Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Bendera Kuning


__ADS_3

Berita insiden penculikan Nafisa Salsabila menjadi trending tidak saja di media sosial namun juga di televisi.


Pertanyaan ‘Ada Apa Dengan Nafisa’ dan tagar ‘Jaga Nafisa’ viral di jagat netizen.


Spekulasi tentang perebutan hak asuh hingga kedekatannya dengan Zayn menjadi topik seru di setiap kolom komen.


Sore itu, Dela dan Reno duduk di ruang keluarga yang nyaman. Reno mengelus perut Dela yang semakin membuncit. Sesekali mengecupnya.


“Mantan istrimu masalah lagi, tuh.”


“Aku udah bosan dengarnya. Untung aku sekarang sudah sama kamu,” balas Reno sambil menoel hidung Dela.


“Katanya dia akan tetap jemput anak-anak. Menurut aku nggak usah ya. Bahaya.”


“Tidak ada larangan dari pengawas hak asuh. Jadi kita tetap harus mematuhi jadwal. Udah lah, aku malas ribut.”


“Ren, kamu mau anak-anak kita dibawa sama perempuan bermasalah itu? Gini, ya, kalau dia sebaik yang dia citrakan itu, nggak akan ada orang yang jahatin dia. Belum lagi kalau gilanya muncul. Aku nggak setuju.”


Dela berkata dengan nada berapi-api.


Reno hanya tersenyum lalu menarik wajah istrinya. Sedetik kemudian, bibir mereka sudah bertautan.


Dela membalas ciuman suaminya. Merengkuh sekaligus melimpahkan kenikmatan dari pria yang sangat dia cintai.


“Aku pengin berdua sama kamu malam ini. Biarlah anak-anak sama Nafisa. Suster-suster kita liburkan juga. Atau … kita nginep di hotel, mau?”


Mata Dela berbinar-binar.


“Aku akan siapkan barangnya anak-anak. Suster … kalian libur seminggu …”


***


Nafisa dan Zayn menjemput anak-anak. Aurelie dan Milo yang tahu insiden penculikan langsung memeluk ibunya erat-erat.


“Mama, Milo udah bawa pistolan, kalau ada yang jahat biar Milo tembakin. Milo mau jagain Mama.”


Mendengar ucapan Milo, segera Zayn duduk di atas kedua lututnya lalu berkata, “Sekarang ada Oom Zayn yang juga akan jagain Mama. Kalau dibolehin … Zayn melirik Nafisa.”


“Yuk, berangkat, Mama udah nggak sabar main sama kalian. Del, Ren, pamit. Assalamualaykum.” Nafisa belum ingin menanggapi pertanyaan atau pernyataan Zayn.


Reno dan Dela hanya mengangguk. Dela sudah tidak lagi mempermasalahkan Aurelie dan Milo bersama Nafisa karena tak lama ia akan menikmati saat berdua saja dengan Reno.


Sambil menggandeng Aurelie, Nafisa bertanya, “Kita ke rumah Oma, mau nggak?”


“Mau!” Jawab Aurelie dan Milo serempak. Milo langsung minta gendong ke Zayn lalu berceloteh tentang ide melindungi ibunya dengan pistol mainannya.


Dari dalam rumah, Reno mengamati empat orang itu naik mobil lalu menjauh.


“Cemburu?” Dela memeluk dari belakang.


“Nggak lah, kan ada kamu,” balasnya sambil terkekeh.


Dela melanjutkan, “Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya Nafisa lepas begitu aja. Jangan-jangan orang yang menculik cuma pengin sekadar nakut-nakutin.”


Alis Reno menyatu.


“Maksud?”


“Ya kali aja ada orang yang mau kasih peringatan ke seseorang lewat Nafisa. Who knows, mungkin dia dicintai oleh orang yang salah,” jelas Dela melepas pelukannya lalu berdiri menghadap Reno. Mereka bersitatap.


