
Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan, pesawat pribadi itu tiba di bandara privat di luar kota Yogyakarta.
Dua mobil sudah menunggu mereka.
Nafisa berjalan di belakang Zayn, Mikail, dan beberapa asisten.
Zayn kemudian menaiki sebuah mobil mewah sementara Mikail menyuruh Nafisa naik mobil di belakang bersama driver dan beberapa body guard.
“Saya temui kamu di rumah. Tunggu di garasi sampai saya datang.”
Nafisa mengangguk.
Mereka berkendara sekitar tiga puluh menit sebelum tiba di depan pagar tinggi menyerupai benteng.
Pintu gerbang terbuka otomatis. Mata Nafisa makin terbelalak melihat rumah di balik pagar.
Sebuah rumah teramat mewah dengan desain modern lengkap dengan kolam teratai di depan carport dan taman bunga di kiri kanan. Pemandangan sekeliling adalah pegunungan.
Hawanya tidak terlalu dingin, namun cukup nyaman dan sejuk.
Nafisa tidak melihat mobil yang dinaiki Zayn dan Mikail. Dia menunggu di garasi sementara para body guard masuk melalui pintu service.
Seorang body guard keluar sambil membawa segelas teh hangat.
“Silakan diminum, Bu. Sebentar lagi Pak Mikail akan datang,” sapanya ramah dengan logat Jawa yang kental.
“Matur nuwun, Pak.” Nafisa menjawab dan kaget sendiri karena ternyata dia juga bisa menjawab dengan logat Jawa.
“Loh orang Jawa?”
“Nggak tau Pak. Dari kecil saya terpisah sama orang tua dan nggak bisa ingat masa lalu. Saya dibesarkan di Sumatera. Ini juga kaget sendiri kok bisa langsung luwes logat Jawa-nya. Padahal punya teman orang Jawa aja cuma dikit.”
Pria itu tertawa.
“Njih sampun. Moga betah di sini. Saya Linggar, bagian keamanan. Yang tadi itu Kasno, juga bagian keamanan. Sebelumnya saya sering jagain ibu sepuh. Kasihan sudah enam bulan ini kena stroke.”
“Ooo, terus nggak ada perawat?”
“Gimana ya ngomongnya. Ibu sepuh itu orangnya baik banget, tapi sejak stroke jadi berubah. Udah banyak perawat yang kerja tapi cuma betah seminggu dua minggu.”
Nafisa mengangguk. Waktu masih jadi perawat, ia pernah merawat beberapa pasien stroke. Perubahan sikap yang drastis pada orang yang terkena stroke lebih karena depresi tidak bisa menerima imbas seperti lumpuh, kesulitan bicara, bahkan makan.
Satu body guard lagi keluar dari dalam. Lalu duduk membawa pisang goreng yang masih hangat.
“Diicipin, Mbak. Eh panggil mbak aja lah, kita kan sama-sama kerja di sini. Saya Kasno.”
“Silakan, Pak.”
“Ya panggil, Mas lah. Kan saya bilang kita sama-sama kerja.”
“Nggak apa, kalau berkenan saya panggil Pak aja.”
“Sak karepmu wis. Pokok, sing betah ya. Kalau perawatnya Ibu Sepuh minta berhenti, pasti setelah itu pecah perang. Nyonya Val istrinya Pak Zayn mana mau ngurus. Wong dia model terkenal. Nanti kukunya patah,” celetuk Kasno setengah berbisik.
Nafisa menyimak penuturan Pak Kasno. Tidak mengambil pisang belum biasa makan dengan wajah tertutup cadar.
Kasno menyambung lagi, “Nanti kenalan sama Mbok Mi, dia istri saya, orangnya baik tapi tegas. Lalu ada Nasti, agak jutek tapi atine baik sebenernya.”
“Rumah segede gini cuma dua yang bantuin?”
