
Pagi itu di rumah Mikail terjadi kehebohan. Calon pengantin pria ngotot untuk datang dua jam lebih cepat ke rumah calon pengantin wanita.
Yusuf dan Rafiq yang bertugas menemani sudah dibuat kewalahan.
“Jangan, Mas. Jam segini Mbak Dian masih didandani. Sabar tho. Pengantene bisa jantungan kalo Mas datang sekarang.”
“Aku bisa nunggu di terasnya, kan Oom,” jawab Mikail dengan muka tambeng.
“Nggak boleh, udah duduk di sini. Latihan baca ijab kabul.” Suara Yusuf terdengar tegas.
Akhirnya Mikail duduk di samping Yusuf setelah dipaksa oleh Rafiq yang meski sudah berumur namun memiliki kekuatan bak tentara muda.
“Ayo gimana bunyi akadnya?”
Mikail berdehem.
“Saya terima nikah dan kawinnya Dian Fitri Kusumo dengan mas kawin tersebut, tunai!”
“Nggak sah!”
“Loh kok?” Mikail menoleh ke arah Rafiq dengan pandangan nyolot.
“Ya bener nggak sah kan? Orang walinya Dian nggak ada di sini,” jawab Rafiq santai.
“Berantem, yuk, Syekh.”
Makin iseng, Rafiq menjawab, “Nanti kamu bonyok.”
Mikail bergerak menyerbu Rafiq namun berhasil ditahan dengan tongkat jalan milik Yusuf.
“Duduk! Atau Oom suruh Mbak Nafi ke sini.”
Mendengar ancaman, Mikail langsung duduk, tidak mau cari ribut dengan wanita bernama Nafisa Salsabila yang semakin bertambah usia kandungannya malah bertambah galak.
“Kita berangkat satu jam dari sekarang sesuai rencana. Sekarang Mas ngaji dulu di samping Oom biar tenang dan semua lancar.”
Mikail kemudian membuka aplikasi di hapenya lalu melantunkan ayat-ayat suci. Selama di Banyuwangi dia telah belajar dengan seorang ustadz sehingga kini mampu membaca Qur’an dengan baik.
Tiba-tiba Mikail berhenti.
“Aku kangen Bude Maryam.”
“Masih ada waktu untuk memberitahukan.”
Mikail merenung sejenak.
“Jika Bude sampai tau aku dimana, pasti beliau dan Zayn akan segera kemari. Bagaimana dengan Nafisa? Apakah sudah siap?”
Yusuf memegang pundak Mikail, terharu dengan bagaimana pria itu melindungi Nafisa.
“Terima kasih sudah menjaga putriku. Tapi sekarang ada Oom. Kamu sudah harus fokus menjaga Dian dan Aisya juga anak-anakmu kelak.”
“Maafkan kami dari keluarga Malik yang telah jahat sama putri Oom. Jika berkenan, anggap aku sebagai putramu juga, kakak dari Nafisa. Dari kecil orang tuaku sudah meninggal. Bude yang membesarkan aku. Akan sangat membahagiakan jika aku juga bisa menjadi bagian dari keluarga Oom.”
“Sini, Nak.”
Yusuf memeluk Mika layaknya seorang ayah kepada putranya.
Kemudian pria paruh baya itu mengurai pelukannya lalu memberikan nasihat.
“Nak, meski Nafisa sudah kau anggap adik, tapi prioritas ada di keluarga kecilmu. Kamu dan Nafisa tetap bukan mahram jadi jaga pandangan kalian, jaga perasaan Dian. Itu syarat dari Ayah.”
Mikail mengeratkan pelukannya.
“In syaa Allah, Ayah. Mika nggak akan menyia-yiakan Dian dan Aisya.”
“Belajarlah untuk menjadi imam, suami, pelindung buat istri dan anak-anak kamu. Sampai maut memisahkan. Didiklah istri dan anak-anakmu menjadi hamba Allah yang taat sehingga kelak kalian bisa berkumpul di surga tertinggi. Nafkahi istrimu lahir dan batin. Jangan duluan meminta hak, namun berikanlah cinta dan kasih sayang maka kamu akan mendapat lebih dari yang kamu harapkan dari seorang wanita.”
