
“Selamat siang, Pak. Mau pesan apa? Kalau saya boleh rekomendasikan, siang ini enaknya makan Lontong Balap, minumnya air kelapa segar dingin, lalu ditutup sama pisang goreng.”
Yusuf berdehem, masih jelas diingatannya bahwa menunya yang disebutkan Nafisa barusan adalah menu kesukaannya dulu saat Jamila masih hidup.
Berulang kali ia menatap Nafisa yang sama sekali tidak mengenalinya.
“Untuk Anda, Sayid, apakah mau coba Soto Lamongan atau Rawon sengkel?” Tanya Nafisa dengan Bahasa Arab fasih.
“Wah, cerdas. Fasih berbahasa Arab,” seru Rafiq terkagum.
“Syukron, saya pernah ambil kelas Bahasa Arab di SMA, masih ingat sedikit-sedikit. Jadi mau cobain Rawon yang kuahnya warna hitam atau Soto Lamongan yang kuah kuning?”
“Aku usulkan kamu cobain Rawon. Mendiang istriku dulu jagoan banget masak Rawon Sengkel. Mungkin menurun ke anaknya,” jawab Yusuf sambil menatap wajah putrinya.
Nafisa tersenyum kemudian menjawab penuh empati, “Ikut prihatin, Pak. Semoga istri Bapak sudah tenang di sana. Semoga masakan saya bisa seenak masakan mendiang istri Bapak.”
Mendengar jawaban putrinya, Yusuf hanya bisa mengangguk dan tak berkata sepatah kata pun.
“Oya, mau coba qahwa racikanku, Sayid? Dulu seorang syeikha yang mengajar di SMA mengajariku membuat kopi khas timur tengah. Kami belum menjual resmi di sini, jadi kalau Anda mau, itu gratis asal Sayid kasih review.”
“Boleh, aku nggak sabar buat cobain.”
Nafisa mengangguk lalu berlalu menuju dapur memberi tahu pada Bu Wati yang memang senang mengerjakan tugas dapur.
“Mbak Nafi, itu orang Arab, yo?” Bisiknya setelah mengintip dari jendela dapur.
“Yang satu, yang satunya lagi orang Indonesia. Mungkin tour guide,” jawab Nafisa sambil mulai membuat qahwa khas Timur Tengah.
“Wangi-ne kopi enak tenan. Kamu tu pinter banget urusan dapur.”
“Matur nuwun, Bu. Alhamdulillah. Dari dulu emang suka di dapur sama ngerawat orang sakit. Naaah, jadi. Bismillah moga Sayid suka, rencananya aku akan masukkan ke menu.”
“Wis kono dibawa ke depan. Aku siapin ciduk rawon sama lontong balap. Tak kasih bonus telor asin, yo.”
“Njih, Bu.“
Membawa air kelapa yang segar dan dingin juga qahwa racikan yang aromanya langsung memenuhi restoran.
“Aku kasih bonus air kelapa buat Sayid dan kopi racik untuk Bapak. Dicobain, silakan.”
Yusuf dan Rafiq menyesap qahwa yang diracik khusus oleh Nafisa.
“Maa syaa Allah. Laziiz! Saya jadi kangen istri saya. Tiap sore dia bikinin saya qahwa seperti ini.”
Yusuf pun mengakui kopi buatan anaknya memiliki cita rasa yang berbeda.
“Alhamdulillah. Sebentar saya ambilkan makanannya.”
Begitu tersaji, Yusuf harus menahan haru karena bagaimana Nafisa menyajikan, masih sama persis dengan bagaimana dulu Jamila.
Begitu suapan pertama menyentuh indra perasa, paduan manis, gurih, dan sedikit petis yang dulu menjadi ciri khas lontong balap Jamila langsung membawa kenangan masa lalu.
“Pak, maaf, lontong balap buatan saya nggak enak, ya? Kok Bapak kayak mau nangis gitu?” Tanya Nafisa takut-takut.
“Enak, Mbak. Sejak istri saya meninggal, saya nggak pernah makan lontong balap seenak ini. Ayah … Bapak jadi kangen mendiang istri.”
“Doa yang terbaik untuk almarhumah, ya Pak.”
“Kalau boleh tau, Mbak belajar masak dimana?”
