Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Ulah Dela


__ADS_3

Dela yang usai memeriksakan kandungan berjalan santai melintas lobby rumah sakit.


Kini dia tinggal menunggu HPL. Diusapnya lembut perutnya yang membuncit.


“Kamu adalah jaminan Papa untuk terus bersama Mama. Kita akan jadi keluarga bahagia. Mama akan kasih kamu banyak adik sehingga Papa nggak sempat memikirkan mantan istri brengseknya itu.”


Seulas senyum kemenangan terbit di wajah Dela.


Senyum itu hilang ketika melihat seorang wanita bercadar, keluar dari mobil mewah ditemani Zayn dan Maryam Malik.


Dari mobil di belakangnya turun beberapa bodyguard dan dua orang wanita yang berjalan sedikit di belakang Maryam dan Nafisa.


Diam-diam dia mengikuti rombongan itu. Dari jarak aman karena bodyguard Zayn bergiliran memantau sekelilingnya.


Langkah Dela terhenti ketika mereka masuk ke lift, menyisakan satu bodyguard berjaga.


Otaknya berpikir keras. Dia tidak bisa melihat ekspresi wajah Nafisa yang tertutup cadar, namun dari gestur Maryam Malik yang merangkul wanita itu, terlihat bahwa mereka mengantar Nafisa.


Dela gegas menuju ke lift di sisi lainnya agar tidak berhadapan dengan bodyguard Zayn Malik.


“Apapun yang lu rencanakan, gue harap nggak ada hubungannya sama calon istri gue.”


Dela memutar badannya ketika mendengar suara bariton dengan nada dingin.


“Eh, Zayn. Gue baru mau periksa kandungan,” jawab Dela tergagap.


“Ck ck ck, Dela, Dela. Terbuat dari apa sih otak lu itu? Gimana cara lu mau periksa sementara supir lu celingak-celinguk nungguin di depan.”


Dela menoleh ke arah lobby dan melihat mobilnya masih menunggu di sana.


“Lu bukan lawan gue, Del. Pergi, sebelum gue kehilangan kesabaran. Lu belum lupa kan, gimana gue?”


Walau tidak pernah punya masalah langsung dengan Zayn Malik, namun reputasi memiliki sifat keras dan bengis melekat di laki-laki di depannya.


“Apa yang lu liat dari dia Zayn? Come on … Lu ceraikan Val cuma buat perempuan macam Nafisa? Lu bakal nyesel.”


Netra Zayn mengeruh, Dela sadar dirinya telah salah bicara.


“Yang jelas gue udah menyesal berdiri di sini buat ngomong sama lu. Pergi.” Usir Zayn dengan tatapan menusuk.


Sambil melangkah pergi, Dela berkata, “Lu bakal nyesel, Zayn. Percaya sama gue.”


“Hati-hati, Del. Gue rasa elu yang bakal nyesel.”


Dela berjalan menjauh sementara Zayn kembali ke depan lift.


“Kalau perempuan gila itu balik lagi, kamu kabari saya segera.”


“Perlu anggota untuk memantau lebih dekat?”


“Belum dulu.”


***


Di dalam mobilnya, Dela menelepon rumah sakit.


“Halo, maaf saya dengan Nafisa Salsabila, saya ada janji tapi lupa dokternya di lantai berapa.”


“Tanggal lahirnya bu?”


Setelah menyebutkan tanggal lahir mantan istri suaminya, Dela menunggu dengan harap-harap cemas.


“Dokter Yuni, psikolog ada di lantai empat, ya Bu.”


“Terima kasih.”


Setelah menutup telepon, Dela langsung memikirkan sebuah rencana untuk tahu kondisi Nafisa sesungguhnya.


***


Nafisa duduk di sofa nyaman yang disediakan oleh psikolog di depannya. Ini adalah kali kedua dia bertemu. Saat pertama, Nafisa masih belum mau bercerita.


Wanita itu bernama Dokter Yuni. Ibunya adalah sahabat Maryam sebelum meninggal beberapa tahun lalu.


Usianya beberapa tahun di atas Zayn, nampak keibuan dan perhatian.


“Bisa ceritakan tentang dirimu, Nafi?”


“Nafisa.”


