
Pagi hari selesai mengantarkan Dim, Aisya, dan Abidzar ke sekolah, Nafisa langsung meluncur bersama Husin dan Juned menuju kantor Dino.
Dian pergi ke rumah sakit memantau kondisi wisatawan yang serombongan terkena masalah perut.
Mika masih melacak jejak peretas rekening.
Di depan kantor, ajudan Dino sudah menyambutnya, mempersilakan wanita yang pagi itu memakai baju nuansa biru tua dengan sedikit aplikasi tenun ikat dipadu dengan kerudung senada.
Begitu pintu ruang kerja dibuka oleh sekretarisnya, Dino menyambut dengan sumringah.
Matanya berbinar dan bibir memulas senyum terbaik.
“Assalamualaykum, Bu Nafisa.”
“Waalaykumussalam,” balas Nafisa sambil menangkup tangan.
Dino mempersilakan duduk. Netranya mengagumi kecantikan Nafisa.
“Jadi apa titipan Pak Zayn?”
“Saya suka ini. Saya suka wanita yang straight to the point dan nggak berbelit-belit. Bu Nafisa ini saya liat selalu tau apa yang diinginkan.”
“Betul sekali, Pak.“ Nafisa tak mau banyak bicara, menanggapi sopan, ramah, tapi seperlunya.
“Oh malah jadi saya yang berbelit-belit, ya?”
Tidak menanggapi Nafisa tersenyum sembari sekilas mengangguk.
“Maaf tapi ini titipan suami Ibu. Mau tak mau saya jadi tahu kondisi pernikahan Ibu dan Pak Zayn.”
Dino menyodorkan map coklat.
Nafisa bisa menebak isinya.
“Bismillaah …” Ucapnya lalu mengeluarkan secarik kertas bertuliskan Surat Permohonan Cerai dengan tanda tangan Zayn di sana.
“Semoga ini yang terbaik, mengingat kasus Pak Zayn sangat berat. Menyuap seorang pejabat tinggi. Beliau akan lama di penjara.”
Dino memerhatikan wajah Nafisa untuk menemukan gurat kesedihan di sana.
Sementara itu netra Nafisa yang jeli melihat sekilas bercak darah.
Tangannya gemetar, ingatan akan siksaan di penjara kembali muncul.
“Bu Nafisa, saya ikut prihatin. Jika perlu bantuan untuk pengurusan perceraian atau misalnya perlu teman curhat, saya bersedia.”
Napas Nafisa terdengar berat.
“Jika Pak Dino ingin membantu, mohon pertemukan saya dengan Mas Zayn. Saya … saya benar-benar tertipu. Sekali saja saya ingin memaki di hadapan mukanya.” Suara Nafisa terdengar geram. Dia berharap aktingnya sangat meyakinkan.
Meski sesak di dada memikirkan siksaan apa yang dialami Zayn hingga ada bercak darah di atas kertas surat itu.
“Nanti saya bicarakan dengan mereka yang berwenang.”
Pintu ruangan terbuka. Dua orang laki-laki berambut sedikit gondrong masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi Pak Dino. Kami dari reserse diperintahkan menjemput Ibu Nafisa terkait kasus keracunan makanan yang terjadi pada beberapa orang tamu Hidangan Pantai.”
Dengan segala daya upaya, Nafisa berusaha menampakkan wajah panik. Kondisi ini sudah dia perhitungkan sejak semalam.
Hal yang sulit, karena dia adalah wanita jujur yang tidak pandai bermain peran.
“Maksud Anda?”
“Ikut dulu ke kantor, kami jelaskan di sana.”
Husin dan Juned ikut masuk ke ruangan.
“Anda berdua tidak usah ikut campur, ini urusan kepolisian,” tegas salah satu petugas.
Dengan tenang, Juned menjawab, “Siap. Kami hanya akan mengawal Bu Nafisa, seluruh proses kami serahkan pada penegak hukum.”
Nafisa memejamkan mata. Keningnya berkerut.
