Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Gerbang Kebahagiaan


__ADS_3

POV Nafisa


Di sinilah aku, berdiri di sebuah butik pakaian pengantin termahal seantero Indonesia.


Untuk bisa masuk ke daftar tunggu saja butuh waktu berbulan-bulan. Namun tidak untuk Maryam Malik.


Dalam waktu hanya hitungan hari, calon ibu mertuaku berhasil membuat Bian perancang kondang itu untuk membuat beberapa gaun sekaligus.


Khusus siang itu, Butik Bian sengaja ditutup agar aku leluasa untuk mencoba gaun-gaun indah yang sudah dibuat. Hanya ada satu asisten wanita kepercayaannya lalu lalang menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari gaun pengantin hingga perhiasan senada.


Ibu Maryam berkata, “Sayang, ada empat gaun yang sudah Mbak Bian desain dan langsung dijahit. Ibu ambil ukuran dari baju kamu sisanya Mbak Bian kira-kira sendiri. Lalu Ibu juga sudah siapkan perhiasan yang matching dengan masing-masing gaun.”


Mataku dan Aurelie terbelalak. Empat gaun pengantin muslimah lengkap dengan gamis dan cadar terlihat mewah di mannequin. Di sampingnya ada rak berisi perhiasan dari cincin, gelang, hingga hiasan kerudung.


Setiap rancangan gaun memiliki tema yang berbeda. Namun semuanya dihiasi taburan kristal cantik.


“Gaun pengantinnya lebih bagus dari yang dulu di lemari Mama …” Cetus Aurelie polos. Matanya masih tidak bisa lepas dari gaun-gaun itu.


Aku mengacak rambutnya lalu menarik putriku agar duduk di pangkuan.


“Coba deh, Non,” pinta Mbok Mi yang ikut bersama Mbak Lastri.


Bian, perancang cantik itu turun tangan langsung untuk membantuku.


Gaun pertama berwarna putih, berpotongan gamis A-line dengan taburan kristal bermotif bunga.


“Cantik dan cocok banget,” seru Mbok Mi dan Lastri berbarengan.


Sementara Aurelie melonjak-lonjak kesenangan karena menurutnya aku seperti princess.


Aku melihat pantulan diriku di kaca. Tak pernah terpikirkan bahwa aku harus mencoba gaun pengantin untuk kedua kali.


Bu Maryam bertanya padaku, “Kamu suka?”


“Suka banget, Bu. Maa syaa Allah ini cantik.”


“Masih ada tiga pilihan lain,” ujar Bian yang kemudian mengajakku untuk mencoba gaun yang kedua.


Kali ini warnanya coklat nude. Bahannya paduan brokat Italia dan chiffon Perancis. Lembut di kulit.


“Mama, cocok banget! Aurelie suka!” Katanya sambil bertepuk tangan.


Perancang itu menjelaskan, “Bian bikin potongannya lebih sederhana karena kainnya sudah nampak mewah. Mmm … Mbak Nafisa, kan cuma kita-kita aja nih, cewek semua. Boleh nggak cadarnya dilepas?”


Aku mengangguk dan perlahan melepas cadar.


“Ya ampun, Mbak. Saya tanya, Mbak ini orang atau malaikat sih? Cantik banget. Aslik, cantiiik banget,” puji Bian sambil menggelengkan kepala.


“Cantik, baik, pinter, dan paling penting sholihah calon mantuku ini.” Maryam menatap Nafisa dengan rasa sayang.


Aurelie memelukku dengan senyum lebar.


“Mama aku …”


Bian masih menggelengkan kepala terkagum-kagum.


“Ya ampun, Non, pakek malu. Pipinya merah. Nambah ayu, je. Pak Zayn bener-bener narik lotre,” imbuh Lastri, sorot matanya tulus.


Wajahku makin merah mendengar ucapan Mbak Lastri.


Begitulah kegiatan siang itu, mempersiapkan perkawinanku untuk kedua kalinya.


Masih hampir tak percaya bahwa aku akan menikah dengan Pak Zayn Malik. Majikanku.


