Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Ingin Berhenti


__ADS_3

Reno menatap maket perumahan yang sedang dikerjakan. Tak bisa dipungkiri, pria itu merasa di puncak keberhasilan.


Bisnisnya maju, keluarga sempurna, dan Dela. Ya, semakin lama, tak dapat dipungkiri mulai tumbuh rasa sayang pada wanita yang menjadi pemuas hasratnya. Rasa yang dulu pernah terkubur sejak kepergian Dela ke Amerika.


Dela mengenalkan Reno pada sirkel orang-orang berduit. Para penanam modal yang sulit didekati dan ternyata mereka berkawan baik dengan Dela.


Dari sana Reno mendapatkan investor untuk proyek-proyek. Dela yang memang piawai membuatkan portofolio investasi untuk Reno. Dan berhasil mendapatkan keuntungan yang besar.


Sebagian besar uang perusahaan dan modal dari investor ditanamkan ke perusahaan milik Dela dan juga untuk membiayai kegiatan mereka bersenang-senang.


Reno bahkan menyewa penthouse sebagai tempat mereka bertemu.


Dela yang sesungguhnya kaya raya berlagak bergantung pada Reno untuk mengetahui kesungguhan pria yang sudah berkeluarga itu untuk bersamanya.


Reno benar-benar dibutakan oleh kelihaian Dela baik dalam bisnis maupun di atas ranjang.


Nafisa kini terlihat biasa saja. Walau jika dipersandingkan, wajah Nafisa masih jauh lebih cantik dari Dela, namun Reno merasa Dela kini lebih unggul dari Nafisa yang notabene adalah ibu rumah tangga biasa, berbekal kebisaan membuat kue-kue dan lulusan keperawatan.


Dela adalah wanita cerdas, berpengaruh dan bisa memberikan kepuasan maksimal di atas ranjang.


Sedang membayangkan kekasihnya, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.


“Masuk.”


Seorang pegawai masuk dengan wajah segan.


“Maaf, Pak. Boleh bicara sebentar?”


Kening Reno berkerut.


“Masuk, Di. Ada apa?”


Karyawan itu melangkah masuk dengan ragu.


“Saya ingin menanyakan mengenai dana untuk cluster Alur Sedaya yang di Bogor. Para vendor sudah menanyakan mengenai pembayaran.”


“Bilang saja sama mereka ada keterlambatan. Pasti kita bayar, kok. Kayak baru kenal aja.”


“Bukan begitu, Pak. Tapi kita sudah enam bulan tidak melakukan pembayaran.”


“Bilang ke mereka bulan depan kita lunasin.”


“Mmmm … apa tidak bisa pekan ini? Karena mereka mengancam tidak akan mengirim bahan baku,” sahut Riyadi lagi.


“Di, kamu kan udah ikut saya dari awal. Mereka juga semua vendor lama yang sudah kita kenal dari dulu, masak nggak bisa nego. Kamu nih, gaji aja minta gede, deal sama vendor nggak berani.”


“Bukan begitu, Pak. Saya …”


“Sudah! Kamu bilang aja bulan depan saya bayar!”


“Ba … baik, Pak. Saya permisi.”


Riyadi beringsut keluar kamar, heran sengan perubahan sikap bos-nya yang makin hari makin acuh dan seenaknya.


***


Nafisa melihat ke arah jam. Kini hampir tiap hari Reno pulang terlambat tanpa kabar. Teleponnya pun hampir selalu tidak aktif.


Sebagai seorang istri, Nafisa pastilah merasa curiga. Namun menuduh tanpa dasar juga tidak akan menjadi solusi.


Aurelie dan Milo sedang asik bermain. Memandang berkeliling, Nafisa memastikan rumahnya selalu rapi dan wangi sebelum Reno pulang.


Mengatur sedemikian mainan anak-anak yang sehari-hari berserakan kini hanya tinggal buku gambar dan beberapa buku cerita para nabi.


Makanan pun sudah siap. Tinggal menunggu Reno pulang, Nafisa akan memanaskan semuanya.


Sekilas Nafisa menatap ke arah cermin. Dirinya sudah rapi, tak lupa menyemprotkan minyak wangi. Nafisa memang tidak ingin tampil kumal dan lusuh di hadapan suaminya.


Lagi-lagi Nafisa mengirimkan pesan untuk menanyakan keberadaan Reno. Dan hanya satu centang yang tertera di samping pesan terkirim menandakan hape Reno belum aktif.


Seuntai doa terkirim agar suaminya selalu dalam perlindungan dan keberkahan. Doa yang tak pernah bosan ia ucapkan setiap usai sholat.


