
POV NAFISA
Malam sudah larut. Sedikit pun mataku tak bisa terpejam.
Kenapa laki-laki yang menorehkan luka begitu dalam itu harus ada di sini? Di tempat yang aku pilih untuk melupakannya?
Kisah kami memang baru berjalan beberapa bulan, namun aku terlanjur jatuh cinta padanya begitu dalam. Bahkan lebih dari aku mencintai Bang Reno.
Aku sengaja mengubur semua kenangan. Tak mau tahu sedikit pun tentang dia dan keluarganya. Ketika Allah sudah menghadirkan darah dagingnya di tubuhku.
Darah daging yang lahir dengan wajah perpaduanku dan dia. Dengan tingkah polah yang terkadang mengingatkanku padanya.
Apa yang harus kulakukan, ya Allah? Sulit untuk memungkiri kalau aku masih cinta. Berat menghadapi bahwa kini dia sudah memiliki janji suci yang harus dijaga.
“Mama …”
Kudengar Dim memanggil namaku dalam tidur. Ya, malam ini aku membawa putraku untuk tidur di sampingku.
Anakku memiringkan badannya menghadapku. Wajahnya, gaya tidurnya sama persis dengan ayahnya.
Bagaimana aku memberitahukan ke Mas Zayn jika kami memiliki anak? Bagaimana jika dia dengan segala kekuatan ingin mengambil Dimiko dariku?
Aku sudah menjadi ibu durhaka yang meninggalkan Aurelie dan Milo. Apakah aku harus bertempur lagi untuk memperebutkan Dimiko?
“Mama, sulaman nyebelin.”
Kuelus kepalanya. Anakku mendekatkan diri, agaknya dia kedinginan. Kumatikan pendingin ruangan lalu kubuka sedikit jendela.
Malam ini bulan purnama.
Aku berdiri di depan jendela. Semilir angin laut sejuk menerpa wajah.
Ya Allah, sebersit pikiran melayang kepadanya yang mungkin saat ini sedang bercengkrama dengan istrinya.
Kini kupandangi Dimiko. Sumber kekuatanku. Anak itu tertawa-tawa dengan mata terpejam. Lelap dalam mimpi yang sepertinya penuh keceriaan.
Kubawa tubuh ini kembali ke peraduan. Berbaring di samping putraku.
“Mama nggak akan lari lagi kali ini. Kamu harus bertemu dengan papamu.”
End of POV
***
“Assalamualaykum. Di, ketemuan, dong. Ada Mas Zayn di Banyuwangi,” ajak Nafisa melalui pagi keesokan harinya.
“Waalaykumussalam. Apa? Zayn?”
Nafisa terdiam.
“Kamu uda tahu, Di? Nggak usah bohong. Kamu itu aktor yang buruk.”
“Nanti aku cerita semuanya. Sekarang sabar, aku beresin trio kwek-kwek ini dulu.”
“Wah tumben Helmy jam segini udah bangun.”
“Bukan Helmy. Bapaknya, Aisya, Abidzar. Pengin aku giling rasanya mereka bertiga ini.”
Nafisa terkekeh.
“Jam sepuluh tempat biasa?”
“Sip, Bhay!”
Dari arah kamarnya Dimiko keluar dengan tas ransel yang sudah di punggung.
“Ma, aku berangkat lebih pagi. Mau minta Kamila bantuin aku bikin sulaman.”
“Bantuin atau minta bikinin?”
“Mana yang dia bisa aja lah.”
“Dim …”
“Bantuin, tetap aku yang bikin,” jawab Dimiko dengan muka sebal.
“Menyulam itu bagus untuk motorik halus.”
“Main puzzle juga. Lebih seru,” protes anak kecil itu sambil menjebik.
“Eh beda dong. Sini Mas Dim, sarapan dulu. Mama udah siapin oatmeal sama strawberry.”
“Makasi, Mama.”
Dim mencium pipi ibunya lalu menggelendot manja.
“Ngalem, Mas?”
“Hihihi, iya.”
