Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pertautan Cinta 1


__ADS_3

Enam Tahun Kemudian


“Halo!”


“Hai …”


“Mana Mbakmu yang kemarin? Kok sendirian?”


“Aku kabur. Bosen di villa terus.”


“Jadi kamu ke sini sendirian? Cinta, bahaya, ah.”


“Nggak sendirian, ini aku ketemu kamu. Dim, ajakin aku ke pantai dong. Aku pengin main ombak.”


Dimiko melihat ke arah sepedanya yang diparkir tak jauh dari tempat Cinta duduk di atas badukan yang membatasi jalan aspal dengan pantai.


“Aku bonceng mau nggak?”


“Mau! Aku belum pernah boncengan.”


“Kamu tunggu di sini, aku turunin sepedanya dulu.”


Berhati-hati, Dimiko menurunkan sepedanya lalu menuntun Cinta.


“Aku pengin pegang sepedamu bisa? Biar aku tahu seberapa tinggi.”


“Sepeda anak-anak, Kok. Eyang Kakung yang belikan waktu aku juara ngaji.”


Dimiko meraih jemari Cinta lalu membantunya menelusuri sepeda. Dengan cermat ia menerangkan bagian-bagian sepeda lalu warnanya. Juga sensasi yang ia rasakan ketika ngebut mengantarkan pesanan rantangan restoran ibunya.


“Suatu saat aku akan belajar naik sepeda.”


“Bisa aja, minta Ayah kamu belikan yang roda empat.”


Cinta tergelak. “Mana bisa, aku kan buta nanti nubruk-nubruk.”


Dimiko mengernyit.


“Tadi kamu jalan ke sini nubruk nggak?”


“Enggak sih.”


“Nah, sepeda itu gantinya kaki. Selebihnya sama aja. Kamu kan pakai pendengaran dan rasa, pakai itu kalau suatu saat naik sepeda. Hanya kalau aku bilang sih, jangan yang roda dua.”


“Dim, kamu pinter.”


“Soalnya seneng baca. Kata orang-orang aku lebih tua dari umurku. Yuk ah, aku juga nggak bisa lama, soalnya udah sore. Rumahku jauh. Nanti aku anter kamu pulang lewat garis pantai. Kamu tinggal di Vila baru yang namanya Salsa itu kan?”


“Iya.”


Dimiko melihat Cinta, bocil sepantaran dirinya yang wajahnya selalu gembira terlepas dari matanya yang tidak bisa melihat.


“Sini aku bantu. Kamu berdiri di sini. Tangan pegangan sadel. Angkat kaki kanan kamu, puter badan dikit. Rasain boncengannya dimana. Lalu duduk.”


Cinta mengikuti petunjuk Dimi.


“Dim! Aku duduk di sepeda.”


“Di boncengan sepeda. Jangan terlalu yakin kamu.”


Keduanya tertawa. Hati-hati, Dimi menuntun sepeda ke arah pantai.


“Dim, kok pelan.”


“Orang aku tuntun. Aku takut kamu takut.”


“Siapa takut?” Ledek Cinta.


“Ya udah tapi jangan suruh aku ngebut, ya. Aku suka tertantang.”


“Ngebut aja.”


“Duh dasar cewek.”


Dimiko kemudian menaiki sepedanya, mengayuhnya pelan di atas pasir.


“Lebih cepat, Dim!”


“Berat, tahu, gowes sepeda di pasir. Pegangan.”


Bukannya menurut, Cinta malah mengangkat kedua tangannya merasakan angin menerpa wajahnya.


“Seru banget, Dim.”


“Cinta, pegangan ke pinggang atau aku stop nih.”


“Siap, Jenderal!”


Dimiko mendecak, namun tetap mengayuh pelan sepedanya menuju ke batas air.


“Dah sampai. Kamu pegangan aku. Di sini ombaknya pelan. Jangan ngide-ngide.”


Cinta langsung menggandeng tangan bocah laki-laki yang baru dikenalnya kemarin.


“Dengerin perbedaan bunyi ombak. Kalau bunyinya pecah, berarti ada yang akan sampai ke kaki kamu.”


“Cara kamu ngajarin kayak ayah aku.”


“Sssh, malang ngomong … Dengerin.”


Cinta memejamkan matanya. Membiarkan indera pendengaran dan ingatannya merekam perbedaan bunyi ombak.


“Aku dengar bedanya. Aaah sebentar lagi ada ombak hampir sampai. Haaaa, kakiku kena!”


Cinta menadak-nadak ketika buih ombak mengenai kakinya.


“Seru banget. Kakiku kayak ketarik, Dim. Nih bentar lagi ada yang datang ombaknya. Lebih besar dari yang tadi.”


