
Nafisa bersyukur menerima pesanan harian sebanyak sepuluh rantang untuk villa baru.
“Ini untuk makan malam penjaga selama satu bulan, Bu. Jadi diantarnya sore aja. Begitu kata Pak Onde yang membuat pesanan tadi.”
“Oke, Sur. Saya buatin menunya, kamu minta persetujuan. Kalau sudah oke, minta tanda tangan lalu kirimkan invoice down payment.”
Di kantor kecilnya, Nafisa mengetikkan beberapa alternatif menu makanan.
Setelah dirasa pas, ia mengirim ke Surya untuk disampaikan pada pemesan.
Sore hari Dimiko kembali merantangkan dua rantang ke langganan mereka. Sepasang kakek dan nenek yang hidup berdua di kabupaten sebelah.
Sebelum pulang ia mampir ke tempat kemarin menemui Cinta.
Dilihatnya anak perempuan itu sendirian di sana.
“Dimiko?”
“Kok kamu tau kalau itu aku yang deketin?”
“Dari bau kamu.”
Dimiko tertegun, diam-diam mencium bau ketiaknya.
“Bukan, bau itu. Sepertinya di keranjangmu kemarin ada makanan tumpah. Pasti nggak kamu bersihin. Aku bisa cium dari sini.”
“Hah! Emang bau banget, Ta? Waduh kata Mama kalau di bisnis kuliner harus bersih. Gawat. Yuk temenin aku nyuci keranjang di pantai.”
“Bonceng?”
“Pegangan sadel sepedaku, aja. Kakiku pegal.”
Dimiko mengarahkan tangan Cinta untuk memegang sadel sepeda.
Mereka berjalan beriringan. Dimiko memarkir sepeda di pasir yang tidak terkena ombak.
“Kamu tunggu di sini. Jangan lepasin pegangan dari sadel. Awas kalau macem-macem. Aku mau cuci keranjang ke laut.”
“Ikut, Dim.”
“Nggak boleh. Aku belum yakin bisa jagain kamu.”
Cinta mematuhi Dimiko. Tak bergerak kecuali kepalanya menggeleng-geleng mengikuti arah angin.
Menenteng keranjang, Dimiko kembali ke sepedanya.
“Nggak bau lagi.”
“Ternyata kamu yang bau …”
“Apa? Kamu bilng aku bau? Aku kitikin kamu.”
Cinta berlari sementara Dimiko mengejar. Menggunakan suaranya, Dimiko mengarahkan Cinta berlari menjauhi laut.
Tak sengaja, Cinta terbelit kakinya sendiri dan dia terjatuh.
“Cinta!”
Terdengar suara laki-laki berteriak.
“A .. Ayah.” Suara Cinta terdengar ketakutan.
Dimiko membantu Cinta berdiri namun Zayn langsung mendorongnya hingga terjengkang.
“Kamu apain anak saya, hah?”
“Ayah … ayah ….” Suara Cinta terdengar ketakutan.
Sementara Dimiko langsung bangkit dan berdiri.
Bocah enam tahun itu hendak menjelaskan ketika pipi kanannya terasa panas. Tamparan keras dari Zayn Malik mendarat ke pipinya. Anak kecil itu jatuh terjerembab.
“Kita pulang, Cinta!”
Zayn langsung menggendong putrinya dan membawanya pergi.
Dimiko berusaha keras menahan sakit dan tangis. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Ia duduk di pantai menoleh ke arah perginya Zayn dan Cinta. Tangannya memegang pipi kanan yang masih terasa panas.
Air mata akhirnya lolos juga.
Seumur hidup, tidak pernah ada yang memukulnya. Dia mengusap ujung bibir yang ternyata berdarah.
“Anak laki nggak boleh nangis. Kuat!”
Dimiko lalu bangkit dan berjalan ke arah sepedanya. Sekilas ia melihat Zayn dan Cinta yang sudah semakin jauh.
Ia membawa sepedanya ke arah jalanan untuk mencari warung yang menjual es. Tidak ingin melihat ibunya khawatir jika bekas tamparan itu meninggalkan lebam.
Perlahan ia mengayuh sepedanya. Bekas jari-jari ayahnya Cinta tadi masih terasa panas di pipinya.
Di warung nasi ia berhenti untuk membeli es batu lalu menempelkan ke pipinya.
“Berantem?” Tanya pemilik warung.
“Nggak, salah paham aja.”
“Eh sotoy. Berantem mah berantem.”
Dimiko tak memperpanjang dan memilih pergi meninggalkan warung.
Tak lama mengayuh sepeda, sebuah mobil melewatinya lalu berhenti di depannya.