“Oh kalau untuk bersih-bersih tiap pagi datang cleaning service. Horang kaya, Mbak. Cateringnya aja dari hotel bintang lima. Pokoknya istri saya dan Nasti itu sebenernya nggak terlalu banyak kerjaan, cuma ngeladenin Nyonya Val sama Pak Zayn aja.”
“Nyonya sama Tuan ada anak?”
“Pak Zayn nggak mau dipanggil Tuan. Tapi kl Nyonya Val harus nyonya. Mereka nggak punya anak. Kalau nguping-nguping sih, Nyonya Val nggak mau badannya melar.”
“Padahal kan kalo horang kaya tinggal pergi ke klinik slimming ya, Pak,” celetuk Nafisa, ingat di pasca melahirkan anak-anaknya dia sibuk cari video tutorial workout gratisan.
Linggar dan Kasno bertatap lalu tertawa.
“Wah mbaknya asik. Yo wis. Kami mesti pergi lagi. Dimakan pisangnya. Tunggu Pak Mikail di sini ya, jangan kemana-mana.”
“Njih, Pak.” Jawab Nafisa yang terheran kenapa dia dengan luwes bisa menjawab dalam bahasa Jawa.
Sepeninggal Lingga dan Kasno, Nafisa melayangkan pandangan ke sekeliling garasi yang mungkin sebesar rumahnya di Jakarta.
Ada enam mobil. Tiga di antaranya mobil sport, lainnya mobil mewah yang mereknya Nafisa tidak pernah lihat. Dua motor besar terparkir rapi.
Belum ada tanda-tanda Mikail, kemudian Nafisa menelepon Reno.
“Hai Bang,” sapanya sambil membuka cadar.
“Sayang. Kamu udah nyampe?”
Nafisa hampir menahan tawa melihat Reno yang acak-acakan dengan noda makanan di sana-sini. Terdengar juga suara Milo menangis.
“Panggilin Aurelie dan Milo deh, Bang.”
Dua anak itu lalu muncul di layar dengan air mata berlinang.
“Mama, Papa nggak bisa suapin adek. Jadi tadi makanannya tumpah. Kena baju princess aku deh,” adu Aurelie dengan wajah bersungut.
“Kakak jelek. Milo mau sama Mama!” Milo mulai menangis keras. Reno menggendongnya dengan panik.
Rasa bersalah kembali muncul. Dialah yang menjadi penyebab kekacauan ini.
Dengan tatapan lembut Nafisa berkata, “Abang, duduk samping Aurelie sebentar deh.”
Setelah suaminya duduk di depan layar bersama Aurelie, maka Nafisa menggumamkan Shalawat Badr.
Shalatullah Salamullah Alla Toha Rasullilah Shalattullah Sallamullah Alla Yasin Habibillah
Tawassalna Bibismillah Wabil Hadi Rasulillah Wakulli Mujahidilillah Bi Ahlil Badri Ya Allah
Nafisa terus melafadzkan Shalawat Badr seperti yang biasa dilakukan untuk menenangkan anak-anaknya di rumah.
Tak lama Milo dan Aurelie sudah ceria lagi dan ikut berdendang.
Setelah itu Nafisa mengganti dengan lagu yang lebih ceria dan dinyanyikannya sambil berjoget. Sebuah lagu dari film favorit Aurelie dan Milo.
Under the sea
Under the sea
Darling it's better
Down where it's wetter
Take it from me
Up on the shore they work all day
Out in the sun they slave away
While we devotin'
Full time to floatin'
Under the sea
Aurelie dan Milo langsung jejingkrakan. Begitu juga Reno. Sejenak mereka berempat lupa akan kesedihan dan kekacauan hidup yang sedang terjadi.
“Ehm …” Terdengar suara pria berdehem membuat Nafisa langsung berhenti.
“Eh, Pak Mikail. Maaf tadi anak-anak saya nangis.”
Sadar dirinya sedang tak bercadar, Nafisa buru-buru memalingkan wajah kini membelakangi Mikail untuk berpamitan dengan keluarganya.