Sekali lagi petugas menekannya, “Bu Nafisa, kalau Anda tidak mau …”
“Sebentar, Anda jangan kasar. Apa Anda nggak liat Bu Nafisa sedang mengatasi kekagetannya?” Balas Dino dengan nada agak keras.
Terlihat sekali ingin dilihat membela dan melindungi wanita yang sudah memikat hatinya
Nafisa menarik napas dalam, lalu berkata kepada petugas seraya berdiri.
“Baik, Pak. Saya akan ikut. Pak Dino, maaf saya malu sekali ini semua terjadi di hadapan Bapak. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidup saya.”
“Ibu tenang saja. Saya akan kawal terus kasus ini.”
Mereka pun keluar dari ruangan Dino. Nafisa tidak diperkenankan naik mobil pribadi.
“Bismillaah …” Bisik Nafisa berusaha menguatkan hati dan bersikap tenang.
Sesampai di kantor, Nafisa dibawa ke ruang interogasi. Sekelebat bayangan dirinya dulu di gelandang bagai pesakitan kembali menari-nari di benaknya.
Lagi-lagi dia membasahi bibirnya dengan kata-kata dzikir yang menguatkan.
Dua orang petugas wanita sudah menunggunya.
“Silakan duduk.”
Salah seorang dari mereka membacakan laporan yang diterima dari sepuluh pelapor yang kini dirawat di rumah sakit.
Nafisa berargumen, “Mereka datang bersama, apakah tidak mungkin sebelum atau sesudahnya kuliner di tempat lain?
“Kami sedang melebarkan penyelidikan, namun tempat Ibu dianggap sebagai asal mula kejadian.”
“Kok bisa gitu? Apakah ini hasil dari lab rumah sakit yang menyatakan makanan saya beracun?”
“Bukan, Ibu sabar dulu dong jangan ngegas.”
“Saya cuma bertanya.”
Petugas wanita itu menggebrak meja.
“Anda jangan main-main. Saya tau Anda bekas narapidana, kan?”
“Saya dinyatakan tidak bersalah.”
“Tapi oknum yang sengaja meracuni mertua Anda tidak pernah dilaporkan. Mana kami tahu kalau itu adalah akal-akalan keluarga Malik untuk membebaskan Anda.”
“Kita sedang tidak membicarakan kasus itu,” tegas Nafisa.
“Tapi bisa jadi karena dari catatan kami, Anda familiar dengan jenis-jenis racun.”
Nafisa tidak mau menjawab.
Dia berkata dalam hati, “Sabar Nafisa, kita ikuti permainan mereka dulu.”
“Kami akan mengolah tempat kejadian perkara. Tim forensik sudah siap.”
“Baik.”
Nafisa sudah memerintahkan anak buah Husin dan Juned untuk menjaga Hidangan Pantai. Dan belum ada tanda-tanda anak buah Dino di sana. Termasuk Sulis.
Tiba di lokasi, tim forensik langsung menyebar.
Mereka menemukan temukan daging rusak di kulkas cadangan dan langsung memanggil Nafisa untuk menjadikannya tersangka.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah rumah muncul Pengacara Ali Warga bersama sekelompok wartawan yang memang sudah disiapkan sejak pagi.
Nafisa sudah merencanakan ini semua.
“Teman-teman wartawan, pagi ini sebuah laporan masuk ke kepolisian yang mengatakan bahwa Rumah Makan Hidangan Pantai telah menyebabkan sepuluh pengunjungnya keracunan. Mereka ini dari rombongan yang sama,” jelas Pak Ali Warga yang berdiri di samping Nafisa.
“Maaf kami masih dalam proses penyelidikan menyeluruh,” sela petugas forensik.
Kamera sudah menyorot Nafisa dan Pengacara Ali Warga hingga para penegak hukum harus bertindak hati-hati.
“Laksanakan tugas Anda. Kami tidak menghalangi,” tegas pengacara senior itu lagi.
“Tapi …” Petugas itu nampak keberatan. Namun pengacara senior itu tidak memberi kesempatan.