Mengindahkan, dia melewati mobil itu dan terus mengayuh sepedanya menuju pulang.
Dari dalam mobil Maryam mengamati anak laki-laki yang dilihatnya kemarin.
“Sekarang dia seperti Mika kalau abis nangis. Ah aku pasti halusinasi.”
Ketika melewati lagi bocah kecil tadi, Maryam mengerutkan kening.
“Mungkinkah itu anak Nafisa dan Mika? Sepulang dari Malaysia aku harus menyelidiki sendiri siapa orang tuanya.”
***
Dimiko mengendap masuk ke dalam rumah. Setidaknya satu dua hari ini dia harus menghindar dari Mamanya.
“Mas Dim, mana salamnya. Kok malah mindik-mindik?”
“Waalaykumussalam, Mama. Eh assalamualaykum. Dim mandi dulu, ya Ma. Gerah.”
Sekilas Dimiko mencium takzim ibunya dan bersiap kabur.
“Stop! Mas Dim, pipi kamu kenapa?”
“Eeeh anu, tadi pas diturunan ada guguk aku kaget, jadi nyerosot nabrak tembok orang.”
Nafisa mengerutkan kening.
“Kamu berantem?”
“Enggak-enggak.”
“Dimiko. Ada apa, Sayang? Mama nggak akan marah ke kamu.”
“Mamaku yang paling cantik sedunia. Ini kena tembok.”
“Tembok apa?”
“Wwwarung.” Dimiko tergagap menghadapi interogasi ibunya.
“Warung siapa?”
__ADS_1
“Nggak kenal, emang Dim ini bupati apa, kenal semua rakyat. Bupati aja belum tentu kayak gitu. Mama, nggak sakit kok. Tadi kaget aja.”
“Dikejar guguk?” Tanya Nafisa masih dengan moda menyelidik.
“Guguknya juga kaget jadi langsung kabur,” balas Dimiko cepat.
“Jangan-jangan nabrak tembok juga dia.”
Dimiko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Mandi, gih. Kalau sudah siap, cerita semua ke Mama, oke?”
Mengangguk, Dimiko mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Bingung bagaimana ibunya bisa tau kalau dia bohong.
***
“Pokoknya Ayah harus minta maaf sama Dimiko. Besok kita tungguin bareng.”
“Iya, Sayang. Ayah juga nyesel tadi ketelepasan. Ayah panik lihat kamu jatuh.”
“Cinta itu keseribet kaki sendiri.”
Air mata berlinang di kedua pipi Cinta. Dia tidak bisa melihat kejadian, tapi dia mendengar bunyi yang asing dan isak tertahan dari temannya.
“Cup cup. Besok kita tunggu temanmu. Sekarang Cinta tenangin diri dulu.”
“Sedih, Ayah. Dimiko itu teman pertama yang Cinta punya. Dia nggak pernah ngatain Cinta. Dia seperti Ayah. Katanya, dia akan jadi mata untuk Cinta kalau kita main bareng.”
Tertegun, Zayn bertanya, “Emang umur berapa?”
“Nggak tau. Kita mah main nggak nanya umur.”
Cinta menjawab disela sisa-sisa isakan.
Penuh kasih sayang, Zayn memeluk Cinta yang masih duduk di pangkuannya. Anak perempuan itu bersandar di dada ayahnya sambil mengusap pipinya.
“Tapi Cinta juga janji, kalau mau keluar vila nggak boleh sendirian,” ucapnya lembut.
“Maaf, Ayah. Cinta nggak akan diam-diam keluar vila.”
“Lagi kok bisa aja, sih? Emang nggak ada yang liat?”
“Mana Cinta tau? Pokoknya kalau ada yang manggil Cinta berhenti, kalau nggak ada ya jalan aja terus.”
“Cinta hafal jalannya? Kalau Cinta jalannya malah ke laut gimana?”
Zayn tidak habis pikir bagaimana putrinya yang tidak bisa melihat bisa tahu jalan ke pantai.
“Kemarin Cinta …”
“Kemarin?”
Zayn kini paham kenapa waktu kemarin dia tiba di villa, hanya sedikit pengawal yang ada di area depan.
Polos, Cinta melanjutkan, “Cinta keluar dari jendela, lalu menyusur pagar lalu duduk di tembok pinggir jalan.”
Hanya bisa mengurut dada dan menggelengkan kepala, Zayn lalu mendekap erat putrinya.
“Ayah mohon, jangan lagi ya Sayang. Kalau kamu nginjek beling gimana?”
“Kan sendal Cinta tebel, Ayah.”