Seperti cerita di novel-novel yang kubaca dengan judul ‘Menikahi Majikan’ atau ‘Pembantuku Cantik Sekali.’ Semacam itu.


Setelah beberapa kali mencoba akhirnya kupilih gaun pengantin berwarna nude.


Karena Bu Maryam ngotot ingin mengadakan dua kali pesta maka calon mertuaku memilihkan gaun pengantin berwarna putih yang pertama kucoba.


Gaun putih akan kupakai saat akad nikah dan yang satunya untuk pesta.


“Bu, mubazir dong yang dua lagi.”


Bian menjawab, “Jangan khawatir, Mbak. Dua gaun ini saya taro di medsos dengan caption alternatif pilihan gaun pengantin calon istri Zayn Malik, langsung laku dengan harga 300 persen.”


“Wis ora usah dipikir. Kamu persiapkan diri aja. Sekarang kita ke spa. Mbok Mi dan Lastri ikutan perawatan juga. Aurelie juga mau ikut ke spa?”


“Yes!” Seru mereka serempak.


Bu Maryam sudah memilihkan paket pengantin untukku lengkap dengan lulur dan ratus.


Tak terbayang bagaimana nanti aku bisa melayani Pak Zayn sementara hati ini belum tertambat. Belum lagi jika bayangan kekerasan seksual melintas.


Aku berharap jika tiba saatnya Pak Zayn meminta haknya, maka aku tidak akan bertingkah seperti orang gila.


***


PoV Nafisa


“Saya terima nikah dan kawinnya Nafisa Salsabila dengan mas kawin uang senilai seratus juta rupiah, tunai.”


“Sah!”


“Sah!”


Aku meremas jemariku ketika melihat Pak Zayn, suamiku selesai mengucapkan janji suci.


Netra legam yang biasanya tajam kini menatap lembut ke arahku. Aurelie dan Milo masing-masing memelukku dari samping.


Dengan mantap ia melangkah mendekat.

__ADS_1


“Nafisa.” Tangannya terulur.


Jantungku berdegup keras. Ragu untuk menyambut sampai kurasakan sentuhan lembut di lenganku.


“Nak, sambut suamimu,” bisik Bu Maryam.


“Stop!” Tiba-tiba Milo menyerudul di antara aku dan Pak Zayn.


“Janji Oom akan jagain Mama dan nggak akan pernah bikin Mama nangis?”


Semua yang ada di ruangan tersentak. Terlebih aku yang selama ini selalu berusaha menyembunyikan kepedihan dalam hati. Tak menyangka Milo tahu kesedihanku.


Pak Zayn duduk di atas kedua lututnya, menyamakan tinggi dengan bocah tiga tahun yang kini berkacak pinggang.


“Janji, Oom eh, Daddy akan jagain Mama dengan sepenuh hati. In syaa Allah.”


Milo menatap Pak Zayn dengan sungguh-sungguh lalu akhirnya mengangguk.


“Mama, emang sekarang aku panggil Daddy?” tanyanya dengan nada berbisik sambil mendongakkan kepala ke arahku.


Semua orang tersenyum melihat tingkah anak bungsuku.


“Daddy atau Papa?” Aku balik bertanya.


“Daddy aja. Kan Milo udah punya Papa,” bisiknya lagi.


Pak Zayn kembali mengulurkan tangannya padaku dan akhirnya kami bersentuhan untuk pertama kali.


Setelah itu ia meletakkan tangan kanannya ke keningku sambil membaca doa yang disunnahkan.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Aamiin.”


Lalu Pak Zayn, suamiku, mengecup kening. Kurasakan kedua tangan ini diremas lembut. Bersyukur cadar ini berhasil menutup kegugupan dan keraguan yang masih bersemayam di hatiku.


Setelah itu, dia menggandengku untuk sungkem kepada Ibu Maryam.


Ibu mertuaku itu terharu ketika Zayn mencium lututnya. Memeluk putra tunggalnya dengan erat.


Ketika giliranku, beliau menangkup kedua tangannya ke wajahku.