Bocah itu lalu duduk dan menyantap sarapan yang sudah disiapkan serta meminum habis susu segar.
Jarum jam menunjukkan pukul enam.
“Ma, Dim berangkat, ya. Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam.”
Nafisa mencium kening putranya lalu mengantarkan Dim sampai di pintu pagar restoran.
Setelah anak itu menghilang dengan sepedanya, Nafisa melangkah ke restoran lalu mulai membuka jendela-jendela.
Para pekerja sudah menyapu dan mengepel restoran semalam, sehingga pagi ini Nafisa bisa fokus untuk menyusun menu catering.
Dia mengambil jus dari lemari es lalu duduk di salah satu bangku yang menghadap ke laut lepas. Menyeruput sedikit demi sedikit.
Deburan ombak memancingnya untuk berjalan ke arah pantai. Angin berhembus agak kencang.
Daun kelapa bergerak kian kemari.
Nafisa berdiri di pantai. Dihirupnya napas dalam.
Terdengar langkah mendekat. Seketika Nafisa membalikkan badan untuk menemukan Zayn Malik berdiri hanya beberapa meter darinya.
“Nafisa …” Suara Zayn terdengar bergetar.
Tak siap, Nafisa memilih berlari menghindari laki-laki itu dengan kembali ke restoran.
__ADS_1
“Nafisa tunggu …”
Nafisa mempercepat langkahnya namun dengan mudah Zayn menyusul.
Tangan pria itu menyentuh lengannya. Nafisa menghindar namun malah terpojok.
“Nafisa, aku cuma mau bicara.”
Nafisa mundur teratur hingga punggungnya mengenai pohon kelapa.
“Jangan sekarang, Nafisa belum siap.”
Zayn menatapnya lembut.
“Kenapa? Kenapa belum siap?”
Kini pria itu yakin, Nafisa masih memiliki cinta untuknya.
“Aku … aku …”
Belum selesai Nafisa bicara dari arah belakang Zayn terdengar teriakan Dimiko.
“Jangan ganggu Mama aku!”
Zayn dan Nafisa mendapati Dimiko memacu sepedanya, melawan beratnya pasir dan mengarahkan ke Zayn.
“Lari, Ma. Biar aku tabrak orang ini.”
Wajah Dimiko memerah, murka melihat seseorang memojokkan ibunya.
Zayn menangkap sepeda Dimiko namun anak itu langsung melompat dan berdiri di depan ibunya.
“Oom, jangan sakitin Mama aku. Oom pergi atau Dim … Dim teriak!”
Tangan Dim membentang, menghalangi Zayn Malik dari ibunya.
“Ma, lari, Ma. Biar Dim tahan di sini.”
“Mas Dim,” panggil Nafisa lembut.
“Ayo, Ma, lari!”
Dimiko masih menatap Zayn dengan tatapan marah dan curiga.
Nafisa duduk di atas lututnya lalu memeluk Dimiko dari belakang.
“Loh? Ma?”
Kini Dimiko bingung, terlebih lagi ketika Zayn ikutan duduk di atas lututnya untuk menyamakan tinggi.
“Dim, ini …”
“Papanya Cinta. Aku tau. Ngapain Oom ngejarin Mama aku?”
Giliran Nafisa menatap Zayn heran.
“Aku kenal Oom ini, Ma. Papanya Cinta yang tinggal di Villa Salsa. Emang Mama kenal sama Oom Papanya Cinta?”
Alis Dimiko terangkat naik. Namun masih dalam moda waspada terhadap Zayn.
“Mama kenal. Namanya Zayn.”
“Terus kenapa tadi kejar-kejaran?”
“Oh itu … Bercanda,” jawab Nafisa gugup.
“Huh?” Wajah Dim terlihat bingung.
“Mas Dim kenapa pulang?” Buru-buru Nafisa menanyakan.
“Aku lupa bawa sulamannya, Ma. Tadi di tikungan aku berhenti periksa tas. Makanya aku lihat Mama dikejar Oom Papanya Cinta.”
“Zayn, namaku Zayn.”
