
Tiga bulan berjalan. Zayn dan Nafisa menikmati rumah tangga baru yang mereka bangun.
Saling mengenal dalam kelebihan dan keterbatasan masing-masing.
Nafisa berencana membuka kedai ketiga di sebuah ruko tak jauh dari rumah Maryam.
Meski sangat mampu memiliki rumah sendiri, Zayn memilih untuk tetap tinggal di rumah ibunya.
Maryam sangat bahagia dengan keputusan putranya. Ukuran rumahnya sangat lebih dari cukup untuk menjaga privasi masing-masing.
Wanita paruh baya itu mewanti-wanti putranya untuk menjaga Nafisa. Seorang istri sholihah yang tahu bagaimana menempatkan dirinya.
Meski memiliki sepasukan chef, juru masak, asisten yang bisa membantu, Nafisa bersikeras untuk menyiapkan semua kebutuhan Zayn.
Kini suaminya tergila-gila dengan masakannya. Tumis teri pare, cumi hitam cabe ijo, gule udang daun singkong hanya tiga dari sekian banyak masakan yang disiapkan Nafisa yang menjadi favorit Zayn Malik.
Tak jarang Nafisa mengirim makan siang untuk suaminya.
Seperti siang itu, Nafisa berangkat dari kedainya menuju kantor Zayn. Tadi dia sempat memasak tumis tauge ikan asin dan daging sapi lada hitam di dapur kedai.
Sesampai di kantor suaminya, seorang karyawan mengajaknya ke ruang serba guna.
Begitu pintu dibuka, Nafisa melihat ruangan penuh dengan wartawan di satu sisi dan banyak debitur di sisi lain.
“Saya perkenalkan, Nafisa Salsabila, istri yang menginspirasi untuk terus membenahi diri. Sini, Sayang.”
Ragu Nafisa melangkah, terlebih lagi dengan banyak mata memandang.
Zayn turun dari podium untuk menyambut istrinya lalu menggandengnya naik ke atas panggung.
“Mas, ada apa?” Bisik Nafisa di telinga suaminya.
“Kejutan, Cantik. Tunggu aja. Berdiri di samping aku, ya. Hanya kamu yang bisa kasih aku kekuatan untuk melakukan hal yang akan aku umumkan.”
Nafisa mengangguk, masih tidak bisa menerka arah pembicaraan suaminya.
“Baik, Bapak dan Ibu sekalian. Rekan media yang saya hormati. Saya Zayn Malik selalu pemilik tunggal perusahaan Zayn Financing ingin mengumumkan perubahan model bisnis yang selama ini berjalan.”
Terdengar bisik-bisik resah dari pada debitur alias peminjam.
“Pasti mau naikin bunga, pasti dendanya makin berlipat.”
Zayn hanya tersenyum lalu melanjutkan.
“Saya tidak ingin meneruskan perjanjian pinjam meminjam yang sekarang berlaku dan saya ingin mengubah menjadi penyertaan modal. Artinya, tidak ada bunga, tidak ada denda. Tim bisnis dan tim legal akan bernegosiasi untuk menentukan pengembalian modal bersama return yang disepakati.”
Ruangan hening.
“Saya juga sudah menyiapkan tim pengembangan yang bisa Anda semua ajak diskusi jika terjadi kesulitan dalam menjalankan bisnis. Saya harap, kita bisa punya rasa saling percaya dan disertai tanggung jawab. Saya tidak ingin lagi menjadi orang yang mencekik dengan bunga dan denda tinggi. Saya ingin berkembang bersama usaha Anda.”
Masih hening.
Salah seorang debitur memberanikan diri untuk bertanya, “Tidak ada bunga sama sekali, Pak?”
“Tidak. Artinya misalnya Anda punya sisa pinjaman seratus juta, jumlah itu akan saya alokasikan sebagai investasi yang Anda dan tim saya sepakati besar pengembaliannya.”
“Jika terjadi masalah?”
“Masalah apa? Jika terkait bisnis, saya siapkan tim yang bisa membantu untuk cari jalan keluar bersama. Namun karena ini bukan sumbangan tentunya harus ada tanggung jawab jika ada masalah dalam pengelolaan. Seperti jika asa penggelapan, misalnya. Terpaksa diambil jalur hukum.”
“Ini seriusan nggak sih? Zayn Malik gitu loh.” Terdengar kasak kusuk.
“Serius. Istri saya mengatakan bahwa harta yang diterima dari riba tidak akan berkah. Masalah di akhirat pastinya dan masalah di dunia yang kadang kita sebagai manusia abai. Menganggapnya sebagai kemakmuran padahal itu adalah istidraj dimana Allah sedang menghukum.”
Ruangan lagi-lagi hening.