“Sayang-sayangnya Mama, udah dulu ya. Mama harus kerja. Aurelie dan Milo, kalian harus bantu Papa seperti kalau ada Mama. Kita video call lagi nanti malam ya.”
“Oke Mama. We love you,” balas Aurelie dan Milo sambil melambaikan tangan.
Reno menatap Nafisa dengan sendu sebelum sambungan video terputus.
Setelah menyimpan hape, Nafisa memasang cadar lalu menghadap Mikail. Pria itu menatap wanita di depannya dengan pandangan sebal.
“Drama. Itu makanya saya nggak mau nikah.”
Nafisa hanya mengendik tak mau menanggapi laki-laki bewajah sombong itu.
Mikail berkata, “Saya mau kenalkan kamu ke Bude Maryam. Oya supaya kamu tahu, saya ini sepupuan sama Zayn. Jadi Ibu Sepuh itu Bude saya, paham?”
“Paham. In syaa Allah.”
“Terus satu lagi. Kamu boleh jadi istri pengusaha tapi di sini kamu adalah orang belakang. Ikutin tata krama. Duduk harus di lantai kecuali kalau disuruh di kursi.”
“In syaa Allah nggak masalah.”
“Kamu di sini menjaga Bude. Dari urusan makan, mandi, cucian, sampai kebersihan paviliun itu kerjaan kamu. Jangan manja. Kamu bukan lagi nyonya. Ingat hutang suami yang belum juga kebayar.”
“Saya ini istri dari suami dan ibu dari anak-anak. Belum pernah jadi nyonya. In syaa Allah semua pekerjaan yang Anda sebutkan itu bisa saya handel.”
Biasa mengerjakan semua sendiri dan hidup pas-pasan sejak di panti tidak membuat Nafisa gentar.
Merintis dari nol hingga berkecukupan tidak membuat Nafisa bagai kacang lupa kulit.
Walau Reno belum tergolong pengusaha kaya raya namun mereka memiliki fasilitas yang nyaman untuk hidup.
Kini Nafisa harus melepaskan semua atribut kenyamanan dan bekerja sebagai ‘orang belakang’ seperti yang disebutkan Mikail.
“Kita lihat saja nanti. “Bude bukan orang yang gampang jadi ya gitu deh. Terus itu kamu bisa kerja pake baju gombrang dan cadar?”
“In syaa Allah bisa, Pak.”
“Dari tadi in syaa Allah. Kamu nggak yakin?”
“Justru in syaa Allah itu artinya jika Allah menghendaki. Diucapkan jika kita sudah berniat mengerjakannya dengan baik.”
“Ya ya ya terserah. Saya mah udah nggak peduli sama yang gitu-gitu.”
“Maaf, Anda muslim?”
“Yep. Tapi dah nggak shalat dari kecil. Nggak ada gunanya.”
__ADS_1
Mikail kemudian tertegun, biasanya dia tidak mau membicarakan hal tentang dirinya ke orang asing.
“Sudah, sudah. Sekarang saya tunjukin kamar Bude,” cetus pria jangkung berambut coklat itu.
“Siap. Tapi karena Bapak udah ngomong maka saya wajib ingetin. Shalat mah wajib, Pak.”
“Ck.” Decak Mikail dengan wajah gusar. Siap memberondong Nafisa.
Malas jika harus ribut di beberapa jam pertama, Nafisa berjalan ke arah pintu service.
“Lewat sini kan?”
“Heh sotoy! Salah! Lewat sini.”
Mikail menatap Nafisa yang melewati dirinya sambil menunduk.
Nafisa melangkah ke arah ruang keluarga. Terbengong dengan interior yang luar biasa mewah dan modern. Namun asri dengan sentuhan tanaman di sana-sini.
“Jangan tolah-toleh.”
“Kenapa, Pak?”
“Heh! Kamu ni kok njawab terus.”
“Saya nanya kok.”
