Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Jomblo Fisabilillah


__ADS_3

“Assalamualaykum Aisya,” sapa Mikail dengan mata berbinar.


Yang disapa sama gembiranya dan langsung menjawab salam sambil berlari ke arah pria jangkung itu.


“Waalaykumussalam, Pakde Mikail!”


Mendengar suara dari luar, Dian yang sedang memanaskan air memegang dadanya. Berusaha meredakan degup jantung yang tidak karuan.


“Tenang, tenang, Dian. Dia mencintai sahabatmu.”


Karena gugup, tak sengaja ia memegang gagang ketel besi yang dijerang di atas kompor.


“Aw, panas!” Teriaknya kesakitan.


Dengan menggendong Aisya, Mikail gegas menuju dapur.


“Astaghfirullah. Aisya tunggu di luar ya, biar Pakde bantuin Ibu kamu dulu.”


Aisya menatap cemas.


“Ibu nggak apa-apa Ai, tadi kurang hati-hati.” Dian berusaha menenangkan Aisya yang nampak ketakutan.


Mikail menyalakan keran lalu menarik tangan Dian dan meletakkan jari-jari yang terluka di bawah kucuran air.


“Aku nggak apa-apa.”


“Diamlah dulu, biar suhu kulitmu kembali normal dengan kucuran air ini,” balas Mikail tetap memegang pergelangan tangan Dian.


“Mas … “


“Sssh, berisik. Udah enakan belum?”


“Belum,” jawab Dian sambil menahan senyum. Entah mana yang harus lebih diprioritaskan, ujung jarinya yang memerah atau degup jantung yang sudah kacau balau.


Mikail kemudian mendekatkan jemari Dian lalu meniupnya.


“Agak merah, aku antar ke puskesmas buat minta salep, ya.”


“Ibu …” Isak Aisya lirih.


“Sini, Nak …”


Aisya langsung menghambur. Tak pernah bertemu Sang Ayah, bagi anak kecil itu, ibu dan eyangnya adalah harta yang paling berharga.


“Ibu, uskema,” ucapnya cadel.


“Ya udah, Ibu ambil motor dulu.”


“Nggak usah, ikut aku.” Mikai mengambil Aisya dari gendongan Dian kemudian setengah menggiring ibu anak satu itu ke mobilnya.


Sepersekian detik, Dian membiarkan hatinya menghangat setelah bertahun-tahun membeku.


Sebelum ia mengingat bahwa Mikail tidak sungguh menyukainya. Terlihat dari bagaimana pria itu melindungi Nafisa. Bukan sekedar sahabat atau saudara, namun lebih kepada pria yang mengharapkan cinta.


Dian menghela napas.


“Sakit, ya?”


Lirih wanita itu menjawab, “Iya tapi nggak seberapa, kok.”


Aisya menatapnya cemas.


“Ibu, atit?”


“Sedikit aja, Sayang.”


Jarak dari rumah Dian menuju puskesmas tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu sepuluh menit, Mikail sudah memarkirkan mobil di depan puskesmas.


Perawat sudah mengenal Dian dan langsung membawanya untuk diperiksa. Aisya terisak digendongan Mikail.


“Pakde … Ibu …,” rengeknya lirih.


“Iya sebentar kita tunggu di sini ya. Ai berdoa sama Pakde supaya Ibu baik-baik aja.”


Dengan bibir menjebik, Aisya mengangguk. Tangannya melingkar ke leher Mikail.


Tak berapa lama, seorang perawat memanggil masuk Mikail dan Aisya.


“Ibu …” Panggil Aisya dan langsung melorot begitu melihat sosok ibunya sedang duduk di hadapan dokter.


“Angku ama Ibu …” Pinta Aisya berusaha memanjat kursi ibunya.


Mikail menatap Dian dengan wajah khawatir.


“Gimana?”


“Aman, kok. Alhamdulillah tadi udah dikucurin air jadi nggak melepuh.”


“Alhamdulillah.”


Mereka mendengarkan petunjuk dokter muda ketika terdengar suara lembut dari arah belakang.