“Kami punya hak untuk menyampaikan bukti. Kejadian ini terjadi tadi malam. Kami akan menyerahkan juga copy CCTV yang memang dipasang Bu Nafisa di area tersembunyi yang bahkan pegawainya-pun tidak tahu.”
Polisi menyela, “Di kantor saja. Mari ikut kami.”
Tak mau kehilangan momen, Pengacara Ali Warga langsung menyetel rekaman kegiatan semalam. Anak buah Husin dan Juned sudah menyiapkan televisi sebelumnya.
Rekaman dari angle yang diambil Nafisa yang memperlihatkan Sulis memberi komando.
Juga rekaman dari hape Dian yang menunjukkan orang-orang melepaskan tikus-tikus dan meletakkan beberapa kotak berisi daging busuk di lemari pendingin.
Sengaja tidak menunjukkan keterlibatan Dino karena Nafisa ingin membuka kartu truf untuk manusia licik itu di saat yang tepat.
“Pak, saya minta Bu Nafisa ikut ke kantor segera.” Petugas menyela dengan tegas.
“Baik, kami juga akan menyerahkan rekaman CCTV yang pastinya akan lebih lengkap,” tukas Ali Warga.
“Lalu bagaimana dengan wanita yang ada di video itu?” Tanya seorang wartawan mendesak kelanjutan dari kasus.
“Kami akan menyelidiki lebih lanjut,” balas petugas.
Pengacara Ali Warga kembali bersuara, “Mohon kesediaan teman-teman wartawan mengawal kasus fitnah yang menimpa Ibu Nafisa. Kami sudah punya bukti pembelian daging busuk tersebut. Kita harus bongkar motif pencorengan nama baik inj.”
Petugas tidak lagi bersuara namun langsung menyuruh Nafisa ikut kembali ke kantor polisi.
***
Di kantornya Dino mengamuk sejadi-jadinya.
“Brengsek! Semua perempuan itu brengsek! Apa sih susahnya nurut dan diam aja jadi istri gue? Brengsek! Awas kamu, Nafisa, aku akan tetap memilikimu!”
***
Dua petugas wanita yang memproses kasus Nafisa menatap masygul ke bukti-bukti di hadapan mereka.
Dengan lugas Pengacara Ali Warga menjelaskan argumen yang tidak lagi bisa dibantah.
Penjual daging yang merupakan pemilik rumah jagal dan juga sepupu jauh Sulis sudah digelandang ke kantor ketika berusaha kabur dari rumahnya.
Pengejaran terhadap Sulis pun segera dilakukan.
Meski demikian, nama Dino masih belum tersebut.
“Bunda, dulu Bunda minta aku jadi orang baik. Kupikir menjadi orang baik adalah dengan diam dan mengalah. Namun ternyata salah. Diam akan membuat orang yang jahat beranggapan dia punya peluang untuk terus berbuat jahat. Semoga Nafi bisa membongkar kedok Pak Dino,” bisik Nafisa dalam hati.
Dengan semua alibi dan bukti, Nafisa dibebaskan. Pengejaran terhadap Sulis tetap dilakukan.
Polisi langsung meng-update wartawan karena kasus ini menjadi viral. Mereka tidak mau kehilangan image.
Sebelum meninggalkan kantor polisi, Pengacara Ali Warga berbisik kepada pimpinan tertinggi di sana, “Jika Anda ingin penyidikan tidak berbias, ganti dua orang petugas yang sekarang menangani kasus.”
“Anda jangan main-main. Ini bisa jadi tuduhan niat mencoreng nama baik aparat.”
“Saya mengikuti trek perjalanan karir Anda. Polisi muda yang dikenal bersih dan mengayomi. Karir Anda melejit karena murni prestasi. Saya mohon, dengan segala hormat, ikuti kata saya dan diam-diam lakukan pemeriksaan terhadap dua orang itu. Akan lebih baik jika kedok mereka dibongkar oleh internal daripada dari eksternal.”
