Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Ini Bercanda, Kan?


__ADS_3

Perjalanan satu jam ke Jakarta dengan pesawat pribadi terasa sangat lama bagi Nafisa. Rindunya sudah tidak bisa ditahan lagi.


Ibu dua anak itu membawa oleh-oleh. Mainan yang dibeli di pasar juga baju-baju khas Yogya.


Selama Nafisa bekerja di rumah Zayn, memang ia tidak menerima bayaran. Nafisa pun tidak meminta karena sadar dirinya adalah gadai atas hutang-hutang suaminya.


Maryam di lain pihak yang sangat menyayangi diam-diam menyimpankan sejumlah uang untuk Nafisa. Ketika diberikan, mata Nafisa terbelalak karena jumlahnya fantastis menurutnya. Tiga puluh juta untuk kerja tiga bulan.


Sedapatnya Nafisa menolak, merasa ia menyalahi perjanjian antara suaminya dan Zayn. Namun Maryam terus memaksa bahkan mengajaknya membeli oleh-oleh ke mall.


Akhirnya Nafisa mau setelah diajak pergi ke pasar oleh Mbok Mi dan Lasti. Sisa uang ditabung untuk modal membuat kue jika dia sudah pulang.


Berbeda dengan Nafisa yang berseri-seri, Maryam terlihat menahan kecewa karena Zayn membatalkan diri untuk menemani ibunya. Alasan klasik: Valerie harus bertemu dokter untuk persiapan nose job.


Di samping itu, Maryam mengkhawatirkan Nafisa saat mengetahui suaminya sudah menikah lagi.


Sebagai sesama wanita, Maryam bisa merasakan bahwa pengkhianatan adalah luka terdalam bagi seorang wanita.


Apapun yang terjadi, Maryam bertekat membantu dan berada di samping Nafisa sebagaimana wanita itu dalam tiga bulan ini telah dengan tekun dan sabar merawatnya.


***


Sore hari usai menemui dokter yang merawat Maryam, kendaraan mereka menuju rumah Reno dan Nafisa.


“Sebentar lagi sampai, Bu. Nafisa seneng banget. Terima kasih boleh bertemu sama anak-anak dan suami.”


Maryam tersenyum lembut. Di tempat duduk depan Mikail yang ditugaskan Zayn mengawal Maryam menghela napas panjang.


“Itu, Bu. Itu rumah saya,” seru Nafisa kegirangan.


Maryam menatap rumah-rumah tanpa pagar yang halamannya tertata rapi. Lingkungan yang bagus dan nyaman. Rumahnya pun walau tidak mewah namun cukup bagus.


Wanita paruh baya itu tidak menyangka bahwa Nafisa tinggal di rumah sekelas ini, sementara selama tiga bulan dia hanyalah sebagai perawat.


Begitu mobil berhenti Nafisa langsung turun. Ia menyapa beberapa tetangga.


“Assalamualaykum, Bude Nanik, apakabar?”


Yang disapa melihatnya dengan sinis.


“Hah, baru ingat pulang dia? Anak dan suami dibiarin aja malah sendirinya asik-asik kerja,” jawab Nanik, tetangga yang selama ini dititipi Aurelie dan Milo.


Nafisa mengerutkan kening, terlebih ketika Bu Nila tetangga lainnya ikut berkomentar, “Udah lah, suami sama anak-anakmu udah bahagia sekarang. Dasar Ibu nggak tau diri. Cari duit aja pikirannya.”


“Nggak seberapa juga padahal jadi apa sih? Suster kan?” Imbuh lainnya.


Nafisa hendak menjawab tetangganya ketika pintu rumah terbuka.


“Mama!” Aurelie dan Milo menghambur ke luar dan langsung memeluk ibu yang sangat mereka rindukan.


“Aurelie! Milo!”


Mereka berpelukan saling melepas rindu. Nafisa berulang kali mengecupi anak-anaknya. Tak terasa air mata mengembang di pelupuk netra Nafisa.


Tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi seorang ibu untuk berpisah dari anak-anaknya. Begitu pula sebaliknya.


“Mama, aku kangen,” lirih Aurelie.


“Sama, Sayang. Mama juga kangen banget.”


Si Kecil Milo melonjak dengan semangat sambil berseru, “Mama … Mama. Milo akan punya adik dari Mama Dela! Milo bentar lagi jadi Abang.”

__ADS_1


Kening Nafisa berkerut. Anak-anaknya tidak sedekat itu dengan Dela yang hanya teman bisnis suaminya.


Belum sempat berkata dari arah dalam rumah muncul Reno.


“Abang! Ya Allah, Nafisa kangen sama Ab …”


Tenggorokan Nafisa tercekat ketika melihat sosok di belakang suaminya.


“Abang?”


“Apakabar Nafisa?” Reno menatapnya dengan pandangan aneh tidak seperti biasa.


“Abang, Uni Dela?”


Napas Nafisa memburu, susah payah menahan diri agar badannya tidak gemetar menahan emosi.


“Mama ayo sini, pegang perut Mama Dela, ada dedeknya Milo di sana.”


Dengan polosnya Milo berseru penuh semangat sambil menarik-narik tangan Nafisa.


“Tadi sebelum Mama datang, Aurelie lagi nebak dedeknya cewek atau cowok, ya, kan Pa?”


Pandangan mata Nafisa lurus menatap Reno. Air mata bahagia berganti dengan kesedihan.


Dari belakang terdengar komentar ibu-ibu tetangga yang menjadi penonton sore itu, “Nyaho, lu. Tampangnya aja baek ternyata tega ninggalin anak dan suami. Sekarang diambil orang kan? Emang enak?”


“Pak Reno udah cocok banget sama Bu Dela. Anak-anak juga sayang. Udah cari duit aja lagi sana,” celetuk suara lain.


