
Setelah memastikan Nafisa dan bayinya baik-baik saja, pasangan pengantin baru Mikail Malik dan Dian Fitri Kusumo kembali ke rumah bersama Aisya yang sudah tertidur pulas.
Bu Romlah dan Bu Wati sudah terlebih dulu pulang karena tamu - tamu masih setia menunggu.
“Masih rame, Di, betah juga mereka nungguin.”
“Namanya kawinan di kampung, Mas, bisa 24 jam mereka datang. Selama makanan nasih ada. Dan Nafisa kan siapin tau deh untuk berapa kampung itu,” jawab Dian tersenyum jahil.
“Dua puluh empat jam? Terus kita kapan berduanya?”
“Iiih, Mas.”
Sebelum turun dari mobil, Mika menahan istrinya.
Dengan lembut memegang dagu wanita yang baru beberapa jam dinikahi lalu berkata, “Makasi ya, udah mau jadi istri aku.”
“Buat Dian ini masih kayak mimpi, Mas. Nggak nyangka Mikail Malik mau sama janda anak satu dari dusun pula.”
“Suatu saat, Mas akan ajak kamu ke kampung halaman. Ayah dan Ibuku nggak seperti orang tuanya Zayn. Mereka itu petani. Masa kecilku main di pematang sawah, kadang sama temen-temen nyari bekicot juga.”
“Mas nyari bekicot?”
Punggung jari Mika mengelus pipi Dian.
“Iyah, banyak deh keseruan kampung yang masih melekat di hati Mas. Waktu kedua orang tuaku meninggal, Mas dibesarkan oleh Bude Maryam dan Pakde Abdullah. Tinggal bersama Pakde dan Bude memang beda. Kami sering keluar negeri. Mas juga sempat sekolah di sana. Otak kami dididik untuk mengembangkan bisnis. Zayn dan aku mengembangkan bisnis financing. Macam pinjol tapi jumlah besar. Milyaran-lah.”
“Ya Allah …”
“Ini masa lalu yang nggak pingin aku ceritain sama kamu. Apalagi dulu aku tu jauh banget dari agama. Jangan khawatir, aku nggak pernah main perempuan. Kalau ke bar sih iya. Hidup aku mulai bener setelah Nafi terpaksa kerja jadi perawatnya Bude. Dia yang ingetin aku buat sholat. Demikian juga Nafi mengajukan persyaratan nikah sama Zayn asal kakak sepupuku itu insyaf.”
“Maa syaa Allah. Nafi … Mmm, tapi Mas ngomong gini bukan masih naksir Nafi, kan? Kamu udah punya aku.”
“Iya Tuan Putri. Aku punya kamu sekarang. Sebetulnya keluarga Malik itu bukan playboy. Zayn juga bukan peselingkuh. Hanya Valerie itu liciknya luar biasa. Bagaimana, ya. Zayn itu keras dan disegani di kalangan bisnis, tapi dia nggak pernah kepikir bakal ngadepin kelicikan macam Valerie.”
“Kenapa Valerie itu nggak dijeblosin ke penjara aja? Kalian tanpa tanya langsung jeblosin Nafisa.”
Mikail menghela napas. Berat sekali kembali ke hari-hari itu di mana lubuk hatinya tidak percaya Nafisa mencelakai Maryam namun dia tidak bertindak apa-apa.
“Bude yang tidak ingin Nafisa terseret lagi dalam masalah ini. Jika Val ditangkap, pasti Nafisa akan menjadi saksi. Semua yang dilakukan Bude adalah untuk melindungi Nafisa.”
Mendengar betapa dekatnya Mikail dengan Nafisa dulu, Dian menjadi cemas.
“Mas, janji, ya, jangan buka hati untuk siapa pun. Ijinkan hanya aku, Aisya, dan anak-anak kita kelak yang selalu dalam cinta kamu.”
Mika merengkuh tubuh istrinya, mendekatkan erat.