Menjelang pukul sepuluh malam, saat sedang menindurkan Aurelie dan Milo, Nafisa mendengar suara mobil suaminya masuk ke carport.


Gegas wanita itu merapikan penampilan untuk menyambut suaminya. Wajahnya nampak lega.


“Assalamualaykum,” sapa Reno ketika memasuki rumah.

__ADS_1


“Waalaykumsalam, Bang. Alhamdulillah sudah sampai rumah,” balas Nafisa sambil mencium takzim punggung tangan suaminya.


Reno mengerjap menatap penampilan istrinya yang tetap terlihat rapi dan cantik meski ia tahu Nafisa baru menidurkan anak-anaknya.


“Nungguin, ya? Maaf Abang tadi ketemu beberapa investor.” Reno merangkul dan mengecup kening yang dibalas dengan pelukan erat dari Nafisa. Ia merindukan suaminya.


“Gimana hasilnya?”


“Bagus, kita dapat tambahan modal cukup besar.”


Mereka berdua berjalan menuju kamar tidur sambil berangkulan.


“Abang mau mandi dulu? Bajunya sudah aku siapin di kamar mandi. Sembari Abang mandi, aku akan panasin makanan kecil dan teh jahe.”


Reno menangkup wajah istrinya. Gelombang rasa bersalah melandanya. Betapa Nafisa sudah menyiapkan semua keperluannya.


Malam itu Reno memang bertemu dengan beberapa investor rekan dari Dela, namun setelah selesai, mereka kembali memuaskan napsunya di penthouse.


“Abang kenapa? Kok ngeliatnya gitu?” Nafisa bertanya sambil mengangkat alis namun bibirnya tetap tersenyum. Manis sekali.


“Abang cinta banget sama kamu. Maafin Abang kalau ada salah, ya.”


“Iih Abang bikin serem deh.” Nafisa berjinjit lalu menyium sekilas bibir suaminya.


Reno terkesiap, bukannya tidak mau menerima ciuman istrinya, namun baru selang dua jam, bibirnya puas ******* milik Dela. Reno makin merasa bersalah.


Ditelusurinya wajah cantik Nafisa dengan punggung telunjuknya.


“Maafin Abang udah bikin kamu nungguin dan sering ninggalin,” ucapnya lirih lalu memeluk erat istrinya.


Nafisa membalas pelukan sembari mengelus punggung suaminya.


“Nafisa ikhlas, Abang. Semoga nafkah Abang yang dibawa pulang halal dan thoyib jadi berkah buat kita dunia dan akhirat.”


Reno masih belum mau melepaskan pelukan pada Nafisa. Betapa nyaman perasaannya saat itu. Dela memang memberikan kepuasan namun tidak ketenangan. Berbeda dengan saat bersama Nafisa, semua terasa indah.


“Abang, mandi dulu, abis itu kalau belum capek, aku tunggu di depan TV. Tadi bikin pisang goreng madu kesukaan Abang.”


Reno mengecup telinga Nafisa membuat si empunya terkikik dan menggeliat untuk melepaskan diri. Bukannya melepas, Reno makin menahan Nafisa.


Nafisa tersenyum. “I love you too, Abang. Sekarang mandi. Atau mau nanti aja?”


Reno tahu kode yang dimaksud, namun selepas percintaannya dengan Dela ia belum menjalankan mandi junub karena takut Nafisa curiga jika ia pulang dalam keadaan rambut yang masih basah.


“Abang mandi dulu, nanti baru mandi lagi sama kamu.”


Mereka bersitatap penuh cinta.


“Abang …” Nafisa mencubit pelan perut Reni.


“Iya iya, Abang mandi sekarang. Kamu sih cantik banget.”


Reno lalu melepaskan pakaiannya untuk Nafisa bawa ke tempat baju kotor.


Di dalam kamar mandi, Reno menjambak-jambak rambutnya untuk melampiaskan rasa marah pada dirinya karena telah menyelingkuhi Nafisa. Seorang istri sempurna yang mencintainya dengan tulus.


Sambil menunggu pisangnya hangat, Nafisa membawa baju Reno ke ruang cuci. Tubuhnya menegang ketika melihat warna merah yang ia yakini adalah bekas lipstik menempel di kemeja Reno.


“Astaghfirullah. Ya Allah, jangan ya Allah. Semoga ini bukan yang seperti aku pikirkan.”


Nafisa memejamkan mata. Nafasnya memburu. Kekhawatiran memenuhi benaknya. Tak terasa pelupuk matanya basah.


Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang.


“Cantik, itu bukan seperti yang kamu takutkan. Dengerin Abang.”


Reno kemudian menghadapkan wajah Nafisa ke wajahnya.