“Oh, kupikir nama panggilanmu Nafi, karena biasanya kan orang Indonesia suka memakai dua suku kata. Jadi, Nafi?”


Dari wawancara dengan Maryam pasca kejadian trauma, dokter itu mengetahui Nafisa memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mbak Nafi’.


“Nafisa, Bu. Walau saya merasa nama Nafi itu pernah lekat di hati saya.”


“Baiklah. Jadi benar nggak boleh panggil Nafi, nih? Seloroh Dokter Yuni.


“Entahlah, akhir-akhir ini di telingaku sering terdengar seseorang memanggilku Mbak Nafi.”


“Oya? Suara laki atau perempuan?”


“Dua-duanya. Tapi aku nggak bisa ingat siapa pun.”

__ADS_1


Dokter Yuni tersenyum memerhatikan bahwa Nafisa telah mengubah panggilan saya menjadi aku, sebuah tanda dia mulai merasa nyaman.


“By the way, apa perasaan kamu sekarang?”


“Bingung dan gamang. Ibu Sepuh ngotot aku harus ketemu Dokter Yuni, padahal aku sudah buat janji temu dengan psikolog lain dua hari lagi. Menurut beliau, tadi malam aku meracau, hanya saja aku nggak ingat sama sekali.”


Dokter Yuni membaca transkrip wawancara dengan Maryam dan Zayn juga Mbok Mi dan Lastri pagi-pagi sebelum mereka bertemu.


Kondisi Nafisa sangat memprihatinkan, tanda wanita itu mengalami trauma hebat.


“Apa yang ingin kamu rasakan?”


“Bisa mengasuh dan membesarkan anak-anakku sepenuhnya. Aurelie dan Milo.”


“Bagaimana kamu bisa mewujudkan keinginan kamu?”


Nafisa menggeleng.


“Entahlah Dokter, rasanya jiwa dan mentalku sudah sangat lelah untuk berjuang. Seperti sedang main lego, aku sudah menyusunnya tinggi kemudian ada saja yang membuatnya hancur.”


“Kamu pengin berhenti berjuang buat anak-anakmu?”


Terdengar hela napas Nafisa. Kemudian wanita itu menggeleng.


“Semenjak keluar dari penjara, pikiranku kacau. Aku seperti bukan diriku lagi. Terkadang untuk bisa bernapas saja aku sulit, Dokter. Kemarin waktu giliranku bersama anak-anak, semua terasa indah. Namun bagaimana jika apa yang disebut trauma itu muncul saat aku bersama anak-anak. Mereka pasti ketakutan.”


Sebutir air bening menetes.


“Mereka adalah hidupku, nyawaku. Tapi aku lebih baik membiarkan ayahnya mengasuk mereka jika keberadaanku malah membahayakan.”


“Kamu mau menjadi kuat dan tegar?”


Nafisa menggangguk.


“Tegar dan baik hati, kata Bunda.”


“Bunda?”


“Iya, Bunda yang bilang seperti itu supaya Mbak Nafi tegar dan baik hati.”


Nafisa tak sadar jika alam bawah sadarnya mulai membuka kenangan masa lalu.


“Nah, aku ingin Nafisa punya semangat seperti yang dipesankan Bunda. Hidup itu nggak selamanya manis, tapi kalau pahit banget juga nggak selamanya begitu.”


“Nafisa sebut Bunda ya barusan?”


Dokter Yuni dengan sikap profesionalnya tetap tenang walau hal tersebut adalah temuan besar bagi orang yang telah amnesia lebih dari sepuluh tahun.


“Iya, Bundamu pengin Nafisa tegar dan baik hati.”


“Yang jelas, karena Bunda menasihati demikian artinya Bunda sendiri juga orang yang tegar dan baik hati.”


“Sangat. Walau sakit, Bunda tetap mau bantuin tetangga-tetangga untuk urusan apapun. Bunda gampang disukai orang, banyak juga yang sayang.”


Lagi-lagi Nafisa menceritakan ingatan yang terkubur bertahun-tahun.


Netra Nafisa makin berbinar, di balik cadar ia tersenyum.


“Bagus, kamu sudah mulai mengingat.”


“Aku akan coba mengingat lebih banyak, Dokter.”