Dim tidak merespon. Tidak suka dengan keberadaan Zayn di sana.
“Ma?”
“Ya udah, Mama antar kamu. Sekarang ambil dulu sulamannya.”
“Beneran bikin repot ini sulaman. Pake ketinggalan. Mama nggak apa di sini sama …” Telunjuk kecilnya mengarah ke Zayn.
Nafisa mengangguk sambi tersenyum.
Dimiko berjalan ke arah rumahnya, sambil sesekali menoleh ke arah ibunya dan Zayn.
Perhatian Zayn kembali terpusat ke Nafisa. Wanita yang sangat ia rindukan.
“Anak kita?” Tanyanya sambil tersenyum lembut.
Nafisa menggigit bibir bagian bawahnya. Perlahan mengangguk.
“Alhamdulillah, ya Allah,” balas Zayn penuh syukur.
“Mas, kumohon jangan ambil Dim dari aku. Kumohon. Kamu dan Val punya anak. Kalian punya keluarga. Aku hanya punya Dim.”
Zayn tetap menatap lembut membuat hati Nafisa bergetar. Namun begitu teringat bahwa Zayn telah memiliki keluarga dan mereka bukan lagi siapa-siapa, Nafisa berjalan ke arah rumah menyusul Dim.
“Kita belum bercerai, Sayang,” ucap Zayn.
Langkah Nafisa terhenti.
“Aku nggak pernah mengucapkan talak, surat cerai pun tidak kutandatangani, dan setiap bulan aku masih mengirimkan nafkah untuk kamu.”
“Jahat kamu, Mas!” Desis Nafisa.
“Egois! Kamu selama ini punya dua istri. Lalu kalau aku menikah lagi, kan artinya nggak bakalan sah.”
Sorot mata Nafisa tidak dapat diartikan. Perasaannya pun demikian.
Zayn mendekat perlahan.
“Kalau kamu mau menikah, artinya kamu udah melupakan aku. Udah move-on. Pasti kamu akan mengurus perceraian kita sampai tuntas. Dan ya, aku memang sempat punya dua istri sampai Cinta lahir. Aku dan Val bercerai di hari itu juga.”
Nafisa ternganga.
“Tega kamu, Mas. Kamu ceraikan Val setelah lahiran. Itu itu kejam …”
__ADS_1
“Mama …” Dimiko kembali mendekat, kini dengan sulaman taplak meja di tangannya. Matanya menatap curiga karena ia melihat reaksi ibunya yang sedang gusar.
“Mama ambil kunci mobil dulu.”
“Dim naik sepeda aja. Oom pulang gih, Mamaku kayaknya nggak senang Oom di sini.”
“Mas Dim. Sama tamu nggak boleh gitu …” Tegur Nafisa. Hati Zayn tercubit ketika Nafisa mengenalkan dirinya sebagai tamu.
“Mama antar kamu. Mas Zayn, kita bicara nanti, ya. Mas tunggu sini.”
“Mas? Kok kayak Tante Dian panggil Oom Mika?” Anak umur enam tahun itu makin curiga.
Zayn berusaha mengalihkan, “Dim mau berangkat sama Oom? Nafisa, nanti aku ke sini lagi setelah antar Dim.”
“Mas, aku belum …”
“Mas tahu. Tenang aja …”
“Dim bingung, Ma,” ucap anak cerdas umur enam tahun tetap tidak paham akan permasalahan dua orang dewasa di hadapannya.
Tak mempersiapkan kejadian yang begitu mendadak, Nafisa harus mengambil napas dalam untuk menenangkan diri.
“Dim, semua baik-baik aja. Mama belum siap untuk cerita, tapi pasti, in syaa Allah Dim akan tahu.”
“Mama …” Dim memeluk ibunya. Laki-laki kecil itu menyandarkan kepalanya ke pundak ibunya.
Zayn hanyut dalam perasaan melihat ibu dan anak itu saling memeluk.
“Ma, apakah Oom Zayn papanya Dim?”