Mikail berhenti lalu menatap Nafisa yang terkaget.
“Saya berusaha sabar, ya. Biasakan kalau saya atau siapa pun ngomong, jangan bales. Diem aja. Ngerti?”
Nafisa menggigit bibir di balik cadar.
“Ngerti nggak?”
“Nafisa menggangguk.
“Ngomong! Kamu bisu?”
“Maaf, tadi kan perintahnya saya disuruh diem. Makanya saya mengangguk. Kenapa saya liat-liat rumah? Karena kalau nanti saya disuruh-suruh terus nyasar gimana? Mending rumahnya kecil. Kan ini rumah segede Gaban.”
Nafisa berusaha membendung kekesalannya.
“Sepertinya saya nih yang bakal resign kalau kamu sampai tiga bulan di sini.”
Mikail menatap Nafisa dengan mata nyalang.
“Ini saya diem aja atau jawab?”
“Gusti paringono sabar,” ujar Mikail mengurut dada kemudian meneruskan langkahnya melintasi ruang keluarga lalu ke luar ke taman belakang menuju paviliun yang tidak terlalu besar namun nampak apik.
“Itu paviliunnya Bude. Kamu tidur di bagian belakang. Kamar mandi juga pake kamar mandi orang belakang.”
Mikail menghentikan langkah lalu melirik tajam ke Nafisa.
Menyadari bahwa pria itu menunggu jawaban ia kemudian berkata, “Oh, harus dijawab. Siap.”
Mikail menggelengkan kepala.
Dari arah paviliun terdengar bunyi barang jatuh berkelontang.
“Ibu! Kenapa sih selalu bikin repot?” Pekik wanita dengan nada murka.
Terdengar lagi barang berkelontang.
“Dasar, orang tua nggak guna!”
Seorang wanita teramat cantik keluar dari paviliun sambil membanting pintu.
Begitu melihat Mikail dan Nafisa ia gegas mendekat.
Dengan nada mengancam wanita itu berseru, “Kamu! Awas kalau keluar dalam waktu kurang dari tiga bulan. Saya suruh suami saya lempar keluarga kamu ke jalanan! Urus perempuan tua itu!”
Melangkah dengan kaki jenjangnya, Valerie Malik masuk ke ruang utama. Masih dengan meneriakkan makian pada mertuanya.
Shock dengan perilaku nyonya rumah, Nafisa meneruskan langkah menuju paviliun bersama Mikail.
Pelan Mikail mengetuk pintu paviliun.
“Ini Mikail mengantarkan perawat yang akan jagain Bude.”
Tak ada jawaban, Mikail membuka pintu. Wajahnya mengernyit.
Nafisa pun ikut melongok masuk.
Situasi yang sangat tidak enak. Makanan tumpah di mana-mana. Piring dan gelas dari kaleng bergeletakan di lantai. Tirai masih ditutup. Belum lagi bau tidak sedap yang memenuhi seluruh ruangan.
“Bismillaah,” batin Nafisa.
Mikail hendak melangkah masuk sambil menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan.
“Maaf, Pak. Saya saja.”
“Tapi …”
“Bismillaah. Saya akan jaga amanah untuk merawat Ibu Sepuh.”
Nafisa menutup pintu perlahan lalu membuka cadar.
“Assalamualaykum Bu Maryam. Saya Nafisa. Mohon ijin untuk menjaga dan merawat Ibu,” sapanya lembut.
Entah karena sebab apa, hati Nafisa dipenuhi perasaan hangat begitu melihat seorang wanita tua dengan rambut kusut masai duduk di atas kursi roda.
Maryam menatap lurus ke arah Nafisa dengan pandangan curiga.
“Saya Nafisa, Bu. Ijinkan saya mencium tangan Ibu,” ulang Nafisa lagi karena biasanya pasien stroke punya masalah dengan daya ingat.
Perlahan Nafisa berjalan mendekati Maryam.
“Boleh saya cium tangan?”