Nafisa terkekeh, “Jujur saya nggak tau loh, Pak. Ingatan saya bermula ketika tiba di panti asuhan. Saya baru tau kalau ibu saya sudah meninggal. Yah mungkin saya ini anak buangan ayah jadi …”
“Tidak!” Yusuf memotong kalimat Nafisa dengan setengah berteriak.
Terperanjat, Nafisa mundur selangkah.
“Maaf, maaf Mbak, saya tidak bermaksud. Saya kehilangan putri saya waktu kecil. Dan itu rasanya sakit sekali. Makanya waktu Mbak bilang kalau dulu mungkin dibuang, saya … saya langsung menidakkan kemungkinan itu …”
Masih ragu, Nafisa mendengarkan penjelasan Yusuf lalu bertanya, “Ooh, begitu. Lalu sampai sekarang nggak ketemu?”
“Sudah, alhamdulillah. Dia mirip sekali ibunya.”
“Alhamdulillah … ikut senang, Pak. Melanjutkan cerita, di panti itu kalau dapat giliran masak, saya selalu tahu apa yang harus dicemplungin. Refleks aja. Dan semua masakan Jawa. Kalau kata Bulik saya, Bunda itu seneng masak dan enak-enak. Mungkin dulu saya pernah belajar sama beliau.”
Mendengarkan tutur putrinya, Yusuf harus berusaha keras mencegah air matanya membanjir. Rafiq menepuk pundaknya.
“Udah, dimakan ayo. Keburu dingin nanti.”
“Silakan, Pak. Kalau begitu saya ke meja lain dulu.”
Nafi mengangguk sopan lalu mendatangi meja-meja lain yang mulai terisi.
“Fiq, aku nggak kuat. Anakku sama sekali nggak ingat.”
“Beri waktu. Btw, coba rawonnya, ini makanan kok enak banget sih. Mau minta resepnya biar istriku buatin kalau aku sudah pulang.”
“Maaf sudah membuatmu jauh dari istri dan anak-anak.”
“Sudah tugasku menjagamu. Yang penting kamu harus kuat. Sehat. Jangan sampai merepotkan putrimu, okay?”
“In syaa Allah.”
Yusuf menyantap hidangan dengan begitu nikmat. Sesekali menggeleng dan memejamkan mata untuk semakin merasakan kelezatan sekaligus mengingat masa indahnya dulu bersama Jamila dan Nafisa.
Dari kejauhan Nafisa memandang pria yang asik menyeruput kuah di piring yang sudah hampir licin.
__ADS_1
“Seperti pernah liat dimana, ya?” Gumamnya lirih.
Bu Wati keluar membawa pisang goreng lalu menyerahkan ke Nafisa untuk disajikan.
“Pisang gorengnya. Masih anget. Pisangnya legit. Ini juga salah satu hidangan yang sepertinya menempel di benak saya. Sepertinya sederhana tapi kata orang sih, pisang goreng saya enak banget. Silakan dicoba.”
Lagi-lagi tenggorokan Yusuf tercekat. Dia ingat betul dari kecil Nafisa sudah jago menggoreng pisang sebagai penganan kesukaan keluarga kecilnya yang dulu pernah bahagia.
Gigitan pertama terasa legit dengan paduan tepung yang kriuk renyah.
“Enak banget, Mbak Nafi,” ucap Yusuf tak lagi bisa membendung perasaannya.
“Mbak Nafi? Bagaimana … Bagaimana Bapak tau nama kecil saya?” Suara Nafisa terdengar bergetar.
Dari kantongnya, Yusuf mengeluarkan secarik foto yang sudah lusuh.
“Maafkan, Ayah, Mbak Nafi. Maaf …”
Tangan Nafisa gemetar meraih foto lusuh tersebut.
Ayahnya kini terlihat jauh lebih tua. Wajahnya tirus, matanya sedikit sayu, dan rambutnya sudah mulai beruban.
“Ayah? Aku nggak ingat.”
“Duduklah dulu, Nyonya,” tegas Rafiq sembari menarik bangku untuk Nafisa.
Air mata menetes ke pipi Nafisa.
“Setelah ibumu meninggal, Ayah mengajak kamu pindah ke Malaysia. Beberapa bulan kemudian, Ayah menikah lagi dengan Nina. Ternyata ibu tirimu dan mertua Ayah memerintahkan orang untuk menculikmu.”
Nafisa memegangi kepalanya. Tiba-tiba begitu banyak bayangan berkelebat di benaknya.
