
Kedai Nafisa selalu sibuk baik dengan pelanggan maupun babang ojol yang mengambil pesanan.
Seperti siang itu, Nafisa sedang asik berdiskusi dengan pelanggan yang ingin membuat kenutan ulang tahun untuk ibundanya. Nafisa dan pelanggan wanita itu merancang bentuk hiasan kue sesuai hobi Sang Ibunda.
Dibesarkan tanpa orang tua, Nafisa merasa terharu dengan usaha pelanggannya yang masih berusia muda untuk menyenangkan hati wanita yang melahirkannya.
Suasana kedai cukup ramai. Pelanggan yang membeli langsung biasanya adalah kaum hawa, sedangkan para ojol duduk dengan nyaman di tempat yang sudah disiapkan untuk menunggu pesanan. Tak lupa Nafisa menyiapkan es teh manis untuk mereka. Gratis.
Tiba-tiba pintu kedai dibuka dengan kasar.
“Nafisa! Apa-apaan sih kamu? Kenapa menuntut hak asuh sekarang. Kita sudah baik-baik saja. Jatahmu bertemu anak-anak sesuai perintah pengadilan sudah kami penuhi. Kenapa mau mengubah itu semua? Dasar EGOIS!”
Reno membentak Nafisa, wajahnya merah menahan marah.
Terkesiap, Nafisa tidak siap menghadapi serangan mendadak dari mantan suami.
“Ren, kita bisa bicarakan di kantor.”
“Tak sudi! Batalkan permohonanmu! Masih ada beberapa bulan lagi, kenapa harus sekarang?” Suara Reno masih dipenuhi emosi, dadanya naik turun.
Seingat Nafisa, mantan suaminya tidak pernah bersikap berangasan seperti ini.
“Kenapa? Karena anak-anak masih balita. Semua juga tahu mereka perlu bersama ibu kandung,” balas Nafisa akhirnya, tersinggung dengan perkataan Reno yang tak sudi membicarakan ini baik-baik.
Walau emosi, namun Nafisa masih bisa tenang.
“Dela sayang sama anak-anak sama seperti anaknya sendiri.”
Seorang pelanggan tiba-tiba menyeletuk.
“Pak, nggak ada yang bisa menggantikan posisi ibu kandung. Saya adalah ibu sambung yang sangat mencintai anak-anak sambung saya. Tapi tetap kasih ibu kandung tak tergantikan.”
“Bu, tolong jangan ikut campur,” putus Reno geram.
Pelanggan lain ikut emosi.
“Pak, Anda yang datang-datang ngamuk, mengganggu waktu kami untuk santai sebelum sibuk mengurus anak. Mbak Nafisa udah baik loh ngajak Anda ngomong di kantornya. Sombong banget, sih?”
Kini terdengar koor dari para pelanggan. “Huuuuu …”
Nafisa berdiri untuk memohon maaf.
“Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan semua.”
“Nafisa, aku minta batalkan!” Bentak Reno lagi.
“Tidak akan! Silakan pergi. Kamu nggak diterima di sini.” Usir Nafisa tegas.
Beberapa karyawan laki-laki keluar dari dapur untuk mengamankan situasi.
Reno menggebrak meja counter sebelum pergi.
Nafisa menatap punggung laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan kemudian menorehkan luka begitu dalam.
Tatapannya sendu, berulang kali ia menghela napas.
“Sabar, Mbak,” ucap pelanggan muda di depannya.
“In syaa Allah, terima kasih.”
Nafisa mencari sosok Lasti, lalu berkata, “Mbak, tolong berikan cupcake kepada semua yang ada di sini termasuk babang ojol sebagai permohonan maaf saya.”
“Siap, Bu,” sahut Lasti cepat yang langsung menyiapkan cupcake dibantu staf lain.
Kedatangan Reno sambil marah-marah sampai juga ke telinga Maryam. Wanita itu langsung datang ke kedai dari kegiatan sosial di panti asuhan bersama sosialita senior ibu kota.
“Sayang …” Panggil Maryam begitu bertemu Nafisa.
“Ibu,” sahut Nafisa hendak mencium takzim. Alih-alih Maryam langsung memeluk Nafisa.
Setelah mengurai pelukannya, Maryam menuju ke meja makan kecil yang ditempatkan di area dapur kedai. Nafisa mengikutinya.
Mbok Mi langsung menyiapkan minuman dan potongan kue.
“Sabar, ya. Kelakuan Reno udah bener-bener di luar nurul.”
“Nurul?” Alis Nafisa terangkat tinggi.
__ADS_1
“Karena nalar udah lewat. Apa Ibu suruh Pak Lingga bodyguard buat hajar dia? Bisa kok nggak bakal ketahuan.”
“Eh jangan, Ibu. Nanti kalo diusut sampe ke Nafisa gimana.”
“Apa Zayn kita suruh bikin dia bangkrut?”
“Udah, Bu. Kita lawan di pengadilan aja.”
Tak lama Mikail muncul dengan wajah cemas. Dia langsung duduk lalu menuangkan teh poci.
