Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Mau Sama Mama


__ADS_3

Dimiko duduk sambil menyulam dengan tekun di samping Nafisa. Seharian itu dia hampir tidak pernah beringsut dari sisi ibunya.


Bahkan ke kamar mandi pun Dimiko menunggu di depan pintu lau mengetuk jika dirasa ibunya terlalu lama di dalam.


Nafisa membatalkan pertemuan dengan Dian karena Dimiko yang tidak mau ditinggal.


Menjelang sore biasanya Nafisa sibuk di restoran namun sore itu Dimiko memaksa diajari menyulam hingga ibunya memutuskan tetap di rumah.


Beberapa kali Nafisa bertanya sebab kemarahan Dim pagi itu. Meski sudah mendapat info dari Zayn tapi dia tetap ingin putranya mengungkapkan isi hatinya sendiri.


Nafisa sudah bertanya kepada guru kelas perihal salah satu orang tua murid yang bunuh diri karena dia tidak pernah mendengar berita seperti itu.


Dan ternyata hal buruk seperti yang dikatakan Dim tidak terjadi, hanya cerita di kalangan anak-anak yang menyebar dan diyakini kebenarannya.


Orang tua Windi, temannya Dim memang bercerai dan ibunya jatuh sakit ketika tahu ayahnya nikah lagi. Windi dan ibunya diboyong mendadak ke Solo oleh kakek dan nenek.


Keesokan harinya, si mantan suami mengamuk dan menghancurkan rumah mereka yang sudah kosong karena ditinggalkan hingga polisi berdatangan setelah menerima laporan warga.


Entah bagaimana kisah yang berbeda justru sampai ke telinga anak-anak kecil itu.


Nafisa mengelus pucuk kepala putranya yang sedang berusaha menyelesaikan sulaman. Bibirnya manyun-manyun.


“Mama, ganti benang. Sekarang warna biru.”


Tersenyum, Nafisa membantu anaknya memasukkan benang ke jarum. Dim mengambilnya lalu mulai menyulam bunga berwarna biru.


“Mas Dim, mau dengerin cerita nggak?”


“Kalau tentang Papa nggak mau, nanti Mama sedih.”


“Ini tentang Mama. Banyak cerita dari Mama yang Mas Dim belum tahu.”


Dengan suara lembut dan tenang, Nafisa menceritakan kisahnya yang kehilangan ibu untuk selamanya ketika dia masih kecil, lalu pindah ke Malaysia, dan terpisah dari ayahnya karena ulah ibu tiri.


Bagaimana Nafisa tidak bisa mengingat masa lalu termasuk namanya hingga akhirnya dibesarkan di panti asuhan.


Mata Dim terbelalak mendengar kisah Nafisa.


“Umur berapa Mama tiba-tiba sampai di panti?”


“Yah sekitar umur sepuluh tahunan.”


“Masih kecil, dong. Mama takut?”


“Bingung, takut, nggak karuan deh. Bahkan nama pun Mama nggak ingat. Dulu ada teman Mama menawarkan nama Salsabila.”


“Loh kan itu nama Mama. Jangan-jangan dia sebenernya tau,” cetus Dim menyelidik.


“Nggak, kok, Mas. Dan tiba-tiba setelah beberapa minggu, Mama kepingin dipanggil Nafisa. Qadarullah ya, Mas. Begitu baik Allah jagain jadi nama Mama dikembalikan.”


Dimiko terdiam, matanya menerawang.


“Waktu ibunya Mama meninggal, sedih nggak?”


“Sedih banget. Makanya Mama ngerti kenapa Dim nggak mau jauh dari Mama. Tapi Dim, semua yang hidup itu pasti akan mati. Kita nggak pernah tau loh, sampai berapa umur kita. Maka itu kita harus …”


“Tetap sholat, bikin amalan baik, tegar dan ikhlas sama takdir,” jawab Dim dengan wajah serius.


“Supaya?”


“Supaya Allah jagain kita.”


“Maa syaa Allah, pinter ya anak Mama. Banyak kejadian sedih di hidup Mama. Yang bikin Mama kuat adalah karena mengharap lindungan Allah SWT. Kalau Allah udah jagain, kita akan kuat, Mas. Dan Mama juga terus bertahan sampai Allah memanggil Mama.”


Dimiko mendengarkan dengan seksama lalu bertanya, “Allah benci orang yang bunuh diri, kan?”


