
Dimiko berlari ke parkiran sepedanya di sekolah. Ingin gegas pulang untuk membantu ibunya di restoran.
“Dim, main dulu di pantai,” ajak teman-temannya.
“Aku mau bantuin Mama. Besok, ya.”
Tak sampai semenit, anak itu sudah menuntun sepedanya keluar pagar sekolah.
Di sana dia berhenti melihat sosok laki-laki tampan yang membuat heboh ibu-ibu penjemput.
Bibir Dimiko langsung menjebik. Tapi karena ingat bahwa ia tetap harus sopan pada orang yang lebih tua dan terlebih ini adalah ayahnya, maka ia menghampiri Zayn.
Ibu-ibu semakin heboh ketika melihat Dim mencium takzim punggung tangan Zayn.
“Dim, pacare ibumu?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Papa kandung aku, Tante,” jawab Dim singkat lalu menatap ayahnya.
Tak menanggapi bisikan ibu-ibu, Zayn berkata ke puranya, “Papa juga naik sepeda, Dim. Bareng yok.”
“Aku mau ngomong dulu sama Papa di pantai. Dim nggak punya hape. Boleh pinjam hape buat kasih tau Mama?”
“Siap! Ini Dim …”
Risih karena para ibu di sana semakin mendekat demi memuaskan kekepoan, Zayn mengajak Dim untuk menjauh.
“Assalamualaykum Ma, Dim pulang agak telat karena mau ngobrol sama Papa di pantai. Mama jadi mau diambilin box di pasar? Nanti Dim mampirin.”
“Waalaykumussalam, Sayang. Okay, tadi Papa juga sudah kasih tau Mama. Box udah dikirim, kok. Dim, yang baik-baik, ya.”
“Asal Mama nggak sedih, Dim bakal baik-baik, in syaa Allah.”
Anak itu menunjukkan kesungguhan sekaligus kekhawatiran. Ekspresi yang membuat Zayn kagum.
“In syaa Allah, kita semua dijagain sama Allah. Salam buat Papa, ya.”
“Enggak, Dim nggak mau sampai-in salam buat Papa.”
Hati Zayn melambung tinggi meski jawaban Dim kembali menghempaskannya.
Nafisa terkekeh.
“Okay-okay. Bye Dim.”
“Mama juga yang baik-baik, ya.”
Dim menyerahkan telepon ke ayahnya. Wajahnya langsung serius menunjukkan wibawa.
“Kita ke pantai. Ikutin Dim.”
Dengan sigap Dim melompat ke sepeda lalu memacu seolah ingin menunjukkan keahliannya.
Di belakangnya Zayn mengikuti sambil menggumam, “Anak gue banget ini.”
Gesit, Dim melewati aneka rupa kendaraan. Banyak yang menyapanya. Anak itu sesekali melambai atau kadang mengangguk jika situasi jalan sedang sulit.
“Kalau ini Nafisa banget, ramah. Kalau aku udah kucuekin,” batin Zayn lagi.
Tak lama mereka tiba di sebuah pantai kecil yang sepi namun memiliki pemandangan indah.
“Bawa rantai? Di sini suka ada yang nyolongin soalnya sepi.”
“Papa bawa dua buat Dim juga.”
Mendengar Zayn menyebut dirinya Papa, Dimiko terdiam.
“Sini Papa bantu.”
Dim menyerahkan sepeda ke ayahnya yang langsung merantaikan ke tiang yang dipasang untuk pengunjung bersepeda.
Tanpa Dim ketahui, Zayn memberi kode kepada para pengawal yang berada tak jauh dari sana untuk berjaga.
Setelah memeriksa rantai, Dim berjalan mendului ayahnya ke pantai lalu duduk. Tangannya mengambil ranting lalu menggambar di butiran pasir.
“Dim … Laper?” Grogi, Zayn menanyakan hal yang tidak mungkin dicukupkan saat itu karena lokasi pantai yang tidak ada pedagang.