Tangan Cinta menggandeng erat Dimiko. Bocah laki-laki itu terkekeh melihat kelakuan anak kota yang belum pernah main ombak. Sementara dirinya yang tinggal di tepi pantai, ini adalah mainannya sehari-hari.


“Tuh kan,” pekik Cinta kegirangan. Tangannya refleks melepas untuk meraih ombak.


“No! Pake tangan satunya. Kamu nggak boleh lepas dari aku,” tegas Dimiko.


Tak lama mereka berdua sudah berlarian ke sana kemari. Tetap bergandengan tangan.


“Kenapa sih, aku harus gandeng tangan kamu terus.”


“Karena aku adalah mata buat kamu. Aku akan nunjukkin kemana kamu harus melangkah.”


“Iiiih kamu bener-bener kayak Ayah. Selalu bilang begitu.”


“Duduk di pinggir situ yok. Kalau duduk kamu boleh lepas. Keringatan juga tanganku gandengan terus.”


Cinta memukul pelan tubuh Dimiko. Meski bocil iseng itu menghindar tapi tapi tetap kena sasaran.


“Kok kamu bisa tahu aku gerak kemana. Jangan-jangan kamu bisa liat.”

__ADS_1


“Aku melihat dengan pendengaran dan perasaan.”


“Kayak ninja.”


“Apa itu ninja?” Tanya Cinta yang memang belum pernah mendengar istilah itu.


“Orang Jepang yang pakai baju hitam-hitam. Ada yang jadi pendekar, ada juga yang jahat.


Mereka itu harus bisa merasakan pergerakan sekeliling meski dia nggak melihat. Jadi barusan aku bilang kamu kayak ninja.”


Dimiko dan Cinta duduk bersebelahan. Menikmati damainya salah satu pantai di Banyuwangi yang masih sepi.


“Ta, aku harus pulang. Aku antar kamu dulu. Eh kok kamu nggak dicariin?”


“Mungkin sekarang udah. Tadi aku keluar dari jendela vila waktu disuruh tidur siang. Sebetulnya cuma mau main ke taman, tapi kupegang pagarnya terbuka, jadi aku keluar aja.”


“Besok jangan gitu lagi, ya. Daerah ini emang aman dan nggak banyak mobil. Tapi lebih baik kamu ditemani mbak-mu.”


“Kamu juga sendirian, kan?”


“Tapi aku kan emang orang sini.”


“Rumahmu jauh?”


“Kata oom-ku sekitar lima belas kilometer kalau menyusur pantai. Kalau lewat jalan mobil harus masuk ke kota Banyuwangi dulu. Aku di pantai yang berbeda. Yuk naik ke boncengan. Aku bener-bener harus pulang.”


Dimiko menuntun Cinta sampai gadis kecil itu duduk di boncengannya. Perlahan ia mengayuh.


Sepuluh menit, mereka tiba di belakang villa Salsa tempat Cinta tinggal.


Terdengar banyak suara memanggil-manggil Cinta.


“Aku dicariin. Ya udah aku masuk dulu. Kamu di sini aja.”


“Tinggal jalan lurus. Kayaknya ada sekuriti villa yang sudah melihatmu. Aku tinggal, ya. Ibuku bisa panik kalau telat pulang. Besok aku tunggu di tempat tadi kalau mau main lagi. Bye, Cinta!”


Dimiko gegas menaiki sepedanya. Terdengar suara Cinta berteriak mengalahkan bunyi ombak, “Makasi Dim, aku happy banget hari ini.”


Anak laki-laki itu tertawa sambil mengayuh sepeda mengalahkan beratnya pasir.


Karena sudah sore, ia memilih pulang melalui jalan mobil meski harus memutar lebih jauh untuk sampai ke rumahnya.


Di ujung jalan ia berpapasan dengan mobil jeep mewah.


Dari dalam mobil, Maryam melihat seorang anak laki-laki mengayuh sepeda.


Wanita itu menoleh dua kali.


“Kenapa, Bu?”


Zayn ikut memerhatikan punggung anak laki-laki yang sudah makin menjauh.


“Nggak apa-apa. Zayn, bener kamu pengin menetap di Banyuwangi?”


“In syaa Allah. Aku ada rencana buka beberapa resort setelah perusahaanku terjual kemarin. Kata dokter, hawa pantai lebih bagus dari pada di kota untuk Cinta.”


“Kenapa Banyuwangi, bukannya Bali.”


“Entahlah, Bu. Aku memang nggak lagi ngoyo cari uang. Alhamdulillah sejak mengikuti saran Nafisa untuk berhenti kasih pinjaman, aku makin berlimpah. Kemarin pun perusahaanku dibeli dengan nilai fantastis. Jadi mudah-mudahan, niatku membangun resort di sini bisa membuka lapangan pekerjaan. Mungkin profitnya nggak sebesar daripada aku bangun di Bali, tapi cukup lah.”