Nafisa dan Zayn sama-sama terkesiap. Tanpa mendengar jawaban, Dim bisa menebak.
Anak itu membalikkan tubuhnya menghadapi Zayn.
“Pulang, Dim nggak mau ketemu sama Papanya Dim. Jangan dateng-dateng lagi. Pergi! Pergi!”
Tiba-tiba Dim berteriak dengan mata menatap lurus ke ayahnya.
Dim mendorong Zayn untuk menjauh.
“Aku bilang pergi! Jangan datang lagi! Mama usir dia.”
“Dimiko Yusuf Malik.” Nafisa berseru kepada anaknya.
“Dim nggak mau ketemu Papa. Pergi! Pergi!”
Tak menunggu jawaban Dimiko lari ke arah rumah sambil menarik tangan ibunya.
Zayn berdiri kaku menghadapi penolakan keras dari putranya. Ia hanya bisa menatap sedih ketika Dimiko dan Nafisa masuk ke dalam rumah.
Dimiko mengunci pintu rumahnya lalu melihat Zayn yang mesti berdiri di sana.
“Mas Dim …”. Nafisa menggosok dada Dimiko yang naik turun karena emosi. Wajah anaknya memerah. Air mata mulai berlinang.
“Mama … Mama …” Dim langsung memeluk ibunya dan menangis. Pelukannya erat seperti takut berpisah.
Bibik keluar dari dapur.
“Ada apa, Bu?”
“Bisa tolong ambilin minum buat Mas Dim, Bi?”
“Njih, Bu.”
Nafisa menggendong anaknya lalu mereka berdua duduk di sofa. Dim masih menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya. Anak itu tersedu-sedu.
Lembut, Nafisa melirihkan shalawat ke telinga putranya. Terus dengan suara merdu menenangkan.
“Mama, Dim nggak mau sekolah. Dim mau sama Mama aja.”
Nafisa menghapus air mata yang membasahi wajah putranya. Dimiko jarang menangis, apalagi mengamuk. Dengan sabar Nafisa terus mendekap putranya.
“Boleh, Sayang. Kita di rumah aja. Dim nemenin Mama.”
Dim melongok ke jendela dan melihat Zayn sedang menuntun sepedanya ke samping rumah lalu pergi.
“Mama jangan tinggalin Dim. Mama nggak boleh bunuh diri.”
“Mas Dim kok ngomongnya gitu?”
“Pokoknya Dim nggak mau ditinggalin sama Mama. Dim mau sama Mama terus.”
Suara Dim terisak-isak.
“Mama nggak kemana-mana in syaa Allah. Kalau Dim mau nangis, puasin aja. Abis itu minum lalu ambil air wudhu biar tenang.”
“Wudhu-nya sama Mama.”
“Oke. Siap. Minum dulu, Sayang.”
Dim memegang gelas lalu meneguk air putih segar yang diambilkan Bibik.
Nafisa menatap putranya. Sering berpikiran lebih dari usianya, terkadang Nafisa lupa bahwa anaknya masih berumur enam tahun dan belum siap menghadapi kenyataan seperti bertemu ayahnya.
“Wudhu?” Tanya Nafisa menawarkan.
“Sama Mama,” balas Dim lalu melorot turun dari pangkuan ibunya dan menggandengnya ke kamar mandi.
“Mama tunggu di situ, pintunya dibuka aja.”
Sambil menunggu putranya, Nafisa memeriksa hape.
Sebuah pesan masuk.
Assalamualaykum Nafisa, ini Mas. Aku ingat, Dim pernah cerita ada teman yang orang tuanya bercerai, lalu ibunya bunuh diri. Mungkin itu sebabnya Dim seperti tadi.
Nafisa membalas:
Waalaykumussalam. Makasi infonya, Mas. Barusan juga dia bilang supaya aku jangan bunuh diri. Sekarang Nafi tau sebabnya.
Balasan masuk:
Aku senang bertemu kamu, Nafisa.
Meski jantungnya berdebar, namun Nafisa memutuskan untuk tidak membalas pesan Zayn.
***
__ADS_1