“Sus, ada Dokter Wati? Saya ada janji USG bulan ke delapan.”


Mikail tertegun lalu menoleh ke arah suara. Begitu melihat Nafisa, ia pun mendekat.


“Nafisa, sama siapa? Kok nggak bilang kalau mau periksa, kan bisa aku anter.”


Dian memeluk putrinya erat mengibas rasa aneh yang menelusup ke dalam hatinya.


“Cuma periksa USG doang, nggak usah dianter, Kak. Tadi janjian di sini sama Dian, sih. Kakak ngapain?”


“Dian, tadi tangannya kena bejana panas.”


“Innalillahi, Dian … dimana kamu?”


Nafisa menyelonong masuk meninggalkan Mikail yang terbengong.


“Ya Allah, Di, gimana? Dok, nggak parah, kan?” Tanya Nafisa bertubi-tubi.


“Nggak parah kok, tadi udah dikucurin air sama Mas Mikail. Ya Allah, Nafi. Aku lupa malah mau nemenin kamu USG.”


“Kamu pulang aja, istirahat di rumah.”


Dian menatap Nafisa dengan pandangan malas, “Aku cuma keslomot doang, bukan kebakar. Ini mah soal kecil.”


Melihat Mikail mendekat, Dian langsung memasang wajah acuh.


Menyadari perubahan wajah sahabatnya dan yakin dirinya ada andil di dalamnya, Nafisa langsung mengambil tindakan.


“Dengerin, aku ya, Dian. Kamu dan Aisya, sekarang pulang diantar sama Kak Mikail. Aku bisa minta jemput ayah dan Paman Rasyid, mereka lagi di klinik fisioterapi. Gih, nurut. Sekarang pulang, ini aku semua yang urus.”


“Nafisa biar Kakak …”


“KAK! Anter Dian dan Aisya pulang. Ayo semua nurut sama kata ibu hamil. Cepet hayo hayo. Mari dokter permisi, terima kasih.”


Dengan wajah tidak ingin dibantah, Nafisa menggeret Dian semantara Aisya terkekeh melihat kelakuan tiga orang dewasa di sekelilingnya.


“Naf, Kakak …”


“Hush. Pulang. Ada Bulik di rumah Dian, jadi Kakak makan siang di sana aja.”


“Kamu?” Tanya Mikail khawatir.


Dian beringsut menjauh namun tangannya dicekal kuat oleh Nafisa.


“Kakak. Antar Dian,” tegas Nafisa. Matanya melotot.


“Iya, iya. Sini biar Aisya kugendong.”


“Nggak usah, aku bisa gendong anakku.”


Dian berjalan dengan langkah cepat ke mobil sementara Mikail mengikuti dari belakang sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Hopeless kamu, Kak,” gumam Nafisa sambil mendengus.


***


Sore hari, Nafisa berkunjung ke rumah Dian untuk melihat kondisi sahabatnya. Menyantap sukun goreng dan ketimus, mereka mengobrol santai tentang restoran dan pekerjaan Dian sebagai bidan.


Melihat sahabatnya memiliki mood yang baik, Nafisa berkata, “Dian, temenin aku ke pasar malam yuk. Aku ngidam gulali.”


“Mmm, kandungan delapan bulan harusnya dah nggak ngidam, sih.”

__ADS_1


Nafisa mendecak sebal. Tak mau kalah akal dia berkata, “Aisya, mau kan temenin Tante?”


“Mauk!”


“Yek, yawdah aku sama Aisya aja,” ujar Nafisa, nada suaranya meledek dengan mata dikedip sebelah ke arah anak kecil yang bertepuk tangan kegirangan.


“E … e … e, ya ya aku ikut. Perasaan dulu aku hamil nggak jadi penjajah kayak kamu deh.”


Wajah Dian cemberut namun sudut bibirnya menyungging seyuman tipis.


“Tapi sayang, kan? Ya udah, biar kamu pasti dateng, Aisya aku sandera. Bye bye iwuuuu.”


Aisya terpekik-pekik kegirangan digendong oleh Nafisa menuju kendaraan dimana ayah dan Paman Rafiq sudah menunggu.