Maryam menoleh ke belakang. Anak tadi sudah hilang dari pandangan.


“Kenapa, sih, Bu?”


“Bukan apa-apa. Eh villa kamu dah kelihatan. Ibu kangen sama Cinta.”


Mobil mereka masuk ke dalam villa mewah. Kening Zayn berkerut.


“Kemana para pengawal? Kenapa cuma ada satu yang buka pintu,” gumamnya.


Mereka turun disambut Pak Onde, kepala pelayan.


“Selamat datang, Bu Maryam. Pak Zayn.”


“Kemana orang-orang?”


Pak Onde terlihat gugup. Melihat gelagat Pak Onde, Zayn langsung panik.


“Astaghfirullah, Cinta! Cinta dimana kamu?”


Zayn memburu masuk ke dalam villa. Tidak ada yang berani menatap wajahnya.


“Cinta? Mana Cinta? Kalau terjadi apa-apa kalian semua …”


“Ayah …”


“Cinta! Ayah pikir kamu hilang.” Zayn memeluk putrinya erat-erat.


“Aku di sini, kok. Tadi semua pengawal di belakang pas aku main di pantai.”


“Cinta, kan udah Ayah bilang kalau mau ke pantai nungguin Ayah.”


“Maaf, Ayah.” Cinta menunduk.


“Sini, kamu.” Zayn memeluk lagi putrinya erat-erat. Begitu pula Cinta yang melingkarkan lengannya ke leher ayahnya.


“Ayah, aku cape.”


“Udah mandi? Yuk Ayah temani makan sambil dibacain cerita. Abis Isya, langsung bobok ya.”


“Aku udah mandi, Ayah. Nanti sama Yangma Maryam kan boboknya?”


“Iya, dong. Mana bisa Yangma bobok nggak ada Cinta. Tak mungkin itu.”


Cinta melepaskan diri dari pelukan Zayn lalu menghambur ke Maryam yang berdiri di dekatnya.


Mereka bertiga kemudian ke teras belakang menikmati udara pantai yang sejuk. Para pelayan sudah menyiapkan makanan kecil.


Cinta tidak bercerita tentang teman bermainnya di pantai.


Ayahnya pasti mengamuk ke semua orang di villa jika tahu dirinya berhasil kabur. Tapi dalam hati, ia bertekat akan menemui teman barunya itu lagi di tempat yang sama, besok.


Malam hari setelah Cinta pulas, Maryam membuka jendela.


Pikirannya melayang ke anak laki-laki yang dilihatnya tadi sore.


“Kenapa dia mirip banget sama Zayn waktu seumur itu?”


***


Selepas Isya, Dimiko membantu Nafisa di restoran. Meski masih kecil, tapi dia sigap menerima pesanan.


Otaknya cerdas bukan kepalang. Kadang membuat Nafisa khawatir karena putranya cenderung enggan main dengan anak sebayanya kecuali anak-anak Mika dan Dian.


Sahabatnya telah memiliki dua anak dari pernikahan mereka. Abidzar, lima tahun, dan adiknya Helmy, tiga tahun. Bersama Dimiko mereka bagai tiga serangkai angin ribut. Aisya menjadi tuan putri yang mereka lindungi.


Yusuf bolak-balik Dubai-Indonesia karena dia diserahi Syekh Rasyedi untuk mengelola beberapa anak usahanya di Dubai.

__ADS_1


Restoran Nafisa makin maju. Ia menambah area outdoor dan sering menjadi target wisata kuliner.


Enam tahun hidup sendiri, tidak sedikit pria yang berusaha meluluhkan hatinya. Dari pengusaha, ustadz, kyai, model, bahkan ada wisatawan dari Turki yang berani melamarnya.


Nafisa bergeming. Cukup sudah ia merasakan asam garam perkawinan.


Jika ada yang belum kesampaian adalah menemui Aurelie dan Milo. Hampir tujuh tahun ia meninggalkan anak-anaknya.


Ia hanya bisa melihat mereka melalui akun media sosial Reno. Itu pun dengan menggunakan nama lain.


Aurelie kini sudah jadi anak ABG. Milo juga sudah lebih besar meski tingkahnya masih terlihat konyol dari foto-foto.


Reno dan Dela belum memiliki anak lagi setelah Ayman.


“Aku sudah ikhlas, Bang. Titip anak-anak.”


Begitulah cara Nafisa melepas rindu kepada Aurelie dan Milo melalui media sosial.


Ia tidak pernah memberitahukan ke Dimiko bahwa putranya memiliki dua orang kakak.