Sebutir air mata mengalir dari sudut mata Maryam. Pelan hampir tak kentara, Maryam menganggukkan kepala.
Nafisa pun meraih tangan keriput lalu menempelkan keningnya tanda hormat.
“Ibu Sepuh jangan nangis. Udah ada Nafisa yang jagain.”
Masih ragu, tapi Nafisa mengusap pipi Ibu Sepuh dengan punggung jarinya.
“Nafisa boleh buka tirai-tirainya?”
“Eennggaak.”
“Oh ya sudah. Kalau begitu Nafisa boleh bereskan makanannya?”
Maryam tidak menjawab, tapi Nafisa mengartikan boleh.
“Nafisa sekalian taro barang di kamar belakang lalu bawa alat pembersih. Ibu Sepuh tunggu sebentar.”
Paviliun itu walaupun gelap dan berantakan namun terasa nyaman. Ada ruang keluarga dan ruang makan, teras menghadap taman bunga dan kolam. Lalu pantry yang rapi dan lengkap.
Nafisa menuju ke belakang, menemukan kamarnya lalu meletakkan koper.
Setelah itu ia mengambil sapu dan pel lalu dengan sigap membersihkan makanan dan minuman yang berserakan.
“Alhamdulillah udah rapi. Sekarang Ibu mandi yuk. Dimana kamar Ibu?”
Maryam tidak menjawab namun melirik ke arah pintu di sebelah kirinya.
Nafisa mendorong kursi roda lalu masuk.
Kamar milik Maryam sangat lah nyaman jika terang dan rapi. Jendela besar-besar tertutup tirai tebal.
Di salah satu dinding ada foto Maryam bersama suaminya dan Zayn ketika masih muda.
Nafisa mendorong Maryam ke arah kamar mandi. Hatinya miris melihat area itu kotor dan berantakan.
Nafisa pun langsung merapikan lalu gegas membawa baskom dan lap untuk Maryam.
“Bu Sepuh, ini ada air hangat dan waslap. Ijin bersihkan wajah dan tangan Ibu.”
Tangan Maryam tiba-tiba menepis baskom hingga airnya tumpah membasahi pakaian Nafisa.
“Oh nggak mau ya, Bu. Maaf, Nafisa nggak tau,” jawabnya lembut walau sejujurnya kaget dengan reaksi Maryam.
“Ibu sekarang nyamannya mau apa?”
Maryam lagi-lagi tidak bersuara, namun matanya menoleh ke arah foto.
“Oh mau lihat foto. Itu Bapak ya Bu?”
Sorot mata Maryam yang awalnya nampak gusar kini tiba-tiba menghangat.
“Kangen, nih?” Seloroh Nafisa. Ia telah mencari tahu tentang keluarga Zayn Malik di internet.
Abdullah Malik meninggal delapan tahun lalu dan mewariskan seluruh kerajaan bisnis kepada putra satu-satunya.
Sebelum stroke, Maryam Malik adalah seorang ibu-ibu yang sangat cantik. Alih-alih hidup bak sosialita, Maryam memilih aktif di banyak yayasan untuk membantu mereka yang memerlukan.
Zayn Malik menikah dengan Valerie Sasongko yang kemudian mengganti nama belakang keluarganya dengan Malik.
Valerie adalah seorang model papan atas yang kini menjadi host untuk salah satu acara pencarian model berbakat. Nafisa sering melihat Val di televisi dan media sosial.
Berbeda dengan Zayn yang jarang dan hampir tidak pernah muncul di media-media.
Nafisa melihat berkeliling ketika merasa tangannya disentuh.
“Mmmmmaaandiiii.”
“Waaah, siap! Nafisa siapin semuanya ya. Ibu mau tunggu di sini sebentar?”
“Iiiiiikuuuut.”
“Asik. Tunjukin Nafisa tempat simpan-simpan baju.”
__ADS_1
Suara ceria Nafisa membuat Maryam tiba-tiba terenyuh. Entah kenapa dia merasa Nafisa berbeda dari perawat-perawat lainnya.