“Nafi … Nafi … haiiish.”


Dian hendak menangkap Nafi yang dengan sigap berkelit.


“Sampai jumpa di pasar malam. Dandan yang kece. Kita mau seneng-seneng,” teriak Nafisa kepada sahabatnya.


Di dalam mobil, Yusuf menyambut Nafisa dengan senyuman bahagia.


“Kamu nih udah hamil gede masih gendong-gendong, dan polahnya pecicilan.”


“Lha dulu hamil Milo aku masih naik sepeda keliling kompleks nganterin kue. Bawa Aurelie pula di boncengan.”


Yusuf menggeleng, tak membayangkan jika saat itu melihat Nafisa dengan segala tingkah polahnya, pasti dia sudah terkena serangan jantung.


Aisya pindah ke pangkuan Yusuf yang dipanggilnya Kakek.


Nafisa mengetikkan pesan di hapenya.


“Kak, ke pasar malam yuk. Nafisa pingin gulali.”


“Aku sebenernya males.”


“Ada Dian.”


“Siap, nanti malam meluncur.”


Nafisa tersenyum jahil.


Yusuf yang bisa menebak gelagat putrinya berkata, “Kalau jodoh nggak akan kemana, Mbak.”


“Tapi duo culun ini harus dikit ditoyor supaya berjodoh, Yah.”


“Ibu aksil Pakde,” ucap Aisya santai.


“Loh kamu anak kecil tau apa, bilang naksir-naksir.”


Nafisa menusuki pinggang Aisya dengan telunjuk membuat anak kecil itu terpekik kegelian.


“Mbak Nafi, Mbak Nafi, udah kasian nanti nggak bisa tidur.” Yusuf menjauhkan Aisya dari jangkauan Nafisa. Aisya yang merasa mendapat bantuan mengintip Nafisa dengan sorot mata penuh kemenangan.


“Kamu mau nggak kalau Pakde jadi bapak?” Yusuf bertanya dengan nada lembut.


“Mau … ayak emen-emen. Unya bapak.”


“Aamiin.” Yusuf, Nafisa, dan Rafiq serempak menjawab.


***


Dian berdiri di samping penjual gulali, celingak-celinguk mencari sosok wanita hamil membawa anak kecil.


Pesan maupun telepon tidak dibalas oleh Nafisa.


“Nafi, awas kalau kamu malah ketiduran,” gumamnya gemas.


Netranya memandang berkeliling lalu terpaku pada sosok tinggi tampan bertopi yang sedang berjalan mendekat.


“Ya Allah, tega kamu, Nafi. Bikin aku jadi nyamuk.”


Siap menghindar sebelum Mikail melihat, namun terlambat.


“Dian … nungguin Nafi, ya?”


“Mmm, iya. Janjian juga sama Nafi, Mas?”


“Tadi diajakin ibu hamil yang ngidam gulali. Kasian kalau nggak diturutin anaknya ileran.”


Tidak bermaksud ketus, namun ada rasa yang harus dipendam oleh Dian.


“Aku mau nunggu di tukang bakso aja, Mas. Aisya lagi sama Nafi, mungkin anakku nanti minta dijajanin semangkok.”


Dian berjalan beberapa langkah untuk menjauh. Dalam hati ingin memberanikan diri untuk berharap jika Mikail mengikutinya.


Alih-alih, Mikail tidak bergerak dari tempatnya.


“Relain, Dian. Mas Mika sukanya sama Nafi. Mereka berdua serasi. Eling, Dian. Eling …” Ucapnya lirih sambil menata hati.


Menatap lurus ke tukang bakso, Dian melangkah mantap sampai sebuah panggilan menghentikannya.


“Dian. Kenapa kamu selalu menghindar?”


Berusaha menahan emosi, Dian menggigit bibirnya.


“Berbulan-bulan aku mencoba mendekati kamu tapi kenapa kamu selalu menutup diri? Apakah salah? Jika ya, katakan saja.”


