
“Mas, nanti malam kita makan malam di luar, yuk. Aku traktir, alhamdulillah kemarin kedai udah bisa bagi bonus ke semuanya.”
“Alhamdulillah. Mas ikut senang dan bangga. Kamu sendiri, happy nggak?”
“Happy banget. Biasanya orang punya kedai baru, dua tahun bisa balik modal. Paling cepat. Allah mudahkan semuanya jadi belum sampai dua tahun sudah ada yang bisa dibagi ke karyawan.”
Zayn ikut tersenyum melihat rona wajah istrinya yang berseri-seri.
“Aku mau ditraktir dimana, nih?”
“Manaa ya, mmm mau makan steak nggak? Di seberang kedai ada resto steak bagus dan halal. Aku kenal yang punya, Pak Silmy. Orangnya baik. Nama restonya Meat Us.”
“Pak Silmy? Cowok? Kamu kenal dimana?”
“Pak Silmy beberapa kali ke kedai sama anak-anaknya. Pas baru buka resto, anak-anaknya rewel lalu sama mbaknya dibawa ke kedai. Aku ajakin bikin cupcake aja. Mereka suka banget. Terus sorenya Pak Silmy jemput.”
“Oh, udah married.” Zayn berusaha menyembunyikan rasa lega.
“Duda, istrinya meninggal saat ngelahirin anak-anaknya. Kembar cewek semua. Lucu-lucu banget. Ceriwis. Kapan hari, pas Aurelie sama Milo ke kedai Si Kembar datang dan mereka berempat langsung akrab.”
Radar Zayn langsung naik setinggi-tingginya.
“Bapaknya?”
“Ya mana tau aku. Mereka sama mbaknya dan aku nggak nanya-nanya Bapaknya. Kenapa, Mas mau kenalan? Nanti aku tanyain.”
“Nggak! Nggak usah. I’m good.”
Diam-diam jemari Zayn mengetik ke hapenya.
“Mik, tolong cari profilenya Silmy yang punya resto Meat Me di depan kedai bini gue.”
Tak berapa lama hapenya bergetar.
“Gue kenal. Orangnya ganteng. Duda, baik banget. Muslim taat. Best hubby material.”
Zayn mendengus.
“Lu sodara-an sama dia? Atau mau pindah kerja ke Meat Me aja?”
Mikail menjawab.
“Tydack masyalah.”
“Mik, please, tolong cari tau.”
“Yang tadi gue bilangin itu bener, kakak sepupu. Best husband material. Dia itu yang punya Halal Lagham Corporation. Penyedia daging sertifikasi halal baik lokal maupun impor. Duit, nggak sebanyak elu, tapi cukup bisa umroh tiap bulan dan lain-lain. Duda. Istrinya meninggal pas ngelahirin. Belum pernah pacaran lagi karena katanya mau besarin anak.”
“Hmmm, thanks.”
Zayn memerhatikan Nafisa yang sedang sibuk mondar-mandir memilihkan pakaian kerja untuknya.
Tiba-tiba Zayn menyadari sesuatu. Lalu jemarinya kembali menari di hapenya. Menulis pesan untuk Mikail.
“Kutu kupret. Lu masih demen sama bini gue? Ngapain lu punya data detail banget tentang Silmy?”
Beberapa detik kemudian Mika menjawab, “Jagain aja baek-baek Nafisa. Jangan sampai lu bego terus kehilangan dia. Situ paham? Udah jangan ganggu, gue sibuk.”
Zayn menggumam kesal sambil mengepal telapak tangannya.
“Ini bocah minta dipites.”
Nafisa menoleh.
“Siapa? Mikail?”
Zayn terbelalak lalu bertanya, “Dia sering main ke kedai nggak?”
“Semenjak kita nikah? Enggak pernah lagi. Mas emangnya kenapa sebal sama dia?”
“Nggak usah ngomongin orang.” Zayn menjawab ketus hingga membuat Nafisa terkaget dan berhenti dari kegiatannya
Buru-buru Zayn mendekat kemudian memeluk istrinya.
“Maaf, aku sebel soalnya kamu banyak yang suka.”