Wajah bundanya yang sedang tersenyum.
Dian kecil berlari-lari di samping mobil.
Pesan terakhir ibunya ketika meninggal di pangkuan.
Ayah yang menampar pipinya.
Tangan kokoh yang membekapnya di gudang.
“Nafisa,” panggil Mikail yang baru sampai di resto.
“Kak … Ayah.”
Kemudian Nafisa terkulai lemas dengan mata terpejam. Sebelum tubuhnya jatuh, Mikail berhasil menangkapnya.
“Nafisa! Kenapa kamu? Siapa kalian?”
Perlahan Mikail membaringkan Nafisa ke atas sofa di ruang keluarga. Yusuf dan Rafiq ikut membantu.
“Siapa kalian?”
Sambil mendekatkan botol minyak kayu putih ke hidung Nafisa, Dian menjawab, “Ini Oom Yusuf, ayahnya Nafi.”
Kepala Nafisa mulai bergerak.
“Ayah …” Teriaknya sambil tiba-tiba bangun.
“Nafi, pelan-pelan. Ingat kamu lagi hamil,” ucap Dian lembut.
“Ayah jangan pergi. Mbak Nafi nggak mau sendiri lagi,” pinta Nafisa sambil menatap dengan pemandangan memohon ke arah ayahnya.
“Mbak Nafi udah ingat semua, Ayah.”
“Mba Nafi. Ya Allah Mbak Nafi, anak Ayah.”
Yusuf langsung memeluk erat Nafisa. Keduanya bertangisan melepas kelegaan yang tertahan selama lebih dari sepuluh tahun.
“Maafkan Ayah, Sayang. Maaf …”
Nafisa mengeratkan pelukan. Tidak menjawab, menyandarkan kepalanya ke pundak ayahnya.
“Ayah jangan pergi lagi, ya …”
“Selama umur masih ada, Ayah nggak akan jauh dari Mbak Nafi. Ayah akan jagain Mbak Nafi, in syaa Allah.”
“Ayah …”
Mereka masih berpelukan lama. Mikail, Dian, dan Rafiq ikut merasakan bahagia dan haru bersamaan.
Yusuf mengurai pelukannya. Menangkup wajah putrinya.
“Kamu benar-benar mirip Bundamu, Mbak.”
Sambil tersenyum dan masih menangis, Nafisa mengangguk.
“Tapi kalau ketawa mirip Ayah …”
“Mbak Nafi …”
Yusuf memeluk lagi putri satu-satunya dengan penuh kasih sayang.
Di saat bersamaan, Bulik Siti masuk ke rumah mungil milik Nafisa.
__ADS_1
“Yusuf? Itu kamu?”
Yusuf mengurai pelukannya lalu menatap adik iparnya.
“Iya, Sit. Ini aku.”
“Ya Allah, Suf, kemana aja tho kamu. Mesakno Mbak Nafi.”
“Aku koma di Dubai lebih dari sepuluh tahun. Tersadar ketika melihat berita Mbak Nafi di TV, namun setelah itu kondisiku naik turun jadi belum bisa langsung ke sini.”
Rafiq ikut menjelaskan, “Waktu masih di Malaysia, Tuan Yusuf ditabrak Syek Rashedi, atasan saya. Syekh baru menerima berita duka, putra tunggalnya meninggal karena sakit menahun. Sebagai bentuk tanggung jawab, Syekh membawa Tuan Yusuf ke Dubai. Merawatnya di sebuah klinik pribadi.”
Yusuf mengangguk lalu berkata, “Nina, istri Ayah waktu itu terbukti menculikmu. Terang-terangan ia mengatakan kalau membencimu. Ayah merasa sangat bodoh, Mbak. Niatan memberikan sosok Ibu pengganti tapi malah menghadirkan wanita kejam.”
“Sudahlah, Yah. Nafi nggak mau ingat-ingat lagi. Lebih baik bagian itu kita lupakan. Sekarang ada hari-hari yang harus disambut dengan gembira karena kita udah ngumpul. Ya Allah. Nafi mau sujud syukur dulu.”
Ayah dan anak itu kemudian sujud syukur sembari berurai air mata.
“Wis .. wis. Jangan ada nangis-nangis lagi mulai sekarang,” tegas Bulik Siti yang sibuk mengeringkan air mata dengan lengan kemeja Mikail.