“Salah karena aku nggak yakin dengan hati kamu, Mas. Setiap kali kamu melihat Nafisa, matamu berbinar dan penuh rasa sayang. Kamu pernah menyatakan cinta hingga seviral itu pada sahabatku. Aku pernah merasakan kehilangan yang teramat sangat. Meski ikhlas tapi luka itu masih basah hingga kini. Jika menaruh harap padamu akan menimbulkan luka baru, lebih baik aku mematikan semua rasa.”


Mika melangkah mendekati Dian.


“Mungkin benar aku yang salah. Jatuh cinta pada wanita yang masa lalunya belum selesai,” ucapnya bukan dengan sendu tapi malah dengan seringai jahil.


“Loh kok jadi aku? Mas kan yang masih mencintai Nafisa? Aku ikhlas, Mas. Lebih baik setelah Nafisa melahirkan kalian menik…”


Mika menempelkan telunjuknya ke bibir Dian.


“Iiih apa sih, bukan mahram juga.” Wanita itu menjauhkan wajahnya.


“Dian, kamu terlalu sibuk menutup diri hingga tidak bisa melihat betapa aku selalu salah tingkah setiap bertemu kamu. Ya, Nafisa memang pernah menjadi wanita yang menarik perhatianku. Bahkan aku sempat jatuh cinta padanya. Tapi hanya sejauh itulah kami. Tidak ada masa lalu yang memanjang.”


Mika menatap Dian dengan lembut.


“Selama ini aku bersabar karena kupikir kamu yang belum bisa melupakan mendiang suamimu.”


Dian membuang pandangannya. Mikail mencubit lembut dagu wanita berparas manis itu lalu menghadapkan wajah ke arahnya.


“Mataku berbinar bukan karena masih mencintai Nafisa, tapi membayangkan ada keponakanku yang tumbuh di dalam perutnya. Keluarga Malik, banyak melakukan kesalahan terhadap Nafisa, untuk itulah aku berjanji pada diriku untuk menjaga Nafisa. Sebagai saudara.”


“Tapi …”


“Justru aku yang kini sangsi, mungkin benar yang dikatakan orang tentang bidan cantik dari Negeri Es Batu belum bisa melupakan suaminya. Aku akan sangat paham jika itu masalahnya.”


“Tunggu. Bidan dari Negeri Es Batu? Mas ngarang kan?”


“Mau coba tes? Yuk kita ke tukang es lilin.”


Mikail menarik tangan Dian lalu bertanya kepada tukang es lilin yang sibuk melayani pembeli sehingga tidak memperhatikan Mika dan Dian.


“Mang, nanya, itu bidan yang praktek deket terminal namanya siapa?”


“Bidan Dian. Suka ya, Mas? Coba aja, siapa tau esnya leleh,” jawabnya sambil memberikan dua potong es lilin. Matanya membola sempurna melihat Dian di hadapannya.


“Eh ada Bidan Dian. Nyuwun sewu, cuma bercanda. Nih saya kasih es gratis buat Aisya,” sambung tukang es lilin itu sambil cengengesan.


Dian memberungut. Mikail susah payah menahan diri untuk tidak mencubit pipi yang kini bersemu merah.


“Untuk informasi ya, saya bukan dari Negeri Es Batu, tapi dari Kutub Utara.”


Dengan menghentakkan kaki, Dian menjauh.


Tukang es memberi kode dengan bibirnya ke arah Mikail, “Chiayo!”


Sambil terkekeh, Mikail mengejar Dian.


“Mau coba ke tukang sate di sana?”


“Mas! Aku tuh nggak dingin. Aku orangnya hangat, aku … aku …”


Dian tiba-tiba kehilangan kata-kata ketika netranya bersitatap dengan Mika.


“Kamu … kamu suka aku? Soalnya aku suka kamu …”

__ADS_1


“Nyebelin …”


“Nanti tambah suka, loh.”


“Mas jelek.”


“Artinya aku ganteng?”


“Mas, aku …”


“Sssh, kasih aku kesempatan untuk membuktikan perasaanku. Satu minggu aja, setelah itu kita menikah.”