“Dian, kita belajar mencintai karena Allah sambil saling menjaga. Kata Ayah Yusuf, zinah itu mulainya dari mata. Mari kita jaga pandangan dari mereka yang bukan mahram. Kamu jangan khawatir tentang Nafisa. Kamu adalah segalanya buat aku.”
Mereka masih berpelukan hingga tak sadar beberapa tetangga sudah mengelilingi mobil yang terparkir di ujung jalan.
“Cieee yang nggak sabar berdua-an.”
“Kita arak penganten! Buka … buka … buka.”
Aisya terbangun mendengar kegaduhan di luar mobil dan langsung bertepuk kegirangan, menyangka para tetangga menyambutnya.
“Keluar, yuk,” ajak Mikail, khawatir tingkah para tetangga makin aneh-aneh.
Dian terkekeh lalu mengajak putrinya turun dari mobil.
Diiringi tabuhan panci, galon, dan apapun yang dipegang para tetangga, Dian dan Mikail diarak keliling kampung, mendapat ucapan selamat dan harapan segera dapat momongan.
Sambil berseloroh, Mika menjawab, “Makanya cepet pada bubar jadi proses produksi bisa dimulai.”
“Mas!” Dian memukul pundak suaminya karena malu yang tak tertahan. Wajahnya bersemu merah. Mengindahkan, Mikail justru malah mencuri kecupan dari bibir yang dari tadi sudah menggodanya.
Sorak sorai pun riuh rendah mengiringi pasangan pengantin dan Aisya hingga kembali ke rumah untuk menjamu para tamu.
Bu Romlah dan Bu Wati nampak sangat bahagia.
Hingga pukul sebelas malam, tamu-tamu baru berangsur pergi. Padahal tuan rumah sengaja tidak menggelar acara dangdutan seperti yang biasa ada di pesta-pesta.
Shalawatan pun hanya di awal sebelum akad nikah.
Makanan yang disediakan dari restoran milik Nafisa menjadi pengikat orang-orang untuk terus bercengkrama di sana.
Setelah tamu-tamu pulang, Dian berkata, “Mas, ke kamar, yuk.”
“Akhirnya …”
Dian menggandeng Mika ke kamar pengantin yang sudah disiapkan.
“Aisya bobok di mana?” Tanya Mikail sambil duduk di pinggir tempat tidur.
“Malam ini dia bobok sama eyang-eyangnya. Kalau besok-besok nggak janji ya. Monmaap.”
Dian berdiri di depan cermin, melepas satu persatu pentul yang menjaga kerudungnya tetap rapi.
Suaminya berdiri dan langsung membantu. Lagi-lagi pipi Dian tersipu menerima perlakuan gentleman dari Mikail.
__ADS_1
Membalas perkataan istrinya tadi, Mika berkata, “Ya kan berduaan nggak harus malam juga, sih.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya pagi, siang, sore, malam, kapan aja kan bisa. Sudah HALAL.” Mikail menyeringai dengan wajah mupengnya.
“Aku kan belum pernah, Di, jadi ya gitu deh. Pingin banget.”
Dian memutar tubuhnya hingga ia kini menghadap Mikail. Wajahnya mendongak untuk menatap netra suaminya.
“Aku udah pernah. Bahkan sudah pernah melahirkan, Mas. Aku … aku …”
“Sssh.”
Mikail me nge cup bibir Dian agar berhenti berbicara. Kecupan yang kemudian semakin menghangat hingga bibir mereka lama bertautan.
Ketika berhenti, Dian tersenyum melihat bibir Mikail yang celemotan karena lipsik.
“Mas, lihat …”
Dia mengarahkan wajah Mikail ke cermin. Keduanya terkekeh karena ternyata bibir Dian pun celemotan oleh sisa lipstik.
Enggan terjeda lama, Mikail kembali melepas keinginan untuk me lu mat bibir wanita yang berhasil mencuri hatinya.