Mika mengusap sudut matanya. Ditinggal ayahnya sejak belia, dia tidak pernah mendapatkan nasihat tentang bagaimana menjadi laki-laki harus bersikap setelah menikah.
“Makasih, Ayah. Jangan segan ingatkan aku jika langkahku melenceng. Doakan Mikail juga agar suatu saat bisa membawa Dian dan Aisya untuk berkenalan dengan Bude.”
“Aamiin, aamiin. Lakukanlah kapan saja kamu mau, Nak. Nafisa wanita yang kuat. Dan jika memang semua tidak berjalan baik, Ayah akan bawa dia ke Dubai untuk tinggal di sana.”
“Setuju!” Cetus Syekh Rafiq yang sedari tadi mengikuti pembicaraan Yusuf dan Mikail.
“Tuan Yusuf punya rumah yang besar dan luas. Belum lagi harta yang cukup untuk Nyonya Nafisa dan anaknya. Syukur-syukur dapat Syekh yang ganteng-ganteng.”
“No way. No more marriage,” balas Nafisa yang tiba-tiba muncul.
Setelah mencium takzim tangan ayahnya, Nafisa menatap Mikail.
“Udah siap, Kak?”
Yusuf dan Rafiq langsung mendengus.
“Kalau bisa dia nangkring di halaman Dian, tuh dia tuh,” ucap Rafiq setengah jengkel karena sudah dirongrong dari pagi oleh calon pengantin pria yang super bawel.
Tak menjawab, Mika hanya cengegesan sambil memasang blangkon.
“Yuk …”
“Eh Dian masih didandanin, aku mampir mau nemenin Ayah kasih hadiah ke Kakak.”
“Lah tadi nanya udah siap?”
“Siap mental, Kak. Ayah, mana hadiahnya?”
Yusuf mengeluarkan amplop lalu menyerahkan ke Mikail.
“Semoga bermanfaat untuk kalian berdua.”
Netra Mikail terbelalak.
“Empat
“Paket umroh sekaligus bulan madu ke Turki! Ayah, terima kasih.“
Mikail langsung memeluk Yusuf dengan erat. Semenjak meninggalkan keluarga Malik, Mikail tidak lagi seorang yang kaya raya. Dia hidup dari sedikit simpanan yang sempat ia ambil sebelum pergi mengikuti Nafisa serta hasil dari bisnis yang dia geluti di Banyuwangi.
“Kok Kakak manggilnya Ayah?” Nafisa melirik Mikail dan Ayahnya bergantian.
“Sekarang aku kakak kamu.”
“Yah?” Tanya Nafisa ingin memastikan.
“Mikail sudah Ayah anggap anak sendiri. Tapi ingat secara garis darah kalian bukanlah mahram.”
“Hai Kakak. Aduh ….”
__ADS_1
Nafisa memegang perutnya dengan wajah meringis.
Tiga pria langsung panik.
“Nggak apa, ini Debay ikutan senang jadi langsung nendang. Ya udah, aku ke rumah Dian, kalau sudah siap, Kakak aku telepon ya.”
“Aku antarkan, daripada stress di sini nemenin penganten bawel,” ucap Rafiq melangkah keluar mengindahkan Yusuf yang berusaha mencegahnya.
***
Dian sudah selesai dirias, duduk menghadap cermin. Bu Wati, mertuanya menatap penuh haru.
“Dian, Ibu bahagia kamu akan segera menikah lagi. Bertahun-tahun kamu menahan rindu dan cinta untuk Andika. Kini saatnya kamu merajut lembaran baru. Ibu ikhlas, Nak.”
“Ibu, makasih sudah menjadi ibu kedua bagi Dian dan Eyang Ibu buat Aisyah. Dian nggak kepikir gimana bisa melewati ini semua kalau nggak ada Ibu.”
“Kamu udah ibu anggap darah daging sendiri. Sekarang berbahagialah. Jangan lupa sama Ibu, ya?”
“Nggak akan! Ibu harus tetap mau jadi Ibu kedua bagi Dian. Ibu harus tetap dekat sama Dian, nggak boleh kemana-mana.”
Wati membetulkan roncean melati yang tersemat di kerudung Dian lalu mengecup kening yang oernah menjadi istri mendiang putranya.
