Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pria Misterius


__ADS_3

Nafisa berdiri di tepi jembatan menghadap ke sungai. Matanya terlihat lelah karena jiwanya memang lelah.


Daerah itu sepi, hampir tidak ada kendaraan lalu lalang. Nafisa memejamkan mata merasakan bulir bening terus mengalir membasahi wajahnya.


Belasan tahun ia bertahan untuk selalu tegar dan baik hati, namun kali ini sepertinya Nafisa ingin menyerah.


Ingatan siksaan demi siksaan di penjara berkelebatan di benaknya. Rintihan tertahan setiap malam ketika teman-teman sel ramai-ramai melecehkannya.


Tak sadar, ia memanjat pinggir jembatan. Siap menerjunkan dirinya.


“Aku nggak kuat, Bunda. Maafkan Mbak Nafi nggak kuat.”


Entah dari mana, Nafisa memanggil dirinya seperti dulu Bunda memanggilnya.


Wanita itu memejamkan mata.


“Maafkan aku, Ayah, Bunda. Tapi Mbak Nafi lelah.”


Nafisa siap menjatuhkan tubuh ke sungai ketika merasa seseorang menariknya.


“Nafisa, jangan!”


Tenaga orang itu begitu kuat sehingga Nafisa langsung terjatuh ke dadanya.


“Jangan, kumohon, jangan …” Pinta pria itu dengan nada panik.


Nafisa memejamkan mata. Suara itu lagi.


Tubuhnya didekap kuat.


“Bertahanlah, Nafisa. Jangan pergi dengan cara seperti ini.”


“Siapa kamu? Kenapa kamu ada dimana-mana? Tolong lepaskan atau aku akan teriak.”


“Berteriaklah jika itu membuat kamu lega.“


“Tolong lepaskan, kita bukan mahram. Haram bagi kita untuk seperti ini.”


“Bunuh diri juga haram. Jangan pernah terpikir untuk melakukan itu lagi, ya.”


“Janji, sekarang lepaskan. Atau aku gigit,” ancam Nafisa, siap mengamuk.


Di balik masker, pria itu tersenyum.


“Aku lepas tapi janji nggak akan aneh-aneh. Kalau kamu terjun, aku juga akan terjun. Kita mati berdua.”


“Aku janji,” lirih Nafisa.


Pria itu melepas dekapannya. Nafisa langsung berusaha melihat wajah pria itu namun kecewa karena dia memakai masker dan kaca mata hitam. Tangannya pun memakai sarung tangan.


“Siapa kamu? Aku pernah dengar suaramu di rumah sakit.”


“Mmm aku memang dokter di sana. Tapi aku tidak ditugaskan untuk merawatmu. Sesekali saja.”


Nafisa mengerutkan kening.


“Reno?”


“Siapa?” Balas orang itu lagi.


“Gaya bicaramu mengingatkanku pada mantan suamiku. Juga suaramu, namun kamu lebih serak dan dalam.”


Pria itu mendengus.


“Belum move-on.”


“Dia sudah mengkhianati dan mengambil anak-anakku. Sudah tidak ada lagi cinta untuknya.”


Pria itu tidak menjawab. Mereka kini berdiri di pinggir jembatan, menatap jauh ke aliran sungai yang bermuara entah dimana.


“Hidup memang nggak selalu sesuai harapan. Tapi kita harus selalu punya harapan hidup. Bersangka baik kepada Allah SWT,” ucapnya perlahan.


Nafisa tidak menjawab. Mengusap sebutir air mata yang lolos dari netranya.


Lirih wanita yang sedang dilanda putis asa menjawab, “Terima kasih sudah memberiku harapan untuk tetap hidup.”


“Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup?”

__ADS_1


“Cobaan yang bertubi-tubi. Terakhir aku dituduh membunuh. Sempat di penjara berbulan-bulan. Kini aku adalah mantan penghuni lapas. Tipis sudah harapanku untuk mendapatkan hak asuh. Ini yang paling berat. Punya anak tapi tak bisa membesarkan mereka.


Di balik kaca mata hitamnya, netra pria itu mengeruh.


“Mungkin, mantan suamimu ingin tetap memiliki kenangan indah denganmu.”


Nafisa mendengus.


“Dia sudah nggak menganggapku lagi. Entah salah apa, tapi mantanku itu teramat sangat benci padaku. Nasib. Sudah sebatang kara, dibuang suami …”


Pria itu tak bersuara.