“Maksudmu Valerie? Bekas istrinya Zayn? Haish ribet banget hidup. Udahlah, ngapain kita bahas dia. Yang penting jangan sampai ada apa-apa sama Aurelie dan Milo. Awas kalau sampai iya. Sekarang aku siapin mobil dulu, udah nggak sabar berduaan sama kamu.”


“Siap, Ganteng.”


Dela ke kamar mengambil tas dan beberapa barang. Sengaja ia mengintip ke garasi melihat sikap Reno.


Suaminya sibuk mengatur koper yang mereka bawa. Tak lupa tas emergency untuk melahirkan.


“Semoga kamu tau maksudku, Ren.”


***


Beberapa hari berlalu. Aurelie dan Milo menikmati setiap menit bersama ibu mereka. Demikian juga Nafisa yang bisa melupakan pedih dan lara yang menghimpit selama berkumpul dengan anak-anak.


Malam hari, Nafisa duduk di pinggir kolam. Menikmati malam bertabur bintang. Aurelie dan Milo tidur di kamar Mayam.


“Hai,” sapa Zayn.


“Belum tidur, Pak?”


“Nggak ngantuk. Kamu sendiri? Jangan mikir aneh-aneh deh.”


Di balik cadar, Nafisa tersenyum sembari menggeleng.


Zayn kemudian duduk bersila di samping Nafisa.


“Udara enak banget, ya. Langitnya juga cerah.”


Menatap bintang-bintang bertaburan, Nafisa teringat masa kecilnya di panti.


“Dulu saya dan teman-teman suka kabur dari jendela. Lalu kami naik ke atap panti buat menikmati bintang. Panti saya jauh terpencil. Jadi kalau malam cahaya bintang dan bulan nggak beradu dengan lampu-lampu.”


“Apa rasanya hidup sendiri tanpa orang tua?”


“Rasanya …? Campur aduk. Seneng ya sendiri. Sedih ya sendiri. Berusaha nggak overthinking. Sebagian anak panti ada di sana karena ditinggalin sama orang tua mereka. Di benak, saya mengarang cerita bahwa ayah adalah seorang syekh di Dubai dan kami terpisah karena saya diculik. Lebih seru begitu ceritanya.”


Mau tak mau Zayn tersenyum mendengar taktik Nafisa untuk bertahan


Hape Nafisa yang diletakkan di sebelahnya berbunyi. Nama ‘Pak Mika’ muncul. Nafisa membiarkannya.


“Nggak diangkat?”


Nafisa menggeleng. Sejak pernyataan cinta Mikail kepadanya, ia memilih menghindar.


“Kenapa kamu nggak menghindar dari saya?”


“Jujur, Pak. Kalau saya bisa pergi jauh bawa anak-anak saya dan nggak ketemu Bapak lagi, saya sueeeneng banget.”


“Padahal aku yang sekarang nggak mau jauh dari kamu.”


Nafisa menoleh, mencermati pria yang kini menatap gerakan air kolam.


“Saya nggak mau menikah sama Bapak.”


Tertegun mendengar jawaban Nafisa, setelah terdiam sejenak, Zayn bertanya, “Ke … Kenapa?”


“Bapak liat sendiri kan, masalah tu kayaknya cinta sama saya. Kalau kita menikah, Bapak bakalan repot. Lalu, saya akan menikah dengan alasan yang salah, untuk memperjuangkan hak asuh. Nggak adil buat Bapak.“


“Bagaimana perasaan kamu ke aku?”


“Nah itu juga. Saya mati rasa, Pak.”

__ADS_1


“Ouch that’s too bad, karena aku ternyata sudah jatuh cinta sama kamu.”


Mata Nafisa terbelalak.


“Bapak? Jatuh cinta sama saya? Ya Allah, liat apa, Pak? Dibanding Nyonya Val saya kan kayak kodok.”


Zayn tak bisa menahan diri, pria itu tertawa terbahak mendengar jawaban polos Nafisa.


“Ya ampun, aku nggak pernah ketawa sampe nangis.”