“Kalau Dim laper terus Papa mau apa? Berenang nangkep ikan?”
“Kalau perlu …”
Dim mendelik lalu menatap ayahnya.
“Beneran?”
“Papa nggak pernah ada di samping kamu. Walau bagi Papa nggak mudah berenang sambil nangkap ikan, tapi Papa akan coba.”
Dengan tengil Dim malah menjebik.
“Lebih mudah nyuruh anak buah Papa beli di warung pengkolan…”
Kini giliran Zayn mendelik tak menyangka anaknya tahu dia membawa beberapa pengawal.
“Otak aku pinter, Pa.” Dim mengetuk sisi keningnya. Matanya lurus menatap laut lepas.
“Papa tau dan bangga. Dim … mau ngomong apa sama Papa?”
“Aku mau minta Papa nggak deketin Mama. Aku nggak mau Mama sedih lagi gara-gara Papa.”
Sementara Dim diam-diam menunggu reaksi ayahnya, Zayn menghela napas panjang.
“Papa memang banyak salah sama Mama. Sekarang Dim terlalu kecil untuk paham kejadian yang sebenarnya, tapi Papa terima salah. Jujur aja, memang ada keinginan untuk berusaha menyatukan keluarga kita. Itu yang menjadi doa Papa sekarang, yaitu menebus kesalahan dengan menjaga kamu dan Mama kamu.”
“Pokoknya Dim nggak mau. Dim mau main sama Papa, ketemu Papa, asal Papa nggak deket sama Mama. Itu aja yang Dim mau omongin.”
“Eyang dan Cinta gimana? Apa mereka boleh juga deket sama Dim dan Mama?”
“Semua boleh kecuali Papa nggak boleh deketin Mama.”
“Okey,” jawab Zayn memutuskan untuk mengalah.
“Gimana perasaan Dim?”
“Bingung.”
“Menurut Dim, gimana Papa bisa bantu Dim?”
“Nggak tau, aku masih kecil belum kepikiran. Aku cuma nggak mau Mama sedih. Papa tau nggak Mama pernah amnesia. Yang Dim baca, salah satu sebabnya adalah karena trauma. Dim seneng punya ayah kayak Abidzar dan Helmy, tapi Dim juga takut traumanya Mama kambuh. Dim takut Mama lupa sama Dim.”
“Papa janji nggak ingin bikin Mama atau Dim sedih.”
Dim diam tak bersuara. Tangan kecilnya masih menggambar di pasir.
“Cinta udah tau kalau aku kakaknya?” Tanyanya lagi.
Tangan Zayn merangkul Dim, lalu berkata, “Kamu adiknya. Cinta lahir duluan, baru beberapa jam kemudian kamu. Papa udah cari tau semua tentang Dim dan Mama.”
Dim melirik sekilas.
“Papa pinter juga?”
“Alhamdulillah, gitu deh.”
“Papa,” panggil Dim.
“Ya, Nak,” balas Zayn dengan penuh kebahagiaan yang meluap.
“Sekarang Dim beneran laper. Dim mau pulang. Kalau kapan-kapan nggak sibuk, jemput Dim lagi di sekolah sama Cinta.”
Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata betapa bahagia perasaan Zayn saat itu.
“Kapan-kapan Papa jemput lagi. Cinta pasti senang bisa sama kamu.”
“Kita janjian jadi paginya Dim minta diantar Mama dan pulangnya sama Papa.”
“Siap!”
“Dim pamit. Papa bisa pulang sendiri, kan?”
“Loh, Papa antar kamu, dong. Mau naik sepeda atau pake mobil? Udah panas juga, ya.”
“Lemah,” jawab Dim tanpa ekspresi lalu berjalan ke arah sepeda.
__ADS_1
Zayn hanya bisa menggigit jari melihat kelakuan anaknya yang tengil seperti dirinya. Pria itu mengajak Dim berlomba ke sepeda.