“Seming … seminggu. Apa? Seminggu terus nikah?” Dian melotot mendengar pernyataan fenomenal yang keluar dari mulut Mikail.


“Becanda, tiga hari aja.”


“Besok,” tantang Dian.


“Siap, malam ini aku lamar kamu. Ayo kita menghadap Bu Romlah.”


Mikail berjalan santai menuju pintu gerbang pasar malam.


“Mas, iiih, Mas. Serius?”


“Iya, Sayang. Aku serius menikahimu. Jika malam ini harus mendapatkan ijin, akan kulakukan.”


“Nafisa?” Dian masih sangsi dengan perasaan Mikail.


Dari arah belakang Dian terdengar suara bertanya, “Apalagi Nafisa? Ayolah, Di, wajah Mikail Malik sudah merah kuning ijo itu.”


Nafisa berdiri dengan tersenyum lebar sementara Aisya sudah melompat ke gendongan Mikail.


Dian menatap Nafisa dengan ragu.


“Aku perlu ngobrol sama kamu. Kalian berdua, tunggu di kedai tukang bakso.”


Dian lalu setengah menggeret Nafisa ke bangku agak jauh dari tempat mereka.


“Nafi, aku nggak mau jadi pelakor. Atau aku nggak mau di masa depan kamu jadi pelakor. Kasih tau aku apakah kamu menyukai Mikail?”


“Jangan ngomongin pelakor. Aku alergi. Udah ngadepin dua pelakor. Dela dan Valerie. Kalah pula,” jawab Nafisa dengan wajah kecut.


“Kamu lebih berhak bahagia bersama Mikail.” Dian menggandeng tangan sahabatnya.


“Aku nggak pernah naksir sama Mikail Malik. Dia orang yang baik, tapi entah, nggak ada chemistry kalo kata orang sono. Kamu berhak bahagia, Sayang. Jika aku yang menjadi akar masalah dan penyebab kamu menghindari Mikail, maka hilangkan.”


Dian mengambil napas dalam, pandangannya mengarah ke kedai dimana Mikail sedang memesan bakso.


“Dia sayang banget sama Aisya … dan kamu. Ayolah, setidaknya salah seorang dari kita nggak jomblo fisabilillah.”


Dian menatap dalam ke netra Nafisa, melihat apakah ada setitik rasa sakit yang disembuyikan.


Hanya menemukan ketulusan, Dian merentangkan tangan lalu berkata, “Peluk …”


“Best friend forever. Oh no. Sister forever …” Bisik Nafisa sambil merengkuh tubuh Dian dan memeluknya erat.


“Forever. Nafi, makasi kamu emang debest.”


“Sing penting buka bedes alias munyuk.”


Dua sahabat itu tertawa terkekeh lalu berjalan bergandengan menuju kedai bakso.


Aisya sudah asik menyeruput kuah sementara Mikail memotong bakso menjadi potongan kecil-kecil.


Nafisa dan Dian langsung bergabung. Mikail menatap wanita pencuri hatinya dengan bertanya.


“Dian …”


“Iya, Mas. Tapi jangan besok nikahnya, aku mau bikin baju dulu.”


“Alhamdulillah ya Allah,” seru Mikail dan tak sengaja menggebrak meja.


“Aget Pakde …” Sungut Aisya. Mikail memeluk Aisya untuk menenangkan.


“Bismillah buat kalian. Kak Mika, tolong jaga Dian dan Aisya. Jangan pernah sakiti mereka, ya. Sakit hati itu nggak ada obatnya, cuma bisa berharap suatu saat akan lupa.”


“In syaa Allah,” jawab Mika sambil terus menatap Dian yang mendadak tersipu malu.


“Ibu enapa?” Aisya heran melihat ibunya yang salah tingkah.


Nafisa langsung menyambar sambil tersenyum, “Pakde mau jadi bapak kamu. Seneng nggak?”


“Enelan? Aisya mau unya bapak?” Alisnya terangkat tinggi sambil matanya menatap bertanya ke arah Dian dan Mikail.


“Iya, Sayang. Seneng nggak?” Tanya Dian sambip mengelus kepala putrinya.


