
Semilir angin pagi menghembus kerudung Nafisa.
“Jangan marah, ya. Kamu makin cantik,” ungkap Zayn yang berjalan di sampingnya.
“Gombal.”
“Loh, dipuji tu bilangnya ‘maa syaa Allah’, bukan gombal.”
“Maa syaa Allah. Makasi, Mas Zayn Malik.”
Nafisa memalingkan wajahnya menghadap pantai untuk menyembunyikan pipi yang bersemu merah.
Zayn tersenyum tertahan.
Sebulan lebih mereka sering menghabiskan waktu di pantai ketika Dim sudah sekolah.
Atau sesekali Zayn mengantarkan Nafisa ke pasar dan di sana mereka bertemu dengan Mika dan Dian.
Meski membatasi hubungan sebagai orang tua Dim, tak dapat dipungkiri jika Zayn dan Nafisa masih saling mencintai.
“Mas tiba-tiba laper, Nafisa mau buatin kacang ijo nggak?”
“Mau. Yuk ke resto.”
Mereka berjalan menikmati suasana pagi yang tenang dan lengang. Mengobrol akrab hingga terkadang saling menggoda.
Dari kejauhan di atas bukit, seseorang mengarahkan teropong ke dua manusia yang sedang menahan rasa.
Dia mengambil hape lalu memberi laporan.
“Kami sudah siap, Pak.”
“Laksanakan. Jika terjadi kesalahan, kamu yang tanggung akibatnya. Aku sudah membayarmu mahal.”
“Siap, laksanakan.”
***
Nafisa dan Zayn sedang menikmati bubur kacang hijau ketika hape Zayn bergetar.
“Aku terima ini dulu. Kacang hijau kamu masih seenak dulu,” ucap Zayn sambil tersenyum.
Nafisa mengangguk lalu menghabiskan bubur yang masih ada di mangkuknya.
Zayn menjauh untuk menerima telepon, tak lama ia kembali dengan wajah cemas.
“Mas harus berangkat, ada yang urgent. Salam buat Dim, ya.”
“Eh nanti ketahuan, loh,” balas Nafisa sambil terkekeh geli.
“Kita kayak backstreet sama anak sendiri. Assalamualaykum Nafisa, nanti malam Mas telepon, ya.”
“Waalaykumussalam, hati-hati Mas.”
Zayn menatap sejenak wajah Nafisa sebelum beranjak pergi.
Begitu laki-laki itu menjauh, Nafisa menghela napas lalu menggumam, “Ya Allah deg-degan.”
Telinga Zayn yang tajam masih bisa mendengar dan senyum lebar pun terkembang di wajahnya yang tampan.
***
Zayn menatap wajah pria yang mengaku bisa membantu untuk mengurus perijinan.
“Ijin untuk tanah sebesar ini akan lama.”
“Saya sabar menunggu.”
“Ada cara jika ingin lebih cepat. Tapi semua ada harganya.”
“Saya ambil jalur lambat saja.”
__ADS_1
“Pantai sudah dibebaskan, apa nggak sayang?”
“Kenapa? Mau saya bangun resort atau tidak, pantai tersebut tetap bisa dinikmati banyak orang. Jika saya bangun resort, akan menyerap lebih dari lima ratus tenaga kerja, belum lagi perputaran usaha akan meningkat. Jadi justru kehadiran resort akan membantu daerah.”
“Jangan salah tangkap, saya hanya ingin membantu Bapak saja.”
“Terima kasih. Jika pun ijin tidak keluar, tidak masalah.”
“Bukankah investor akan keberatan …”
“Saya nggak ada investor.”
“Wah, Pak. Makin rugi dong.”
Zayn diam sejenak untuk menyusun kalimat agar tidak terdengar mengerikan.
“Pak, jika yang dibicarakan adalah cara-cara yang tidak biasa, maka hentikan saja. Saya mau hidup tenang dengan harta berkah. Begitu istri saya selalu mengingatkan.”
“Istri, saya pikir Bapak duda …”
Zayn tersenyum.
“Katakan pada siapa pun yang menyuruh Anda untuk tidak main-main dengan saya dan istri. Mari, saya pamit.”
Zayn kemudian menjabat tangan pria bergaya mentereng yang tergagap. Tak mau berlama-lama dia gegas meninggalkan orang itu.
“Perketat pengawasan ke istri dan anak saya. Juga sepupu saya dan keluarganya. Tambah personil. Saya nggak mau kecolongan,” titah Zayn pada anak buahnya.
***
Dino tersenyum licik mendengar laporan anak buahnya.
“Bagus, jalankan tahap dua.”
***
“Mama kenapa senyum-senyum?”
“Ah masa, biasa aja kok.”
Anak itu berhenti makan lalu terus memerhatikan ibunya dengan lebih seksama.
“Fix, Mama beda dari biasanya.”
“Sama. Ayo abisin telor rebus sama roti bakarnya.”
“Ma, emang Mama mau nikah sama Oom Bupati?”
Nafisa langsung menghentikan kegiatan.