Si Anak yang memiliki gen sumbu pendek langsung mengambil langkah dua ribu untuk menyaingi bapaknya.
Tak sadar, mereka berlomba sambil saling meledek.
“Papa menang …”
Wajah Dim memerah dan terengah-engah ketika akhirnya sampai di parkiran sepeda.
“Seru, toss!” Tangannya menggantung di udara, begitu Zayn hendak menepuk, Dim langsung menurunkan.
“Gotcha.”
Keduanya lalu terkekeh bersamaan. Mereka kemudian menaiki sepeda menuju pulang ke rumah Dim.
Begitu restoran ibunya terlihat, Dim langsung berhenti.
“Papa di sini aja. Besok kita ketemuan. Dim mau cium tangan.”
Setelah mencium takzim tangan ayahnya, Dim kembali menggowes santai ke rumah. Zayn terus menunggu sampai anaknya memarkir sepeda dan masuk ke dalam rumah.
“Alhamdulillah ya, Allah.”
Dia memanggil mobil yang berisi pengawal.
“Panas, Pak?” Hanya basa-basi namun langsung si pengawal menyesal seumur hidup setelah mendapat tatapan mematikan dari atasannya.
***
Beberapa hari kemudian, Nafisa memarkir mobilnya di parkiran restoran setelah pulang mengantar Dim.
Langkahnya terhenti melihat seorang pria yang sedang sibuk menyapu restoran.
“Bismillaah …” Gumamnya sambil meneruskan langkah.
“Assalamualaykum, Mas.”
“Waalaykumussalam, Nafisa. Aku bantuin beresin, ya. Aku lihat semalam pegawaimu belum sempat merapikan.”
“Nanti ketahuan Dim.”
“Dim masih di sekolah, kalau ada pergerakan, anak buahku akan kabari.”
Dimiko telah menceritakan kepada Nafisa percakapan dengan ayahnya secara mendetail. Penekanan pada larangan untuk ayahnya berhubungan dengan Nafisa.
“Mas kita harus bicara.”
“Yah, Mas juga banyak yang ingin diomongin sama kamu.”
Keduanya duduk berhadapan. Jantung Zayn berdegup lebih cepat.
“Nafisa, Mas minta maaf. Mas sudah gagal menjaga kamu dan anak kita.”
Setelah beberapa tahun, tak dapat dipungkiri hati Nafisa yang tetap tercubit mengingat kejadian malam itu.
“Please jangan sedih, Dim bakal ngamuk kalau tau ibunya sedih.”
Mau tak mau, Nafisa tersenyum.
“Dim adalah hal terbaik yang pernah terjadi di antara kita, Mas. Dia yang bikin aku kuat dan bertahan.”
“Aku berharap kamu memiliki kelapangan hati untuk memaafkan Mas.”
“Iya, Mas. Maafin Nafi juga yang memutuskan pergi malam itu.”
Keduanya terdiam dalam pikiran seandainya yang bermain di benak mereka.
“Mas, Nafi tidak mau memutus hubungan silaturahim terkait Dim. Hanya Nafi ingin menarik garis bahwa di antara kita sudah tidak ada apa-apa. Jadi Nafi mohon, Mas urus semua dokumen perceraian.”
Zayn terdiam.
“Apa tidak ada kesempatan buat aku untuk memperbaiki semuanya?”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi karena semua sudah selesai. Nafi mohon, lepaskan, yah. Nafi udah nggak ada keinginan untuk membina rumah tangga lagi dengan siapa pun. Biar Nafi fokus besarin Dim aja. Dan moga-moga suatu saat, Nafi bisa punya keberanian untuk bertemu Aurelie dan Milo.”
“Aku masih suka menemui mereka dengan ditemani Reno.”
“Oya? Bagaimana mereka?”