Perlahan, satu tangan Mika menopang tengkuk Dian, sembari yang satunya menangkup wajah mungil istrinya.
Sebulir air mata menetes dari sudut mata Dian.
“Sayang … kenapa menangis? Maaf … maaf aku.”
“Jangan, Mas, jangan stop. Aku nangis bahagia. Nggak percaya aku akan merasa seperti ini lagi. Cium aku, yakinkan bahwa ini bukan mimpi.”
“Sayang …” Mikail kembali mendaratkan bibirnya ke milik Dian lalu menikmati setiap sensasi yang muncul.
Setelah puas. Mikail berhenti untuk melepas kerudung yang dikenakan Dian lalu mengurai cepolan rambut hitam legam.
“Ya Allah, cantiknya.”
“Lebay, aku biasa aja.”
“Perfect.”
Mikail kemudian mengangkat Dian ala bridal style, merebahkan ke tempat tidur. Mereka berbaring berhadapan.
“Hai, Istri.”
“Hai, Suami.”
“Tunggu sebentar, Mas mau menikmati wajah kamu.”
Mika menatap lembut netra bulat dengan manik legam. Perlahan mengecup hidung bangir sambil mengusap pipi dengan lesung pipit.
Tidak disadari, bibir mereka kembali bertautan. Mata mereka terpejam, hanya jemari yang saling menyentuh satu sama lain.
Susah payah, Mikail menahan hasratnya.
“Kamu duluan berbersih, Mas. Aku udah siapin baju ganti di laci bawah wastafel.”
“Jangan kemana-mana, ya, Sayang.”
Dian mengangguk netranya tak bisa lepas dari suaminya.
Wanita itu masih belum percaya saat ini sedang berduaan dengan pria super tampan yang juga memujanya.
“Kenapa, aku ganteng, ya?” Goda Mikail.
“Si Paling Ganteng.”
Mikail mengecup kening istrinya lalu gegas masuk ke kamar mandi.
Dian bolak-balik mengambil napas lalu membuangnya.
“Ini bukan mimpi, Di. Suamimu seganteng itu dan se-gentleman itu … Alhamdulillah ya Allah.”
Sambil menunggu, Dian menghapus make-up di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Mikail keluar. Hanya menggunakan celana panjang piama dengan rambut masih basah.
Perut bak roti sobek dan perototan yang tetap terjaga membuat napas Dian tersentak.
“Agak panas, aku nggak pakai atasannya. Toh nanti dilepas juga, kan?”
Mikail sengaja memamerkan otot-ototnya pada Dian.
Berusaha untuk tidak menerjang tubuh sempurna itu, Dian memasang wajah jual mahal.
“Mmm, terus sholat-nya mau nggak pake baju, gitu?”
“E iya.” Mikail buru-buru masuk lagi ke kamar mandi mengambil atasan piyama senada.
__ADS_1
Niatan memeluk Dian dan meminta jatah bibir di depan pintu kamar mandi berakhir gagal karena dengan lihai istrinya menerobos dan langsung mengunci pintu.
“Jangan lama-lama,” titah Mikail tak sabar.
Dian segera membasuh tubuhnya, memakai lingerie warna pink muda lalu mengikat rambutnya ke atas.
Setelah mengambil wudhu ia menyemprotkan parfum vanilla.
“Okay, Di. Jangan gugup. Nikmati setiap momen.”
Dalam hati Dian, ia merasa insecure dengan statusnya yang pernah menikah dan kini mendapatkan seorang perjaka tingting. Dirinya takut tidak bisa memuaskan suaminya.
Setelah mengambil napas dalam, ia keluar dari kamar mandi.
Netra Mikail langsung membola. Pria normal itu langsung menggelengkan kepalanya.
“Sholat! Sholat dulu. Ini mukena kamu. Sajadah udah aku siapin. Ayo, Sayang.”
Dian tersenyum melihat tingkah polah suaminya.