“Nafisa, yang aku tahu, kitalah yang harus menciptakan kebahagiaan.”


“Sudah berhasil?” Tanya Nafisa ingin tahuz


Terdengar tawa miris keluar dari pria itu.


“Aku harus menikahi wanita yang tidak kucintai. Jika aku masih bertahan adalah karena anak-anakku dari istri terdahulu dan karena istriku yang sekarang sedang mengandung anakku.


Well, jika gagal, mungkin juga kamu akan membaca berita tentang laki-laki terjun dari sebuah jembatan,” jawabnya terkekeh.


“Ya udah, sih kita terjun sekarang aja,” balas Nafisa kembali melihat ke sungai di bawah jembatan.


Pria itu tertawa lalu langsung berhenti ketika Nafisa menatapnya tajam.


“Buka maskermu. Kamu Reno, kan?”


“Ya Allah, bukan Nafisa. Aku nggak kenal siapa Reno dan karena satu alasan, aku nggak akan buka masker ini.”


“Kenapa?”


“Nanti kamu naksir dan masalahmu bertambah. Padahal aku sudah menikah.”


Tak diduga, Nafisa tetawa terbahak-bahak.


Pria itu memandang hingga Nafisa selesai.


“Terima kasih, mungkin ini pertama kali aku bisa tertawa lepas setelah berbulan-bulan. Bukan menghina kamu, tapi tiba-tiba ada dorongan ingin ketawa,” jelas Nafisa sambil mengusap air mata yang timbul karena terlalu banyak tertawa.


Pria itu mengangguk lalu kembali menerawang jauh ke depan.


Nafisa membalas, “Walau belum terlalu yakin kalau aku bisa kuat, tapi setidaknya aku sedikit lega setelah ngobrol denganmu, laki-laki misterius. Semoga kita segera menemukan kebahagiaan masing-masing.”


Laki-laki itu mengangguk lalu berbalik menuju motor yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Sebentar lagi, Zayn Malik dan pasukannya akan menjemputmu. Tadi kulihat di rumah sakit dia hampir mati ketakutan mendapatimu kabur. Aku telepon rumah sakit ketika menyadari kamu yang berdiri di pinggir jembatan. Sepertinya mereka menghubungi Zayn.”


Nafisa mengangguk, matanya kembali sendu mengingat penderitaan yang diciptakan Zayn.


“Maafkan dia atau bikin hidupnya susah sekalian,” cetus pria itu sambil mendengus.


Kalimat pria itu berhasil memulas senyum di wajah sendu Nafisa.


“Ide bagus. Tapi aku bukan tipe orang yang suka bikin gara-gara. Walau masalah yang selalu mendatangiku. Makasih, ya.”


Dari kejauhan terlihat iring-iringan mobil menuju tempat Nafisa. Dia hendak bertanya bagaimana dirinya ditemukan namun pria bermasker itu sudah menjalankan motor kemudian menjauh hilang dari pandangan.


Nafisa mengambil napas dalam. Masih dengan kaki pincang melangkah mendekati iringan mobil.


Tak lama mobil-mobil itu berhenti.


Zayn berlari keluar diikuti Mikail dan beberapa bodyguard.


Lagi-lagi bayangan Zayn menampar dan menendangnya tanpa Mikail mencegah berkelebat.


“Nafisa,” panggil Zayn Malik, wajahnya terlihat cemas. Rambut acak-acakan.


“Jangan nangis di depan dua laki-laki brengsek ini, Nafisa,” ucapnya dalam hati.


Netra Nafisa menatap lurus ke arah Zayn dan Mikail.


“Pulang, yuk. Bude sudah nungguin,” sambung Mikail juga dengan wajah cemas.


“Apa salah saya sama kalian berdua?”


Zayn dan Mikail tertegun.

__ADS_1


“Jawab! Apa salah saya sama kalian berdua hingga sedikit pun nggak ada kesempatan buat saya untuk membela diri waktu itu?”


Tenggorokan Zayn tercekat.


“Apakah saya pernah mencurangi Ibu Sepuh? Apakah saya pernah berbuat jahat selama kenal dengan Anda berdua?“


Netra Nafisa mulai menghangat. Diusapnya kasar untuk menghapus air mata.


