Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Rasa Cinta Ini


__ADS_3

Seorang wanita cantik menjawab pertanyaan wartawan melalui sambungan telepon.


“Saya ikut bahagia karena Zayn sudah menemukan lagi cintanya.”


“Anda nggak cemburu, Val?”


“Nggak, lah. Perpisahan memang menyakitkan, tapi saya sudah move on. Kami saling mendoakan saja.”


“Masih berhubungan baik dengan Zayn?”


“Seperti sudah saya katakan tadi bahwa saya ingin membuka lembaran baru. Dulu saya memang sangat nggak terima diceraikan begitu saja, tapi akhirnya saya berdamai dengan keadaan. Dan dalam kondisi bukan suami istri, kami tidak berhubungan lagi sama sekali. Tidak ada dendam, mungkin kami memang tidak berjodoh.”


“Luar biasa. Semangat terus mbak Val dan semoga segera ketemu penggantinya.”


“Aamiin! Makasi ya …”


Begitu hape dimatikan, Valerie melayangkan pandangan kepada anak muda yang kedua tangannya diikat ke besi sandaran ranjang. Mulutnya disumpal.


Tubuhnya polos. Punggungnya berdarah-darah karena belas cambukan.


Pemuda itu menggeleng dan mengerang putus asa.


Mata Valerie berkilat-kilat kejam. Diambilnya sabuk yang tergeletak di lantai.


Lalu dia mulai mencambuki si pemuda tanpa ampun.


“Bangsat kamu, Zayn! Cuma aku yang boleh jadi istri kamu. Mati kamu Zayn!”


Beberapa hari kemudian, seorang pemuda ditemukan tanpa sadar tergeletak di parit jauh di luar kota. Kondisinya mengenaskan.


***


“Aku tahu kamu pengin banget ke Tanah Suci dan aku pun belum pernah. Semoga ini menjadi bulan madu yang indah buat kita, Sayang.”


“Seriusan, Mas, kita mau umroh?” Mata Nafisa berbinar-binar.


Zayn menoel hidung Nafisa lalu mengangguk.


“Alhamdulillah,” seru Nafisa kemudian mencium pipi Zayn. Sebuah ciuman pertama yang diberikan Nafisa.


Mata Zayn berbinar.


“Kamu … kamu cium aku?”


Nafisa mengangguk, matanya mengerling jahil lalu berkata, “Maafin aku yang belum kasih hak buat Mas. Tapi sehari setelah menikah juga aku dapet jadi nggak salah-salah amat.”


“Kita akan melangkah demi selangkah. Yang penting kamu dan aku saling membuka hati. Kita berdua pernah gagal, semoga ini perkawinan terakhir kita.”


“Aamiin.”


Pintu kamar diketuk lalu Milo mengintip masuk.


“Mama, Milo boleh masuk?”


“Boleh, Sayang. Sini ada Daddy juga.”


Milo lalu menghambur ke pelukan Nafisa disusul kakaknya.


“Mama, kata Papa, bisa nggak aku sama Kakak diantar soalnya Mama Dela mulai ompasi.”


“Omplasi? Operasi? Kontraksi? Kata Papa jam berapa?”


“Aku telepon Reno,” sahut Zayn hendak mencari informasi yang lebih jelas.


Pria itu sempat memperhatikan wajah istrinya untuk tahu apakah ada rasa sedih karena mantan suaminya akan punya anak. Namun wajah Nafisa malah kelihatan lebih khawatir.


“Mas, apa nggak sebaiknya bilang sama Reno supaya supaya anak-anak di sini aja sampai kita berangkat umroh? Biar Reno fokus jagain Dela.”


Mendengar jawaban Nafisa, hati Zayn terasa lega. Di lubuk hati dia khawatir Nafisa masih punya perasaan khusus untuk mantannya.


Hari itu memang seharusnya Aurelie dan Milo dijemput supir ke rumah Reno.


“Aku telepon bentar, ya, Cantik.” Zayn kemudian melangkah ke balkon.


“Suit suit, Mama dipanggil Cantik, looh,” ledek Milo dengan gaya teatrikal lucu.


“Daddy sayang sama Mama. Aurelie seneng,” sahut Si Sulung sambil melihat wajah ibunya.


“Mama emang cantik, kalau udah gede, Aurelie mau kayak Mama cantiknya.”