“Jangan dipaksa. Ingatan kita berlapis-lapis, dia akan muncul secara bertahap. Sekarang Mbak Nafi harus terus semangat menghadapi masa depan berbekal nasihat Bunda. Itu akan mendorong ingatan masa lalu untuk muncul.”


Dokter Yuni sengaja memanggil Mbak Nafi untuk memancing ingatan secara halus.


“Hanya kita berdua di sini dan tidak ada kamera. Bolehkan aku melihat wajahmu?”


Ragu sejenak, kemudian Nafisa menurunkan cadarnya.


Dokter Yuni terkagum melihat kecantikan yang ditutupi dengan ikhlas. Meski kulitnya masih pucat dan matanya menyorotkan ragu dan takut.


Jemari Dokter Yuni meraih jemari Nafisa lalu menggenggamnya hangat.


“Aku akan selalu menyertaimu sampai kamu kuat. Jangan ragu untuk meneleponku pagi, sore, siang, malam jika kamu ingin bicara. Jika aku sedang ada pasien, in syaa Allah akan segera kutelepon.”


Nafisa tersenyum menampilkan jajaran gigi geligi yang rapi, netra kini menyorot teduh.


“Terima kasih, Dokter. Nafisa sebatang kara. Mau cerita sama Bu Maryam takut membebani, Mbok Mi dan Lastri juga rikuh karena mereka punya beban sendiri.”


“Kamu punya sahabat?”


“Teman-teman panti yang akrab sedang merantau jadi TKW di Malaysia dan Arab Saudi. Dulu, Nafisa ada suami. Tapi sekarang sudah berpisah. Kadang menjadi tegar dan baik hati itu melelahkan. Apalagi kalau sendiri. Ternyata sendiri itu menakutkan dalam kondisi ini.”


“Ada aku. Setiap kali kamu lelah, telepon, kita ngupi, ketawa-ketawa, sampai lelahmu hilang.


“Terima kasih, setelah ngobrol, Nafisa lega walau belum plong.”


“Bertahap, Sayang.”


Nafisa mengenakan lagi cadarnya ketika Dokter Yuni memanggil masuk Maryam dan Zayn.


Sangat merasa khawatir, Zayn terus menatap Nafisa. Ingin rasanya merengkuh tubuh kurus dan jiwa rapuh itu untuk melindungi dari kerasnya dunia.

__ADS_1


Kemudian Zayn teringat bahwa dialah yang berkontribusi besar terhadap trauma yang dimiliki Nafisa.


“Bagaimana Nafisa, Dokter?” Tanya Zayn langsung.


“Masih bertahap tapi saya yakin ujung terowongan sudah terlihat. Ada titik terang yang mulai nampak.”


Maryam duduk di samping Nafisa dan langsung merangkul.


“Tenang, ada Ibu, Mbok Mi, dan Lastri. Dokter Yuni juga akan terus dampingin kamu.”


“Ada aku juga, Bu,” ucap Zayn tak mau kalah.


“Tuh, Zayn juga udah siap,” seloroh Maryam.


Nafisa mengangguk sambil mengangkat alis. Tiba-tiba ada rasa hangat menjalar di hati Zayn melihat netra Nafisa yang mulai memancarkan semangat.


“Kita ketemu lagi minggu depan. Ingat pesanku, ya, Mbak Nafi.”


Setelah berpamitan, mereka pun pulang. Dokter Yuni mencatat hasil pertemuan termasuk juga transkrip ke dalam komputer.


“Aku yakin kamu akan kembali seperti sedia kala.”


Setelah selesai memasukan semua catatan, Dokter Yuni pun memeriksa catatan pasien berikutnya yang masih akan bertemu nanti sore.


“Jam 16.00, Dela Mayangsari.”


***


Beberapa waktu berlalu, Dela duduk di kantornya dengan map coklat di tangan.


“Senangnya kalau banyak orang bisa disogok,” gumam Dela sambil terkekeh.


Dela mendaftarkan diri menjadi pasien tetap Dokter Yuni. Sikap dan pembawaan yang ramah mempermudah dirinya berteman dengan perawat yang bertugas di sana.