“Bener banget. Kesulitan bisa membuat orang gelap mata dan bunuh diri, tapi jangan sampai kepikiran, deh. Kesulitan itu untuk dihadapi. Harus kuat. Sambil mohon pertolongan Allah.”


Dim diam sejenak untuk merenung.


“Mama kenapa pisah sama Papa?”


Mengambil napas dalam, Nafisa hati-hati bercerita.


“Papa punya kesalahan besar banget dan Mama memilih berpisah lalu pergi ke Banyuwangi ditemenin sama Oom Mika. Keputusan berat yang harus Mama ambil. Tapi sisi baiknya adalah, Mama ketemu Tante Dian, ketemu Eyang Opa, Mama juga ingat masa kecil, terus kamu lahir deh.”


“Papa nggak pernah tahu kalau ada aku? Terus Cinta?”


“Cinta?”


“Anaknya Papa, Ma.”


“Kok Dim bisa tahu?”


“Abis antar rantang aku suka mampir ke pantai. Terus kenalan sama Cinta. Ada pengasuhnya juga namanya Bu Lastri. Besoknya, anak itu kabur ke pantai, padahal dia nggak bisa liat loh, Ma.”


Nafisa tersenyum mendengar nama Lastri di sebut. Salah seorang yang berjasa dalam hidupnya. Namun dia masih belum terlalu paham bagaimana anaknya tanpa sengaja bertemu ayahnya.


“Terus kamu tau dia anak Papa gimana?”


Dimiko tertegun, ragu bercerita bagaimana dulu Zayn menampar dirinya setelah melihat Cinta jatuh ketika bermain.


“Mmm tapi tapi Mama jangan marah sama Papa. Eh nggak ding. Mmm … mmm.”


“Dimiko.”


Mendengar namanya dipanggil lengkap, Dim langsung waspada.


“Janji dulu jangan sedih.” Tangannya mengacung ke depan ibunya, alisnya terangkat.


Menahan untuk tidak menoel pipi anaknya karena gayanya yang menggemaskan, Nafisa mengangguk.


“Dim lagi main sama Cinta, terus Cinta jatuh. Papa pikir aku yang jatuhin lalu aku kena …”


“Ya Allah, yang waktu pipi Mas Dim merah waktu itu?“


“Mama mama, kalau kenal sama Cinta, pasti Mama juga khawatir kalau jadi orang tuanya. Abis itu Dim ke villa kok buat baikan sama Papa,” buru-buru Dim menjelaskan.


Melihat betapa anaknya berusaha menetralisir, Nafisa pun melembut, hanya dalam hati dia berniat membuat perhitungan dengan Zayn.


“Ma, meski sekarang udah ada Papa, tapi Dim nggak mau kita tinggal di sana. Dim maunya sama Mama aja.”


“Kenapa, Sayang?”


“Papa pernah bikin Mama sedih banget sampai akhirnya Mama memilih ninggalin. Nanti kalau Mama dibikin sedih lagi, Dim ditinggalin.”


Ada rasa menusuk di hati Nafisa karena memang benar dia telah meninggalkan dua anaknya tanpa kabar.


“Mama belum kepikir untuk tinggal bareng lagi sama Papa. Kami udah berpisah lama, pastinya banyak yang berubah. Jadi bisa aja kami udah nggak bisa bersama. Emang Mas Dim nggak pingin punya Papa?”


“Sekarang enggak. Tapi nggak tau juga besok,” jawab Dim polos.


“Kita selesaikan satu-satu ya, Mas Dim. Pertama, Mas Dim mesti tau kalau in syaa Allah Mama nggak akan bunuh diri. Suatu saat pasti akan tiba waktu Mama untuk meninggal tapi itu bukan karena bunuh diri,” tegas Nafisa.


“Mama …”

__ADS_1


“Kedua, Mas Dim harus kenal sama Papa. Karena bagaimana pun, kamu itu garis keturunannya Papa.”


“Jangan sekarang. Mas Dim hari ini maunya sama Mama aja. Mau tenangin diri dulu,” ucapnya manja sambil menggelendot.


Nafisa terkekeh tertahan. Putranya bisa sangat dewasa namun kekanakan di waktu yang bersamaan.


“Siap. Mama juga hari ini nggak ke restoran.”


Dim melempar sulamannya ke atas meja.


“Ma, aku udah sebel banget sama sulaman ini.”