“Pak Dino? Enggak, lah. Ngobrol aja sekarang jarang. Dulu sih kamu tau sendiri dia sering ke sini. Kata siapa, Mas Dim?”
“Ada ibu-ibu di sekolah yang nanya.”
“Terus kamu bilang apa?”
“Aku diemin aja. Eh dia malah ngomel, katanya belum jadi anak bupati aja udah belagu. Aku males nanggepin.”
“Bener, Mas, nggak penting. Kamu kenal ibu-ibunya?”
“Nah itu dia, Ma. Aku nggak pernah liat dia. Cuma ya gitu deh, dia ngomongnya keras-keras di depan banyak orang. Jadi sekarang Mama harus hati-hati ke sekolah. Pasti bakal banyak yang nanya.”
“Mas Dim, kalau Mama mau nikah lagi, pasti kamu yang pertama tahu. Dan Mas juga tau kan kalau Mama dan Papa belum resmi bercerai meski kami nggak hidup bareng.”
Dimiko mendadak waspada.
“Loh, emang Mama mau balikan sama Papa? Aku nggak mau loh, Ma.”
Nafisa kini duduk di samping anaknya. Wajah Dim memberungut dengan bibir langsung monyong.
“Kenapa? Bukannya enak punya Papa dan saudara?”
__ADS_1
“Nggak. Pokoknya nggak. Mama kalau aku sekolah pasti diem-diem ketemu Papa, kan?”
“Duh ni, anak … maa syaa Allah,” batin Nafisa tergagap.
Tak mau mengajarkan anaknya untuk berbohong, Nafisa pun menjelaskan.
“Mama kadang ketemu Papa, tapi lebih banyak ngomongin tentang Dim. Papa kan pengin kenal kamu dari Mama.”
“Mama, nanti Mama sedih lagi. Dim nggak mau,” rengek Dim sambil menangkup wajah Nafisa menatap maniknya lekat.
“In syaa Allah, enggak, Sayang. Tapi Dim, Mama masih cinta dan sayang sama Papa, gimana dong?”
“Papanya?”
“Sama masih sayang juga sama Mama.”
“Aaah Dim nggak bisa mikirin. Pokoknya Dim nggak mau Papa deket-deket Mama. Titik. Dim mau sekolah. Nanti sore Dim mau main sama Cinta abis antar rantang. Assalamualaykum.”
Anak itu mencium tangan ibunya sambil menatap curiga lalu kabur mengambil sepeda dan langsung berangkat sekolah.
Sepuluh menit berlalu, hape Nafisa bergetar.
“Assalamualaykum, Mas.”
“Waalaykumussalam. Kenapa Dim manyun gitu berangkat sekolah?”
“Kita ketauan sering ketemu. Dia langsung ngambek,” ucap Nafisa dengan suaranya yang lembut dan selalu dirindukan Zayn.
“Gini tho rasanya backstreet,” gumam Zayn membayangkan dirinya berada dalam satu rumah bersama Nafisa.
Keduanya terkekeh geli.
“Mas, masak ada ibu-ibu yang Dim nggak kenal tiba-tiba bilang kalau aku mau nikah sama Pak Dino.”
Zayn menghela napas.
“Kalian harus waspada, ya. Sebenarnya yang disasar aku. Pak Dino menghentikan proses perijinan pembangunan resort dan sekarang perusahaan Mika dan klinik Dian tiba-tiba diperiksa pajak-pajaknya. Entah lah kok aku ada vibe nggak enak.”
“Tapi apa sebabnya ya? Berkaitan nggak ya dengan beberapa bookingan catering yang dibatalkan?
“Kamu nggak bilang ke aku?”
“Awalnya aku pikir biasa aja. Dari dulu catering dicancel emang bisa terjadi. Tapi ini udah tiga dari lima bookingan. Mereka pindah ke catering lain yang bagaimana, ya, bilangnya. Jauuuh banget kualitasnya dibanding Hidangan Pantai sementara harganya jauuuuh banget di atas.”
“Nanti aku selidiki. Mas juga udah tambah pengawal buat awasin Dim dan kamu.”
Keduanya terdiam.
“Mas, Pak Dino memang pernah menyatakan ingin mengenal Nafisa lebih dekat. Jauh sebelum kita ketemu lagi. Bulan lalu waktu Mas, Cinta, dan Ibu ke sini, aku cerita kalau kita masih terikat pernikahan. Tapi masa iya sih ini semua ada kaitannya sama Pak Dino.”
“Belum ada bukti konkrit tapi sudah ada slentingan dari anak buahku. Bismillah aja, kita minta dijagain sama Allah. Oya, hari ini Mas nggak bisa ke tempat kamu. Ada janji temu di Surabaya.”
“Mmm …”
“Kangen?”
Wajah Nafisa bersemu merah.
“Iya …”
“Cuma sehari, besok atau kalau cepat, nanti malam Mas pulang. Mas mau ketemu orang buat coba desak perijinan dari sana.”
“Semoga lancar, Mas.”
“I love you, Nafisa. Always.”
“I …. Ah nanti aja kalau Mas pulang.”
“Awas ya, kamu. Bye, assalamualaykum.”
***
__ADS_1