“Bisa nggak sih telepon tuh diangkat. Aku neleponin kamu dari tadi begitu dengar Reno dateng,” ucap Mikail dengan kesal kepada Nafisa.
“Bukannya dateng dari tadi,” ketus Maryam sebelum Nafisa sempat menjawab.
Mikail membalas dengan nada tidak terima.
“Anak Bude tu Si Belegug, bawel banget. Belum lagi istrinya.”
“Lagi Pak Mikail aneh, kenapa nggak kerja sendiri aja buat kantor pengacara. Langsung banyak kliennya. Mau-maunya jadi asisten,” sahut Nafisa dengan nada bercanda.
Pintu dapur terbuka. Seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi besar dengan sorot mata tajam, rambut dan jenggot kecoklatan berjalan masuk.
“Memang kenapa kalau Mikail jadi asisten saya, Nafisa?” Suaranya dalam dan dingin.
“Eh Pak Zayn, maaf,” ujar Nafisa tidak berani menatap.
“Zayn sudahlah, Nafisa hanya menunjukkan dukungan ke Mikail,” bujuk Maryam yang tahu anaknya sedang gusar.
“Kamu sudah membuat Ibuku terus terlibat masalahmu. Jangan ikut campur dalam hubungan kerjaku dan Mikail. Mengerti?”
Zayn lalu menatap ke arah ibunya.
Dengan lembut ia berkata, “Bu, tolonglah, jangan terlibat lebih dalam lagi. Dia bukan saudara kita juga, kan? Jangan-jangan Ibu hanya dimanfaatkan saja.”
Nafisa mendongak.
“Pak, dengan segala hormat. Tolong tarik ucapan Bapak. Sedikit pun usaha ini saya bangun tanpa bantuan dari Ibu Sepuh.”
“Kamu pikir saya tidak tahu?” Suara Zayn terdengar ketus.
Mikail yang lebih mengenal tabiat Nafisa berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Namun tidak dengan sepupunya. Zayn makin berapi-api.
“Bu, Zayn nggak ingin lihat Ibu dekat dengan orang ini lagi. Ibu mau balas budi kan soalnya dia sudah membantu kesembuhan? Zayn bayar. Berapa? Satu milyar, dua milyar, tiga milyar?”
“Lima puluh milyar!” Jawab Nafisa lantang.
“Berani-beraninya kamu menghargai kesembuhan Ibuku lima puluh milyar.”
Kini wajah Zayn merah padam. Suasana dapur semakin tegang. Para staf tidak ada yang berani bersuara.
“Mending mana? Bapak cuma kasih harga tiga milyar paling tinggi.”
“Kurang ajar! Mikail, jangan bantu dia lagi!” Zayn tidak lagi bisa menahan diri.
“Fine, Pak Mikail, jangan bantu saya lagi!” Sahut Nafisa tak kalah keras kepala.
“Nggak bisa. Aku tetap mau bantu Nafisa!” Sahut Mikail yang tidak terima diatur kanan kiri.
Maryam memegang lengan putranya yang masih menatap Nafisa dengan murka.
“Zayn, duduklah. Tenangkan dirimu. Nafisa tolong buatkan teh. Ayo lain kerja. Banyak pelanggan di depan,” ucap Maryam sambil menyuruh anaknya untuk duduk.
Zayn tetap menatap nyalang ke wanita bercadar yang sedang membuatkan teh untukmya.
Tak lama Nafisa kembali membawakan teh dan kue.
“Pak Zayn, maafkan kelancangan saya membuat becandaan konyol seperti tadi. In syaa Allah tidak akan terjadi lagi. Terkait saya memanfaatkan Ibu Sepuh, itu sama sekali tidak benar. Saya mohon Bapak jangan asal tuduh. Saya menghormati Ibu Sepuh, Bapak, dan Pak Mikail. Demi Allah, saya tidak akan melebihi batas dalam menjaga hubungan yang sudah terjalin. Silakan nikmati teh dan kue, saya ke depan dulu.”
Nafisa mengangguk ke arah tiga orang di depannya lalu pergi diiringi para staf yang enggan berada di dapur.
Sementara itu Zayn mendengus sebal.
“Minta maaf kok kayak gitu, dasar perempuan aneh. Hati-hati Bu, bisa jadi dia …”
Zayn tidak melanjutkan perkataannya begitu menyendokkan potongan kue ke dalam mulut.
Dia lalu menyendok lagi dan lagi hingga piringnya licin.
__ADS_1
“Sekarang kamu tau kan kenapa Nafisa bisa berdiri sendiri? Memang kue-kuenya seenak itu. Lumer di mulut, legit tapi nggak kemanisan dan selalu ada sensasi kejutan rasa di akhirnya.”
Karena masih ada sisa kesal, Zayn tidak mengiyakan ibunya. Meski indra pengecapnya meronta dan ingin menyantap lagi kue coklat cranberry buatan Nafisa.
Di sebelahnya Mikail menyendok pelan, menikmati setiap suapan. Sesekali meneguk teh dan gula batu di depannya.