Nafisa menatap Aurelie. Putri sulungnya adalah fotocopy wajahnya, sementara Milo memiliki hidung dan mata seperti Reno.


Dipeluknya erat gadis kecil itu disusul Milo yang tidak mau kalah untuk masuk ke pelukan ibunya.


“We love you, Mama,” cetus Milo dengan manja.


Zayn kembali ke kamar lalu memberitahukan bahwa Reno nggak keberatan kalau di antar agak sore, tapi dia ingin anak-anaknya tetap bersamanya ketika Dela melahirkan.


Dela baru merasakan sakit-sakit di perut masih belum bisa dikatakan kontraksi tapi mereka berjaga saja.


“Okay, sebenernya aku udah siapin barang-barangnya, tapi mumpung nggak apa diantar sore ya kita di sini dulu aja. Ya nggak?”


“Yay! Yay! Bisa lebih lama sama Mama,” pekik Milo menadak-nadak keliling kamar.


Zayn duduk di samping Nafisa. Hatinya merasa hangat. Kebahagiaannya kini tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Sejujurnya dulu Zayn tidak pernah tahu apakah ingin menjadi seorang ayah atau tidak. Kehadiran Aurelie dan Milo mengubah cara pandangnya.


“Mas, kenapa? Kok liatinnya gitu?”


“Aku bahagia banget, Sayang. Terima kasih kamu dan anak-anak kamu udah terima aku.”


“Loh nggak kebalik?”


“No! You found me. Baru seminggu nikah aku dah nggak bisa kebayang kalau kehilangan kalian. You guys will be fine without me, but I won’t.”


Aurelie mengambil tangan Nafisa dan Zayn.


“Mama dan Daddy nggak boleh pisah. Harus saling sayang sampai tua. Janji?”


Zayn dan Nafisa bersitatap. Ada desir di dada Nafisa melihat suaminya menatapnya penuh harap.


“In syaa Allah …” Jawab keduanya.


***


“Kapan kalian berangkat?” Tanya Dela ketika Nafisa dan Zayn mengantarkan anak-anak.


“Lusa, in syaa Allah,” jawab Nafisa sambil memberikan barang-barang ke para suster.


“Semoga kamu dapat umroh yang khusyuk dan nikmat, Nafisa. Aku senang impianmu tercapai,” imbuh Reno suaranya sedikit tercekat.


“In syaa Allah. Kami sama-sama akan beribadah dan belajar bersama seorang ustadz dan istrinya. Jadi Nafisa juga enak kalau mau tanya-tanya. Ya, kan, Sayang?” Sela Zayn sebelum Nafisa sempat menjawab.


Zayn merangkul Nafisa, memandangnya mesra.


“Makasi udah mikirin aku, Mas.”


Dela menahan mulutnya untuk berucap sesuatu tang menyakitkan karena masih ada Aurelie dan Milo.


“Kami pamit. Assalamualaykum Aurelie, Milo. Pulang umroh Daddy jemput, ya.”


“Oke Daddy. Happy honeymoon,” jawab Milo sambil menirukan gaya orang berpelukan. Aurelie terkekeh melihat kelakuan adiknya.


“Bye, Ma.” Aurelie tersenyum manis pada ibunya sebelum pintu ditutup.

__ADS_1


***


Zayn dan Nafisa duduk di pelataran luar Masjidil Haram.


“Aku bisa loh ngajak kamu makan malam di restoran terenak di Mekkah.”


Tangan Nafisa sibuk membongkar bungkusan take away ayam goreng terkondang yang hanya ada di belahan bumi sana.


“Aku tau. Cobain ini dulu deh, aku nonton di youtube katanya enak banget.”


Nafisa menyuapkan potongan ayam.


“Eh, enak. Lebih enak dari yang brand Amerika itu.”


“Dulu banget aku pernah lihat di youtube jemaah lagi menikmati santap malam di pelataran masjid di bawah taburan bintang. Mereka bilang nggak ada duanya. Sekarang kesampaian, alhamdulillah. Mas … Mau lagi nggak? Pake barbecue sauce-nya ya.”


Zayn menerima suapan demi suapan yang diberikan Nafisa.


“Kamu kok nggak nyobain?”


“Mas aja dulu, baru aku.”


“Kenapa?”


Kening Nafisa berkerut heran mendengar pertanyaan suaminya.