“Betul, Bulik. Bisa basah kuyup baju saya,” ucap Mikail meledek Bulik Siti.
“Hash kowe,” balasnya sambil memukul pelan lengan Mikail.
Semua tertawa melihat reaksi Bulik Siti.
Siang menjelang sore, mereka bercengkrama dengan hangat. Nafisa tidak mau duduk jauh dari ayahnya.
Dia menunjukkan foto-foto Aurelie dan Milo.
“Ayah akan bantu kamu jika ingin memperjuangkan hak asuh mereka lagi.”
“Setelah Nafi melahirkan, ya Yah. Sekarang Nafi merasa lebih kuat karena udah ada Ayah.”
Yusuf mengangguk lalu berpaling ke Mikail.
“Terima kasih sudah mau menjaga Nafisa.”
“Dosa saya sama Nafisa juga banyak, Oom. Malah ini semua belum cukup,” balas Mikail kecut teringat bagaimana dulu dia diam saja tidak membela Nafisa ketika dijebloskan dan ke penjara.
“Semuanya sudah selesai. Nafisa sekarang mau buka lembaran baru yang ada Ayahnya dan kita semua. Kak Mikail jangan ungkit-ungkit yang dulu, lebih baik cepat sewa kuda,” seloroh Nafisa menggoda Mikail.
Yang digoda tersenyum kecut melirik Dian. Wanita berparas manis itu kembali menutup hatinya dan hanya berfokus untuk membesarkan Aisyah.
Dian bangkit dari kursinya lalu berkata, “Aku bantu ibu di resto terus jemput Aisyah, ya. Kamu kangenan aja sama Oom Yusuf. Nanti malam Aisyah aku ajak ke sini mau makan Soto buatan Tante Nafisa.”
Nafisa ikut bangkit lalu memeluk sahabatnya.
“Aku seneng banget udah bisa ingat masa kecil kita. Makasi udah inget sama aku setelah sekian lama.”
“Lebay,” balas Dian belagak cuek tapi malah memeluk Nafisa.
“Semoga setelah ini jalan hidup kamu penuh kebahagian ya,” sambungnya lagi.
“Aamiin …”
Mikail menatap punggung Dian yang menjauh.
“Kejar, Kak, jangan ciken.” Nafisa mengomentari gelagat Mikail.
“Ck … Oom Yusuf, aku permisi dulu. Anak Oom galak, kalau aku nggak nurut bisa bikin ibu hamil ngomel.”
Pria jangkung itu kemudian melesat memanggil Dian yang terus berjalan tanpa menoleh.
“Sebenarnya Ayah udah di sini beberapa hari. Tapi Ayah mengamati situasi dulu. Kupikir dia akan meminang kamu.”
“Nafi sendirian aja. Udah gatot. Anak ayah ini janda dua kali. Sekarang malah hamil dan si mantan udah kawin lagi. Tragis.”
“Sabar, ya Nafi. Kata Bunda juga harus tegar dan tetap baik hati.”
“In syaa Allah, Yah.”
“Dulu waktu kamu hilang, Ayah selalu mendoakan bahwa dimana pun kamu berada, akan selalu dikelilingi orang yang sayang dan belas kasih sama kamu.”
“Maa syaa Allah. Alhamdulillah doa Ayah dijabah. Kemana pun Nafi pergi selalu ada yang bantu, yang sayang sama Nafi. Makasi buat doakan Nafi.”
“Terus rencanamu apa, Suf? Mau tinggal di sini atau balik ke Dubai?”
“Kalau Syekh berharap aku balik ke Dubai sama Nafi.”
Yusuf menatap putrinya penuh harap.
Sayid menyambung, “Syekh sudah menghibahkan rejeki yang lebih dari cukup untuk Tuan Yusuf dan Nyonya Nafisa. Jenis restoran apapun dan dimana pun pasti akan disiapkan.”
“Aku akan ikut Nafisa saja. Jika kamu nyaman di sini, Ayah juga akan tinggal di sini.”
Nafisa mengelus perutnya.
“Yang jelas Nafi nggak mau kembali ke ibu kota, Yah. Banyak banget kenangan buruk yang sedang Nafi usaha buat lupakan.”
“Apapun, Ayah akan ada di samping kamu, Mbak.”
Nafi menyandarkan ke pundak ayahnya sambil memejamkan mata.
“Semoga ini bukan mimpi,” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
***