“Stop aja dulu. Kita main halma yuk. Mama udah punya taktik baru buat kalahin Mas Dim.”


Wajah Dim terlihat malas.


“Udah lah, Ma. Mau main apa aja, catur, halma, atau ludo, cuma Oom Mika sama Abidzar yang mungkin … mungkin menang lawan Dim. Tapi boleh lah, kalau Mama siap kalah.”


Dengan gemas Nafisa mencubit pipi gembil anaknya. Mereka kemudian main halma dengan hasil Nafisa kalah telak.


Dimiko sudah mulai bisa tersenyum dan tertawa. Anak itu tergelak ketika berhasil mengalahkan ibunya untuk kesekian kali.


“Ma udah mau ashar. Mas Dim mau sholat di masjid boleh nggak?”


“Sama Mama?”


“Enggak lah, sebaik-baiknya tempat sholat wanita adalah di rumah. Tapi hari ini Dim nggak antar rantang, ya. Abis sholat Dim mau sama Mama lagi.”


“Siap.”


Nafisa bisa bernapas sedikit lega karena bocah enam tahun itu tetap mau ke masjid untuk menjalankan ibadah yang sesungguhnya belum wajib baginya.


“Abis sholat Mama nengok dapur resto, boleh? Liat mereka persiapan buat catering malam ini.”


Kening Dim berkerut. “Tapi Mama nggak ikut cateringan kan?”


“Enggak, kok, Sayang. Malam ini Mama temenin Mas Dim.”


Dimiko lalu memeluk erat ibunya.


“Dim sayang sama Mama.”


“Mama juga sayang sama Mas Dim.”


Setelah mencium kedua pipi ibunya, Dim mengambil air wudhu lalu memacu sepedanya ke masjid.


Nafisa menatap putranya sambil menghela napas, “Mas Dim, andai Mama punya keberanian untuk menceritakan tentang kakak-kakak kamu.”


***


Zayn duduk termenung di ruang kerjanya. Pertemuannya dengan Nafisa membangkitkan cinta yang tak pernah padam. Dirinya pun yakin Nafisa memiliki rasa yang sama.


Hanya kini setelah terpisah begitu lama, masing-masing sudah memiliki kisah yang mengiringi.


Zayn memiliki Cinta dan Nafisa memiliki Dimiko yang jelas-jelas menolak dirinya.


Perlahan, Zayn menyentuh jari jemarinya yang tadi menyentuh tangan Nafisa. Sebersit senyum terbit di sana. Netra laki-laki itu terpejam membayangkan wajah Nafisa yang makin terlihat cantik.


Lalu muncul Dimiko di benaknya. Anak kecil yang menjadi teman pertama untuk Cinta itu ternyata adalah putranya.


“Alhamdulillah Papa udah sempat peluk kamu, Dim. Papa harap kamu mau menerima Papa.”


Pintu ruang kerjanya terbuka. Ibunya masuk dengan wajah sumringah diikuti Lastri dan Mbok Mi yang terbang dari Yogya begitu mendengar Nafisa tinggal di Banyuwangi.


“Cantik banget, eh maksud Zayn, baik.”


Mbok Mi dan Lastri saling mengedip tapi langsung pura-pura bego ketika melihat Zayn mendelik ke arah mereka.


“Kamu ngomong apa aja? Dim gimana setelah tau kamu ayahnya?”


Mata Zayn berubah sendu. Tiga wanita di depannya langsung bertukar pandangan.


“Nafisa masih marah sama kamu? Atau malah sudah punya calon,” tanya Maryam makin menyelidik.


“Nggak! Dia nggak punya calon,” jawab Zayn tidak terima.


“Santuy, Zayn. Kalian sudah lama banget pisah, kan? Wajar kalau mungkin Nafisa move-on,” ucap Maryam tenang.


“Buat Ibu, yang penting Nafisa baik-baik saja dan Ibu bisa dekat sama Dim, itu udah cukup,” sambungnya lagi.


Zayn mengerutkan kening.


“Ibu nggak pengin Zayn dan Nafisa balikan?”


“Seperti yang Ibu bilang, kalian sudah punya kehidupan masing-masing. Apapun keputusan kalian harus mempertimbangkan Cinta dan Dim.”


Zayn merenung lalu menjawab pertanyaan awal dari ibunya, “Tadi pagi, Nafisa malah takut aku akan ambil Dim. Mungkin takut kejadian waktu sama Reno, ya. Aku baru mau ngomong ketika tiba-tiba Dim datang dan marah. Bu, dia itu punya sifat kayak aku. Kalau marah ada bakat nakutin.“


“Dim malah marah?”


