Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Pasangan yang Diuji


__ADS_3

Dela duduk di ruangan kantornya. Kantor mewah yang dia rahasiakan kepemilikannya dari Reno.


Di mata Reno, Dela masih dalam tahap meneruskan usaha ayahnya yang sempat terbengkalai.


Seorang anak buahnya masuk.


“Bu, apa sudah yakin kita akan eksekusi rencana untuk Pak Reno?”


“Yap. Semua sudah siap?”


“Siap. Perusahaan Pak Reno bakal ambruk …”


“Kerjakan saja,” titah Dela sambil memutar kursinya ke arah pemandangan kota Bandung.


“Baik,” sahut pegawai sambil beringsut pergi, enggan berlama-lama jika bos-nya sedang bad mood.


“Ren, aku akan jadi malaikat penyelamat dan setelah itu kamu nggak akan mau berpisah dari aku,” ucap Dela dengan seringai licik.


***


Reno memandang masygul proyek town house yang tiba-tiba mangkrak.


Kebodohannya menghabiskan waktu dengan Dela membuatnya lalai terhadap kewajiban utama sebagai pemilik bisnis: memastikan bisnisnya berjalan sesuai target.


Dana di perusahaannya masih diinvestasikan di perusahaan Dela namun baru dikembalikan secara bertahap karena terkait perjanjian jangka waktu pencairan.


“Maaf, Pak Reno. Di depan gerbang ada para pembeli yang demo karena tau Bapak ada di sini,” ucap salah seorang mandor yang baru saja lari tergopoh-gopoh.


Reno memijit pucuk hidungnya. Belum selesai masalah yang satu kini masalah yang lain datang.


Setelah mempersiapkan mental, Reno berjalan ke arah gerbang.


Merutuki kebodohannya sudah sia-sia. Saatnya menghadapi konsekuensi.


“Heh itu Reno Bastian!” Teriak salah seorang customer.


“Selamat siang Bapak-bapak dan Ibu ..” Suara Reno menggantung karena terpotong teriakan marah.


“Sudah nggak usah basa-basi! Kembalikan duit kami atau Anda kami polisikan!”


“Delapan bulan nggak ada kemajuan!”


Para pembeli itu sudah berteriak, sebagian memaki dengan kata-kata kasar.


“Saya beli ini dengan uang pensiun karena akan dijual lagi, sekarang mana? Reno kamu harus tanggung jawab!”


Kecut, Reno menghadapi kekecewaan para pembeli. Dia sudah berpengalaman membangun perumahan dan town house. Reputasi sebelumnya sangat baik, namun kini hancur berantakan.


“Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Ijin saya jelaskan. Ya memang ada kesalahan dari pihak kami. Tolong beri waktu untuk memperbaiki dan proyek bisa berlanjut.”


“Apa jaminannya?”


“Saya yakin proyek ini akan selesai, in syaa Allah. Mohon beri waktu, tiga bulan hingga semua berjalan lancar.”


“Reno! Saya tau reputasi kamu bagus. Tolong jangan kecewakan kami. Keterlambatan memang bisa saja terjadi, namun yang kami lihat di sini tidak ada kemajuan! Kehabisan dana ya kamu?”


“Tolong Pak, beri saya kesempatan. Rumah Bapak dan Ibu sekalian akan diserahterimakan. Mohon maaf jika ada keterlambatan tapi saya komit untuk menyelesaikan.”


“Catat ini Reno, jika dalam waktu satu bulan tidak ada kemajuan, kamu akan saya laporkan ke polisi!”


Bulir-bulir keringat muncul di kening Reno.


“In syaa Allah saya akan jaga amanah. Maafkan saya.”


Masih menggerundel, para pembeli meninggalkan area proyek.


Walau beban menghimpit dada, namun Reno bersyukur masih dapat perpanjangan waktu.


Tangannya meraih hape lalu menelepon Dela.


“Hi, Ren.”


“Hai. Del, apa ada dana yang bisa cair secepatnya? Nggak apa deh gue bayar penalti.”


“Sayang, Ren. Lu perlu berapa sih?”


“Buat kelarin semuanya gue perlu 30 milyar.”


Di seberang, Dela tersenyum licik.


“Gini, lu nggak usah cairin investasi, mending lu pinjem dana sekitar 20 milyar. Lu bisa bayar pas investasi lu jatuh tempo. Ya emang profitnya kepangkas sama bunga hutang sih. Tapi itu masih lebih sedikit dari pada penalti yang harus lu bayar.”


