
Nafisa terbangun di dalam kamar yang tidak dikenal. Matanya mengerjap melihat ke sekeliling.
Pintu kamar terbuka.
“Alhamdulillah kamu sudah siuman.”
Masih bingung, Nafisa menggelengkan kepala. Tiba-tiba ia teringat apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya kembali bergetar.
“Nafisa, Nafisa. Jangan begini, ayo istighfar. Kamu harus kuat, Nak. Istighfar.”
Maryam berjalan mendekati Nafisa.
“Yuk bersandar ke bantal dulu. Ambil napas dalam lalu buang. Dzikir atau istighfar dalam hati. Kamu harus kuat. Perjuangan masih panjang,” ujarnya sambil menata bantal-bantal untuk Nafisa.
Pandangan Nafisa nampak kosong.
“Sakit, Bu. Semuanya sakit,” bisiknya lemah.
Tanpa cadar, seluruh wajahnya bisa terlihat. Bibirnya pucat, matanya bengkak karena terus menangis.
Maryam duduk di tepi tempat tidur lalu berkata, “Iya, pasti. Tapi kamu harus tahan.”
“Ini cuma mimpi, kan? Nafisa nggak ditalak sama Bang Reno, kan? Ini pasti mimpi.”
Maryam berkata lagi, “Lebih baik malam ini kamu tenangkan diri dulu.”
“Nafisa pengin mati saja,” sahutnya cepat.
“Hush! Istighfar Nafisa. Nggak gitu! Harus tegar dan baik hati. Itu kan pesan yang kamu selalu ceritakan ke Ibu?”
“Percuma, Bu. Nafisa seumur hidup pasti sudah berusaha tegar dan baik hati. Tapi nyatanya? hidup nggak ada keluarga, sekarang suami dan anak-anak membuang untuk wanita lain. Untuk apa Nafisa hidup, Bu?”
“Kamu hidup untuk menjalani takdir Allah. Tidak selamanya apa yang kamu mau terjadi di sana. Tapi kamu harus bisa melaluinya. Jangan kepikiran untuk bunuh diri. Allah benci itu.”
“Aku juga benci, Bu. Hanya sepertinya Nafisa udah nggak kuat lagi.”
Nafisa memejamkan mata. Air mata kembali mengalir.
“Sshh, udah nangis aja. Mau teriak juga boleh. Tapi abis itu harus berusaha tenang untuk menghadapi semuanya, ya, Nak?”
Maryam merengkuh Nafisa untuk menangis di pundaknya.
“Sakit banget, Bu. Tolong Nafisa …” Ucapnya di sela isak tangis.
“Iya, Sayang. Ibu ngerti.”
“Apa salah Nafisa, Bu? Tiga bulan Nafisa rela pergi ninggalin anak-anak karena Abang berhutang. Bukannya Nafisa nggak ikhlas merawat Ibu. Tapi kalau bukan karena harus jadi gadai, Nafisa nggak akan ninggalin anak-anak.”
Maryam mengelus punggung Nafisa. Wanita yang sedang terluka parah itu terus menangis di pundak Maryam.
“Nggak ada yang salah, Sayang. Reno yang nggak boleh berlaku seperti ini.”
“Ya Allah, kenapa, ya Allah? Apa salah Nafisa? Hidup kok gini banget? Kenapa takdir yang ditulis buat Nafisa itu kejam banget?”
Maryam menangkup wajah Nafisa.
“Nafisa nggak boleh ngomong gitu. Allah nggak kejam. Malah mungkin ini cara Allah menunjukkan sayangNya sama kamu. Walaupun sakit banget, tapi Nafisa harus kuat.”
“Bingung, Bu. Nggak ngerti mesti ngapain.”
“Sekarang kamu tenangin diri dulu. Setelah itu kita pikirkan sama-sama.”
Nafisa melirik ke arah jam.
“Astaghfirullah, udah jam delapan malam. Ibu belum dahar, belum minum obat. Maaf, Bu.”
“Ibu sudah makan dan minum obat, Sayang. Dengerin, kamu ada di sini disebabkan hutang suamimu. Karena sudah lunas, kamu di sini menjadi tamu Ibu. Kamu udah nggak punya kewajiban untuk melayani Ibu lagi.”
Netra Nafisa menyorotkan keputusasaan.
“Baik, Bu. Secepatnya Nafisa akan ambil barang-barang di Yogya.”
“Gimana, gimana? Kok nggak nyambung? Emang mau ambil barang terus kemana?”
“Nggak tau, Bu.”
“Ibu bukannya mengusir kamu. Justru Ibu ingin kamu tinggal sama Ibu bukan sebagai perawat lagi tapi sebagai teman.”
__ADS_1
“Teman?”