“Tiga bulan saya diperlakukan bagai binatang, Pak Zayn dan Pak Mikail yang terhormat. Dan ternyata siapa yang mencelakai Ibu? Istri Anda kan? Apakah dia sekarang sedang disiksa? Sampai hari ini, berapa kali dia dilecehkan?”


Zayn tergagap, “Nafisa, aku minta maaf.”


“Anda adalah manusia busuk Zayn Malik. Selamanya saya tidak akan memaafkan Anda. Pergilah. Saya sudah nggak mau berurusan dengan keluarga Malik.”


“Jangan begitu, Nafisa. Ibu … aku …”


“Apa, Pak? Anda mau apa? Mau paksa saya pulang? Mau pukulin saya kalau nggak mau ikut?”


Mata Nafisa menatap nyalang.


“Kamu mau kemana Nafisa? Bukankah masih ada hak asuh yang ingin kamu perjuangkan? Aku janji akan bantu,” bujuk Mikail.


“Itu urusan saya, Pak. Untuk apa bantu? Nama saya sudah tercatat sebagai pembunuh juga karena kalian, kan?” Suara Nafisa bergetar menahan emosi dan tangis.


“Nggak usah pedulikan. Sampaikan ke Bu Sepuh untuk tidak usah mencari saya lagi.”


“Nggak bisa,” jawab Zayn tegas.


“Anda nggak punyak hak untuk ngatur saya, Pak Zayn! Apa? Sekarang mau tampar? Mau tendang?”


Zayn memijit pucuk hidungnya.


“Nafisa, kita pulang ke rumah Ibu, ya. Aku mohon. Ijinkan aku menebus semua kesalahanku,” lirihnya sekaligus memohon.


“Dengan apa, Pak Zayn Malik yang terhormat? Bisakah Anda mengembalikan kehidupan saya seperti sebelum di penjara? Bisakah Anda menghapus jejak digital sehingga saya tidak lagi dikenal sebagai pembunuh?”


“Bisa. Nafisa beri saya kesempatan. Beri kami kesempatan. Kesalahan kami berdua begitu besar. Ijinkan kami … aku, menjagamu.”


Nafisa mendengus disusul dengan tawa sinis.


“Menjaga? Bukankah saya rusak gara-gara Anda-Anda juga? Baiklah, saya akan maafkan Anda tapi setelah ini, tidak ada lagi hubungan di antara kita. Sepakat?”


“Setuju,” jawab Mikail.


“Nggak akan,” jawab Zayn sambil mendelik ke arah sepupunya.


“Nafisa, kamu akan pulang ke rumah Ibu.”


“Nggak mau!”


“Kamu nggak kasih pilihan, Nafisa. Maafkan aku lagi.”


Dengan satu gerakan, Zayn mengangat tubuh Nafisa, memanggulnya bagai karung beras lalu membawanya ke mobil.


Sekuat apapun usaha Nafisa memberontak ia tetap kalah tenaga. Berteriak pun percuma karena tempat itu sepi. Dia memang mencari tempat sepi untuk mengakhiri hidupnya, tak menyangka dia malah ditemukan oleh laki-lali yang paling dibencinya setelah Reno.


Zayn mendudukkan Nafisa di kursi belakang lalu menahannya agar tidak kabur.


“Lepas! Pak Zayn, lepas!” Teriaknya sambil meronta.


“Maafkan aku lagi,” ucap Zayn lalu mengangguk ke arah Mikail yang sudah menyelinap di belakang Nafisa dengan kain berbau menyengat.


Mikail membekap Nafisa yang langsung tak sadarkan diri.


“Maafkan, aku. Tapi aku nggak akan membiarkan kamu pergi sebelum menebus kesalahanku, entah bagaimana caranya.“


“Apakah kita nggak makin membuatnya depresi?”


“Kita pikirkan nanti. Kalau pun dia depresi, aku bisa panggilkan psikolog atau psikiater terbaik bukan saja di Indonesia tapi dari luar negeri jika perlu. Tapi bagaimana kalau dia sendirian dan mengakhiri hidupnya?”


Iring-iringan kendaraan pun berlalu melewati seorang pria yang sedang memperbaiki sepeda motornya di persimpangan.


Dari sela-sela bagian sepeda motor, pria itu mengamati.


“Bertahan, ya, Nafisa.“


Setelah dirasa aman, laki-laki itu menjalankan motornya menuju garasi sewaan tempat dia menyembunyikan mobilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2