“Cantik, iya itu memang bekas lipstik, tapi Abang nggak sengaja membantu ibu-ibu jatuh di eskalator. Abang nggak mungkin mengkhianati kamu.”


Reno berusaha menatap manik abu bening milik istrinya. Rasanya segala kenikmatan yang ia rasakan bersama Dela terhapus sudah dengan sorot khawatir dan ketakutan yang dipancarkan netra Nafisa.


“Sayang, maaf.”


Reno memeluk Nafisa. Erat sekali. Ingin rasanya kembali ke masa delapan bulan lalu ketika ia memulai petualangan ranjang dengan Dela.


Jika akhirnya harus melihat kegundahan Nafisa seperti ini, ia tidak tega main gila dengan Dela.

__ADS_1


Tubuh Nafisa masih tegang. Ia tidak membalas pelukan Reno. Tangannya erat memegang kemeja dengan noda lipstik.


“Sayang, nggak ada apa-apa. Demi Allah.”


Reno memejamkan mata, menyadari setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah dusta.


Nyatanya, noda lipstik itu adalah milik Dela yang dengan manja menghalangi Reno keluar dari pintu penthouse.


Walau tipis karena sudah terhapus melalui ciuman panas mereka sebelumnya, namun sisa lipstik masih membekas di kemeja putih itu.


Nafisa menjauhkan tubuhnya. Reno mengernyit karena tak biasanya Nafisa berlaku seperti itu.


“Cantik, kamu percaya sama Abang, kan?”


“Abang, apakah Abang bohong atau tidak, hanya Allah yang tahu. Istri mana yang tidak khawatir dan curiga melihat noda lipstik di baju suaminya,” ucap Nafisa dengan suara bergetar.


Ia melanjutkan lagi, “Aku selalu berdoa agar Abang selalu dalam penjagaan Allah. Tapi tentunya harus ada usaha dari Abang. Aku bukan orang bodoh. Sedekat apa ibu-ibu itu di eskalator sampai harus mengenai Abang? Lalu apa tidak bisa Abang menghindar?”


Nafisa kemudian berlalu meninggalkan Reno yang berdiri tak mampu berkata-kata.


Setelah menyiapkan pisang goreng madu di meja makan, Nafisa memilih pergi ke kamar anak-anak.


Ia perlu waktu untuk menetralisir perasaannya.


Reno duduk sendiri, memikirkan kegilaan yang selama berbulan-bulan ini dia kerjakan.


Dipandangnya rumah tertata apik dan nyaman. Foto-foto di lemari pajangan dimana mereka semua tertawa gembira.


“Ya Allah, apa yang telah kulakukan? Besok aku harus mengatakan ke Della bahwa aku tidak bisa berhubungan lagi dengannya.”


Tak lama, Reno mengintip ke kamar anak-anaknya. Nafisa dan Aurelie tidur di satu pembaringan besar sementara Milo ditidurkan di box.


Nafisa mengangkat kepalanya, mereka pun bersitatap.


“Sini, Bang,” lirih Nafisa.


Dengan penuh kelegaan Reno jalan mendekat, menyingkap selimut lalu tidur di sebelah istrinya.


“Malam ini dapat punggung dulu,” ucap istrinya yang langsung tak dilewatkan oleh Reno untuk memeluk Nafisa dari belakang.


“I love you. Percaya sama Abang, semua baik-baik saja.”


***


“Ren, kamu yakin ini terakhir kali kita bercinta?”


Reno mengelus pundak polos Dela lalu mengangguk.


Awalnya ia hanya menemui Dela untuk mengakhiri hubungan mereka.


Hanya saja ketika Dela memohon dan mulai melakukan hal-hal yang disukai Reno, pertahanan pria itu jebol.


Dengan janji itu adalah terakhir kali ia akan melakukan perbuatan dosa.


Lebih dari biasanya, Dela melayani Reno. Membiarkan pria itu menjajah tubuhnya.


Ketika permainan selesai, Dela hendak memulai namun Reno menolak. Pria itu hanya berbaring dengan satu tangan terlipat di bawah kepala, satu tangan merangkul tubuh polos Dela.


“Aku nggak bisa terus mengkhianati Nafisa.”


Emosi Dela menggelegak, namun ia harus bermain cantik.


“Aku ngerti. Maaf aku sudah gangguin kamu dan keluargamu.”


Reno tidak menanggapi.


“Kamu baik-baik, ya. Aku harus pulang.”


“One kiss?”


“No, Del. Please.”


Reno berusaha tegas walau matanya membola melihat sepasang bibir seksi menggoda.


Akhirnya akal sehatnya menang melawan napsu dan ia beranjak dari pembaringan, memakai pakaiannya lalu meninggalkan penthouse.


***

__ADS_1


__ADS_2