“Lah siapa? Mika kan udah lewat. Wah …Senengnya dicemburuin suami. In syaa Allah aku akan selalu jaga diri dan hati buat kamu. Kalau Pak Silmy ke kedai, aku nggak pernah nemuin kok. Dia juga nggak nyari.”
“Gitu, ya.” Zayn menempelkan hidungnya ke hidung bangir Nafisa.
“Iya. Jadi nggak usah khawatir. Lepasin dulu, Mas. Aku mau ambil jas.”
Zayn bergeming, makin mengeratkan pelukannya.
Menyadari dirinya terperangkap, Nafisa berusaha melepaskan diri.
“Mas lepasin, aaa … aku udah keramas, udah siap berangkat,” rengek Nafisa terus berusaha lolos.
Nafisa memukul-mukul dada Zayn. Suaminya menatapnya sambil tersenyum. Matanya sudah menyiratkan hasrat.
“Mas, nanti malem, deh. Janji. Aku nggak mau ngulang keramas sama dandan. Please.”
Dengan santai Zayn membalas, “Nanti malem lagi.”
Nafisa menggeliat untuk membebaskan diri. Tak menyadari gerakannya malah membuat sesuatu di bawah sana menegak. Usaha yang sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan tubuh suaminya yang kokoh.
Dengan tenang dan pasti Zayn berkata, “Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.”
***
Nafisa datang terlambat ke kedai. Beruntung Lastri yang kini sudah menjadi manajer bisa menghandle semua.
“Ditagih Pak Zayn, Non?” Goda Lastri sambil mengedipkan mata.
Nafisa hanya terkekeh lalu buru-buru meletakkan bawaannya.
Di kedai yang selalu ramai, Nafisa mengamati interaksi antara pelanggan dan pelayan.
Mereka terlihat akrab karena sebagian besar pelanggan sudah sering membeli di kedainya.
Para pelayan dengan sigap menawarkan kue atau roti yang belum pernah dicoba oleh pelanggan. Mereka menerangkan bahan baku jika ditanya dan menggambarkan rasa dengan detail.
Seorang remaja asik memilih cupcake. Nafisa belum pernah melihatnya, tapi dia sepertinya semangat menunjuk cupcake dengam hoasan lucu-lucu.
Beberapa pelanggan menyapa Nafisa dengan ramah.
Dari layar monitor, Nafisa juga mengawasi kedainya yang lain. Sama sibuknya, terlebih di sana sedang ada kelas menghias kue tart untuk anak-anak SD dekat sana.
Bunyi telepon mengalihkan Nafisa dari kesibukannya.
“Assalamualaykum, selamat siang Bu Nafisa. Saya ingin menyampaikan bahwa sidang hak asuh akan dilaksanakan pekan depan pukul sembilan pagi,” ucap pengacara yang mengawal kasus hak asuh.
“Waalaykumussalam. In syaa Allah, semua berjalan lancar ya, Bu. Saya udah nggak sabar tinggal bareng lagi sama anak-anak.”
“Iya, Bu. Semoga lancar. Saya lihat dari pihak Pak Reno dan Bu Dela tidak ada sanggahan apa-apa, sepertinya Bu Dela sudah sibuk dengan bayinya.”
“Hmm, waspada aja. Mereka itu nggak bisa diduga.”
“So pasti kami akan terus mengawasi. Baik sampai jumpa pekan depan.”
Penuh harap, Nafisa menandai kalendar hape untuk sidang hak asuh pekan depan.
“Semoga kali ini tidak ada halangan lagi.”
***
Dari jauh seorang pria melihat remaja yang tadi memilih cupcake di kedai Nafisa berjalan ke arahnya.
Sengaja dia parkir di pelataran ruko terjauh namun masih cukup jelas mengawasi kedai.
“Oom ini kuenya.”
Pria tadi mengangguk lalu mengeluarkan dua lembar seratus ribuan.
“Loh ini buat apa? Orang cuma belikan kue doang,” balas anak kecil itu polos ketika pria itu menyerahkan lembaran uang.
“Ambil aja, ini kue-kuenya juga buat kamu. Mmm btw kamu liat yang punya kedai nggak? Wanita pakai gamis dan cadar?”