“Allahu Akbar!”
“Allahi Akbar!”
Sedetik kemudian ruang pertemuan hampir pecah dengan gemuruh rasa syukur dari para debitur. Wartawan pun tanpa tanya langsung menaikkan berita.
“Mas,” panggil Nafisa dengan netra berkaca-kaca.
“Suamimu nggak akan sekaya dulu lagi.” Zayn menangkup wajah Nafiaa.
“Sayangnya loker tukang panggul tepung sudah diisi orang. Sekarang adanya jadi imam buat yang punya kedai,” balas Nafisa dengan senyum penuh rasa syukur dan bangga.
__ADS_1
“Makasi karena sudah berhijrah l buat keluarga kita. I love you.”
Mata Zayn terbelalak.
“Apa? Coba mungkin aku salah dengar.”
“I love you,” ulang Nafisa sambil meletakkan tangannya ke sisi wajah Zayn.
“Mikail, tolong selesaikan. Aku ada perlu.”
Mikail yang sedari tadi berdiri di belakang hanya bisa menahan cemburu ketika Zayn gegas menggandeng istrinya keluar dari ruangan.
Zayn mengajak Nafisa ke ruang kerjanya.
Begitu pintu ditutup, Zayn langsung mengambil remote untuk menggelapkan kaca-kaca jendela. Nafisa mengikuti lalu meletakkan tempat bekal di meja kerja suaminya.
Zayn berjalan mendekat. Dilepaskan hijab dan cadar Nafisa, lalu diurainya rambut bergelombang milik Nafisa.
“Habis kamu sama aku.”
“Mas ini di kantor.”
Nafisa dengan sorot mata menggoda sengaja menjauh hingga membuat Zayn semakin berhasrat untuk segera menguasai istrinya.
“Aman, jendela-jendela sudah aku gelapin. Pintu sudah aku kunci, CCTV sudah mati.”
Nafisa tergelak lalu berlari memutari meja kerja. Tidak perlu usaha besar dari Zayn untuk menangkap Nafisa dan langsung mendekap erat.
Kemudian dengan lembut, Zayn menempelkan bibirnya ke bibir Nafisa.
“Mmm rasa strawberry.”
“Aku pakai lip tint baru.”
“Perfect.”
Zayn kemudian mulai me lu mat bibir istrinya. Mereka saling menggoda dengan sentuhan, hingga tubuh mereka mengusai pikiran.
Meski Nafisa sudah bisa menerima, terkadang Zayn merasakan tubuh istrinya menegang saat dirinya menyentuh area-area tertentu. Tanda ingatan buruk di penjara akan muncul.
Penuh kesabaran, Zayn mengalihkan perhatian Nafisa, berbisik di telinganya untuk menyadarkan Nafisa.
Dari luar ruangan, Mikail menatap pintu. Sekretaris Zayn mengatakan Pak Bos tidak ingin diganggu.
“Oh, I see. Baiklah, tolong sampaikan nanti jika sudah longgar bahwa beberapa media ingin melakukan wawancara eksklusif,” pungkas Mikail dengan nada tidak bersemangat.
***
Di rumahnya, Dela disibukkan dengan bayi laki-laki yang diberi nama Ayman. Bayi yang dia harapkan bisa mengikat cinta suaminya.
Belum ada bukti nyata namun Dela selalu merasa di hati Reno hanya ada Nafisa.
Dela sering melihat Reno memeluk Aurelie yang wajahnya fotocopy dari wajah Nafisa. Seolah ingin melampiaskan rindu kepada ibu kandungnya.
Itulah sebabnya Dela yang terbiasa untuk ‘melenyapkan’ ‘masalah telah dua kali mencelakai Nafisa.
Yang pertama saat dia membayar orang-orangnya untuk membakar kedai milik Nafisa.
Kedua kali adalah dengan menyuruh sekelompok profesional untuk menyiksa dan membunuh Nafisa.
Kali ini Dela juga ingin memberi peringatan pada Reno bahwa ia tak segan menyakiti orang demi mencapai apa yang diinginkan.
Terlebih setelah anak buahnya mengatakan bahwa seorang laki-laki bermotor-lah yang menyelamatkan Nafisa.
Dela hanya berharap jika laki-laki itu bukan Reno, karena di hari yang sama Nafisa diculik, suaminya pamit menengok proyek di luar kota.
Bayi Ayman bergerak-gerak. Sesekali tersenyum dengan mata memandang mainan yang bergantungan dan berputar di atas box bayi.
Pintu kamar terbuka. Reno, Aurelie, dan Milo yang langsung menyerundul masuk untuk bermain dengan Ayman.
“Milo! Adek masih kecil, bisa pelan-pelan nggak?”