Maryam menunjuk dengan arah pandangan. Gesit, Nafisa kemudian mengambil baju dan semua perlengkapan untuk Maryam.
Tak lama, setelah mandi, wajah Maryam wajahnya segar, rambutnya tersisir rapi tidak awut-awutan seperti biasa, pakaiannya rapi dan wangi.
Sebetulnya bukan para perawat maupun Val yang tidak mau merawat, tapi mereka memperlakukan Maryam dengan kasar dan seenaknya. Itulah sebabnya Maryam selalu uring-uringan.
Sorot mata Nafisa yang tulus dan sikapnya yang lembut dengan sekejap meluluhkan hati Maryam.
Untuk pertama kali sejak diperbolehkan pulang dari rumah sakit tiga bulan yang lalu, Maryam memiliki semangat menjalani hari-hari yang sulit.
Stroke membuat separuh tubuhnya lumpuh dan tidak bisa bicara. Wajahnya yang dulu cantik kini kuyu tak terawat.
“Waaah, sudah cantik. Mau liat ke cermin?”
Maryam mengangguk. Nafisa mengarahkan kursi roda ke meja rias.
“Gelap, Nafisa buka tirai. Sebentar aja, yang penting ibu bisa liat pantulan di cermin.”
Maryam mengangguk lagi. Gorden dibuka dan nampak pemandangan menakjubkan. Taman bunga aneka warna dan jenis, kolam, dan ayunan tertata cantik di kebun. Deretan pegunungan nan hijau menjadi latar belakang yang indah.
“Maa syaa Allah pemandangannya.”
Nafisa lalu menoleh ke arah Maryam.
“Nah gini kan cantik dan anggunnya kelihatan. Sini deh liat.”
Maryam menatap pantulan wajahnya di cermin. Sesungguhnya dia sangat tidak menyukai penampilannya yang jauh berbeda dari sebelum stroke menghampiri.
“Nii, Nafisa tambahin pelembab. Kulit ibu pada dasarnya bagus, tinggal tambahin pelembab. Glowing deh.”
Mau tak mau Maryam tersenyum.
“Senyum, Ibu senyum … Cantik banget. Ijin kasih pelembab di wajah, tangan, dan kaki ya.”
Nafisa mengambil lotion. Terbelalak dengan merek yang dipakai Maryam. Produk yang dia tahu dari medsos harganya jutaan.
Lembut ia mengusapkan pelembab untuk wajah dan memilih pelembab untuk tangan serta kaki.
Di bagian kaki, Nafisa memijat pelan. Dulu dia pernah belajar fisioterapi. Rangsangan rutin akan bisa menghidupkan syaraf-syaraf yang terganggu karena stroke.
“Beres. Ibu laper nggak? Mau dahar apa?”
Sekali lagi Nafisa tertegun karena mengucapkan kata dalam bahasa Jawa yang tidak pernah didengar sebelumnya.
“Piiiissaaa ng.”
“Sip! Nanti Nafisa cari di dapur. Kita keluar yuk. Ibu tunjukin Nafisa tempat-tempatnya.”
Maryam mengangguk.
Di atas meja ada pisang goreng. Kening Nafisa berkerut. Seingatnya pasien stroke harus diet gorengan. Lantas ia mencari ke kulkas dan menemukan pisang kepok.
“Bu, mau aku kukusin pisang kepok nggak? Bagus loh buat pencernaan. Kalau pencernaan sehat, in syaa Allah yang lain berangsur pulih.”
Maryam mengacungkan jempol tangan yang bisa digerakkan. Nafisa lalu sibuk di dapur mencari peralatan masak.
Tak lama, pisang kukus sudah tersaji. Ia menempatkan di piring biasa dan bukan piring kaleng.