“Liat. Ramah banget pas tadi aku denger ngobrol sama yang pada beli. Oom suami cemburu, atau calon pebinor nih? Soalnya tadi aku dengar, kakak yang punya kafe sudah menikah.”
“Hush. Bukan dua-duanya.”
“Oh mantan nggak mau move-on berarti,” cetus remaja dengan mata haus gosip.
“Semprul. Udah sana, makasih. Belajar yang bener. Jam segini keluyuran.”
“Otaknya dah nggak kuat Oom. Dari semalam belum tidur bantu Ibu bikin jajan pasar. Dah Oom. Pokoknya jangan jadi pebinor.”
Pria tadi hanya menatap gemas remaja berseragam yang sudah berjalan cepat entah kemana.
Matanya kembali memusat ke pintu kedai. Untuk beberapa menit dia berdiam di sana. Ketika melihat salah satu bodyguard keluar dari kedai, baru dia pura-pura memindahkan parkir lalu masuk ke salah satu ruko.
__ADS_1
***
Jam di kantor Zayn sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Dia memakai sepatu setelah usai menunaikan shalat Maghrib.
Sebelum berangkat, ia memastikan beberapa pengalihan perjanjian dari hutang piutang menjadi investasi yang nilainya masih cukup beaar sudah tepat secara bisnis dan hukum.
Di atas meja terdapat beberapa potong brownies yang dikenali dari kedai milik istrinya.
Perlu pengganjal perut, Zayn mengambil sepotong lalu menikmati kopi yang juga masih hangat.
Dia heran siapa yang meyiapkan karena biasanya para OB sudah pulang dan Roy, sekretarisnya, cuti hari itu.
Brownies legit buatan Nafisa dan kopi memang perpaduan yang pas. Zayn menghabiskan semuanya sebelum bangkit hendak bersiap untuk berangkat menuju kedai Nafisa.
Rencananya dia akan menjemput lalu bersama-sama ke restoran Meat Me.
Zayn bisa saja mengajak ke restoran steak ternama, namun dia tahu istrinya ingin mensyukuri rejeki dari usahanya, maka dia setuju saja dengan usulan Nafisa.
Baru bangkit dari tempat duduknya, kepala Zayn terasa pusing. Badannya tiba-tiba kepanasan.
Pria itu duduk lagi, lalu mencoba bangkit setelah beberapa saat. Matanya memburam.
Zayn bolak-balik menggelengkan kepala.
“Aaah, panas.”
Tiba-tiba hasratnya bergejolak.
Kepalanya makin berputar. Antara sadar dan tidak, dia melihat seseorang menghampiri.
“Nafisa, kok kamu di sini?”
Valerie menyeringai melihat mantan suaminya yang mulai kehilangan kesadaran. Perlahan mendekat.
Zayn berdiri, menatap wajah Nafisa dengan penuh cinta.
“Kamu cantik banget, Sayang. Nafisa, I love you so much.”
Valerie tak mau bersuara, khawatir Zayn akan menyadari bahwa dia bukanlah Nafisa.
Wanita licik itu menyentuh lembut wajah Zayn. Lalu mulai mengecup bibirnya sekilas, sekadar memberi rangsangan.
Obat perangsang yang sudah dicampur di kue dan kopi kini bereaksi cepat.
Zayn membalas penuh napsu, me lu mat bibir yang disangkanya milik Nafisa.
Merindukan sentuhan Zayn, Valerie men de sah pelan. Membiarkan tangan-tangan Zayn melepaskan pakaiannya satu per satu.
“Nafisa Sayang, aku nggak kuat nahan. Aaaargh.”
Zayn kemudian memasukkan miliknya dan dengan dorongan obat melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan dengan istrinya.
“Nafisa … aaah … Sayaang …” Lengguhnya.
Valerie menahan nyeri di area intinya, tidak berani bersuara. Tangannya meraih hape lalu menyalakan video.
Dibiarkan Zayn terus merajai tubuh polosnya. Valerie tetap fokus untuk mengambil foto dan video. Hingga tangan Zayn melakukan sesuatu di bawah sana dan ia tak mampu menahannya.