Bukannya ikut ketawa, Nafisa menatap tajam ke arah Zayn.


“Puas ngetawain saya?”


“Eh bukan. Aku nggak ketawain kamu.”


“Barusan tadi itu nangis? Enggak kan? Ngetawain, kan?” Tanya Nafisa dengan nada setajam silet.


“Bukan, Sayang! Nafisa Salsabila, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Gosh aku nggak pernah bilang gini ke perempuan. Kamu itu seperti magnet yang menarik aku untuk selalu dekat. Kamu cantik. Maaf, dulu aku sering mengamati wajahmu ketika terbaring di rumah sakit.”


Dibalik cadar, wajah Nafisa bersemu merah.


“Aku kedengeran ngegombal nggak sih?”


“Banget, Pak,” sahut Nafisa terkekeh.


“Aku akan tetap menunggu kamu membuka hati.”


“Terima kasih sudah memiliki perasaan buat saya, Pak. Saya doakan semoga Bapak akan bertemu dengan wanita yang tulus mencintai Bapak.”


***


Wajah Nafisa pias mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan petugas yang mengawasi hak asuh melalui speaker hapenya.


“Jadi, Bu, melihat begitu banyak musibah, kami nggak yakin Ibu sanggup menghandle semua sendirian. Meski secara kejiwaan hasil dari observasi Dokter Yuni sangat menunjukkan kemajuan.”


“Lalu saya harus bagaimana?”


“Untuk jalan keluar, silakan Ibu cari yang terbaik. Kami tidak bisa memberi saran karena khawatir ada bias. Masih ada waktu sampai sidang evaluasi hak asuh berikutnya.”


Berbeda dengan Nafisa yang memucat, Zayn dan Maryam berbinar.


Nafisa mematikan speaker hapenya lalu menunduk. Maryam langsung menyikut-nyikut anaknya.


“Nafisa …” Panggil Zayn.


“Nggak, Pak. Saya nggak mau nikah cuma karena hak asuh. Nggak adil buat Bapak. Ini anak-anak saya, masalah saya.”


Maryam duduk di samping Nafisa lalu menggenggam tangannya.


“Pikirkan apakah kamu mau terus menerus mendapat jatah seminggu-seminggu bersama anakmu?”


“Aku ikhlas kalau pun kamu mau menikah karena hak asuh,” ucap Zayn mantap.


Tangan Nafisa menutup wajahnya. Kegagalan di pernikahan dengan Reno juga memberi andil besar terhadap perasaannya, namun hak asuh anak-anak akan menjadi taruhan.


“Bapak kenal saya, tau semuuuaa masalah saya. Apakah masih bersedia?”


Maryam menatap Zayn penuh harap.


“In syaa Allah bersedia. Aku juga sudah memenuhi permintaanmu untuk mempelajari agama. Nafisa, selama ini aku tersesat dan melalui kamu aku mulai menapaki jalan yang benar. Ijinkan aku menjaga kamu dan anak-anak sebagai balasannya.”


Hening beberapa saat, akhirnya Nafisa menjawab, “Bismillaah … Baiklah. Saya bersedia. Hanya sebelumnya mohon maaf jika saya belum punya rasa atau apapun sama Bapak.”


Ada ragu yang kentara di nada suara Nafisa, namun lagu itu merupakan yang terindah di telinga Zayn dan Maryam.


“Nggak apa. Orang Jawa bilang witing tresno jalaran seko kulino. Ala bisa karena biasa,” balas Maryam yang menyerobot anaknya saking bahagia.


“Benar kamu mau?” Mata Zayn berbinar.


Nafisa mengangguk.


“Besok aku urus, lusa kita menikah.”


“Secepat itu?”


“Semua sudah siap, Sayang. Ibu udah nyicil dari gedung, dekorasi, siang ini kita bisa ngepasin baju pengantin. Ada beberapa desain yang sudah Ibu minta buatkan, kamu tinggal pilih. Zayn akan siapkan KUA dan wali nikah untuk kamu.”