“Ya, teman. Ibu nggak mau tinggal sendirian. Sekarang kamu sholat lalu makan. Mbok Mi dan Mbak Lasti udah ibu panggil ke sini dari Yogya untuk bantu-bantu. Kita lagi di rumah Ibu yang di Jakarta.”
“Nafisa nggak mau bikin repot. Nanti siapa yang akan bantu Pak Zayn dan Nyonya Valerie?”
“Mbok Mi dan Mbak Lasti itu pegawainya Ibu. Sedangkan Valerie, dia harus bisa mengurus rumah. Sekarang tenangkan diri lalu makan dan bobok.”
Akhirnya Nafisa mengangguk.
Mbok Mi dan Lasti masuk ke dalam kamar. Wajah mereka nampak ikut prihatin.
Lasti yang lebih muda langsung nyerocos, “Yang sabar ya, Mbak. Dulu Lasti juga pernah diginikan sama mantan suami. Capek-capek kerja di luar negeri, kirim duit, eh malah buaya darat itu seneng-seneng sama gundiknya. Untung Lasti sempet cabein tu mulut perempuan. Lasti jambak, lemparin rumahnya …”
“Lasti … Lasti, udah,” potong Maryam sambil mendelik.
“Maaf, Bu. Lasti emosi. Tenang, pokoknya Mbak Nafisa harus kuat. Ini sakitnya luar biasa tapi harus dijalanin dan dihadapin. Nggak ada pilihan lain.”
Mbok Mi meraih nampan di meja lalu meletakkan di atas tempat tidur.
“Ma’em dulu terus abis itu sholat. Malam ini kami berdua tidur nemenin kamu.”
***
Setelah Nafisa lebih tenang, Maryam keluar dari kamar. Dilihatnya Mikail duduk di depan televisi sambil mengerjakan sesuatu di hapenya.
Melihat Budenya mendekat, ia langsung berdiri untuk menuntun ke sofa.
“Bagaimana kondisinya?” Wajah pria itu nampak khawatir.
“Hancur. Inget, ya, Mika, kalau kamu nikah dan selingkuh, Bude akan kulitin hidup-hidup!”
“Nggak akan, Bude. Mmm tadi Zayn telepon, dia nggak setuju kita terlibat dalam masalah Nafisa, Reno, dan Dela. Lagi pula urusan kita dengan Nafisa sudah selesai.”
“Terserah Bude, dong. Urusan apa Zayn ngatur-ngatur?”
“Zayn nggak mau Bude sakit lagi karena stress.”
“In syaa Allah Bude kuat.”
Hape di tangan Mikail berbunyi.
“Bilang Bude males ngomong. Urusin aja itu Nenek Lampir jangan sampe hidungnya copot. Muka kok ganti-ganti terus,” cetus Maryam dengan nada ketus.
Mikail menggeleng kepala lalu menerima video call.
“Mika, mana Ibu? Gue mau ngomong. Bu, jangan pura-pura cuek deh. Zayn nggak mau Ibu ngurusin Nafisa. Udah kita suruh dia pergi aja, toh urusan kita dan suaminya udah beres.”
“Eh kamu ya, kalau nggak ada Nafisa, Ibu masih duduk kaku di kursi roda. Dia berjasa buat Ibu, ngerti?”
“Bu … please. Zayn nggak mau Ibu sakit lagi.”
“Kalau nggak mau Ibu sakit kamu sering nengokin dong. Anak macam apa kamu? Tiga bulan ini berapa kali kamu nengokin Ibu, hah?”
Walaupun sudah usia dan pernah stroke, namun suara Maryam masih terdengar kuat dan penuh tekat.
“Maaf, Bu. Zayn banyak di Jakarta nemenin Valerie, kan dia …”
“Bla, bla, bla. Zayn, kamu itu qawam, pemimpin buat istri dan anak-anak kamu nanti. Didik istri kamu untuk nurut! Denger ya, Ibu akan tetap bantu Nafisa.”
Zayn tak bersuara.
“Zayn … Zayn? Mika, sepupu kamu masih hidup nggak sih?” Panggil Maryam tak sabar.
“Masih, Bu,” jawab Zayn akhirnya.
Pria itu berbicara perlahan, “Mika, kamu kan pengacara, daripada gelar S1 dan S2 hukum kamu tidak kepakai, wakili Nafisa di sidang perceraian. Bu, denger, ya, Zayn suruh Mika bantu bukan karena kasian sama Nafisa, tapi nggak mau ibu stress lalu sakit. Zayn … Zayn sayang sama Ibu.”
Netra Maryam melembut mendengar ungkapan perasaan putra kesayangan.
“Ibu juga,” jawabnya dengan suara tercekat menahan emosi.
“Secepatnya Zayn ke Jakarta.”