Kini Val duduk di atas Zayn Malik. Terus berjuang untuk memuaskan hingga laki-laki di bawahnya memejamkan mata sambil mengerang.
Valerie mengambil video dan foto sebanyak mungkin. Posisinya menguntungkan karena wajah Zayn terlihat jelas.
“Aku bilang juga apa, kamu nggak akan bisa lepas dariku, Zayn Malik. Kamu punya aku.”
***
Entah berapa kali Nafisa menelepon ke hape dan kantor suaminya. Tidak tersambung sama sekali.
Ia mencoba menghubungi operator kantor namun hanya suara mesin penjawab yang terdengar.
Lagi-lagi ia meninggalkan pesan di voice mail.
“Mas, dimana? Kita ketemu di Meat Me, ya. Aku ada surprise buat kamu.”
Akhirnya, Nafisa memutuskan untuk berangkat ke restoran lebih dulu.
Para pelayan sudah mengatur sedemikian rupa area roof top dengan lampu-lampu dan aneka bunga.
“Assalamualaykum, Bu Nafisa,” sapa Silmy, pemilik restoran dengan ramah.
“Waalaykumussalam. Selamat malam, Pak. Wah bagus banget ini. Terima kasih.”
“Sebagai pengusaha kuliner kita harus saling bantu. Kalau butuh apa aja, silakan bilang ke manajer saya. Salam buat Pak Zayn, moga-moga suatu saat bisa kenalan langsung. Mari, pamit dulu, Kembar udah nyariin.”
Sepeninggal Silmy, Nafisa memeriksa lagi semuanya. Kemudian mengeluarkan kotak kecil dan meletakkan di bawah serbet di bangku yang nantinya akan ditempati Zayn.
Nafisa duduk lalu memandang berkeliling.
Roof top ditata cantik sekali, langit bertaburan bintang. Angin semilir.
“Dimana kamu, Mas?” Gumam Nafisa.
Hendak menghubungi suaminya ketika beberapa pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Netra Nafisa terbelalak.
“Innalillaahi wa innaailaayhi rooji’un.”
Dengan tangan gemetar dan lutut yang dipaksakan untuk kuat, Nafisa menyambar kotak kecil tadi lalu masuk ke dalam lift.
Tak bisa berpikir, Nafisa keluar dari restoran lalu mencegat taksi biru yang lewat menuju kantor suaminya.
Air mata mulai membasahi pipi.
Dilihatnya lagi dengan seksama, foto dan video yang masuk ke hapenya.
Video dan foto Zayn sedang menikmati tubuh Valerie dengan penuh napsu.
Berkali-kali Nafisa membanting hapenya.
“Istighfar, Bu. Sabar,” ucap driver paruh baya dengan nada khawatir.
“Mmma-af.” Suara Nafisa terdengar bergetar.
Tak berapa lama, ia tiba di gedung perkantoran milik Zayn Malik.
Melihat istri pemilik perusahaan datang, security langsung menyambut dan mempersiapkan masuk.
Nafisa berusaha tenang. Beruntung dia memakai cadar sehingga security tidak melihat wajahnya yang sudah sembab.
“Tegar, Nafisa. Tegar. Bismillaah,” gumamnya.
Nafisa mendekati pintu ruang Zayn. Dari dalam terdengar bunyi dua orang sedang bertempur peluh.
Tangannya meraih tuas pintu lalu tersajilah pandangan menyakitkan sekaligus menjijikkan: Valerie duduk di pangkuan Zayn. Saling berhadapan, menghujani satu sama lain ciuman dan belaian.
Valerie yang mengetahui kedatangan Nafisa tersenyum penuh kemenangan.
Detik itu semua kenangan buruk muncul ke permukaan benak Nafisa.
Ditinggalkan di panti.
Ditalak Reno tanpa sebab.
Disiksa di penjara.
Dan kini, di depan mata, suaminya bercinta penuh napsu dengan mantan istrinya.
Nafisa mundur selangkah demi selangkah lalu dengan sisa tenaga kembali ke taksi yang diminta menunggu.