Salah satu perawat sedang terlibat kesulitan uang karena ibunya terkena kanker. Dengan lihai, Dela menawarkan bantuan. Penuh ketelatenan ia mengakrabkan diri hingga akhirnya untuk membalas budi ketika meminta perawat itu memberikan file pasien Nafisa Salsabila, dengan mudah wanita itu mendapatkannya.


Dela terkekeh membaca betapa Nafisa begitu menderita di penjara sehingga menimbulkan trauma.


“Well, kamu akan tersiksa lagi seperti di dalam sel, Nafisa. Kamu akan gila atau mati. Dengan menghilangkanmu, aku baru bisa benar-benar yakin Reno hanya mencintaiku,” gumam Dela dengan seringai keji menghiasi wajah.


***


Nafisa berjuang keras mengendalikan traumanya. Dokter Yuni mengajari Nafisa untuk mengatasi apabila ingatan buruk kembali muncul.


Kesibukan di kedai-kedai dan jadwal bersama anak-anak sangat membantu Nafisa untuk mengalihkan pikiran.


Pesanan datang bertubi-tubi membuat kedai-kedainya menjadi tempat kuliner yang paling diminati di ibukota.


Nafisa selalu bersyukur karena bersama kesulitan selalu ada kemudahan yang datang.


Hubungannya dengan Zayn belum ada kemajuan yang berarti. Dengan gigih Zayn memang berusaha memenangkan hati Nafisa, namun entah kenapa Nafisa malah mati rasa.


Mikail dengan cara aneh juga mengungkapkan perasaannya pada Nafisa.


Pria itu mengirim balon terbang berwarna pink bertuliskan ‘Aku suka kamu, Nafisa’ lengkap bersama foto Mikail membawa mawar merah.


Kedai heboh. Pelanggan dan karyawan menarik Nafisa untuk keluar dan melihat balon terbang bertuliskan namanya dan foto Mikail.


Masih terbengong, Nafisa mendapati Mikail di hadapannya membawa satu buket besar mawar merah.


Entah apa yang ada di benak pria itu menyergap Nafisa dengan luapan cinta. Yang jelas setelah adegan fenomenal itu Nafisa harus menjelaskan kepada Mikail yang memasang muka badak bahwa dia belum bisa membuka hati.


Meski ditolak, dengan yakin Mikail mengatakan bahwa suatu saat Nafisa akan jatuh cinta padanya.


Kejadian itu membuat Nafisa semakin dikenal. Bahkan tidak sedikit undangan podcast maupun wawancara di TV yang diterima.


Untuk menjaga hubungan baik, Nafisa hanya muncul di podcast salah seorang host wanita terkenal yang bukan hanya mengangkat sisi unik kejadian balon terbang, namun perjuangan Nafisa untuk bertahan.


Meski demikian, tidak sekali pun Nafisa membongkar aib Reno sebagai suaminya.


Bukan karena cinta, tapi karena keyakinan jika ia menutup aib orang lain, Allah akan menutup aibnya.


Sekali lagi Nafisa berhasil mencuri hati para memirsa podcast.


Rangkaian kejadian ini membuat Dela terbakar karena tidak rela Nafisa dielu-elukan sebagai wanita tegar dan baik hati.


Wanita itu merasa jika jauh di dalam hati, Reno masih mencintai Nafisa. Namun suaminya berhasil menyembunyikan rapat-rapat perasaan terlarang itu.


Diambilnya hape lalu ia menuliskan sebuah perintah: Laksanakan!


***


Nafisa berjalan menuju mobil yang diparkir di depan kedai. Meski masih menjelang sore tapi ia memutuskan pulang cepat.


Besok dia gilirannya menjemput Aurelie dan Milo. Dia ingin belanja dulu di supermarket.


Belum sempat masuk ke mobil, seseorang menutup kepalanya dengan kain hitam. Nafisa berteriak.


Para pegawai dan orang di sekitar pun berteriak ngeri melihat kejadian yang menimpa Nafisa. Penculik mengacungkan pistol sehingga tidak ada orang yang berani menolong.


Dalam hitungan detik, Nafisa sudah ditarik masuk ke kendaraan van hitam yang langsung melesat pergi.


Sebuah pesan masuk ke hape Dela: Sudah kami ciduk. Ditunggu bayarannya.

__ADS_1


***


__ADS_2