“Bu, Nafisa ngerepotin …”


“Enggak, Sayang. Duh Ibu terharu sampai mau nangis.”


“Jangan nangis, Ibu. Beneran Ibu ikhlas kalau Pak Zayn menikah dengan Nafisa dengan alasan hak asuh? Belum ada cinta.”


“Aku sih udah cinta kamu, ya,” sela Zayn sambil menaikturunkan alis.


“Ikhlas … ikhlas … Ibu sangat ikhlas. Sini, Nafisa anak Ibu …” Maryam langsung memeluk Nafisa erat-erat.


“Mantu, Bu. Zayn yang anak Ibu.” Protes Zayn dengan bibir mencibir.


“Diem aja kamu.”


***


Mikail berusaha tetap legowo ketika Bude Maryam memberitahukan bahwa Nafisa sudah menerima pinangan Zayn.


Hatinya tertohok. Pria itu sudah jatuh cinta pada Nafisa sejak lama. Hanya waktu itu Nafisa masih berstatus istri orang.


Ketika Nafisa selesai masa iddah dia dihadapkan pada kasus pembunuhan yang ditimpakan atasnya.


“Bude minta maaf, dari dulu Bude tau kamu suka sama Nafisa.”


“Sakit, Bude. Nyesek.”


“Sini duduk di samping Bude.”


Mikail menuruti permintaan Budenya. Wajahnya muram, matanya terlihat menahan kekecewaan.


“Mika belum pernah suka sama orang sedalam ini. Paling ketemuan satu kali nggak pernah lebih. Aku dan Nafisa memang belum pernah bicara heart to heart, tapi baru dia yang berani bicara logis untuk kebaikan Mika.”


Pria itu ingat pertama kali bicara panjang kali lebar, Nafisa mengingatkannya untuk sholat. Berangsur-angsur, dia mulai menjalankan ibadah wajib untuk seorang muslim.


Ketika menyatakan perasaannya dan ditolak secara halus, Mika masih yakin kalau ada harapan.


Bude mengelus rambut keponakannya.


Mika berkata dengan lesu, “Perjuangannya, tekatnya, gigihnya, membuat Mika merasa dia adalah wanita yang tepat sebagai pendamping. Bude, apa betul tidak ada kesempatan? Bukankah kalau belum ada bendera kuning berarti masih ada jalan?”


“Bendera kuning … Tak thutuk kamu! Mau jadi pebinor kakak sepupu sendiri? Mau Bude keramasin?”


Maryam bertubi-tubi menjeweri lalu memukuli lengan kekar Mikail.

__ADS_1


“Desperate man will do anything,” ucap Mika lemah, tidak berusaha menghindar.


Sadar bahwa keponakannya benar-benar terpukul, Maryam berhenti lalu menghadapkan wajah Mika ke arahnya.


“Kecewa karena cinta memang tidak ada obatnya. Bude minta dengan sangat keikhlasan kamu, ya. Ijinkan Nafisa bahagia bersama Zayn.”


“Emang mereka udah cinta? Belum kan? Ini masalah hak asuh aja kan?”


“Selain itu, Nafisa tidak mau lagi sendirian. Waktu ketemu Dokter Yuni, dia pernah bilang nggak mau lagi menanggung semuanya sendiri.”


“Mengenal Bude, sepertinya mengajak Nafisa ke Dokter Yuni adalah siasat supaya mereka berdua menikah, kan?”


Tidak mau mengakui, Maryam menjawab, “Mika, please Bude mohon, ikhlasin kakak sepupumu menikahi Nafisa ya. Lakukan untuk Bude.”


Mikail tidak berkata.


“Aku akan mengikhlaskan, tapi aku juga akan mengawasi jangan sampai anak Bude menyakiti Nafisa. Sebab begitu kesempatan itu terbuka, Mikail akan ambil.”


“Bude juga doakan kamu ketemu orang lain yang bisa membuatmu seperti ini.”


Beberapa orang masuk diantar oleh kepala pelayan.