“Karena Mas itu suami aku, jadi aku harus memuliakan kamu. Nafisa belum bisa melayani Mas sepenuhnya, jadi ijinkan aku untuk melayani kamu di hal lain, ya.”


“Maa syaa Allah, sini, Cantik.”


Zayn mendekap erat istrinya, seolah takut wanita di hadapannya menghilang.


“Jangan pernah berubah, ya. Mas banyak banget salah sama kamu. Mas akan cintai kamu, jagain kamu, bahagiain kamu bukan untuk menebus tapi memang hati ini berkata seperti itu.”


Mengurai pelukan, Zayn melanjutkan, “Dulu, aku pernah terpesona setengah mati oleh kecantikan Valerie. Sementara hatiku mengatakan tidak.”


“Terus sekarang hati Mas mengatakan iya, tapi nggak terpesona, gitu?” Sela Nafisa dengan nada tidak terima, mulai ada rasa tidak suka ketika Zayn menyebut nama Valerie.


“Bukan begitu, Cantik. Malah double impact, ya terpesona dan hati ini terus mendorong Mas untuk memperjuangkan kamu. Makanya pas kamu siap nikah, Mas nggak mau tunda lagi.”


Mereka bersitatap lama. Jemari Zayn menyelip ke balik cadar untuk mengelus wajah istrinya.


“Mas, in syaa Allah aku siap.”


“Kan kita udah akad, mau siap apa lagi?”


Nafisa tertegun.


“Aku udah siap,” ulangnya dengan penekanan.


“Siap nikah? Kamu nggak bisa mangkir lagi, udah jadi istri Mas. Telat kalau mau berubah pikiran, yek, yek, yek.” Zayn sibuk membuat mimik-mimik aneh untuk meledek istrinya.


“Aaak nih …” Nafisa menjejal mulut Zayn dengan potongan ayam dan nasi. Dalam hati gemas karena suaminya malah tidak tanggap dengan maksud kata ‘siap’ yang tadi diucapkan.


Dengan rakus dan kilat mata penuh kemenangan Zayn mengunyah lahap lalu menyuruh-nyuruh Nafisa mengambilkan potongan ini itu hanya untuk mengganggu istrinya.


Mereka makan malam sambil bercanda sebelum memutuskan kembali ke hotel.


Di penthouse, Nafisa menyiapkan pakaian tidur untuk Zayn sebelum dia sendiri membersihkan diri.


Zayn berdiri di depan kaca yang menghadap ke Ka’bah. Lautan manusia masih setia berthawaf.


Malam sudah semakin larut.


Nafisa keluar dari kamar mandi dan mata Zayn langsung membola melihat pantulan istrinya.


“Nafisa … kamu?”


Nafisa hanya memakai lingerie panjang tipis menerawang bewarna pink muda.


“Siap! Siap ya Allah. Siap banget.” Zayn meracau. Matanya tidak bisa dikontrol dan terus melihat ke arah tubuh istrinya.


Zayn belum pernah melihat langsung tubuh Nafisa.


Hanya memakai lingerie tipis, tubuh Nafisa membayang sempurna.


Zayn mendekat. Tetap dalam jarak pandang yang masih bisa menikmati Nafisa secara leluasa.


“Malu tau, Mas, dilihatin gitu,” lirin Nafisa.


Tak menghiraukan, Zayn terus menatap Nafisa.


Rambut Nafisa yang bergelombang jatuh tepat di puncak bukit kembar.


Lekuk pinggang yang ramping dan berujung di pinggul yang sedikit berlekuk.


“Nafisa …” Suara Zayn terdengar serak.


Jantung Nafisa berdegup kencang. Dia berpacu dengan rasa takut. Bayangan Zayn akan memasuki dirinya sangat mengganggu pikirannya. Pengalaman buruk pelecehan yang dialami hampir setiap malam dulu di penjara mulai muncul.


Dia mengikuti nasihat Dokter Yuni untuk berusaha menepis dan mencari cara agar traumanya tidak bisa dikendalikan. Nafisa perlu mencari pengalihan.


Perlahan, Nafisa meraih tangan Zayn lalu diarahkan untuk menurunkan tali lingerie.


Tatapan Zayn terlihat ragu.


Nafisa berjinjit untuk mengecup bibir Zayn yang membuat pertahanan suaminya jebol.