“Bu, tumben nggak sama bodyguard, kemana mereka?” Sapa security yang tadi mempersilakan masuk dengan ramah.
“I-iya. Mari.” Nafisa tak sanggup menjawab. Dia hanya ingin pergi jauh dari sana.
Supir taksi yang melihat Nafisa segera mendekat.
“Bu …” sapanya melihat Nafisa masuk dengan tubuh gemetar hebat.
“Pak, bawa saya pergi sejauh-jauhnya dari sini. Tolong.”
“Baik, Bu.”
Di sepanjang perjalanan, suara isak tangis dan istighfar terdengar bergantian. Cadar Nafisa sudah basah kuyup.
Indahnya lampu metropolitan tidak mampu menghibur hatinya yang remuk redam.
Satu jam berkeliling, Nafisa minta diturunkan di sebuah mall di pinggir kota.
“Pak, tolong turunkan saya di sana.”
“Saya tunggu atau bagaimana?”
__ADS_1
“Nggak usah. Ini saya bayar tunai.”
Dengan langkah gontai, Nafisa masuk ke dalam mall. Dicarinya bagian pakaian wanita. Ia memilih beberapa lalu membayar tunai.
Di toilet, ia melepas gamis, kerudung panjang, dan cadar lalu berganti dengan kulot panjang, sweater dan kerudung segi empat.
Nafisa memindahkan uang yang diperoleh dari hasil kedai ke nomor akun yang hanya diketahui dirinya.
Kemudian ia menggunting semua kartu yang dimiliki, termasuk kartu infinite yang diberikan Zayn dan Maryam kepadanya.
Setelah itu ia membuang semua miliknya kecuali hape dan pergi dengan memakai taksi yang sedang mangkal di sana.
Nafisa berhenti di sebuah toko hape, dibelinya hape termurah lengkap dengan SIM card baru.
Memakai hape lama, ia menekan nomor telepon pengacaranya.
Dengan lesu ia memberi perintah untuk membatalkan permohonan hak asuh. Nafisa juga menyerahkan kepemilikan kedainya kepada Kedua anaknya, Mbok Mi, dan Lastri.
Pengacaranya berulang kali bertanya, namun Nafisa tidak mau menjawab. Ia terus memberikan perintah dan memohon agar pengacaranya amanah.
Setelah itu Nafisa mengambil napas dalam lalu menekan sebuah nomor yang masih diingatnya luar kepala.
“Ya, Nafisa, ada apa?” Terdengar suara Reno ketus.
“Bang, titip anak-anak, ya. Jaga dan sayangi mereka. Sampaikan maaf kalau Nafisa nggak bisa jadi ibu yang baik buat mereka.”
“Oh kita nggak jadi perang hak asuh? Bagus!”
Telepon diputus tanpa menunggu jawaban dari Nafisa.
Nafisa memandang berkeliling. Malam makin larut. Toko-toko mulai tutup.
Ia mengambil ATM lalu mencari tempat sampah untuk membuang hape lamanya.
“Aku nggak sanggup bertahan lagi.”
***
Mika memasuki gedung kantor. Disapa oleh security.
“Malam, Pak.”
“Masih ada siapa di atas?”
“Bapak masih kerja. Pintunya ditutup, saya nggak berani nengok.”
“Oh …”
Mikail berjalan menuju lift.
“Tadi juga Bu Nafisa datang dan pergi naik taksi.”
Langkah Mikail terhenti.
“Naik taksi? Kemana pengawalnya?”
“Maaf, beliau tidak menjawab. Saya juga baru jadi belum tahu nomor telepon pengawal Bu Nafisa.”
“Pak Zayn sendirian?”
“Sendirian, Pak. Dari tadi setelah pukul enam tiga puluh malam nggak ada tamu masuk. Karyawan terakhir keluar pukul enam empat lima.”
“Baik.”
Mika mengambil hape lalu menghubungi nomor Nafisa.
Nomor tidak aktif.
Laki-laki itu pun menghubungi bodyguard Nafisa yang sedang dalam perjalanan ke kantor setelah mendapat laporan dari pelayan restoran.