Polisi bernama Asdawi itu terlihat menimbang.
“Saya akan bicara lagi dengan Anda.”
Anak buah Ali Warga melaporkan keduanya keluar dari ruangan Asdawi dengan wajah pucat.
Kasus Nafisa kini ditangani langsung oleh tim yang dibentuk Asdawi, terdiri dari orang-orang kepercayaannya.
Dalam mobil, Nafisa dan Ali Warga bercakap, “Saya nggak nyangka Bu Nafisa punya otak brilian mengatur skenario dengan jeli.”
“Saya nggak mau ditindas lagi, Pak. Sekarang ada dua hal yang harus kita tunggu, pertama, pengakuan korban yang sedang diupayakan oleh Dian, dan kabar dari Mika terkait pengejaran terhadap karyawan bank yang meretas akun suami saya untuk melakukan transfer.”
Nafisa melemparkan pandangan ke luar jendela mobil.
Hapenya bergetar, telepon dari Husin.
“Siang, Bu, kami ingin melaporkan bahwa tamu resto dari Jakarta dan Malaysia siap memberikan kesaksian bahwa mereka baik-baik saja selepas dari makan siang di resto.”
“Alhamdulillah, saya ke sana sekarang.”
Nafisa dan Pengacara Ali Warga gegas menuju tempat yang disebut oleh Husin.
Penuh harap, Nafisa mengirim pesan untuk Dian:
Ada perkembangan?
Tak lama masuk video dari Dian. Seorang Ibu berurai air mata menyatakan penyesalan telah membantu melontarkan fitnah. Namun sejauh ini ia hanya mengatakan dihubungi oleh Sulis dan belum menyebut nama Dino.
Senyum Nafisa terkembang di bibirnya.
“Sebentar lagi waktumu habis, Pak Dino, sebentar lagi.”
***
Cinta meraba wajah Maryam yang tidur lelap di sebelahnya. Sudah beberapa hari ini kondisi Maryam tidak bagus karena mengkhawatirkan Zayn. Dokter keluarga memberikan obat penenang.
“Eyang tidur yang enak, jangan nyureng. Kangen Papa, ya? Cinta juga kangen. Kita doa moga Papa cepet pulang,” bisik Cinta lembut.
Maryam dan Nafisa minta agar tidak ada yang menjelaskan ke Cinta mengenai kondisi ayahnya. Termasuk Dimiko, Aisya, dan Abidzar.
Mereka mempertimbangkan kondisi jantung Cinta yang mengalami kelainan bawaan sejak lahir. Tanpa tekanan, kadang jika Cinta terlalu emosi dia mengalami kesulitan bernapas.
Cinta hanya tahu ayahnya sedang ada masalah di Surabaya.
Setelah usahanya tidur siang tidak berhasil,
perlahan Cinta turun dari tempat tidur, membuka pintu lalu berjalan ke kamarnya sendiri.
Tak perlu melihat, Cinta tahu dimana letak kamarnya dan menghitung langkah ke sana.
Dimiko, Mba Cha, dan Abidzar belum pulang sekolah. Sementara Helmy sedang tidur ditemani Lastri.
Cinta duduk di depan jendela kamar yang terbuka lebar. Ia bolak-balik ke meja belajar ingin mengerjakan tugas, namun hatinya tidak tenang.
Gadis cilik itu memang tidak sekolah di sekolah umum. Zayn menyediakan sistem khusus yang memungkinkan Cinta belajar dari guru-guru dalam dan luar negeri secara online jika sedang bepergian.
Gawai yang digunakan pun mendukung kebutuhan Cinta, membuatnya nyaman untuk belajar.
Dia mendengarkan instruksi gurunya namun baru sebentar, dia tutup laptop. Kembali ia duduk di depan jendela, merasakan angin menerpa wajahnya.
Tak lama ia mendengar langkah seseorang.
“Oom Badru?” Cinta memanggil bodyguard yang biasa mengawalnya.