Putranya hanya tahu bahwa kedua orang tuanya bercerai ketika dia masih dalam kandungan dan ayahnya sudah menikah lagi.


Dimiko tidak memusingkan. Selama ada ibu, Oom Mika, Tante Dian dan sepupu-sepupunya. Hidupnya sudah damai.


Seperti biasa malam itu restoran Nafisa sangat ramai.


Semua tamu mendapatkan kepuasan dari makanan dan suasana restoran yang hangat dan instragramable.


“Mas Dim, sana belajar.”


“Mau bantuin Mama.”


“Belajar, Dimiko.”


“Siap!” Anak itu tahu jika ibunya sudah memanggilnya dengan nama lengkap, itu artinya dia harus waspada.


Beberapa pelayan terkekeh melihat kelakuan bos kecil mereka.


Dimiko lalu lari ke paviliun di belakang restoran. Di sana ia disambut Bik May yang membantu ibunya di rumah.


“Mas Dim jangan lupa bikin PR.”


“Udah beres semua, Bik. Sebelum antar rantang tadi Dim udah belajar dan bikin PR. Sekarang mau baca-baca aja. Pegel juga ni kaki main sepeda di pantai.”


“Tumben mampir, main sama siapa?”


“Mmm enggak sama siapa-siapa, iseng aja tadi abis drop rantang.”


“Yo wis. Bibik di belakang ya mau ngaji. Mas Dim udah ngaji?”


“Alhamdulillah udah tadi di masjid.”


“Kalau mau bobok harus apa?”


Dimiko memutar bola matanya, sebal dianggap anak kecil.


“Sikat gigi, wudhu, ganti baju, terus baca doa.”


“Pin …”


“Jol.”


“Eh, anak kecil tau pinjol. Maksud Bibik, pinter.”


Dimiko tertawa lalu memeluk wanita yang sudah mengasuhnya dari kecil.


“Bibik juga jangan lupa sikat gigi, cuci kaki. Doa sebelum tidut inget, nggak?” Ledek Dimiko.


“Cah iki tho yo, sini kamu.” Bik May pura-pura hendak menggelitiki Dimiko.


Gesit, anak itu langsung masuk ke kamarnya. Dia membuka tablet. Bukannya main game dia mengetikkan kata kunci: Bagaimana membuat orang buta bisa melihat.


Dia membaca tautan-tautan dengan asyik sampai terdengar bunyi pintu depan dibuka.


Panik ia melihat jam yang menunjukkan pukul setengah sebelas.


Waktu tidurnya sudah lewat dua jam.


“Dimiko Yusuf Malik.”


Percuma pura-pura tidur. Ibunya seperti punya radar terhadap dirinya.


“Iya, Ma. Maaf keasyikan baca.”


Nafisa melongokkan kepalanya.


“Lagi baca apa, Sayang?”


Wanita itu melangkah masuk lalu duduk di tepi tempat tidur putranya.


“Kalau Dim ketemu orang buta, harus ngapain supaya bisa bantu dia.”


“Terus?”


“Ternyata orang buta itu lebih tajam indra lainnya, loh, Ma. Pendengaran, pengecap, penciuman, dan perasa. Allah itu Maha Baik ya, Ma.”


Nafisa mengelus wajah putranya yang sedang semangat bercerita.


“Allah selalu adil. Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Itu janji Allah.”


“Mmm tadi Dim kenalan sama anak baru pindah dari kota. Kasian dia buta, Ma. Dim ajarin dia dengerin perbedaan bunyi ombak.”


“Pasti dia seneng waktu pertama kali ombak kena kakinya.”


“Bukan seneng lagi, Ma. Dia sampe gini nih.”


Dimiko menadak-nadak mengikuti gaya Cinta tadi sore.


Nafisa tertawa geli melihat kelakuan putranya.


“Sekarang, bo-bok. Sini peluk Mama dulu.”


Penuh sayang, Dimiko memeluk erat ibunya.


“Mama, jangan cape-cape, ya. Dim takut Mama sakit.”


“In syaa Allah, enggak. Besok Mama nggak lama jaga restoran, tadi karena ada bookingan dari kantor pemda aja makanya lebih rame. Bobok.”


Bocah itu naik ke tempat tidur. Nafisa menyelimuti tubuh kecil itu lalu menepuk-nepuk pantatnya.


Meski tidak suka dianggap anak kecil, namun Dimiko tidak keberatan ibunya menungguinya sampai tidur.


Melihat anaknya sudah tidur pulas, Nafisa mematikan lampu lalu membuka jendela. Udara sejuk malam itu sehingga tidak perlu menyalakan AC.


“Selamat tidur, Sayang.”


***

__ADS_1


__ADS_2