Mata Nafisa berbinar ketika mendengar kabar anak-anaknya, namun tak menanggapi ketika Zayn mengatakan Reno masih mencintainya.
“Aku menunggu saat yang tepat untuk kasih tau Dim bahwa dia punya dua orang kakak.”
“Ya, kamu punya banyak hutang penjelasan sama anak-anak kamu. Jangan terlalu lama, Aurelie dan Milo sangat merindukan kamu.”
“Makasi, Mas. Mmm, Nafi harus siap-siap ke pasar. Dim minta dimasakin kepiting.”
“Nafisa … Terima kasih sudah membesarkan anak kita. Ijinkan Mas untuk terlibat dalam tumbuh kembang Dim mulai sekarang. Mas juga akan bicara ke Cinta tentang hal ini.”
“Sama-sama. In syaa Allah, Mas. Maafin kalau Dim suka tembak langsung. Nurun Bapaknya,” balas Nafisa sambil tersenyum hingga membuat Zayn harus mengalihkan pandangannya.
“Mas aku harus ke rumah ambil tas belanja. Makasih udah sapuin restonya Nafi.”
“Aku akan pel juga.”
“Nggak usah, nanti malah kotor.”
“Eh sembarangan. Aku bisa ngepel, kok.”
“Ya … ya … ya,” ledek Nafisa sambil menaikkan alis tanda tak percaya.
Merasa tertantang, Zayn menyingsingkan lengan bajunya lalu berkata, “Udah kamu urusan kepitingnya, Dim.”
“Nafi tinggal, ya …”
“Hmmm.”
Zayn langsung mengambil ember dan pel, sementara Nafisa gegas kembali di rumah.
Tanpa mereka ketahui, begitu saling tidak bisa melihat, Nafi dan Zayn sama-sama memegang dada untuk meredakan detak jantung yang kacau balau.
“Eling, Nafi. Fokus. Jangan cari masalah lagi,” ucapnya tegas.
Sementara di balik tembok restoran, Zayn menyeringai dan berjanji penuh tekad, “Aku akan dapetin kamu lagi, Sayang.”
***
“Ayah …” Panggil Cinta yang bisa merasakan kehadiran ayahnya.
“Halo, Cantik.”
“Ayah, kok Dim udah jarang main ke sini, ya? Kita samperin, yuk.”
“Oh, boleh. Nanti sore, mau?”
“Yay!”
“Cinta, Ayah mau cerita sesuatu, boleh?”
“Iih pake nanya. Bentar aku mau pegang muka Ayah …”
Zayn mendekatkan wajahnya lalu meraih tangan kecil Cinta dan membiarkan menelusuri karena begitulah cara putrinya untuk memahami ekspresi.
“Bagooos lagi nggak bete. Cerita.”
Zayn mencium lucuk kepala Cinta dan merangkulnya erat.
“Dulu, sebelum kamu lahir, ayah pernah menikah dengan seseorang. Ayah sangat mencintainya. Suatu malam, Ayah membuat kesalahan dan wanita itu memilih pergi dari hidup ayah. Berbulan-bulan Ayah mencarinya, sampai akhirnya berhenti ketika menikahi ibumu.”
Cinta mendengarkan dengan seksama.
“Wanita itu ternyata selama ini ada di sini, Sayang. Dia memiliki seorang putra dari Ayah.”
“Dim?” Tebak Cinta.
Zayn mengelus pipi Cinta dengan punggung telunjuknya.
“Dim dan Cinta saudara-an?”
Pria itu tak sampai hati mengatakan kebenaran bahwa Cinta bukan darah dagingnya.
__ADS_1
“Selamanya kamu anak ayah dan benar, Dim itu saudara kamu.”
“Ciyus, Ayah. Alhamdulillah …”
Cinta langsung berdiri dan joget-joget seperti yang diajarkan Dim. Dia tergelak kegirangan.
“Cinta punya saudara … Cinta punya saudara …”
Maryam keluar untuk melihat kehebohan apa yang terjadi.