“Dian, sebelum Andika berangkat ke penugasan, dia menitipkan surat. Jika dia nggak kembali dia sudah menitipkan kamu ke Ibu. Dia ingin surat ini diberikan saat kamu akan memulai hidup baru.”
Wati menyerahkan amplop berwarna ungu muda dengan tempelan bunga kering di atasnya.
Netra Dian berkaca-kaca. Dulu begitulah Andika selalu mengirim surat dari manapun ia bertugas jika tidak diperkenankan bicara melalui telepon.
Dian menerima amplop. Tidak langsung membuka, ia meletakkan di atas meja rias.
“Ibu keluar dulu. Ojo nangis. Nanti make up luntur. Salah jen ibu kasih sekarang, tapi yo Dika pesene gitu,” ucap Ibu Wati sambil menutup pintu.
Melihat sosok ibu mertuanya sudah keluar, Dian meraih amplop. Benda terakhir yang ditinggalkan Andika untuk dirinya.
Perlahan dibukanya amplop itu, tidak ingin merusak karena lem yang menempel.
Secarik kertas senada dengan warna amplop dengan tulisan mendiang suaminya. Lagi-lagi Dian menempelkan kertas itu ke dadanya. Matanya terpejam menahan emosi.
Setelah siap, ia mulai membaca.
Assalamualaykum, Sayang,
Bagaimana kabar kamu? Deg-degan, ya? Tapi aku yakin, kamu pasti cantik banget.
Dian, Sayang. Berbahagialah dengan laki-laki yang akan segera menikahimu. Cintai dia dan raih kebahagiaan kalian.
(Aduh, Mas sesak napas nih nulisnya. Membayangkan cintanya Mas bersanding sama pria lain.)
Sayang, terima kasih sudah mengikhlaskan Mas. Percayalah, Mas memiliki kehidupan yang baik. Seorang istri yang luar biasa dan Mas gugur membela bumi pertiwi.
Ijinkan Mas tetap menjadi kenangan yang kamu simpan indah di benakmu. Seseorang yang di akhir hayatnya membayangkan senyum manismu sebelum mengucap tahlil.
I love you so much. Sampaikan salam Mas kepada pria beruntung yang berhasil mempersuntingmu.
Katakan bahwa Mas akan menghantuinya jika dia tidak memperlakukanmu dengan penuh cinta. (Bercanda ding. Eh beneran.)
Jangan nangis, nanti cantiknya luntur. Inget nggak dulu aku selalu ngomong gitu sebelum berangkat?
Selalu bahagia, ya, Sayang. I love you forever.
Andika Ardianto
Perlahan ia berjalan ke lemari pakaiannya. Dari bawah tumpukan baju ia mengeluarkan foto-foto Andika.
“Kamu akan selalu menjadi kenangan indah buat aku. Bahkan untuk anak kita. Aisya selalu berpikir ayahnya adalah super hero. Ijinkan aku untuk menjalani hidup baru dengan Mas Mikail, ya … Dia pria baik. Jangan repot hantui dia, kamu tenang-tenang aja di sana,” ucapnya sambil terkekeh.
“Mas, doaku selalu menyertaimu. Semoga indah kehidupanmu di sana. Aamiin. Aku lanjut siap-siap dulu, ya Mas. I love you still.”
Untuk beberapa saat, Dian masih melihat foto-foto suaminya, lalu mengambil kotak berukir di atas lemari.
Disusunnya foto-foto Andika di sana. Juga surat terakhir yang ditulis untuknya beserta surat-surat lain semasa suaminya menjalani penugasan.
Setelah mengunci kotak, ia mengembalikan ke atas lemari. Diletakkan anak kunci di nakas samping tempat tidur yang nanti akan dipakai bersama Mikail.
Dian berpikir bahwa Mikail harus tahu bahwa dirinya adalah wanita dengan masa lalu. Kenangan indah mendiang suaminya akan selalu tersimpan dan Mikail-lah yang akan memegang kuncinya.
Pintu kamar terbuka. Nafisa melongok masuk mencari sahabatnya.
“Di … “
“Hey, Bestie.”