“Pokok harus ditemenin.”
“Okay, siap. Whoaam, Cinta ngantuk.”
Kebiasaan Cinta jika mulai dimarahi dia akan punya seribu satu alasan untuk kabur.
“I love you, Ayah. Cinta bobok dulu, ya,” ucap anak kecil itu dengan manis lalu mencium kedua pipi ayahnya.
“Cinta …” Zayn memegang wajah putrinya. Memastikan gadis kecil itu paham apa yang tidak boleh dilakukan.
“Whoaam, udah ngantuk nggak ketulungan Ayah.”
Gemas, Zayn mencubit lembut hidung bangir kecil itu lalu berjalan menggendong Cinta ke kamar.
Diam-diam gadis cilik itu tersenyum jahil.
***
“Mas Dim, bangun yuk, udah Subuh.”
“Bu .. Bukan aku Oom …”
Mendengar ucapan Dimiko, ibunya menyalakan lampu kecil. Anaknya masih terpejam namun kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri.
“Ya Allah, Mas Dim. Badan kamu panas banget.”
Nafisa langsung membuka pakaian anaknya lalu mengambil kompresan.
“Maaf, Oom. Cinta … Cinta.”
Dimiko terus mengigau.
Nafisa memeriksa apakah ada luka di seluruh tubuh putranya. Bersyukur hanya ada lebam di pipi saja.
“Mas Dim, Mas Dim, bangun yuk, Nak.”
“Ma, Dim nggak salah, Ma …”
“Mas Dim, Mas Dim …”
“Mama!”
Dimiko terbangun dari mimpi buruknya. Matanya langsung mendapati pandangan yang meneduhkan.
“Mama …”
Bocah enam tahun itu memeluk ibunya, menangis tersedu-sedu.
“Mas Dim, istighfar bisa? Mas Dim cuma mimpi. Ada Mama di sini. Mas Dim sama Mama.”
“Mama. Di sini aja, temenin aku.” Dimiko tetap memeluk ibunya.
“Iya Sayang. Mas Dim minum dulu yang banyak, badan Mas Dim panas soalnya.”
Setelah minum setengah gelas air yang diberikan Nafisa, Dimiko merebahkan kepalanya.
“Dim ngantuk. Mama temenin.”
Mata Dimiko kemudian terpejam.
Nafisa memegang tubuh anaknya.
“Alhamdulillah sudah turun panasnya. Kalau nanti siang naik lagi, kita ke dokter ya, Mas.”
“Dibalurin bawang aja, Ma.”
“Ya udah, Mas Dim di sini dulu, Mama bikinin.”
“Jangan lama-lama.”
Nafisa mengecup kening putranya. Terasa keringat mulai membasahibagian leher.
“Mama ke dapur sebentar, ya, Sayang.”
Sambil memejamkan mata, Dimiko mengangguk.
Di dapur, Nafisa menggumam, “Siapa Cinta? Siapa Oom yang dimaksud Dimiko?”
***
Menjelang maghrib, Cinta dan Zayn duduk di badukan menunggu Dimiko.
__ADS_1
“Ayah, kok Dim nggak datang-datang, ya? Angin udah mulai dingin, berarti ini udah mau malam, ya Yah?”
“Udah mau maghrib, kita pulang buat sholat. Besok kita tunggu lagi.”
“Ayah, sih …”
Zayn melihat berkeliling. Dari kemarin ia menyesal karena telah menampar seorang anak kecil yang tak bersalah.
“Nanti Ayah cari. Menurut ceritanya, dia tinggal lima belas kilometer dari sini kalau lewat pantai?”
“Betul, Ayah. Kalau lewat jalan mobil harus masuk ke kota Banyuwangi dulu.”
“Namanya Dim siapa?”
“Nggak tau, dia cuma bilang namanya Dim.”
“Kita pulang dulu, ya.”
Malamnya Zayn mencari tahu keberadaan seorang anak bernama Dim lewat anak buahnya.
Keesokan hari salah seorang dari mereka mengirim pesan.
Ada seorang anak dengan panggilan Dim tinggal di pantai seberang. Orang tuanya bekerja restoran Hidangan Pantai.
Di saat yang hampir bersamaan sebuah pesan masuk.
Pak, Ibu Sepuh masuk rumah sakit karena demam.
“Ya Allah, Cinta … Cinta, kita harus ke Malaysia sekarang.”
***
Seminggu penuh Zayn pergi ke Malaysia bersama Cinta untuk menjaga Maryam.
Tidak ada yang mengkhawatirkan hanya kelelahan saja. Namun untuk pastinya, Zayn minta ibunya istirahat di Malaysia sebelum pulang ke Banyuwangi bersamanya.