“Ya ampun. You like her, don’t you?” Zayn melotot ke arah sepupunya yang seakan tidak peduli dan terus menikmati kue yang dibuat Nafisa.
Mikail malas menjawab Zayn yang bisa sangat menyebalkan jika emosinya terusik.
“Mik. You like her, don’t you?” Ulang Zayn kini memegang pundak Mikailz
“Kalau iya kenapa?”
“Cari orang lain. Gue nggak suka.”
“Gue juga nggak suka Valerie, lu tetep nikah sama dia. Gue dan Bude bahkan …”
Maryam memotong perkataan Mikaila.
“Sudah-sudah. Zayn, Mika punya hak untuk menyukai seseorang. Seperti kamu juga punya hak untuk jatuh cinta pada Valerie dan menikahinya. Satu lagi Ibu tegaskan, Nafisa sudah Ibu anggap sebagai anak. Walau demikian Nafisa tidak pernah minta apapun. Jadi jangan asal tuduh.”
“Tapi, Bu …”
“Ibu seorang wanita yang bisa merasakan kepedihan demi kepedihan yang dipikul Nafisa. Jika Allah menghendaki, Ibu akan mendampinginya,” tegas Maryam lagi.
Zayn menggumam sambil memainkan remah-remah kue di piringnya.
“Kenapa Ibu bisa akrab dengan Nafisa tapi tidak dengan Valerie. Bukankah dia mantu Ibu sendiri?”
“Itukah masalahmu, Zayn? Tolong lihat dari kaca mata Ibu. Sebelum sakit, Ibu sudah sering mengakrabkan diri dengan istrimu. Namun pernahkah dia menghargai Ibu sebagai wanita yang melahirkan suaminya?”
Tenggorokan Zayn tercekat.
“Ketidaksukaan Ibu pada Valerie bukan tidak beralasan. Namun kamu mematahkan semua alasan itu dan tetap menikahinya. Kamu menjauh sejak menikah. Waktu Ibu sakit, yah, kamu tau sendiri bagaimana perlakuan Valerie ke Ibu. Jadi jangan putar balik keadaan seolah Ibu-lah mertua kurang ajar di sini dan istrimu adalah korban.”
Maryam berkata lagi, “Nafisa tidak berusaha mengambil posisi apapun. Semua yang dia miliki sekarang karena kelihaiannya mengatur keuangan dan keahlian membuat kue. Ibu merasakan nikmatnya punya anak perempuan yang perhatian dan bisa diajak bicara, Zayn. Mengertilah bahwa Valerie tidak mungkin dipaksakan untuk dekat dengan Ibu. Begitu pula sebaliknya.”
Tidak menjawab, wajah Zayn nampak sedang berpikir.
“Pasangan.”
“Huh?” Maryam bertanya dengan alis terangkat.
“Nafisa akan diserang karena dia tidak punya pasangan sementara Reno dan Dela akan menonjolkan konsep keluarga yang utuh.”
Mikail menghela napas.
“Apa aku harus menikahi Nafisa, ya?” Gumamnya cukup keras, bertepatan dengan Nafisa yang kembali masuk ke dapur untuk mengambil stok kue di lemari pendingin.
“Subhanallah. Kenapa Pak? Kenapa Bapak harus nikahin saya?“ Berondong Nafisa sambil mengernyit.
“Nggak … nggak. Ini tentang hak asuh. Pihak Reno pasti akan bilang bersamanya konsep keluarga utuh bisa diberikan. Toh Dela terbukti menyayangi anak-anakmu.”
“Maaf Pak, terima kasih atas totalitas Bapak sebagai pengacara hingga mau menikahi saya. Mari kita berjuang dulu di sidang.”
“Jika gagal, kita nikah lalu coba menuntut hak asuh lagi?” Canda Mika meski penuh harap.
“Sedih banget dilamarnya di dapur. Mmm jika … jika memang Nafisa belum dapat hak asuh karena alasan itu, Nafisa akan viralkan karena banyak kok single mom yang sukses mengurus anak.“
“Becanda Nafisa, naksir aja enggak masak iya mau nikah,” jawab Mikail gugup lalu berusaha mengalihkan pembicaraan.
Zayn berkata, masih dengan nada dingin, “Disiapkan yang matang. Ini bukan karena gue pingin bela Nafisa. Gue nggak mau ngeliat lu kalah. Gimana pun juga orang liat kita satu tim. Dan tim gue nggak pernah kalah. Ngerti? Gue pergi dulu, jemput Nyonya. Nafisa, sorry buat yang tadi.”
Zayn mengecup ibunya lalu berjalan keluar dapur.
“Zayn sebentar. Kenapa kamu ke sini?”
“Tadi Zayn diinfokan insiden mantan suami Nafisa ngamuk-ngamuk lalu Ibu juga langsung ke sini. Zayn, khawatir, Bu.”
Maryam menatap lembut ke arah putranya.
“Terima kasih, Sayang. Sering-sering main ke rumah, ajak istrimu.”
Zayn mengangguk lalu pergi meninggalkan kedai.
***
__ADS_1