“Takut tepatnya. Dim pernah cerita ada ibu temannya yang bunuh diri karena sedih ditinggal ayahnya nikah lagi. Anakku cerdas, Bu, tapi bagaimana pun dia masih anak kecil.”


“Astaghfirullah, kasihan banget.”


“Tapi itu semua nggak kejadian, Bu. Aku udah selidiki. Memang ibu anak itu jatuh sakit, tapi tidak bunuh diri. Dan di rumahnya sempat ada banyak polisi tapi karena suaminya mengamuk mendapati rumahnya kosong.“


Maryam merenung, membayangkan betapa takutnya Dim jika kehilangan satu-satunya orang tua yang dia kenal.


“Maaf, Pak. Apakah mungkin Mbok dan Lastri diijinkan ketemu Nyonya Nafisa. Kangene buanget.”


“Aku ikut. Ibu kangen banget. Tau nggak obat kangen Ibu tuh adalah ngintipin Aurelie di sekolah yang makin hari makin seperti Nafisa.”


“Janjian dulu aja, Bu. Nanti aku kirim nomor Nafisa.”


“Mana Zayn cepet kirim. Ya Allah, kangene sama anak Ibu.”


“Aku anak Ibu.”


“Wis ojo aneh-aneh, Zayn. Kamu emang nggak beres sampe bikin anak Ibu pergi. Mi, Lastri, ke kamarku, kita coba video call sama Nafisa,” ucap Maryam sewot.


“Monggo, Bu. Permisi, Pak.”


Tiga wanita itu berbondong menuju kamar Maryam.


Zayn tetap di ruang kerjanya, menerima laporan dari orang-orang yang dia tempatkan di sekeliling rumah Nafisa.


Foto Dim dan video ngebut naik sepeda ke mesjid, kesibukan Nafisa mengatur dapur, hingga ketika Dim kembali pulang disambut ibunya.


Zayn meraba layar hapenya menyentuh gambar Nafisa dan Dim. Di hatinya berharap masih ada kesempatan untuk berkumpul lagi bersama wanita yang belum sah diceraikan serta putra kandungnya.


***


Nafisa menerima telepon dari nomor yang tidak dia kenal.


“Kok nggak diangkat, Ma?”

__ADS_1


Sore itu Dim sedang santai dengan Nafisa menikmati pisang goreng di halaman belakang.


“Mungkin dari klien. Mama mau sama Dim aja jadi nggak mau ngurus kerjaan.”


“Sini Dim angkat.”


Nafisa tersenyum melihat anaknya yang masih kecil tapi sudah punya gesture melindungi ibunya.


“Assalamualaykum, ini Dim anaknya Bu Nafisa. Ini siapa ya?” Dim menjawab melalui speaker.


“Waalaykumussalam …” Terdengar jawaban dari suara yang sangat dikenal Nafisa.


“Ibu!”


“Siapa, Ma?”


“Eyang Uti kamu, Dim.”


“Eyangnya Cinta? Aku udah kenal. Ma, Eyang rikues video.”


Nafisa mengangguk. Di layar muncul wajah Maryam sedangkan Lastri dan Mbok Mi berebut tempat di belakangnya.


“Ya Allah, Gusti. Nafisa. Ini Ibu, Nak. Ibu kangen.”


Nafisa berusaha keras menahan tangis haru, takut anaknya salah tangkap dan kembali mengamuk.


“Ibu! Nafisa juga kangen.”


“Wis, kita mau kesana. Boleh, ya. Kangen banget.”


“Dim, gimana, apa Eyang boleh ke sini?”


“Eyang pernah bikin Mama sedih?”


“Nggak pernah, Sayang. Justru Eyang yang selalu bantu Mama.”


“Boleh, Eyang. Tapi jangan ajak Papa. Kalau Cinta boleh diajak juga, nanti Dim ajak main di pantai sini. Aman kok.”


“Cucuku … cucuku pinter banget. Eyang kesana. Mau dibawain apa?”


“Nggak usah, Eyang. Ke sini aja, Mamaku bisa masak apa aja,” jawab Dim bangga. Nafisa mengusek pucuk kepala putranya.


“Kami berangkat sekarang. Sampai nanti.”