“Bu, tangan kanannya bisa gerak, kan? Coba makan sendiri ya. Nafisa sudah potong-potongin tinggal hap aja. Sambil Ibu makan, Nafisa berberes rumah. Ijin tirai dibuka ya, pemandangan rumah Ibu Sepuh bagus banget.”
Maryam tidak menjawab tapi tangan kanannya langsung mengambil garpu lalu menusukkan ke pisang. Perlahan dia menyantap pisang sambil memerhatikan Nafisa yang sedang membersihkan paviliun.
Di sela-sela membersihkan paviliun, Nafisa memeriksa kondisi Maryam yang terlihat lebih segar dan mulai bersemangat.
Kini paviliun nampak jauh lebih layak dan menyenangkan. Nafisa membuka jendela-jendela. Membiarkan udara segar masuk.
Melihat Maryam sudah menyantap habis pisang kukus, Nafisa berhenti bekerja lalu duduk bersimpuh di lantai, seperti pesan Mikail.
Maryam menggeleng lalu menunjuk-nunjuk kursi.
“Duuud uuuk. K uurs.”
“Boleh, Bu? Kata Pak Mikail harus duduk di bawah.”
“Mmiika ng a co.”
Nafisa tergelak lalu membalas, “Labil juga kayaknya, ya, Bu.”
Maryam tersenyum miring karena sebagian wajahnya masih susah digerakan.
“Bu, banyak-banyak senyum deh. Itu kan terapi wajah. Terus gini, aaaa, iiiii, uuuuu.”
Patuh, Maryam mengikuti Nafisa. Mereka lalu asik berlatih tidak hanya wajah namun juga perlahan berlatih merangsang tangan dan kaki yang lumpuh.
Dari dalam rumah utama Mikail diam-diam menunggu kehebohan yang biasa terjadi di paviliun Budenya jika ada perawat baru.
Ia terkejut melihat tirai-tirai dan seluruh jendela terbuka lebar. Sekilas ia melihat Budenya dan Nafisa sedang duduk berhadapan. Maryam berlatih menggerakan anggota tubuh.
Ia tidak bisa melihat Nafisa dengan jelas karena sengaja memilih tempat duduk membelakangi jendela.
Pria itu menjulurkan leher tak percaya pasa penglihatannya. Budenya yang biasanya garang kini sesekali terlihat berusaha tersenyum.
“Syukurlah, semoga hutang suaminya nggak lunas-lunas,” gumam Mikail sambil berlalu menuju ruang kerja Zayn.
***
Malam hari setelah Maryam tidur, Nafisa membersihkan diri, shalat isya lalu menelepon suaminya.
Hari sudah larut, dirinya tahu Aurelie dan Milo pasti sudah terlelap.
“Hai Sayang. Gimana keadaan kamu?” Sapa Reno begitu telepon tersambung.
“Aman, Bang. Gimana kabar Abang dan anak-anak?”
“Abang masih merasa bersalah banget. Kalau anak-anak masih penyesuaian. Milo tadi susah bobok karena nanyain kamu. Sudah aku bacakan cerita Nabi Sulaiman tetap nangis.”
“Aaaw, kasian Babyku. Terus akhirnya gimana, Bang?”
“Akhirnya ketiduran sendiri. Cantiknya Abang, makasi ya selama ini udah luar biasa jagain anak-anak. Abang nggak kebayang kamu ngurusin anak, masak, berberes, terima pesanan. Malam juga masih melayani Abang. Ini baru beberapa jam Abang dah remuk.”
Nafisa tersenyum manis sekali di mata Reno.
“Sama-sama Abang. Makasih juga udah jadi suami dan ayah buat aku dan anak-anak,” jawabnya lembut menatap Reno penuh cinta.
“Suami payah! Ini hukuman buat aku karena sudah meng …” Reno hampir keceplosan membongkar pengkhianatannya.
“Meng … apa Bang kok nggak dilanjutin?” Tanya Nafisa dengan alis terangkat.
“Meng … menginvestasikan dana perusahaan ke tempat yang salah.”