Mika sampai di depan ruangan Zayn.
Pintu terbuka sedikit. Terdengar suara dua orang mendesah penuh kenikmatan.
Tangan Mika gemetar. Tak sanggup membayangkan Nafisa bercinta dengan kakak sepupunya. Dia lekas berbalik menuju ruangannya satu lantai di bawah.
“Aaargh, Zayn. Lagi, lebih cepat!”
Mikail Malik terhenyak. Dia langsung membalik badan.
“Valerie?”
Dengan sekali sentak, pintu terbuka. Zayn dan Valerie saling memagut penuh napsu.
“Brengsek lu Zayn!”
Tanpa bisa menahan emosi, Mikail menarik tubuh Zayn lalu memukulinya.
“Mika, stop. Dia bisa mati!” Teriak Valerie.
“Diam lu pelacur!”
Mikail tidak berhenti menghujani Zayn dengan pukulan bertubi-tubi hingga terjengkang berkali-kali.
Akhirnya sekelompok security datang menahan tubuh Mika.
“Lepas! Biar gue bunuh dia!”
Kepala security memberikan selimut pada Valerie untuk menutup tubuh polosnya.
Mata Mikail menatap nyalang ke Valerie.
“Apa yang lo kasih ke sodara gue?”
“Enggak ada.”
“Periksa, gimana perempuan lacur ini bisa masuk ke gedung ini. Harus ada yang tanggung jawab!” Teriak Mikail kesetanan.
Beberapa security gegas ke ruang monitor. Sebagian lagi menolong Zayn yang mengerang kesakitan.
“Nafisa … Nafisa, tolong …”
“Jangan lo sebut nama dia pakai mulut busuk lo!”
Mikail membebaskan diri lalu menonjok wajah Zayn.
“Pak, tolong berhenti. Atau Anda terpaksa kami amankan,” kata Kepala Security tegas.
“Fine!”
Mikail lalu berjalan ke meja kerja Zayn, mengambil cangkir dan sisa brownies di sana. Memasukkan ke dalam kantongan yang bisa dia temukan di ruangan itu.
Valerie menatap Zayn dengan cemas, namun dalam hati sesungguhnya dia bersorak karena rencananya berhasil.
“Jangan seneng dulu, pelacur. Gue tau video lu sama pemuda-pemuda yang lu siksa. Bisa gue tebak, Roy sekretaris Zayn lu pake dan dia yang bantu supaya bisa sampai di sini, kan?”
“Gue nggak ngerti lu ngomong apa, Mik. Yang gue tau, ternyata Zayn nggak bisa lupain gue. So, yeah, get lost, get lost, get lost,” balas Valerie dengan mata berkilat menantang.
Mikail melirik Zayn yang tak sadarkan diri.
“Bawa dia ke rumah sakit. Pelacur ini ditahan lagi di gudang sampai busuk.”
“Mikail!”
Valerie teringat betapa dia dulu pernah disekap di gudang pengap ketika Maryam mengatakan dialah penjahat sesungguhnya.
“Mikail!”
***
Melangkah ke mobilnya, Mikail menelepon temannya.
“Bro, tolong sambungin gue ke CCTV traffic dari kantor gue mulai jam tujuhan malam ini.”
Tak berapa lama dia sudah mendapati jejak Nafisa. Tanpa pikir panjang, Mikail mengarahkan mobilnya ke sana.
“Sekarang gue minta tolong lu untuk retas CCTV Mall Lembayung Indah. Cari cewek pake cadar dan gamis biru muda.”
Dalam hitungan menit, Mikail mendapati video di dalam Mall hingga ke toko hape. Dari sana jejak wanita itu hilang.
“Think, Mika. Think.”
Mikail membuka aplikasi map lalu melihat daerah terakhir yang disinggahi Nafisa.
“Okay, moga aku masih bisa menemukan kamu.”
Sambil melihat ke kiri dan kanan, Mikail mengarahkan mobilnya menuju termina bis tak jauh dari situ.
Matanya menatap nanar ke arah wanita yang tanpa daya duduk bersandar di area tunggu.
“I found you, Nafisa.”
__ADS_1
***