“Maa syaa Allah, cantiknya kamu. Pantes Kak Mika klepek-klepek.”
“Kamu apa sih, gemes deh,” sahut Dian sambil pura-pura menusuk pinggang Nafisa dengan jarinya.
“Ouch …”
“Eh kenapa? Kekerasan ya? Maaf … maaf.”
“Enggak nih Si Debay lagi over excited tantenya mau nikah.”
Nafisa kemudian duduk di kursi rias.
“Aku ada sesuatu. Harus terima dan harus dipakai.”
Dari tasnya, Nafisa mengeluarkan kota beludru berwarna biru tua.
Mata Dian berbinar lalu kemudian meredup.
“Nggak, pasti mahal. Aku nggak mau, kamu juga perlu kan buat biaya lahiran dan membesarkan anak. Astaga? Apa jangan-jangan kamu ambil dari simpanan yang dikasih keluarga Malik? Nanti mereka tahu kamu dimana, loh.”
Nafisa hanya cengengesan lalu menjawab.
“Jangan terlalu GR, buka dulu makanya. Bawel amatan.”
Dian mencebik ke arah sahabatnya lalu mengambil kotak dan membukanya.
Di dalam ya ada batu kerikil berwarna hitam.
“Jimat?”
“Naudzubillah, aku masih pengin masuk surga ya. Itu simbol jangan sampai kalian berdua berhati batu. Apalagi makan batu. Berusahalah sekuat tenaga menempuh hidup baru.”
“Ya elah Nafi, itu juga ay ngerti keleus. Bijak tapi gagal,” cetus Dian sambil tertawa lebar menanggapi keisengan sahabatnya.
Nafisa pun terkekeh.
“Berdiri dulu, kerudung belakang kamu nyangkut tuh. Sini aku benerin.”
__ADS_1
Dian pun berdiri menghadap cermin, membiarkan sahabatnya merapikan kerudungnya dari belakang.
Tiba-tiba Nafisa memasangkan seuntai kalung dengan liontin cantik.
“Terima kasih karena terus mengingatku. Bahkan ketika aku sendiri tidak bisa mengingat diriku sendiri.”
“Nafi … bagus banget.” Dian terpana dengan kalung berlian mungil yang kini menggantung di lehernya.
“Suka?”
“Banget. Aku jadi repotin kamu.”
“Nggak, Bestieku sayang. Kita itu udah sodara. Sutil dan wajan. Aku nggak mungkin bisa melalui semua ini sekarang tanpa kamu. Bahagia selalu, ya.”
“Aku juga selalu mendoakan kebahagiaan kamu. Semoga kamu bisa berkumpul lagi sama Aurelie dan Milo.”
“Aamiin ya Allah.”
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
“Mau aku telepon Kak Mika? Dari tadi dia bikin pusing Ayah dan Syekh karena ngotot mau nungguin kamu dandan di teras.”
Dian tersipu malu.
“Kamu nyesel nggak dulu kamu malah menikah sama Zayn dan bukan sama Mika?”
“Sama sekali enggak, Di. Mikail Malik emang tercipta untuk kamu.”
Nafi dan Dian terdiam sambil tertegun lalu tertawa terbahak-bahak.
“Gelaaay! Udah ah. Kamu kabarin Kak Mika kalau aku udah siap, ya.”
“Aku telepon Ayah aja, setelah dipikir-pikir. Nggak bagus karena Kak Mika bentar lagi jadi suami kamu. Aku nggak mau jadi nyamuk di antara klean.”
“Semprul. Yowis telepon.”
Sekali lagi Dian mematut dirinya di cermin sementara Nafisa memberitahukan ayahnya jika calon pengantin wanita sudah siap.
Bersitatap melalui pantulan cermin dengan sahabatnya, Nafisa mengangkat ibu jari menandakan semuanya sudah sempurna.
“Sip, lima menit nyampe.”
Dian mengerutkan kening.
“Tadi tu waktu aku dianterin sama Syekh, Kak Mikail nelepon dan ngotot kami balik untuk jemput dia. Walhasil setelah aku didrop di sini, mereka nunggu di ujung jalan. Syekh Rafiq udah bete banget sama calon suami kamu.”