“Terima kasih, terima kasih sudah memberikan hari yang bahagia buat Ibu.”


Kemudian Ibu juga memelukku erat.


Jujur saja, pernikahan ini seperti mimpi. Bukan karena aku mengidamkannya tapi justru karena tak pernah terbersit di kepalaku kalau akhirnya akan bersanding dengan Zayn Malik.


Pria di sebelahku berdiri dengan tegap dan gagah. Wajahnya berseri sumringah.


Dulu ketika masih di Yogya, aku hampir tak pernah melihatnya tersenyum. Tapi hari ini Pak Zayn tertawa lepas.


Tanganku terus digandeng. Dengan bangga memperkenalkanku pada keluarga dekatnya.


Memiliki segala kerumitan dan permasalahan yang sering viral di jagat maya, aku bersyukur keluarga besar Malik tetap menerimaku dengan tangan terbuka.


Dari kejauhan kulihat Mikail Malik duduk seorang diri. Sorot matanya sendu menatap ke arahku.


Kepadanya aku mengangguk sekilas. Ia pun membalas. Pak Zayn menyadari dan langsung melingkarkan tangan ke pinggangku.


“I love you, Nafisa.” Begitu ucapnya. Bibirnya mencium pucuk kepalaku.


Kutatap lekat wajah tampan yang dulu tak tergapai. Dia pun balas menatapku, punggung tangannya menyentuh wajah yang masih tertutup cadar.


“Kecantikan kamu hanya punya aku. Jangan pernah lepas cadar ini selain untuk aku.”


Kemudian dia memelukku. Beberapa tamu bersorak dan membuatku tersipu.


Dia berbisik lagi, “Aku suka liat matamu yang malu-malu. Sayang, aku membuatmu jatuh cinta.”


***


POV Nafisa


Acara resepsi diadakan di hari yang sama di sebuah hotel ternama.


Konsep ‘Taman Bunga’ berhasil diterjemahkan dalam dekorasi yang luar biasa. Tidak mewah maupun berlebihan, namun cantik dan indah.


Anak-anakku terbengong melihatnya. Termasuk aku.


Mbok Mi berbisik, “Dulu waktu sama Nyonya Val, nggak sampai segininya Ibu Sepuh turun tangan. Semoga langgeng terus ya, Non.”


“Aamiin …” Bisikku.


“Sayang, kita ke atas buat istirahat lalu siap-siap untuk resepsi. Aurelie dan Milo juga, yuk.”


Aku mengangguk. Lagi-lagi ia mengulurkan tangan untuk menggandeng. Kutepis keraguan dan begitu dia meraih tanganku, digenggamnya erat.


Ibu menyiapkan satu kamar penthouse untuk kami.


Pak Zayn menggandengku ke kamar.


“Aku bantu kamu melepaskan gamis dan pakai baju santai dulu.”


Napasku tersentak.


“Kenapa, malu, ya?”


Ia menarik dan melingkarkan tangannya ke pinggangku. Mau tak mau tanganku kini menempel di dadanya.


Sepertinya netraku benar-benar menyorot ketakutan atau keraguan hingga akhirnya Pak Zayn mengecup keningku lalu berkata, “Ya udah kamu bersih-bersih, aku tunggu sini.”


“Maaf, Pak. Saya …”

__ADS_1


”It’s okay. Btw kenapa masih panggil aku Bapak?


“Oh iya, maaf. Kebiasaan. Bapak maunya dipanggil apa?” Kataku dengan kalimat yang kacau antara pikiran dan mulut.


Zayn menatapku. Jarak wajah kami dekat sekali. Dadaku terasa sesak dibuatnya.


“Mas? Dari dulu aku pingin dipanggil Mas kalau punya istri.”


“Siap, saya panggilnya, Mas mulai sekarang.”


“Masih ‘saya’ nih? Belum mau ‘aku’ … hemm?”


Tangannya makin erat sehingga tubuh kami saling menempel.


“Aku .. aku eh, iya, Mas.”


Zayn tersenyum melihat kegugupan luar biasa. Perlahan dia membuka cadarku.


