Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Berpisah


__ADS_3

Nafisa memeluk Aurelie dan Milo erat-erat. Sangat sulit rasanya meninggalkan dua belahan hati, namun ini saatnya berjuang untuk keluarga.


Dua hari sebelumnya, dengan bercucuran air mata, Reno mengatakan bahwa rumah mereka akan diambil oleh Zayn kecuali Nafisa mau merawat ibunya sampai Reno bisa mencicil.


Hanya dengan syarat itu, Zayn mau memberi kelonggaran untuk Reno.


Kini di sebuah airport privat, keluarga itu harus mengucapkan salam perpisahan.


“Mama, perginya jangan lama-lama,” isak Aurelie sambil terus memeluk Nafisa.


“In syaa Allah, semoga Mama bisa cepat pulang dan bisa sama Kakak dan Adek lagi, ya.”


“Milo cayang Mama,” lirih Milo yang masih belum mengerti duduk perkara namun bisa merasakan bahwa ibunya akan pergi cukup lama.


“Aah sayang, Mama juga sayang banget sama Milo.”


Reno menatap dengan sedih. Sebagai kepala keluarga ia merasa gagal. Kini istrinya harus dijadikan gadai atas hutang-hutangnya.


Sebentar lagi Nafisa harus berangkat ke Yogyakarta tinggal bersama ibunda Zayn Malik. Istrinya harus meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil.


Dada Reno terasa sesak.


“Sayang. Maafkan Abang,” ucapnya lirih.


Nafisa berdiri lalu menatap netra suaminya dalam-dalam.


“Udah beneran nggak ada jalan lain, ya, Bang? Aku bukannya nggak mau merawat ibunya Pak Zayn, tapi kasihan anak-anak. Apa bisa tiap hari mereka dititip ke Bude Nanik tetangga depan?”


“Pilihan lain adalah kita meninggalkan rumah dan cari kontrakan.”


“Apa nggak lebih baik seperti itu? Yang penting kumpul lalu kita cari jalan keluar bareng-bareng.”


“Masalahnya, tanah di Klenjer bermasalah, dengan jaminan rumah yang diambil pun hutang kita belum kebayar. Maafin Abang, Sayang.”


Nafisa menatap anak-anaknya yang tidak mau melepas pelukan.

__ADS_1


“Jaga anak-anak ya, Bang. Kita berjuang demi mereka.”


Seorang laki-laki menyapa.


“Bu Nafisa, kita harus berangkat.”


Reno langsung merengkuh istrinya, keduanya berpelukan erat. Anak-anak mereka pun langsung ikut memeluk kedua orang tuanya.


“Video call tiap malam, ya, Sayang. Kabarin kalau kamu sudah bebas tugas. Jangan cape-cape,” pesan Reno sambil mengeratkan pelukannya.


Nafisa mengangguk, bulir-bulir air mata membasahi bulu matanya yang lentik.


“Abang juga jaga diri. Jangan telat makan dan minum vitamin. Sudah aku siapin untuk tiga bulan.”


Nafisa mengelus wajah suaminya dengan punggung tangan lalu beralih ke anak-anak.


“Aurelie, Milo, kalian harus nurut sama Papa, juga dengar kata Bude Nanik ya.”


Milo menggeleng.


“Bu Nafisa,” tegur laki-laki tadi.


“Sebentar, ijinkan istri saya berpamitan dengan putra-putri kami,” ucap Reno tegas.


“Pesawat sudah mau tinggal landas. Anda tidak ingin membuat Pak Zayn gusar lalu langsung mengusir kalian dari rumah ke jalanan, kan?”


Aurelie dan Milo terbelalak dan langsung memeluk kedua orang tuanya.


Nafisa mendesis pada laki-laki itu.


“Bapak nggak perlu bilang seperti itu di depan anak-anak.”


Laki-laki itu terkekeh.


“Saya Mikail. Asisten Pak Zayn. Cepatlah, saya sedang nggak mood melihat drama keluarga.”

__ADS_1


Nafisa duduk di atas lutut untuk menyamakan tinggi dengan anak-anaknya.


“Mama kerja dulu ya, Sayang. Kalian nurut sama Papa. Doakan semua urusan Papa dan Mama bisa segera selesai dan kita bisa kumpul lagi.”


Dua anak kecil itu mengangguk dengan air mata berlinang. Nafisa memeluk, mengecup pipi dan kening mereka lalu menyerahkan pada Reno.


“Aku pamit, Bang. Assalamualaykum,” ucapnya dengan tenggorokan tercekat.


“Waalaykumussalam. Tiga bulan, Abang akan jemput kamu. Kita call nanti malam. I love you.”


Nafisa kemudian berbalik dengan hati yang hancur mengikuti langkah Mikail menuju pesawat pribadi yang akan membawa jauh dari orang-orang yang sangat ia cintai.


Nafisa menoleh ke belakang. Reno dan kedua anaknya menatap dengan sendu. Milo hendak lari mengejar namun ditangkap oleh ayahnya.


Bocah berumur tiga tahun itu memanggil Nafisa sambil menangis.


Langkah Nafisa terhenti dan hendak berbalik menenangkan putranya ketika terdengar suara dingin Mikail berkata, “Satu jam rumah kalian harus sudah kosong.”


Mengusap air mata yang mengalir di pipi, Nafisa terus berjalan menuju pesawat, mengindahkan jerit pekik anak-anak yang terus memanggilnya.


Wanita itu mengambil napas dalam berusaha untuk tegar karena harus meninggalkan putra dan putrinya. Pertama kali sejak mereka lahir.


Sebelum menaiki tangga pesawat, Nafisa memasang cadar. Ia akan tinggal di rumah yang tidak ada mahram, maka setelah berdiskusi dengan suaminya, Nafisa akan menutup wajah agar terlindung dari fitnah.


“Bismillaah, semoga Allah memudahkan semuanya.”


Nafisa menoleh ke belakang lalu melambaikan tangan ke arah keluarganya yang masih setia menunggu di dalam airport hingga pesawat tinggal landas.


Di dalam pesawat, Zayn sudah menunggu dengan wajah tidak sabar. Keningnya berkerut melihat wanita bergamis dan cadar mengucapkan salam.


“Assalamualaykum Pak.”


“Walaykumussalam, duduk di belakang,” balas Zayn sekilas lalu melemparkan pandangan ke jendela.


Tak lama burung besi itu bergerak dan akhirnya terbang meninggalkan empat hati yang hancur luluh karena perpisahan.

__ADS_1


***


__ADS_2