Tanpa ragu, Zayn langsung me lu mat habis bibir Nafisa. Tidak lagi berdiam diri, Nafisa membalas ciuman suaminya.


Tangan Nafisa menangkup wajah Zayn, seakan memberi tahu bahwa ia tidak ingin suaminya berhenti.


Kini lingerie telah teronggok sempurna di lantai. Tubuh Nafisa polos tanpa selembar benang.


Zayn menghentikan ciumannya untuk menikmati lagi tubuh Nafisa.


Lembut ia memainkan kedua puncak bukit kembar dengan punggung jarinya hingga membuat Nafisa meremang.


“Mas …”


Zayn kemudian mengangkat tubuh Nafisa dan menggendongnya. Kaki Nafisa melingkar ke raga Zayn yang kekar dan kokoh. Bibirnya langsung men ciu mi wajah dan leher Zayn.


Perlahan, Zayn merebahkan Nafisa ke atas ranjang.


Kini Nafisa melepas semua pakaian yang melekat di tubuh suaminya. Wajahnya tersipu malu ketika melihat pusaka Zayn untuk pertama kali.


“It’s yours, Honey.” Bisik Zayn.


Dalam hitungan menit keduanya menyentuh, mencium, hingga kamar dipenuhi dengan ******* demi *******.


Nafisa terus berusaha menepis bayangan masa lalu. Memercayakan sepenuhnya pada naluri untuk membahagiakan suaminya.


Melihat istrinya terlihat menikmati setiap sentuhan, Zayn pun memberi lebih.


Kini tubuh Nafisa mengambil alih pikirannya. Dia tidak ingin kenikmatan ini berhenti.


“Bismillah, kamu udah siap, Sayang.”


“Pelan-pelan, ya. Aku takut.”


“Kasih tau kalau kamu ingin Mas berhenti.”


Lembut dan perlahan, Zayn memasuki Nafisa. Ia menunggu reaksi istrinya.


“Are you okay, Sayang?” Bisik Zayn lembut.

__ADS_1


Mata Nafisa terpejam, rasa sakit ketika benda keras dulu dimasukkan dengan paksa ke dalam dirinya terbayang jelas.


Lantai sel yang dingin bergesekan dengan kulit. Tangan-tangan yang melebarkan kaki dan menahan tubuhnya. Kain bau yang disumpalkan ke mulutnya, hingga air mata yang mengalir dari sudut mata.


“Sayang, buka matamu.”


“Jangan …”


“Sayang, ini aku Zayn. Buka mata.”


Perlahan, Nafisa membuka matanya.


“Mas …”


“Iya, Sayang. Ini aku. Kita lagi di Tanah Suci.”


Netra Nafisa memandang berkeliling dan melihat ke menara masjid yang masih terlihat dari tempatnya berbaring.


“Kamu mau Mas berhenti atau lanjut?”


Nafisa menggerakkan pinggulnya menyiratkan dia tidak ingin suaminya berhenti.


“Aku lanjut, ya. Jangan tutup mata,” ucap Zayn lembut.


Perlahan, Zayn kembali membangun momen hingga perlahan mereka mendaki menuju puncak.


“Aaah Nafisa …” Desah Zayn ketika akhirnya dia merasakan kenikmatan terindah untuk pertama kali dengan Nafisa.


Dilihatnya reaksi Nafisa yang kini terlihat makin cantik setelah percintaan yang baru mereka nikmati.


“Enak, Mas? Suka?” Nafisa menatap takut-takut.


“Banget banget. Makasi ya Sayang. Aku tau kamu juga masih berjuang. Kamu sendiri suka nggak?”


Wajah Nafisa bersemu merah.


“Tadi aku udah duluan.” Saking malunya Nafisa menyembunyikan wajahnya ke dada Zayn.


Suaminya tersenyum puas bagai memenangkan pertandingan lalu mengelus belakang kepala Nafisa yang masih bersembunyi di dadanya.


“Nanti aku buat kita dapat puncaknya barengan.”


Nafisa makin menempelkan tubuhnya ke Zayn.


Lama mereka hanya saling berdekapan. Nafisa mendengarkan degup jantung Zayn. Kemudian tiba-tiba tertegun.


“Mas, tatonya banyak banget.”


“Itu ya, dulu aku tergila-gila dengan tato.”


“Mas udah sholat tobat?”