Aisya langsung menengadahkan tangan di depan dada, membuat posisi berdoa. Bibirnya berkomat-kamit.


“Aamiin.“


“Doa apa, Nak?” Tanya Dian penasaran.


“Tima asi ama Allah.”


Dian merangkul anaknya yang kini sudah sibuk menyantap bakso. Netranya kembali bersitatap dengan Mikail yang memandangnya mesra.


Nafisa tersenyum dan berharap keduanya bisa saling menjaga cinta sampai selamanya.


Mereka berempat kemudian asik mengobrol dan bersenda gurau sampai sebuah tayangan dari acara gosip membuat tubuh Nafisa menegang.


Presenter memberitakan bahwa Zayn dan Valerie Malik sedang mempersiapkan kelahiran putri pertama mereka.


Valerie tampak sumringah menjawab pertanyaan wartawan sementara Zayn cenderung bungkam.


“Berapa bulan lagi kamu akan melahirkan, Val? Tanya seorang wartawan.


“Tiga bulan lagi. Sekarang baru masuk enam bulan.”


Nafisa refleks mengusap perutnya yang membesar karena kandungannya yang sudah berusia delapan bulan.


“Kami memang salah saat memulai semuanya, tapi ke depan, kami akan menjalani dengan benar. Ya, kan, Sayang?”


Pria itu hanya diam dengan sorot mata dingin membuat para wartawan enggan untuk menggali lebih dalam.


“Nafi, hey …” Sapa Dian menyentuh tangan sahabatnya yang duduk berseberangan.


“Aku nggak apa-apa. Sudah ikhlas menerima takdir tanpa harus bertanya kenapa.”


“Maafin kakak sepupuku ya. Aku mengenali ekspresinya, dia jauh dari bahagia.”


“Sudahlah, aku selalu mendoakan kebahagiaan Mas Zayn, Bang Reno, dan anak-anakku. Jadi pengorbananku untuk pergi tidak sia-sia.“


“Aaaw, Nafi …” Dian berpindah untuk memeluk sahabatnya dengan erat.


“Pokok kalian harus bahagia sampai tua. Okay?” Nafi balas memeluk sahabatnya.


“Aamiin … aamiin,” jawab Dian dan Mika serempak. Dian lagi-lagi tersipu membuat Mikail harus menahan gemas.


“Mmm … Kamu pengin jemput anak-anakmu? Aku beberapa jam pisah sama Aisya aja udah sesak napas.”


“Pengin banget. Tapi satu persatu dulu. Aku harus jaga juga kesehatan mental. Aurelie dan Milo punya Bang Reno yang akan jaga, tapi bayi ini hanya punya aku.”


“Dan Ayah …,” terdengar suara Yusuf mendekat bersama Rafiq.


“Count me and the whole Rashedi family in. Bayi kamu dan kamu nggak akan sendirian lagi,” sahut Rafiq penuh keyakinan.


“Tuh, Dek. Sehat, ya di dalam sana.”


“Ayah bakal nambah nih jagoannya.”


Mereka kemudian berbincang hangat dan tertawa, sekaligus membicarakan rencana pernikahan Dian dan Mikail.


Nafi mengambil napas dalam. Diam-dia melirik ke layar kaca yang sedang menampilkan wajah Zayn.


***


Malam hari, Nafisa tidak bisa tidur. Di usia kehamilan yang memasuki mingguk ke tiga puluh dua, dia mulai merasa sesak jika berbaring.


Langit malam bertabur bintang. Bulan purnama bersinar dengan pongah mengeluarkan pendaran cahaya putih.


Nafisa duduk di teras paviliunnya sambil memegang foto USG.


“Hai gantengnya Mama. Sehat-sehat di dalam sana. Maafkan Mama yang bawa kamu menjauh dari ayah dan saudara-saudaramu. Mungkin Mama bodoh, tapi semoga Allah memberi jalan buat Mama untuk memperbaiki kebodohan ini. Jadilah anak yang sholih dan penyayang, santun dan setia. I love you my baby boy.”

__ADS_1


***


__ADS_2