Dian tersipu, membayangkan seorang lelaki tak sabar menikahinya.
“Aku nggak salah langkah, kan? Aku nggak kenal keluarganya.”
“Tapi aku kenal. Kak Mika orang baik. Dia tuh banyak yang suka sebenernya, tapi nggak mau memanfaatkan perempuan. Didikan Ibu Maryam banget. Percaya sama aku, dia bukan tipe laki-laki yang mudah mau dekat dengan perempuan. Kenyataan dia gigih nungguin kamu bersedia itu tandanya sudah mantafff betul.”
Lagi-lagi Dian menghela napas.
“Bu Maryam bakal suka nggak, ya. Aku janda anak satu, perempuan kampung.”
Nafisa tergelak.
“Ngeledek kamu. Aku janda anak dua, tanpa masa lalu. Beliau malah sangat mendukung aku menikahi anaknya. Nasib aja akutu kawin dua kali sama laki-laki gemblung.”
Pintu kamar terbuka. Bu Romlah dan Bu Wati masuk untuk menjemput Dian.
“Mas Mikail sudah sampai. Maa syaa Allah, Di. Beruntung kamu dapet calon suami guanteng tenan,” ujar Bu Romlah.
“Udah dateng? Belum juga lima menit,” tanya Dian keheranan sementara Nafisa lagi-lagi terkekeh.
“Siap-siap ya. Kak Mika itu cara pikirnya ekstrim. Romantis radikal. Semoga pernikahan kalian seru dan bahagia ya. Banyak anak.”
Nafisa kemudian melangkah keluar kamar untuk bergabung dengan ayahnya.
Romlah kembali mematut anaknya.
“Sayang, semoga kalian sehidup sesurga,” ucapnya penuh rasa sayang.
“Aamiin. Makasih Bu,” balas Dian, memeluk ibu kandungnya.
“Dian Sayang, kamu akan selalu jadi anak Ibu. Kamu sudah baca surat dari Andika, kan? Bahagialah, dia dan ibu sangat lebih dari ikhlas.”
Dian memeluk ibu dari mendiang suaminya erat-erat.
“Ijin kan Dian untuk menikah lagi, ya Bu. Kenangan buat Mas Andika telah kusimpan sebagai masa lalu yang indah. Sekarang dan selamanya, Ibu tetap jadi ibunya Dian dan Eyang Ibu buat Aisya.”
Dian lalu mencium takzim tangan Bu Romlah dan Bu Wati.
Lalu perlahan mereka berjalan keluar menuju ruang akad.
Di sana Mikail sudah tidak sabar menunggu Dian. Aisya bersorak melihat ibunya datang namun tetap tertib duduk di samping Nafisa.
Yusuf menjadi saksi dari pihak Mikail. Wali nikah adalah salah seorang Paklik dari pihak Dian karena ayahnya sudah tiada.
Jantung Dian berdegup lebih cepat. Netranya bersitatap dengan Mikail yang memandangnya sambil tersenyum.
Meski gugup, namun Mikail lebih dari siap untuk membuka lembaran baru dalam hidup dengan Dian dan Aisya di sisinya.
Penghulu memberikan khotbah nikah dan tibalah saat Mikail menjabat erat tangan Paklik dan mengucapkan kata-kata yang mengikatnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Dian Fitri Kusumo dengan mas kawin tersebut tunai.”
“Bagaimana, saksi? Sah?” Tanya penghulu.
“Sah!” Kata kedua saksi serempak.
Setelah itu Mikail meletakkan tangan ke kening Dian lalu mengucapkan doa, “Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.”
Dian mencium takzim punggung tangan Mikail yang menunjukkan penghormatan.
Aisya langsung menghambur ke arah Dian dan Mikail.
“Bapak …”
Mikail pun langsung menggendong bocah kecil itu dan mencubit gemas pipinya.
“Iya sekarang Pakde udah jadi Bapaknya Aisya. Seneng nggak?”
“Alhamdulillah,” jawab Aisya lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Mikail. Kepalanya disandarkan ke pundak bapak barunya.
Nafisa berdiri hendak memberi selamat ketika tiba-tiba terdengar bunyi air tumpah.
“Ya Allah, Nafisa!”
__ADS_1
***