“Eyang, ternyata Dim itu saudara aku. Ayah, kapan kita tinggal sama Dim?”
Berpikir sejenak, Zayn menjawab, “Sepertinya untuk saat ini Dim tinggal bersama Mamanya dan kamu sama Ayah. Moga-moga suatu saat kita bisa kumpul lagi.”
“Loh kenapa gitu, Ayah? Keluarga kan harusnya kumpul bareng.”
Maryam menggandeng Cinta lalu mereka berdua duduk di sofa.
Dengan lembut menjelaskan, “Ada masalah orang besar yang membuat Dim dan Mamanya nggak bisa tinggal sama kita. Tapi kapan aja Cinta mau ketemu Dim, boleh kok.”
“Mamanya Dim galak nggak?”
“Baik banget, pasti Cinta suka.”
“Yaay! Cinta nggak sabar ke rumah Dim sore ini.”
***
Dim sedang membantu ibunya menyiapkan restoran yang akan segera beroperasi ketika dilihatnya beberapa mobil mewah masuk ke pekarangan restoran.
“Ma, Papa dateng. Padahal aku dah bilang jangan sering-sering loh. Biar Dim omongin lagi.”
“Eh Dim, Dim, Dim. Udah biarin aja. Papa kan seneng ketemu kamu. Emang kamu nggak seneng ketemu Papa?”
Dim terdiam.
“Seneng, tapi takut Papa bikin Mama sedih lagi.”
“Sayang, Mama akan baik-baik aja. Kan ada Dim. Loh itu ada anak cewek, itu Cinta?”
Seketika wajah Dim yang memberungut langsung ceria.
Bersama Cinta ada Zayn dan Maryam.
“Hei, Cinta!”
Cinta menyahut sama semangatnya, “Dim. Ayo Ayah, lama nih jalannya.”
Zayn memang belum mengijinkan Cinta berjalan sendiri di area yang tidak dia kenal, meski anak kecil itu sudah sering kabur.
“Cinta! Aku dah lama nggak ketempat kamu!”
“Dim kita ternyata saudara-an. Kata Ayah aku lebih tua beberapa jam dari kamu. Halo adik aku.”
Dim tergelak lalu dengan gaya teatrikal menepuk keningnya meski tahu Cinta tidak mungkin melihat.
“Wadoooh, punya kakak Mba Cha aja repot apalagi sekarang ada Mba Cinta.”
“Harus nurut sama Mba, ya,” ujar Cinta tak mau kalah sambil petentengan.
Kedua anak itu beserta semua orang dewasa di sana termasuk Nafisa pun tertawa geli.
“Assalamualaykum Cinta, ini Tante Nafisa, mamanya Dim.”
“Waalaykumussalam. Aku Cinta. Mmm… aku maunya manggil Bunda. Boleh nggak, pliiiiis.”
Melihat wajah polos Cinta dan matanya yang menatap kosong, hati lembut Nafisa tak sanggup menolak. Tapi ia harus menanyakan ke Dim terlebih dulu.
Wanita itu pun mendudukkan dirinya di hadapan Cinta, lalu meraih tangan mungilnya.
Lembut ia bertanya ke putranya, “Gimana, Mas Dim?”
Kening Dim berkerut, nampak sedang menimbang baik-buruk. Ekspresi yang sangat menggemaskan untuk anak seusianya.
“Mmm boleh.”
“Alhamdulillah, sekarang aku punya Ayah dan Bunda. Kamu juga punya Papa dan Mama, Dim,”seru Cinta dengan wajah berseri-seri.
Cinta melebarkan tangannya dan spontan, Nafisa langsung memeluk. Tak peduli bahwa Cinta adalah putri dari wanita yang telah merusak rumah tangganya.
Di pelukan Nafisa tiba-tiba Cinta terisak.
Zayn langsung duduk di samping putrinya.