“Pinjaman ya, Del?” Reno mengusap kasar wajahnya.


“Ini jalan keluar terbaik. Gue ada temen namanya Zayn Malik. Emang bunganya tinggi, tapi nggak perlu ribet kayak di bank.”


“Sial! Rumah gue paling cuma 5M doang.”


“Dia temen gue, nanti gue bilangin buat bantuin lu. Besok gue set up buat ketemuan. Dia tinggal di Yogya, tapi sering ke sini anter ibunya buat check up. Ibunya kena stroke.”


“Oh, I see. Mmm investasi gue beneran nggak bisa dicairin?”


“Bisa, Ren, tapi ya lu bakal kena penalti gede banget karena itu jatuh temponya masih tahun depan, kan? Sorry gue pikir company lu cukup mapan jadi gue sodorin investasi jangka panjang.”


“Gue pikirin dulu deh, Del.”


“Okay, let me know your decision.”


***


Setelah menyudahi percakapan dengan Reno, tangan Dela membuka laci meja kerjanya.


Ditariknya album fotonya jaman dulu saat masih SMA bersama Reno. Seulas senyum di bibirnya terbersit mengingat betapa bahagianya mereka saat itu.


Telunjuknya mengusap foto Reno yang sedang tertawa lebar dengan satu tangan merangkulnya di depan kampus.


“Kamu nggak berubah sama sekali, Ren. Makin ganteng malah,” gumamnya sambil terus menatap foto.

__ADS_1


Kemudian diambil juga setumpuk foto Reno, Nafisa, Aurelie, dan Milo yang diam-diam diambil karyawannya.


“Harusnya aku yang jadi ibu anak-anak kamu, Ren.”


Matanya mau tak mau memandang wajah Nafisa.


“Aku akan menggantikan kamu sebagai istri dan ibu dari anak-anak Reno. Tunggu aja. Dasar perempuan buangan,” ucap Dela sambil mendengus.


Dela sudah menyelidiki Nafisa dan semuanya berujung pada sebuah panti asuhan yang tidak lagi beroperasi sejak pengasuh sekaligus pemiliknya meninggal dunia.


Tak ada lagi informasi yang bisa digali tentang Nafisa. Itulah yang membuat Dela merasa si atas angin mengingat dia dilahirkan dari keluarga yang cukup terpandang di daerahnya.


Sambil tertawa kecil, Dela mengirim perintah ke anak buahnya.


“Viralkan demo pembeli di proyek Pak Reno.”


Tak lama, jawaban masuk ke hape Dela.


“Sudah, Bu.”


***


Nafisa menemani Reno untuk menemui Zayn Malik di kantornya. Mereka sedang menunggu di ruang rapat.


Zayn Malik, adalah pengusaha yang akan memberikan pinjaman untuk menolong keuangan perusahaan Reno.


Tidak ada pilihan lain setelah demo di depan gerbang proyek viral, beberapa investor mencabut investasi mereka, belum lagi reputasi Reno tercemar menjadi pengembang abal-abal.


Belum lagi ancaman pembeli yang semakin gencar akan melaporkan Reno ke polisi.


Pinjaman akan menjadi jembatan untuk mengembalikan perusahaann ke jalan yang seharusnya.


Nafisa memegang tangan Reno sembari berkata, “Bang, kita bakal punya hutang gede banget.”


“Abang memang salah perhitungan. Semua investasi perusahaan belum bisa dicairkan dan setelah Abang hitung, penalti karena pencairan sebelum jatuh tempo akan sangat merugikan.”


“Aku nggak bisa ya bantu pakai jualan kue?” Gumam Nafisa lirih, hatinya menidakkan keputusan suaminya, namun ada risiko lebih besar. Reno terancam dilaporkan ke polisi.


Penuh rasa sayang, Reno menatap istri cantik ya.


“Pinjaman ini adalah bridging aja karena saat penalti sudah tidak terlalu besar, Abang akan ciarkan investasi. Dela juga akan bantu.”


Nafisa merenung kemudian kembali mengajukan keberatan.


“Rumah kita akan jadi jaminan, Bang. Aku takut.”


“Ssshh. Bismillaah. Abang nggak akan biarkan hal buruk terjadi sama kita.”


Reno merangkul lalu mencium kening Nafisa.


Dari kejauhan Dela menatap dengan pandangan marah pada sepasang suami istri yang terlihat sangat saling mencintai.