Mendengar bentakan Dela, anak kecil itu langsung terjingkat.
“Del, kenapa? Milo juga belum sampe ke box.”
“Ya aku nggak suka aja,” jawab Dela ketus.
__ADS_1
Milo langsung mundur teratur ke samping ayahnya. Matanya terlihat takut.
“Ya udah kita main di luar aja yuk, adek lagi sama Mama Dela.”
Dela tergagap. Dia ingin hanya Reno yang bermain bersama Ayman.
“Yuk sini main sama Adek Ayman, tapi pelan-pelan soalnya masih kecil. Aurelie, Milo, sini.”
Milo menggeleng. Demikian juga Aurelie yang langsung merangkul adiknya.
“Nanti kita main lagi sama Adek. Sekarang kita main di kamar sebelah dulu, yuk.”
Ketiganya kemudian keluar dari kamar. Terdengar gelak tawa dari kamar sebelah yang membuat dada Dela menggelegak.
“Brengsek!”
***
Di televisi, seorang wanita cantik diwawancara mengenai keberhasilannya terpilih menjadi salah satu perwakilan dari Indonesia sebagai juri di ajang pencarian bakat di negeri tetangga.
Sesekali host acara menanyakan kabar kehidupan pasca perceraian dengan Zayn Malik. Santai dan tanpa beban, Valerie mengatakan semua sudah berlalu dan dirinya hanya ingin fokus kepada karir sebagai model dan presenter.
Maryam dan Mikail menonton dengan wajah curiga.
“Bude kok nggak merasa Valerie sebaik itu, ya?”
”Benar. Otaknya licik banget dan dia nggak punya hati nurani. Bayangkan setega itu meracuni Bude.”
”Sampai sekarang masih bergidig kalau inget dia dulu sengaja nontonin Bude meregang nyawa. Matanya jtu loh, dingin kayak nggak ada kehidupan. Ngeri.”
Mikail kembali menatap ke layar televisi.
“Apa alasan dia melakukan itu? Padahal aku ingat, Val berubah menjadi lebih baik sebelum kejadian. Dan lagi pula kenapa Bude keukeuh tidak mau melaporkan?”
”Itulah yang membuat Bude khawatir. Kebaikan yang dia tampilkan sekarang adalah kedok untuk kejahatannya. Kamu benar, dia adalah psikopat.”
Maryam memutar rekaman video Valerie dan laki-laki muda sedang mereguk kenikmatan dari hapenya.
Mikail terbelalak.
”Lihatlah sampai selesai.”
”Nggak mau Bude.”
Namun terlambat. Kegiatan percintaan yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi permainan brutal.
Valerie menyiksa laki-laki muda itu. Mencakar, mencambuk, dan mengigit lawan tempurnya itu tergeletak tak berdaya.
Entah mendapat kekuatan dari setan apa, yang jelas Valerie dengan tenaganya kembali ******* pusaka pria itu hingga kembali tegak lalu menghujamkan ke dalam miliknya dan bergerak liar ke sana kemari.
Semakin pria itu menangis, semakin Valerie menggila.
”Bude …” Mikail berkata lirih.
”Dulu, dengan video itu, Bude pernah mengancam Valerie untuk bertobat dan menjadi istri yang baik. Bude tau bagaimana Zayn mencintai Valerie. Maka itulah dia bertingkah seolah sudah berubah. Ternyata ia mengamati kegiatan Bude dan Nafisa. Kamu tau betapa hati Bude hancur saat menyangka Nafisa-lah yang berbuat. Dengan sisa tenaga, Bude membuka cadar dan lega ketika ternyata wanita busuk itu pelakunya.”
Mikail tak tahan dan memarikan video.
”Kita harus laporkan Valerie. Sebelum dia macam-macam lagi.”
”Waspadalah di kantor. Jangan sampai dia menyusup. Bude akan mengirimkan semua bukti ke pengacara untuk ditindaklanjuti. Sepertinya kemarin Bude salah karena membujuk Zayn tidak melaporkan Val.”
“Kenapa?”
“Bude tidak ingin melibatkan Nafisa, karena mau tidak mau dia pasti terseret lagi sebagai saksi.”
“Nafisa …” Mikail lirih menyebut nama wanita yang masih ada di hatinya.
Maryam menoleh ke arah Mika.
”Ikhlaskan dia, Mika. Kamu akan tambah sakit.”
Terdengar Mikail menghela napas panjang.
“Mikail akan suruh security kantor waspada kalau-kalau Valerie niat macem-macem di sana. Maaf Bude, bukan untuk Zayn, tapi karena Nafisa-lah Mikail melakukannya.”
“Terima kasih…”
__ADS_1
***