“Iya ini Oom Badru, tadi Papa telpon katanya kita disuruh berangkat ke airport jemput Papa.”
“Alhamdulillah. Cinta ganti baju dan bilang Bude Lastri dulu. Oom Faisal mana?”
__ADS_1
“Oom Faisal lagi siapin mobil. Nggak usah ganti baju, udah harus buru-buru. Sini lompat dari jendela.
Cinta ragu-ragu namun keinginan bertemu ayahnya lebih besar.
Akhirnya Cinta menurut ketika Oom Badru membawanya.
“Oom, kok kita malah keluar lewat pintu yang ke pantai?” Cinta mendengar gesekan sepatu dan pasir dari pria yang menggendongnya.
“Mobilnya sudah di samping villa.”
Cinta merasakan sesuatu yang aneh.
“Oom aku mau bangunin Eyang dulu. Turunin aku.”
“Nggak, Cinta, Papa sudah nungguin.”
Cinta meronta namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Badru yang berbadan tinggi besar.
Anak kecil itu semakin meronta ketika mendengar bunyi kendaraan yang menderu tak jauh dari situ bukanlah yang biasa dia dengar dari semua mobil milik Zayn.
Tangan Badru membekap Cinta yang kini menendang-nendang. Dengan sekali gerakan ia memasukan Cinta ke dalam mobil.
Anak itu menangis. Namun napasnya habis dan akhirnya ia duduk diam dengan wajah pucat. Usaha terakhirnya adalah berdiri menghadap jendela belakang, namun Badru berhasil membuatnya duduk.
Badru memerintahkan Faisal untuk melajukan kendaraan.
“Dru, serius ni? Jangan lah, kita balik aja,” cetus Faisal setelah melihat Cinta yang tidak berdaya.
“Lu mau ikutin gue biar cepet kaya terus ngelamar Inten atau mau selamanya jadi jongos?”
“Gue nggak tega, sama Non Cinta.”
“Lu fokus aja nyetir. Gue udah matikan semua CCTV di villa. Penjaga yang lain juga udah gw alihkan. Kita pasti ketahuan, tapi kalau kita jalanin sesuai rencana, Pak Dino akan bantu kita kabur.”
Faisal tidak bersuara, ada pertentangan batin yang membuatnya ragu. Antara desakan Inten, kekasihnya, untuk segera melamar atau berbalik melawan Badru dan menyelamatkan Cinta.
“Lu ikut gue aja. Kita udah temenan lama kan? Kerja gini-gini aja cuma pindah majikan jadi jago kepruk lagi.”
Sekali lagi Faisal menatap wajah pucat yang tergolek di jok belakang. Mata Cinta terpejam.
Badru dan Faisal mengambil jalan yang tidak akan berpapasan dengan rombongan Dimiko, Abidzar, dan Aisya yang pada jam tersebuu pulang dari sekolah. Ketiga anak itu juga mendapat pengawalan.
Namun siang itu, Dimiko dan saudara-saudaranya pulang lebih awal karena ada jadwal penyemprotan di sekolah.
Dimiko sempat melihat mobil berwarna hitam melaju dari parkiran pantai. Yang membuatnya waspada adalah dari jendela belakang dia melihat tangan dengan gelang biru yang selalu dipakai Cinta.
Begitu mobil masuk ke dalam vila, Dim berlari mencari Cinta. Memanggilnya sambil berteriak hingga terjadi kehebohan.
“Cinta diculik! Aku yakin itu tadi pasti tangannya yang kulihat dari jendela mobil hitam.”
“Badru dan Faisal tidak kelihatan dimana-mana,” seru Lastri.
Maryam yang bangun karena keributan langsung terduduk.
“Bawa anak-anak ke kamar. Saya akan kabari Mika,” ucapnya lemah.
Lastri menuruti perintah Maryam. Tangan wanita itu gemetar.
“Kalian di sini dulu. Bude Lastri bikinin susu dulu buat Mas Helmy.”
Dim, Abidzar, dan Aisya mengangguk.