“Del, kita temuin mereka sekarang?”


Sosok tinggi besar berambut ikal kecoklatan dengan jenggot rapi menutupi bentuk rahang yang sempurna menyapa Dela.


“Eh , Zayn, bikin kaget lu.”


“Kok bisa ya, orang sekelas Reno salah perhitungan?”


Dela tidak menyahut hanya mengendik, namun dalam hati dia menjawab, “Mana bisa dia menolak portofolio investasi yang kutawarkan setelah servis sedemikan nikmat hingga dia ketagihan.”


Semua program investasi memang dibuat sedemikian oleh Dela menjadi sebuah perangkap yang disiapkan untuk menjerat Reno.


“Lu nggak macem2 sama Reno, kan, Del? Gue nggak mau terlibat, apalagi ini duit gede.”


Berbohong, Dela menjawab, “Nggak lah. Lu dah gue kasih semua data tentang Reno, dari usaha sampai asetnya. Lu putusin sendiri, kalau nggak nyaman ya udah.”


“Fine. Soalnya gue nggak ada waktu buat ngurus ***** bengek di luar bisnis.”


“Aman. Yuk kita temuin mereka.”


Dela berjalan mendului Zayn menuju ruang rapt. Jantungnya berdegup. Ini adalah kali pertama dirinya berjumpa langsung sejak Reno menyudahi hubungan ranjang mereka.


Berbeda dengan Reno yang biasa saja karena walau sempat tumbuh rasa sayang, namun baginya, Dela hanyalah sebatas pemuas napsu.


“Hai, Del. Apakabar, thanks udah arrange ini.” Sapa Reno mengatupkan tangan tidak ingin menyentuh Dela.


Nafisa pun menyapa ramah ke Dela. “Hai, Un. Makasi ya udah bantuin Abang.”


“Sure, don’t mention it. Uni dan Reno udah temenan dari SMA.”


Reno kemudian memperkenalkan dirinya dan Nafisa pada Zayn.


Tak ingin membuang waktu untuk berbasa-basi, Zayn mempersilakan semua duduk.”


“Jadi Pak Reno ingin meminjam dua puluh milyar dengan jaminan rumah dan sebidang tanah di kawasan Klenjer seluas 1 hektar.”


“Betul Pak Zayn.”


“Jika pinjaman turun, maka Anda harus sudah menyicil pokok dan bunga mulai bulan depan.”


Reno mengangguk sementara Nafisa mengernyit. Dirinya tidak menyukai pinjaman dengan bentuk bunga karena menyalahi aturan dalam agama.


Mengetahui reaksi istrinya, Reno meraih kemudian menggenggam tangan Nafisa.


Lembut, Reno berkata sambil menatap Nafisa untuk meyakinkannya, “Bismillaah, in syaa Allah kita bisa mulai menyicil.”


“Nanti Uni juga bantu pencairan investasi,” imbuh Dela meyakinkan.


Zayn melanjutkan lagi, “Untuk pelunasan sebagian ada fee yang harus dibayarkan. Anda sudah baca semua ketentuan saya, kan?”


“Sudah Pak Zayn.”


“Apakah sudah siap kita menandatangani perjanjian hutang piutang?”


“In syaa Allah.”

__ADS_1


“Silakan Ibu tanda tangan di surat penjaminan karena aset yang dijaminkan atas nama Anda.”


Nafisa mengangguk.


Setelah proses selesai, Zayn berkata lagi, “Perjanjian ini akan dikirim ke notaris. Secepatnya akan saya kirim berkas ke kantor Anda. Pencairan akan dilakukan dua hari dari sekarang. Terima kasih.”


Zayn berdiri, mengangguk sekilas lalu keluar ruangan.


Wajah Reno memancarkan kelegaan, setidaknya dia punya dana sambung napas untuk melanjutkan proyek town house yang mangkrak.


“Del, thanks ya.”


“Don’t mention it. Gue juga akan push untuk pencairan investasi. Semoga semua lancar.”


“Aamiin …” Balas Reno dan Nafisa berbarengan.


Setelah keduanya meninggalkan ruang meeting, Dela masih duduk di sana sambil mengamati gerak gerim Reno dan Nafisa.


Pura-pura mengetikkan sesuatu di hapenya karena tidak ingin Zayn curiga ada sesuatu antara dirinya dan Reno.


Setidaknya pernah ada sesuatu di antara mereka yang melewati batas kesucian sebuah ikrar.