“Udah bolak-balik. Aku cuma bersyukur nggak pernah bikin tato muka atau nama orang.”


“Oh …” Nafisa menjawab tak peduli.


“Cemburu?”


“Ogah.”


“Mas malah cemburu kalau ada apa aja terkait mantanmu itu.”


“Hah, seriusan? Emang aku kenapa?”


“Bukan kamu, dia.”


“Kan dia jahat gitu.”


“Udah ah, ngapain ngomongin orang.”


Zayn kembali mengeratkan pelukannya. Tidak memberikan Nafisa ruang untuk bergerak.


“Mas …”


“Apa, minta dilepasin, nggaaaak.”


“Mmm terima kasih udah terima Nafisa dengan segala keruwetannya. Di sini semua doa pasti dikabulkan. Nafisa berdoa agar diberi kemampuan untuk mencintai Mas sampai akhir hayat.”


“Aku juga berdoa untuk bisa sehidup sesurga sama kamu. Jadi … belum cinta nih sama Mas?”


Nafisa mendongakkan kepalanya. Wajah mereka berdekatan.


“Udah, tapi dikit.” Jari telunjuk dan jempol membuat gestur kecil.


“Gemesin banget sih, istri aku ini. Mmm aku boleh minta lagi nggak?”


Nafisa terkesiap, namun kali ini langsung bisa mengusai diri.


“Masih pelan-pelan tapi, ya.”


“Iyah …”


***


Umroh selama sembilan hari dilewatkan dengan indah. Nafisa dan Zayn mendapat bimbingan untuk menjadi suami dan istri yang bisa saling memberi ketenangan.


Waktu-waktu mereka nikmati dengan beribadah di masjid maupun ibadah suami istri di dalam kamar.


Nafisa sungguh-sungguh berdoa agar trauma yang ia miliki tidak mengganggu tugasnya memberikan hak untuk Zayn.


Dia juga mulai berdamai bahwa trauma itu tidak akan hilang sempurna. Akan ada bekas luka yang tersisa. Hanya dirinyalah yang bisa mengendalikan agar tidak sampai muncul dalam tindakan aneh bahkan membahayakan.


Zayn mensyukuri perasaan yang tumbuh untuk Nafisa. Dulu ketika meninggalkan Valerie dia berpikir tidak mungkin bisa jatuh cinta lagi.


Kini Zayn menyadari bahwa dia dulu tidak sepenuhnya mencintai Val. Lebih kepada obsesi untuk memiliki wanita cantik yang bisa dia banggakan.


Pernikahan dengan Nafisa membuat Zayn menyadari bahwa kebanggaan sesungguhnya adalah memiliki wanita yang sholihah, sanggup menjaga diri, dan memuliakan suami dengan ikhlas.


Mereka pulang ke tanah air dengan perasaan yang berbeda. Rasa cinta yang mulai bersemi di hati Nafisa dan kedewasaan berpikir mengenai peran sebagai suami dari Zayn Malik.


Begitu mereka sampai di tanah air, ustadz pendamping mengirimkan pesan ke Maryam Malik: Alhamdulillah misi berhasil.


***


Mikail yang baru pulang mengantarkan Maryam langsung cemberut mendengar suara canda tawa dari ruang keluarga.


Maryam berhenti di depan pintu melihat Nafisa dan Zayn sedang menonton televisi.


Putranya meletakkan kepalanya di atas pangkuan Nafisa yang duduk di karpet. Sesekali istri menyuapkan potongan buah kepada suami.


Netra Maryam menghangat.


Pria di sebelahnya juga mengalami hal yang sama. Netranya menghangat bukan karena bahagia melainkan hatinya hancur berkeping-keping untuk ke sekian kali.


“Ikhlaskan mereka Mika.”


“Bude, kalau anak Bude sampai sakitin Nafisa, aku nggak akan kasih ampun.”


“Sssh, wis wis, ora tho. Moga mereka langgeng dunia akhirat. Makasih ya Mik. Bude pesan sekali lagi, ikhlaskan. Kamu pasti dapat yang lebih baik.


Mikail meletakkan belanjaan budenya di counter dapur lalu mencium takzim kemudian melangkah pergi.


Maryam masih berdiri menikmati pemandangan indah, dua orang manusia yang dia sayangin saling menunjukkan kasih sayang.


“Semoga kalian bahagia selamanya.”

__ADS_1


***


__ADS_2