“Kamu dimana sekarang?”
“Seoul, Val cocok sama dokter di sini.”
__ADS_1
“Oh, ya sudah. Take care. Salam untuk istrimu.”
***
Keesokan hari Nafisa mendatangi rumahnya hendak bertemu Reno dan anak-anak, namun rumah itu kosong.
Dengan sinis Bude Nanik mengatakan mereka sedang berlibur ke Jepang.
Para tetangga yang tiba-tiba muncul di teras rumah masing-masing mencemoohnya. Entah fitnah apa yang dilontarkan Reno dan Dela namun yang jelas tetangga yang dulunya akrab kini berbalik memusuhi.
Bahkan security yang dulu dikenal baik pun malah mengusir keluar dari kompleks.
Beberapa kali Nafisa mencoba menghubungi Reno namun nomornya sudah diblokir. Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Reno.
Dengan tangan hampa, Nafisa kembali ke rumah Maryam. Di sana Mikail sudah menunggu dengan raut cemas.
“Nafisa, ada surat buat kamu.”
Sekilas Nafisa bisa membaca tulisan di amplop: PENGADILAN NEGERI AGAMA. Tangan gemetar mengambil dari tangan Mikail.
Surat Gugatan Cerai dari Reno sampai hanya sehari setelah mereka bertemu. Berarti Reno sudah lama mengurus perceraian mereka.
Dialamatkan ke kantor Zayn, tanda bahwa Reno tidak mencari tahu dimana istrinya berada.
“Sebegitu nggak berartinya aku buat kamu, Bang,” lirih Nafisa bersamaan dengan bulir bening menetes.
“Aku akan mewakili kamu sebagai pengacara,” ucap Mikail yang tak tahan melihat wanita di depannya mulai menangis.
“Nggak usah, Pak. Cuma bikin Bapak repot aja. Toh akhirnya cerai-cerai juga. Bahkan Abang nggak menanyakan apakah aku masih mau bertahan menjadi istri pertama.”
Mikail mengangkat alis.
“Kamu mau dimadu?”
“Nggak ada wanita yang ingin dimadu. Seikhlas-ikhlasnya pasti ada rasa sakit. Tapi itu lebih baik. Paling tidak aku masih bisa bertemu Aurelie dan Milo,” ungkap Nafisa lesu. Matanya menerawang jauh.
“Aku ikut prihatin.”
“Makasi, Pak. Saya masuk dulu, mau ketemu Ibu Sepuh.”
“Nafisa, katakan jika ada hal lain yang bisa kubantu.”
Wanita itu diam lalu menjawab, “Bisakah Bapak kembalikan suami dan anak-anakku?”
Tenggorokan Mikail tercekat, tak mampu menjawab. Nafisa pun berlalu dengan langkah gontai.
***
Hari-hari berlalu dengan sangat lambat. Tidak ada kabar dari Reno maupun anak-anak. Hanya di instagram Dela, Nafisa melihat betapa bahagia mereka berempat.
Main di berbagai wahana, Aurelie dengan baju princess, Milo dengan topeng Buzz Night Year, hingga foto-foto dengan maskot-maskot taman bermain.
Paling menyakitkan adalah saat Nafisa melihat Reno mencium bibir Dela. Ciuman yang dulu adalah miliknya.
Hati Nafisa bagaikan diremas melihat betapa mesranya Reno dan Dela. Namun itu belum seberapa dibanding melihat foto Milo tidur pulas di pangkuan Dela.
Nafisa terus melihat laman media sosial Dela. Hingga matanya terpaku pada sebuah foto yang diambil kira-kira setahun yang lalu.
Sebuah foto dimana tangan Dela menggandeng tangan seorang pria di atas tempat tidur dengan caption: You are mine.
Nafisa berani bersumpah bahwa tangan pria itu adalah tangan milik Reno.
“Mungkinkah, mungkinkah Bang Reno sudah berhubungan dengan Dela sejak lama?” Gumam Nafisa penuh tanda tanya.
Teringat malam-malam ketika Reno mulai pulang terlambat dengan berbagai alasan.
Napas Nafisa mulai memburu. Jantungnya berdegup keras.
“Mungkinkah permintaan kamu agar aku menjaga Bu Sepuh hanya akal-akalan saja?”
Kepalanya terasa pening akibat terlalu sering menangis.
Diambilnya tangkap layar untuk foto dua tangan itu. Di kolom pesan milik Dela dia menuliskan: Aku setuju bercerai, tapi jelaskan kenapa ini terjadi.
Tak berapa lama muncul jawaban: Abang sudah nggak cinta sama kamu lagi.
Nafisa memegang dadanya. Matanya terpejam menahan sakitnya luka tak berdarah.
__ADS_1
***