“Abang? Ada apa sebenarnya?”


Dela maju memanggil Milo dan Aurelie.


“Jangan! Mereka anak-anakku!” Tegas Nafisa berusaha untuk tidak membentak di depan anak-anaknya.


Nafisa bisa merasakan tubuh anak-anaknya menegang.


“Sayang, nggak apa-apa. Maafin Mama kalau kalian kaget,” ucap Nafisa lembut sambil mengelus pundak kedua anaknya.


“Mama, kasian Mama Dela lagi ada dedek. Jadi kita harus jagain dan nggak boleh ngomong keras. Ya, kan, Pa? Tanya Milo masih dengan polosnya.


“Milo, Aurelie, ikut Mama Dela ke dalam. Papa harus bicara sama Mama Nafisa.” Suara Reno terdengar tegas.


“Nggak, jangan!” Nafisa kini setengah berteriak. Tangannya merangkul pundak ke dua anaknya.


“Nafisa, lihatlah kamu membuat anak-anakmu takut. Kamu boleh ketemu mereka lagi nanti. Ayo, anak-anak,” ucap Dela tegas sembari tangannya terulur.


“Kamu! Apa hak kamu, mereka anak-anakku!”


“NAFISA CUKUP! LEPASKAN AURELIE DAN MILO!” Bentak Reno.


Terhenyak, Nafisa menatap Reno dengan pandangan terluka. Seumur pernikahan, tidak sekali pun Reno pernah berkata kasar apalagi membentak.


Tubuh wanita itu gemetar hebat. Terlebih saat melihat kedua anaknya menghambur ke pelukan Dela. Tungkainya tak bisa lagi menahan beban tubuh.


“Astaghfirullahaladzim.”


Nafisa jatuh terduduk. Air mata mengalir deras.


Reno berjalan mendekati Nafisa lalu jongkok di hadapan.


“Nafisa Salsabila, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi. Pergilah, di sini bukan rumahmu.”

__ADS_1


“Abang … Abang … Nggak … Abang!”


Nafisa berusaha meraih tangan suaminya namun Reno malah mengibas. Seolah jijik disentuh oleh Nafisa.


“Abang, aku salah apa? Kenapa jadi seperti ini?”


“Pergilah, sisa barang-barangmu akan Abang kirim kalau kamu sudah kasih alamat.”


Reno bangkit menuju rumah, meninggalkan Nafisa yang masih duduk tanpa daya.


“Abang, jelasin ke Nafisa.”


Langkah Reno terhenti lalu ia berbalik menghadap istri yang baru ditalaknya.


“Sebulan lalu, Abang menikah dengan Dela. Ternyata selama ini Abang masih cinta sama Dela. Anak-anak pun sayang. Dia ibu yang luar biasa. Kami berbahagia sekarang. Bahkan lebih bahagia dari saat kamu masih di sini. Pergi! Jangan ganggu kami lagi.”


“Ganggu? Aku ganggu? Aku istri kamu! Tiga bulan aku kerja ninggalin anak-anak untuk jadi gadai atas hutang-hutang kamu, Bang!”


“Nafisa, sudahlah. Jika kamu mau berdebat, ayo kita ke pengadilan. Oya, Abang akan ambil hak asuh anak-anak!”


“Enggak! Mereka anak-anak Aku!”


Reno memandang Nafisa dengan tatapan sedingin es dan setajam pisau.


“Lalu kamu mau besarin mereka pakai apa? Kamu kerja pun tidak. Kalau kamu sudah selesai dari keluarga Zayn, mau tinggal dimana, hah?”


“Bang, Abang lagi bercanda, kan? Ini nggak beneran, kan?” Tanya Nafisa disela sesengguk tangis.


“Abang serius. Pergilah, jangan sampai anak-anak melihatmu seperti ini.”


Reno lalu berjalan cepat menuju rumah lalu masuk. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya.


Nafisa berusaha bangun lalu menggedor pintu rumah.


“Abang, buka! Aku mau bawa Aurelie dan Milo! Abang! ABANG!”


Dari jendela Nafisa mengintip dan sekilas melihat Milo dan Aurelie menutup telinga sambil ketakutan.


“Aurelie, Milo, yuk sini sama Mama.” Nafisa memanggil dari balik kaca. Ia melihat Dela mengatakan sesuatu pada anak-anaknya.


Aurelie dan Milo mendekati kaca lalu berkata, “Mama pulang aja, Aurelie dan Milo mau sama Mama Dela.”


Nafisa pun terdiam. Jika ada yang lebih sakit dari pengkhianatan maka ini lah dia. Ketika anak-anak kandung lebih memilih bersama wanita lain.


“Aurelie, Milo. Ini Mama, Nak. Buka pintunya, please.”


Tiba-tiba Reno menyibakkan tirai tipis. Wajahnya terlihat merah.


“Pergi, Nafisa! Atau aku panggil security untuk menyeretmu.”


Nafisa kembali jatuh terduduk. Bayangan Aurelie dan Milo sudah tidak nampak. Hanya Reno yang masih mengawasi.


Dengan nada memohon, Nafisa berkata, “Bang, aku mau ketemu anak-anak. Kumohon. Sebentar lagi aja.”


“Pergi! Kalau Abang kembali dan kamu masih di sini, awas!”


Tubuh Nafisa tidak bertenaga. Cadarnya sudah basah kuyup oleh air mata. Dengan kaki gemetar ia berusaha bangkit dan berjalan menjauh.


Baru beberapa langkah, ia pun terhuyung dan jatuh. Sebelum matanya terpejam, ia melihat beberapa laki-laki berlari mendekat, lalu semua gelap.


***

__ADS_1


__ADS_2