Tak sampai setengah jam, Nafisa mendengar suara-suara yang juga ia rindukan.


Segera keluar dari rumahnya bersama Dim lalu bersimpuh di depan kaki Maryam.


“Nyuwun ngapuro, Bu. Nafisa minta maaf sudah pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Maaf, Bu.”


“Nafisa berdiri, Sayang. Ibu dah susah kalau membungkuk. Ibu mau peluk kamu.”


Maryam dan Nafisa kemudian berpelukan erat. Tangis haru tumpah menghapus kerinduan.


Mbok Mi dan Lastri ikut mengelus punggung Nafisa.


Setelah puas, Nafisa memeluk Mbok Mi dan Lastri satu per satu.


Dim kemudian mencium takzim tangan Maryam, Mbok Mi, dan Lastri.


“Nyonya, Dimiko mirip banget sama bapake waktu masih kecil. Kan Mbok yang ngasuh,” bisik Mbok Mi.


Nafisa juga berbisik, “Kelakuannya juga kadang-kadang. Monggo masuk. Tadi udah tak gorengin pisang sama ada brownies juga.”


Mereka semua beranjak masuk ketika Dimiko berhenti lalu membalikkan badan menatap sosok laki-laki yang berdiri di pantai menghadap ke rumahnya.


Ayah dan anak saling bertatapan dari kejauhan.


Yang satu penuh kerinduan sementara Dimiko masih punya banyak keraguan.


Zayn melambaikan tangan dan dibalas sekilas, karena sebetulnya Dim bukan anak pendendam dan kasar. Ia hanya takut kehilangan ibunya.


Meski demikian, bocah itu memilih masuk dan menutup pintu sambil diam-diam mengintip untuk melihat apakah ayahnya masih menunggu.


Netra Zayn yang tajam bisa melihat putranya mengintip dari balik tirai. Ia pun melambaikan tangan lagi sebelum beranjak pergi.


Di teras belakang, Maryam duduk dan terus menggandeng tangan Nafisa.


Ada rindu namun lebih banyak rasa bersalah yang dirasakan Nafisa.


“Maafin, Nafisa, Bu. Harusnya Nafisa lebih tegar untuk menghadapi Mas Zayn dan Val saat itu.”


“Mama nangis?” Dimiko tiba-tiba muncul dengan wajah khawatir.


Buru-buru Nafisa menggeleng.


“Nangis karena seneng, Sayang. Sini duduk di samping Mama.”


Mbok Mi dan Lastri berebut memangku Dimiko.


“Ma?”


“Dim, Bude Mi dan Bude Lastri ini sahabat-sahabat Mama.”


Dim mengangguk lalu duduk di antara Mbok


Mi dan Lastri.


Nafisa melanjutkan percakapan. “Bagaimana kabar kedai? Kalau aku liat di instagram masih laris.”


“Alhamdulillah makin-makin laris, Nyonya. Udah bisa bagi-bagi bonus juga setiap tahun.”


“Kenapa Mama dipanggil Nyonya?” Dimiko heran. Di daerah Banyuwangi memang jarang sebutan Nyonya dipakai.


“Nggak tau, ni. Padahal panggil nama aja loh.”


“Soalnya, kami kerja untuk Bu Maryam dan Tuan Zayn. Jadi Mama kamu dipanggil Nyonya.”


“Mbok Mi, Mbak Lastri, tolong panggil namaku aja atau Ibu. Yah, kumohon,” pinta Nafisa, dia belum yakin Dimiko bisa menerima perubahan yang terlalu cepat terjadi.


“Njih, Bu,” jawab Mbok Mi dan Lastri serempak.


Sore hingga malam, mereka bercengkrama, saling bertukar cerita-cerita indah masa lalu. Dim ikut mendengarkan dan sesekali bertanya.


Maryam sangat bisa melihat sifat-sifat Zayn yang kritis dan cerdas. Namun ia juga melihat sifat lembut dan santun dari Nafisa.


Berulang kali Maryam mengelus pipi Dim untuk menunjukkan rasa sayang.


Hingga saatnya mereka pulang, ketiganya terkesima dengan betapa larisnya restoran Nafisa.


Maryam menoleh ke arah Nafisa dan Dim yang melambaikan tangan dari teras rumah.


“Kumohon ya Allah, ijinkanlah ayah, ibu, dan anak ini untuk bersatu lagi.”


***

__ADS_1


__ADS_2