Begitu tiba di vila, Cinta mengingatkan Zayn untuk mencari Dim.
“Ayah …”
“Siap Tuan Puteri. Ayah akan cari temanmu. Sekarang tidur siang dulu. Jangan kabur.”
Cinta tergelak namun berjalan menuju kamarnya karena memang dia sudah mengantuk.
Zayn duduk di teras belakang menghadap pantai. Membaca berkas proposal resort yang akan dibangun ketika dia mendengar suara anak kecil.
“Assalamualaykum, Oom.”
“Waalaykumussalam.”
Zayn terpana melihat sosok kecil yang berdiri di luar pagar vila dengan baju rapi dan sepeda di sampingnya.
“Saya Dim, Oom. Pengin bicara sebentar?”
Gegas Zayn membuka pintu pagar dan mempersilakan masuk.
“Ini buat Cinta, apakah dia baik-baik saja? Seminggu ini nggak kelihatan.”
“Oh ya, Cinta lagi tidur. Apa ini?”
“Kue coklat buatan Ibuku. Banyak yang suka.”
“Terima kasih. Duduk sini, yuk.”
“Di sini aja Oom. Dim harus cepat pulang. Dim mau minta maaf karena lalai menjaga Cinta. Harusnya, Dim nggak kitikin Cinta waktu itu. Maaf ya, Oom.”
Zayn terharu melihat sopan santun dan akhlak yang ditunjukkan anak kecil di depannya.
Dia duduk di atas ke dua lutut untuk menyamakan tinggi.
“Dim, Oom yang minta maaf karena sudah sakitin kamu. Oom panik melihat Cinta jatuh. Malamnya, Oom habis dimarahin sama Cinta. Kami nggak tau rumah kamu jadi nungguin di badukan. Keesokannya Oom dan Cinta harus ke Malaysia.”
Dimiko mengulurkan tangannya.
“Kita baikan ya, Oom,” katanya polos.
“Baikan. Maafin Oom, ya.“
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan ketika menyentuh tangan Dimiko.
“Kapan-kapan Dim akan ke sini buat main sama Cinta, ya.”
“Boleh. Boleh. Besok aja datang kan hari Sabtu. Kamu libur?”
“Libur, kok. Oom. Pamit dulu ya, Mama suka bingung kalau maghrib aku belum pulang.”
“Oom antarin aja, sekalian kenalan sama orang tuamu.”
“Dim bawa sepeda.”
“Gampang itu. Yuk.”
Penjaga villa membawa sepeda Dimiko dan memasukkan ke mobilnya.
Sepanjang jalan, Dim bercerita tentang kesehariannya, sekolah, belajar, lalu mengantar rantangan melewati vila.
Anak itu juga menunjukkan tempat-tempat yang asik menurutnya seperti pasar malam, kolam renang, dan arena memancing.
“Oom aku stop sini aja. Itu ada Mama!”
Zayn menghentikan mobilnya lalu mengeluarkan sepeda milik Dimiko. Diantarnya anak laki-laki itu menyeberang jalan.
“Pamit, Oom. Assalamualaykum.”
Sekejap, Dimiko hilang di tengah kerumunan orang yang hendak masuk ke pasar sore.
Zayn kembali ke mobilnya, sementara Dimiko bertemu dengan ibunya yang sedang seru menawar ikan segar.
“Dor!”
“Mas Dim, kok di sini.”
Dimiko hanya menyeringai lebar. Bocah itu menemani ibunya berbelanja lalu mereka berdua berjalan pulang menuju restoran dengan bercanda riang.
Di villa, Cinta dan Maryam sedang menyantap kue coklat yang dibawa Dimiko.
Cinta mengomeli Zayn panjang pendek karena tidak membangunkan ketika temannya datang.
“Besok, Dim janji mau ke sini, kok.”
“Seriusan? Bener, yah?”
Cinta merosot dari kursinya dan langsung menadak-nadak kegirangan.
Zayn dan Maryam tertawa geli.
Di sela-sela, Maryam menyorongkan piring kecil berisi potongan kue coklat.
Begitu Zayn menyantap, tubuhnya menegang.
“Bu, ini …”
“Ya kan …”
Zayn langsung melejit ke mobilnya.
“Ayah …” Panggil Cinta.
Zayn tak lagi menoleh. Dia sangat mengenali rasa kue coklat yang tidak pernah dia temui di manapun.
“Dim … Dim bilang kue itu buatan ibunya. Apakah Dim itu anak kamu dan Mika?”
***
__ADS_1