Diam-diam hati Dela tercubit melihat betapa sayang dan melindungi Reno terhadap Nafisa.


Terlepas dari rasa cinta Dela yang tak lekang oleh waktu, perlakuan Reno padanya tidak pernah lebih dari pencari kenikmatan atas tubuhnya.


“Semoga rencanaku berhasil dan kita akan mewujudkan mimpi-mimpi kita, Ren.”


***


Seperti yang dijanjikan Zayn, dua hari kemudian dana pinjaman dicairkan ke rekening perusahaan.


Reno bisa bernapas lega dan dana tersebut langsung digunakan untuk melanjutkan proyek, membayar hutang vendor yang menggunung, dan sebagian dipakai sebagai cadangan.


Nafisa berusaha membantu suaminya dengan melebarkan pasar kue-kue jajan pasar dan menerima lebih banyak pesanan kue ulang tahun.


Setidaknya ia tidak ingin membebani Reno dengan biaya rumah tangga yang semakin hari semakin bertambah karena harga barang yang terus naik.


Semuanya dilakukan dengan ikhlas, semata untuk keluarganya.


***


Beberapa minggu kemudian, Reno menerima pesan dari Dela, “Ren, gue mau kasih cek pencairan profit investasi. Lumayan ada lima ratus juta. Plus ada juga investasi yang gue bisa tarik tanpa penalti kurang lebih dua milyar. Kita ketemu di apartemen Taman Mawar?”


Reno membaca sambil mengernyit. Dia sangat memerlukan dana namun dia tidak ingin menemui Dela.


Bagaimana pun pria itu pernah merasakan pertempuran di ranjang bersama Dela.


Pertempuran yang memberi kenikmatan penuh dosa namun tidak dapat dipungkiri dia juga merindukannya.


Tangannya mengetikkan jawaban.


“Ketemu di kantor aja?”


Tak lama jawaban dari Dela, “Ren! Gue udah pasang badan buat elu. Please gue juga nggak mau ngapa-ngapain. Cuma gue emang lagi males keluar dan cek sebesar gini kan nggak bisa gue kirim pake ojol.”


Enggan namun terpaksa mengingat dana pinjaman sudah semakin menipis karena operasional, Reno mengiyakan.


Selepas makan siang bersama vendor, dia menuju apartemen.


Di lobby, dia menelepon Dela.


“Del, ketemu di bawah aja.”


Suara Dela terdengar serak seperti baru bangun tidur.


“Nggak bisa Ren, gue agak nggak enak badan. Naik bentar lah. Sekalian gue mau minta tolong sama elu.”


“Gue nggak bisa lama.”


“I know. Bentar doang. Tuh pintu ke elevator dan gue buka dari sini. Kamar 1012 ya.”


Gegas Reno ke atas. Tekatnya adalah mengambil cek yang menjadi haknya dan kemudian pulang.


Di depan kamar 1012, Reno melongok masuk karena pintu tidak dikunci.


“Del,” panggilnya.


Dari arah kamar, terdengar suara Dela.


“Ren, tolong bantuin, gue jatuh.”


Refleks, Reno langsung berlari ke arah kamar. Dilihatnya Dela sedang berusaha bangun dari lantai.


“Del, kenapa lu?”


“Tadi gue pusing banget abis bukain pintu buat lu.”


Reno lalu memapah Dela untuk kembali ke tempat tidur.


“Ren, ceknya ada di atas nakas. Lu ambil aja, gue mau tidur. Lu tutup pintu apartemen ya.”


Siang itu, Dela memakai piama dari bahan satin berwarna peach. Warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang mulus.


Selama petualangan mereka, Dela tidak pernah memakai piyama. Ada gelenyar menggelitik yang dirasakan Reno.


Menelan saliva, ia maju menghampiri Dela.


“Del …”


Tangannya menyentuh pipi Dela dan entah bagaimana, dalam sedetik bibir mereka bertautan melepas napsu yang sudah tertahan sekian lama.


Siang itu, Reno kembali mengkhianati janji setia untuk Nafisa.


Lagi dan lagi, ia mereguk kenikmatan bersama Dela. Melupakan ada seorang istri yang sedang berusaha membantu suaminya dengan menerima lebih banyak pesanan.


Reno lupa akan Nafisa yang telah mendampingi dari awal dan telah melahirkan sepasang anak rupawan.

__ADS_1


Cinta dan kesetiaan kembali terkoyak oleh napsu dan kenikmatan sesaat.


***


__ADS_2