“Sayang, kenapa?”
“Ini rasanya dipeluk seorang Bunda. Happy.”
Nafisa mengeratkan pelukannya membiarkan Cinta meluapkan kebahagiaan.
Dim menepuk pundak Cinta, sesekali mengelusnya.
“Jangan kelamaan nangisnya. Aku sama Mama nggak kemana-mana kok. Kamu bisa ke sini kapan aja,” cetus Dim dengan nada lembut.
Nafisa kemudian menggendong Cinta lalu mencium takzim Maryam. Zayn pun menggendong Dim. Mereka beriringan masuk ke dalam rumah.
Dari belakang Maryam terus mengucapkan doa, “Ya Allah, persatukanlah mereka. Hamba mohon.”
Sore itu menjadi momen yang indah. Karena Nafisa harus mengawasi restoran, semua pun ikut berada di restoran.
Dim menjelaskan dengan detil suasana rumah makan yang malam itu ramai seperti biasanya kepada Cinta.
Mereka menikmati makan malam nikmat. Zayn menyantap masakan khas Nafisa dengan nikmat. Layaknya orang puasa enam tahun, Zayn lepas kendali dan memesan banyak sekali lauk di sana.
Demikian juga dengan Cinta yang terus minta tambah Sup Kimlo Telur Puyuh. Hidangan sederhana namun sangat lezat jika dipadu dengan Udang Goreng Tepung.
Sementara itu, Nafisa berpindah dari satu meja ke meja lainnya menyapa pelanggan dengan ramah.
Walau nampak asik menyantap namun gerak-gerik Nafisa tidak lepas dari pengawasan Zayn.
Termasuk saat pria berperawakan jangkung dengan wajah priyayi disambut ramah oleh para pelayan.
“Pak Bupati, selamat malam. Silakan masuk.”
Dino melemparkan pandangan mencari wanita yang dicarinya. Binar matanya meredup melihat Zayn dan keluarganya ada di sana.
Nafisa mendekat dan mempersilakan duduk.
“Wah rame hari ini. Keluarga Zayn Malik juga ada di sini?”
“Betul, Pak. Anak dan ibunya Mas Zayn baru pertama ke sini.”
“Mas? Wah langsung udah akrab nih,” selidik Dino.
Untuk menghindari fitnah, Nafisa menjelaskan, “Mas Zayn itu suami saya. Karena suatu sebab kami berpisah cukup lama walaupun belum resmi bercerai.”
“Suami?”
Nafisa mengangguk.
“Bukankan Ibu Nafisa sudah enam tahun sendiri?”
“Tujuh tahun. Begitulah saya tidak mengurus perceraian dan Mas Zayn ternyata pernah mengurus ke pengadilan maupun menjatuhkan talak.”
“Menurut syighat taklik bukan kah itu sudah termasuk perceraian?”
“Saat ini pun memang kami belum kembali bersama dan belum memikirkan langkah selanjutnya. Biarlah Dim menikmati kehadiran ayahnya. Saya dan Mas Zayn sudah sama-sama dewasa untuk menentukan langkah. Maaf saya menerangkan ini supaya tidak terjadi fitnah.”
“Baik-baik. Saya mengerti,” balas Dino menutupi rasa kecewanya.
“Malam ini apakah Bapak mau memesan menu biasanya?”
Dino melihat-lihat buku menu lalu menutupnya.
“Sepertinya saya makan malam di rumah saja. Mari, Bu. Selamat malam.”
Dino berjalan meninggalkan restoran dengan tangan terkepal.
Di dalam mobil ia memberikan perintah melalui telepon, “Tunda semua ijin terkait resort yang akan dibangun oleh Zayn Malik. Buat restoran Hidangan Pantai sepi pelanggan. Ingat, main cantik.”
Kemudian ia memerintahkan supir menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Menahan marah, Dino berkata pada dirinya, “Kamu harus jadi istriku Nafisa.”
***