Begitu pintu ditutup. Tiga anak itu langsung bergerak menuju jendela.
“Selamatkan Cinta. Setuju?” Tanya Dimiko memimpin.
“Siap, Bos!” Jawab Abidzar dan Aisya.
“Kita nggak akan bisa ambil sepeda karena di garasi. Ada rumah Tulus temen sekelasku deket sini. Dia punya beberapa sepeda. Kita pinjam,” kata Abidzar.
Aisya menyambung, “Aku bisa tanyakan ke Ning Ayu yang tinggal di ujung jalan ini. Dia pasien Ibu.”
Ketiganya kemudian mengintip ke jendela yang mengarah ke depan. Para pengawal sedang berkoordinasi.
Di ruang tengah, Maryam menelepon Mika dengan nada panik. Hanya ada satu orang bertugas di belakang villa.
“Sekarang gaes. Kita keluar lewat jalan samping. Mumpung cuma satu di belakang,” bisik Aisya.
Ketiganya memanjat jendela, lalu ke pohon yang berada di antara jendela dan tembok pembatas, merayapi dahan dan kemudian berpindah ke cabang pohon yang tumbuh di luar.
Sebagai anak-anak yang tumbuh di kampung, memanjat pohon adalah hal biasa. Tak sampai lima menit, ketiganya sudah berlari ke rumah teman meminjam sepeda dan mengikuti jalan menuju perbatasan daerah.
Di ujung jalan, Aisya bertanya pada teman ibunya yang memang melihat mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi.
“Apa nggak lebih baik kalian tunggu orang vila?”
“Kakakku itu jantungan, Ning, nanti dia keburu pingsan.”
Abidzar meminjam hape Ning Ayu untuk melihat maps.
“Tebakanku, Cinta akan dibawa ke pinggiran kota. Nggak mungkin dia dibawa ke kota sebelah. Tapi jaraknya dua puluh kilo dari sini. Kemungkinan sudah gelap kita baru sampai sana.”
“Sebentar. Aku pinjem omprengan Bapak. Kamu naikin sepeda ke bak, tak anterno.”
Tak membuang waktu ketiganya segera naik ke atas bak terbuka milik ayahnya Ning Ayu lalu dengan wajah cemas menatap ke jalan yang tadi dilalui Cinta.
“Kamu harus kuat, Cinta,” gumam Dim.
“Kita akan selamatkan dia, Dim. Berdoalah,” ucap Abidzar dan Aisya dengan wajah serius.
“In syaa Allah.”
***
Sore di hari yang sama, Dino menonton klarifikasi dari
pihak kepolisian yang ditayangkan di televisi. Sejauh ini Sulis masih menjadi tersangka utama karena memang dialah yang menjadi kaki tangan utama yang dipakai Dino untuk menjalankan rencananya.
Hapenya bergetar, “Tunggu saya, moda silent sampai besok pagi.”
***
Nafisa berpelukan dengan Dian karena lega. Semua beban yang dirasakan sejak semalam kini hilang sudah.
”Tinggal biang keroknya. Sekarang kita ke kantor dia.”
Nafisa menggandeng Dian menuju mobil ketika Juned dan Husin datang dengan wajah panik.
Tergagap, Nafisa membayangkan kemungkinan terburuk.
”Dim diculik?”
”Non Cinta, tapi Mas Dim, Mas Abidzar, dan Mba Cha mengejar penculik naik sepeda temannya.”
Jantung Nafisa dan Dian bagaikan copot detik itu juga.
”Kita tunda dulu urusan Dino, sekarang menuju vila. Apakah polisi sudah diberi tahu?”
”Pak Asdawi sudah mengarah ke vila.”
Nafisa dan Dian saling berpegangan tangan sepanjang perjalanan. Sesekali mengusap air mata yang meleleh.
”Mas Mika nggak bisa dihubungi,” ucap Dian lemah.
Nafisa menggigit bibirnya, matanya terpejam.
__ADS_1
“Mas Dim, kamu harus baik-baik saja.”
***