“Qadarullah, Bang. Semoga aja Uni Dela mau terus bantu jadi bisa cair.”
Reno tidak menjawab. Dia sangat kecewa pada Dela yang akhir-akhir ini sulit dihubungi, padahal Reno sudah tak peduli jika terkena penalti besar. Ia hanya ingin istrinya tak harus lama menjadi gadai atas hutangnya.
Enggan berpikir lama tentang mantan budak ranjangnya, Reno tersenyum ke istrinya lalu bertanya, “Cantik, tadi sibuk, ya?”
“Lumayan, tapi alhamdulillah semua dimudahkan. Bu Maryam ternyata baik. Semoga baik terus dan yang penting cepat pulih.”
“Pak Zayn baik sama kamu?”
“Belom ketemu pas di rumah. Bu Maryam nggak mau keluar paviliun. Oiya, di sini aku tinggal di paviliunnya Ibu Sepuh. Kalau Pak Zayn dan Nyonya Val di rumah utama. Aku dah ketemu Mbok Mi dan Mbak Nasti yang bantu-bantu di rumah. Ada juga Pak Linggar dan Pak Karno. Lalu ada beberapa driver aku lupa namanya. Mereka jarang masuk soalnya.
Hati Reno tercubit menyadari di sana istrinya tak lebih dari pekerja yang harus meladeni majikannya.
“Abang, rumahnya Pak Zayn bagus banget. Garasinya segede rumah kita. Besok aku pengin ajakin Bu Sepuh jalan keliling taman. Moga-moga mau.”
Reno mengamati Nafisa yang tetap terlihat rapi dan segar malam itu. Padahal hari sudah larut.
“Cantik, kamu capek? Mau bobok?”
“Nungguin Abang ngantuk aja, baru aku istirahat. Aku kangen Abang dan anak-anak.”
“Sayang, jangan bosan maafin Abang ya. Abang nyesel.”
“Jadikan pembelajaran, yang penting kita tegar dan tetap baik hati. In syaa Allah akan dimudahkan semua.”
Hati Reno terenyuh. Betapa bodohnya dulu dia tunduk pada hawa napsu dan mengkhianati istri sebaik Nafisa.
“Abang bengong, sih,” ujar Nafisa sambil terkekeh. Wajah cantiknya sangat menggemaskan. Reno ingin berada di samping istrinya untuk memeluk. Mengatakan semua akan baik-baik saja.
“Kamu cantik.”
“Abang, pas aku nggak ada, jangan macem-macem loh. Awas!”
Reno tergelak. Tekatnya sudah bulat untuk mengembalikan semua seperti dulu. Tidak ada lagi pengkhianatan.
Nafisa menatap serius.
“Ingat, Abang punya tanggung jawab besar yaitu aku dan anak-anak.”
“Siap, Cantik. In syaa Allah.”
“Semoga kita semua bisa melewati ini, ya, Bang.”
“Semoga sebelum tiga bulan kita sudah bisa kumpul lagi. Saling mendoakan ya, Sayang.”
Sejujurnya Nafisa ingin menangis namun ia harus kuat di depan suaminya.
“In syaa Allah. Kita udahan dulu. Cium buat anak-anak.”
Reno menyorot kamera ke arah anak-anaknya yang tidur di kamar utama.
“Abang gigitin aja pantat mereka abis ini. Gemes kelakuannya aneh-aneh.”
“Awas loh, Bang. Kalau mereka kebangun malah nggak bisa tidur lagi.”
“Wah gawat,” balas Reno sambil terkekeh.
“Selamat tidur Abang, besok teleponan, ya.”
Setelah memutus sambungan telepon, Nafisa mengambil air wudhu lalu menjalankan shalat malam.
__ADS_1
Lirih bermunajat dengan air mata mengalir di pipi, “Ya Allah, jagalah keluarga hamba. Jagalah hamba. Kuatkan kami menjalani skenario yang sudah Kautetapkan. Aamiin.”
***