“Bu, vendor wedding organizer dan catering.”


Tiga orang laki-laki dan perempuan itu menyalami Maryam dengan penuh rasa hormat.


Menjadi kebanggaan ketika seorang Maryam Malik menghubungi mereka untuk pesta pernikahan putranya.


“Kami siap membantu, Bu,” ujar salah satu dari mereka.


Mikail berdiri hendak keluar. Dadanya sesak.


“Mika sekali lagi Bude minta maaf. Mmm apakah kamu mau ikut bantu Bude?”


“Mmm, Bude bisa sendiri? Mika belum bisa … maaf.”


“In syaa Allah, bisa.” Maryam tersenyum dan menatap lembut ke arah keponakannya.


“Mika pamit, assalamualaykum …”


“Waalaykumussalam.”


Keluar dari gerbang rumah budenya, Mikail melajukan kendaraannya perlahan.


Berulang kali menghela napas lalu memukul kemudi.


Bayangan Nafisa menari-nari di hadapannya. Wanita yang membuatnya penasaran.


Kalimat yang diucapkan selalu apa adanya, bukan ada apanya seperti yang diucapkan wanita-wanita di sekitarnya. Wanita yang terpesona akan harta dan kekayaan.


Mikail mengarahkan mobilnya ke bar. Tempat dia bersama teman-teman berkumpul.


“Hey bos, dah lama nggak kesini. Kayak biasanya?” Tanya bartender yang mengenali Mika dari jauh.


“Nggak. Gue cuma mau duduk aja.”


“Ada minuman baru, cobain deh.”


“Gue nggak minum alkohol lagi.”


“Hamil?


“Brengsek lu.”


“Nih deh gue kasih sparkling water. Lain kali kalo puyeng nggak mau minum larinya ke mesjid dong, Bos.”


“Bacoy …”


Bartender terkekeh, menyodorkan sekaleng sparkling water lalu melanjutkan pekerjaannya.


“Eh ada Mikail Malik.”


Mikail mengusap wajahnya. Sangat mengenali suara wanita bernada seksi dibuat-buat.


“Kena kutuk apa gue hari ini pake ketemu elu, Val?”


Wanita itu duduk di samping Mika sambil menyesap minum haram dengan perlahan.


“Ada yang patah hati …”


Mikail enggan menanggapi namun justru diamnya membuat Valerie terbelalak.


“Beneran, laki gue mau nikahin janda lampir itu?”


“Elu deh yang janda lampir,” jawab Mika sekenanya.


“Selera Zayn merosot,” gumam Valerie dengan nada merendahkan.


“Heloooo mantaaan. Sadar dong kenapa kakak sepupu gue buang elu. Jujur aja, gue mempertanyakan keinginan Zayn untuk nggak jeblosin elu ke penjara.”


Valerie mengibaskan rambutnya yang terurai indah.


“Dia masih cinta sama gue.”


Mikail menatap wanita di sebelahnya dengan pandangan tak percaya.


“PD lu sekebon.”


Setelah menegak habis minumannya, Valeri bangkit lalu mengacak kepala Mikail.


“Heh, resek lu!” Sentak Mikail menepis tangan Valerie.


“Jangan marah Adek Mika. Semangat manyun ditinggal kawin, Dek.”


Valerie kemudian tergelak, jalannya sempoyongan.


“Gilingan, masih terang udah mabok.”


Mikail mengambil napas dalam.


“Nafisa udah memilih Zayn. Semua sudah terlambat. Ikhlas, Mika. Kamu bisa!” Ucap Mika pada dirinya sendiri lalu beranjak pergi.


“Gue traktir sparkling-nya, Boss,” sindir bartender melihat Mika tidak ada itikad untuk membayar.


“Harusnya, lu kan masih punya hutang juga ama gue.”


“Sialan lu!”


“Awas bayarannya macet, gue acak-acak tempat ini,” balas Mika sambil keluar dari tempat maksiat itu.


***

__ADS_1


__ADS_2