tidak bisa berkata-kata. Yang lebih menyakitkan ternyata Nafisa tidak bersalah namun tetap harus menderita. Andai saja ia mendengarkan penjelasan Nafisa.


Hape Zayn bergetar diangkatnya segera melihat nomor yang muncul adalah nomor dari rumah sakit.


“Pak Zayn, Bu Nafisa kritis. Tadi sempat sadar namun mengalami gagal jantung. Kami minta keluarga segera ke sini.”


“Baik, Suster. Saya segera ke sana.”


“Kenapa Nafisa?”


Tenggorokan Zayn tercekat.


“Kritis, Bu. Zayn ke sana, ya.”


“Ibu ikut.”


“Tapi, Ibu belum kuat …”


“Zayn, diam dan dengarkan. Mulai detik ini, Nafisa akan Ibu anggap sebagai anak dan kamu … Kamu nggak usah menghalangi. Sudah cukup kesalahan kamu padanya! Ayo cepat berangkat.”


***


Dalam tidur, Nafisa merasakan sakit luar biasa di bagian dadanya. Rusuk-rusuk seperti dipatahkan. Namun sesak yang dirasakan hilang dan ia bisa kembali bernapas normal.


Ia menunggu suara yang sering berbisik di telinganya. Suara yang bisa menenangkan. Namun suara itu tak kunjung datang.


Lelah … lelah luar biasa dirasakan Nafisa.


Kini suara-suara orang berbicara semakin jelas terdengar. Ia mengenali suara wanita yang menanyakan kondisinya. Maryam, suara itu terdengar sangat cemas.


“Bu, alhamdulillah Ibu sudah sehat. Doa Nafisa selama ini dikabulkan …” Ucapnya dalam hati.


Lalu suara pria. Zayn! Pria yang menyebabkan tubuhnya rusak tak berdaya. Instingnya mengatakan dia harus pergi sejauh-jauhnya dari laki-laki bernama Zayn Malik.


Terdengar suara Maryam lembut berbisik di telinganya.


“Anak Ibu, bangun, yuk. Ibu akan jaga kamu, Nafisa. Tapi bangun dulu, yuk. Kamu akan bahagia setelah ini. Ibu janji …”


“Bahagia, Bu? Apa itu bahagia? Mungkin Nafisa memang tidak ditakdirkan untuk bahagia,” sahutnya dalam hati.


Nafisa merasakan matanya menghangat dan basah.


“Dokter, lihat, ada air mata. Dia bisa mendengar saya!” Seru Maryam penuh harap. Nafisa bisa merasakan jemarinya digengam oleh wanita itu.


“Alhamdulillah detak jantungnya sudah stabil. Disemangati, Bu. Secara fisik kondisi Bu Nafisa sudah membaik, infeksi, peradangan, serta bronchitis sudah tertangani. Hanya saja mungkin secara kejiwaan masih trauma sehingga enggan untuk kembali.”


Seperti ada pukulan ke ulu hati Zayn mendengarkan penjelasan dokter. Maryam melirik tajam ke arah putranya.


“Apakah boleh saya di sini untuk menjaga Nafisa di luar jam kunjungan?”


“Bu, biar Zayn saja. Nanti Ibu kecapean.”


“Astaghfirullahaladzim, Zayn, barusan ibu merasa tangan Ibu diremas oleh Nafisa,” ucap Maryam lagi.


“Nak, bangun, Sayang. Sehat, yuk. Ibu kangen sama ketimus, lalampa, sama kue-kue buatan kamu.”


Bulu mata lentik itu mengerjap. Lalu terdengar suara lirih, “Ibu … Nafisa lelah.”


***

__ADS_1


__ADS_2