Matanya membola.


“Boleh aku minta first kiss?”


Lututku lemas. Tapi kini aku adalah miliknya. Semua yang ada di tubuhku ini sudah menjadi hak suamiku.


Kutenangkan diri lalu mengangguk.


Lembut, bibirnya menempel ke bibirku. Awalnya hanya menempel kemudian dia mulai menangkupkan kedua tangannya ke wajahku.


Degup jantung ini sudah kacau. Aku harus memegang pundaknya untuk bisa tetap berdiri. Sebuah gestur yang diterjemahkan sebagai penyerahan diri oleh suamiku.


Bibirnya mulai me lu mat bibirku. Mataku terpejam, pikiran dan hatiku masih belum bisa menikmati.


Suamiku baru berhenti ketika seseorang mengetuk pintu.


“Mama, ini Milo. Lagi ngapain?”


Setengah lega, aku mengurai bibir kami lalu gegas membukakan pintu.


“Ya, Sayang.”


“Ngantuk, pengin bobok sama Mama.”


Bungsuku langsung minta gendong.


“Milo di sini aja, aku istirahat di kamar sebelah,” ucap Zayn. Sebelum keluar dia mencium pucuk kepalaku.


Kuletakkan Milo ke tempat tidur dan bocah itu langsung pulas.


***


PoV Zayn


Jarum jam menunjukkan pukul tiga seperempat. Suara adzan berkumandang dari hape. Aku baru saja selesai mengambil wudhu ketika terdengar seseorang mengetuk pintu.


“Mas, ini Nafisa. Sholat bareng yuk.”


Kubuka pintu dan di sanalah Nafisa-ku. Dengan rambut dicepol ke atas yang justru menonjolkan kecantikannya. Netra ini tak mau lepas darinya.


“Mas,” panggilnya dengan nada malu-malu.


“Oh iya. Pertama kali kita sholat jamaah, ya.”


Dia mengangguk. Dzuhur tadi kami sholat bersama seluruh keluarga yang hadir di akad nikah, jadi baru kali ini kami akan menunaikan ibadah wajib berdua.


“Nafisa masuk, ya,” ucapnya lagi. Dia menuju ke koper, mengambil dan menghamparkannya menghadap kiblat.


“Yuk, Mas.”


Kulihat dia sudah memakai mukena.


Pertama kali aku menjadi imam sholat untuk istriku. Tak terasa air mata haru mengalir dan buru-buru kuusap.


Setelah selesai kami berdoa dan Nafisa mencium punggung tanganku.


“Tadi aku udah jerang air panas dan pesan kue-kue. Mas mau teh atau kopi?”


Terpana, begitulah aku mendengar pertanyaan istriku. Selama menikah dengan Valerie, dia tidak pernah mengurusku seperti barusan dilakukan Nafisa.


Aku pun menganggapnya lumrah. Toh ada pasukan asisten yang akan mengerjakannya.


Namun ketika Nafisa hanya sekadar meletakkan sajadah atau menawarkan minuman, hati ini melambung tinggi.


“Mas…”


“Eh iya, Mas mau kopi. Gulanya …”


“Dua, nggak pake susu, terus pake bubuk vanila, kan? Nafisa tau, kok. Aku juga udah vawa bubuk vanila dari rumah,” ujarnya sembari gegas keluar untuk menyiapkan minuman untukku.


Kususul dia. Kulihat di kamarnya ada Aurelie dan Milo sedang tidur nyenyak.


Nafisa sudah sibuk meracik kopi lalu kupeluk dia dari belakang. Kuciumi leher dan pipinya.


Aku tahu seharusnya tidak bertingkah secepat ini terhadap wanita yang punyai trauma. Begitu pesan Dokter Yuni, tapi apa daya, Nafisa bagaikan magnet bagiku.


Istriku tidak menolak, namun belum juga merespon dengan hangat ciuman maupun sentuhanku.


Anehnya, aku tidak keberatan. Aku akan menunggunya siap untuk menerimaku.


End of PoV


***

__ADS_1


__ADS_2