Mereka menjalankan sholat sunnah dua rakaat disusul shalat witir. Untuk pertama kali Mikail mengimami istrinya.
Setelah selesai, Dian melipat dan menyimpan semua perangkat sholat sementara Mikail meredupkan lampu kamar.
Mikail memeluk Dian dari belakang.
“Mas …”
Aroma parfum vanilla membuat Mika langsung mendaratkan wajahnya diceruk leher Dian.
Mata Dian terpejam, menikmati bibir lembut yang mengecupi tubuhnya.
Bagi Dian yang sudah tiga tahun tidak merasakan sentuhan pria, ini bagaikan buka puasa panjang.
Mikail yang memang belum pernah merasakan, tak sabar mengeksplorasi setiap lekuk tubuh Dian.
Perlahan, Mika melangkah menuju tempat tidur dan keduanya berbaring.
“Kamu makin cantik kalau polosan gini.”
“Ooo jadi kalau pakai make up aku nggak …”
Mika meletakkan jarinya ke bibir Dian.
“Aku bilang, makin cantik. Dasar perempuan, makanya nyimak kalau diomongin. Mana sini bibirnya.”
Dian akhirnya pasrah ketika Mikail memberikan ciuman yang menyesakkan. Matanya kembali terpejam. Hanya terdengar de sa han lembut untuk melepaskan kenikmatan.
Segala keraguan dan ketakutan yang bermain di kepala Dian mendadak hilang.
Malam itu dua manusia yang sudah dipersatukan dalam sebuah ikatan suci, mengikat diri dalam sebuah ibadah terindah antara suami dan istri.
Entah pukul berapa ketika Mikail terbangun. Dian tertidur pulas di sisinya dengan tangan melingkar di atas dadanya. Mereka berdua tertidur setelah beberapa kali menuntaskan permainan malam.
Mikail memiringkan tubuhnya. Tangannya mengelus pundak polos Dian.
Meski sering bertemu wanita-wanita cantik, namun Mikail tidak lantas ingin tidur dengan salah satu atau bahkan salah lima dari mereka. Terlepas betapa wanita-wanita itu tidak segan menawarkan diri.
Pengalamannya nol besar. Malam itu Mikail hanya mengandalkan instingnya sebagai laki-laki ketika menyentuh Dian untuk pertama kali. Dan semua berjalan sempurna.
Kenikmatan demi kenikmatan mereka rengkuh bersama. Dian yang awalnya malu-malu akhirnya mulai memimpin dan memberikan kepuasan yang luar biasa untuknya.
Dian menyentuh di tempat yang tepat, mencium di titik sensitif. Menggoda lalu kemudian berhenti, kemudian memulai lagi, membangun momentum menuju puncak yang begitu indah.
Hampir gila Mika dibuatnya.
Setelah memimpin, Dian menyerahkan diri sepenuhnya, membiarkan Mikail melakukan apa yang ia inginkan. Membuat Mika sebagai penguasa di antara mereka.
Semua dimulai dan berakhir begitu indah. Hingga mereka tertidur dalam pelukan hangat.
Mikail mengecup bibir yang sedikit terbuka. Lalu menarik istrinya mendekat ke dadanya.
“Alhamdulillah ya Allah …”
Lalu matanya kembali terpejam dan ia kembali berlayar di samudera mimpi yang indah bersama Dian.
***
Di tempat tidurnya, Reno berusaha memejamkan matanya.
Olah raga malam bersama Dela tidak mampu melelahkan tubuhnya.
Pikirannya melayang pada foto sepasang cincin yang dia lihat di akun media sosial milik Mikail Malik.
Pria itu yakin bahwa Mikail akhirnya mendapatkan Nafisa.
Reno mengerutkan keningnya menahan gempuran emosi di dada. Wanita yang dia cintai kembali dimiliki oleh orang lain.
“Sakit banget, ya Allah. Sakit.”
__ADS_1
***