Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Dingdong


__ADS_3

Nafisa menangkup kedua tangan menutupi mulut ketika berita di televisi menampakkan foto Zayn sedang digelandang oleh penyidik untuk kasus suap pembebasan tanah.


Wajah Zayn nampak tenang meski terlihat serius.


Terkesiap, Nafisa melihat ke arah jam. Seharusnya Dim sudah pulang.


Panik, ia menelepon Lastri ingin menanyakan apakah putranya ada di sana.


Belum sempat tersambung, seseorang mengetuk pintu rumahnya.


“Nafisa, buka, ini Ibu.”


Gegas, Nafisa membuka pintu.


“Ibu, Mas Zayn …”


“In syaa Allah kebenaran akan terungkap. Zayn ingin kamu dan Dim tinggal di villa. Dim sudah ada di sana, Ibu janji akan jemput kamu. Mika dan keluarganya juga sudah diboyong.”


“Nafi akan umumkan resto tutup beberapa hari. Sebentar Nafi berkemas dan liburkan bibik dulu.”


Tak berapa lama, Nafisa dengan pikiran kalut sudah berada di mobil menuju villa.


“In syaa Allah di villa kita aman. Tadinya Ibu mau angkut semua ke Jakarta, tapi nanti terlalu jauh dari Zayn.”


Air mata mengalir dari netra Nafisa.


“Semoga Mas Zayn baik-baik, ya Bu.”


“Sudah ada pengacara yang mengawal.”


Begitu sampai di villa, Dimiko langsung lari menghambur ke ibunya.


“Mama! Dim takut.”


Nafisa memeluknya erat.


“Doakan Papa, ya.”


“Papa nggak jahat, kan? Nggak mungkin Papa nyogok orang.”


“Dim tau dari mana?”


“Aku dari tadi nonton berita di TV, ayo Ma, masuk. Ada saudara-saudara. Kita semua harus tinggal di sini dulu kata Papa,” kata Dim sambil menarik tangan ibunya.


Dari dalam Dian dan Mika menyambut.


“Sabar, ya. Aku yakin Zayn nggak melakukan itu,” bisik Dian ketika dua sahabat berpelukan.


Mika menghampiri Nafisa kemudian berkata, “Kita atur strategi di ruang makan dalam. Biar anak-anak makan di teras.”


“Kenapa aku nggak boleh ikut?” tanya Dimiko tidak terima. Dia langsung menempel ke ibunya supaya diikutsertakan.


Nafisa memahami kekhawatiran putranya.


“Sayang, Mama janji akan kasih tau apa aja yang kami orang dewasa bicarakan malam ini.”


Dim menggelengkan kepala.


“Dim mau ke Dubai aja sama Mama ketemu Eyang Opa.”


Harus memberikan pengertian pada putranya, Nafisa duduk di kedua lututnya untuk menyamakan tinggi.


“Dim, inget nggak kalau ada masalah kita harus bagaimana?”


“Harus dihadapi. Tapi Ma, nanti Mama sedih kalau urusin Papa. Dim nggak mau.”


Nafisa mengelus rambut putranya. Raut keras kepala Dim benar-benar versi kecil dari Zayn Malik.


“Mama nggak akan sedih karena sekarang udah ada Mas Dim yang bikin Mama kuat.”


Dim memeluk ibunya erat.


“Janji kasih tau Dim?”


Nafisa tersenyum lembut sambil mengecupi pipi anaknya.


“Janji. Sekarang Mas Dim makan sama Cinta, Abidzar dan Mba Cha, ya.”


Anak itu masih memeluk ibunya lalu berjalan menuju meja makan di teras bersama anak-anak kecuali Helmy yang sudah terlelap di sofa.


“Kita makan juga sambil buat rencana.”


Orang-orang dewasa makan di ruang makan tertutup sehingga anak-anak tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


“Sejauh ini, aku masih percaya Zayn tidak melakukan suap kepada pejabat pemerintah. Pengacara Ali Warga sudah mendampingi Zayn. Dari penyidik mengajukan bukti transfer senilai lima milyar ke Pak Gunawan. Pejabat pemerintah yang ditemui Zayn beberapa kali ini terkait perijinan resort.”


Mika menjelaskan kondisi terakhir.


Nafisa bertanya dengan nada curiga, “Dari transaksi bank, bisa terbukti kan siapa yang melakukan?”


“Sementara ini semua mengarah ke Zayn meski dia bersikeras tidak melakukan.”


“Mungkin ada yang meretas? Kerja sama dengan orang bank?”


“Pak Ali dan para investigator akan melihat hal ini lebih jeli lagi.”


“Setahu aku, Mas Zayn tidak ngoyo mendapatkan ijin. Toh pantai itu sudah dibebaskan dan tetap dibuka untuk umum. Nantinya pun setelah ada resort tetap akan terbuka untuk masyarakat.”


Maryam menambakan, “Betul, buat Zayn bisnis resort itu bukan prioritas utama. Alhamdulillah kami sudah berkecukupan. Cita-cita Zayn malah membuka lapangan kerja buat masyarakat di sini.”


“Kenapa semua terjadi bersamaan, ya? Bisnis-bisnisku mendadak disorot. Klinik Dian juga diperiksa pajak-pajaknya?” Suara Mika terdengar was-was


Nafisa menggumam, “Pak Dino? Apa Pak Dino di belakang ini?”


“Ck. Itu orang. Masih muda licik dan serakahnya ampun-ampunan. Aku tau dia sejak masih nikah sama mantan istrinya. Sebenernya yang aku kenal mantan istrinya. Ema minta cerai dari Dino karena orang itu terlalu posesif dan cemburuan. Suka main tangan juga. Ema pernah lari ke aku dengan muka babak belur, tapi ngakunya jatoh di tangga.”


“Kapan kejadiannya?”


“Udah lama banget. Beberaoa kali seperti itu akhirnya Ema menggugat cerai. Di persidangan Dino mengajukan bukti bahwa Ema selingkuh dengan ajudannya. Ema nggak peduli, yang penting dia lepas dari orang itu. Sekarang Ema tinggal di Brunei bersana Buliknya karena setelah cerai, Dino sering meneror.”


Nafisa mengernyit lalu berkata, “Pak Dino pernah bilang mau ta’aruf ke aku.”


Mendengar cerita sahabatnya.


“Bisa-bisanya nggak cerita?”


“Aku nggak terlalu tanggapin. Ibunya juga udah beberapa kali nemuin aku. Astaga, apa gara-gara aku cerita kalau Mas Zayn itu masih suamiku, ya? Waktu itu aku harus cerita supaya nggak jadi fitnah.”


“Pokok kamu harus hati-hati Nafisa, nggak boleh sendirian. Apalagi kalau Dino itu nemuin kamu lagi,” ucap Maryam dengan nada khawatir.


“Apakah besok kita bisa ketemu Mas Zayn?”


“Sudah kuurus dengan Pak Ali Warga. Setelah bertemu Zayn, aku akan ke Jakarta juga untuk melakukan investigasi.”


***


Seminggu berlalu, Zayn masih ditahan dan tidak diperkenankan untuk dijenguk.


Keluarga sudah mengajukan keberatan namun tidak ditanggapi serius dengan alasan penyidikan sedang berlangsung.


Berbagai bukti memberatkan bertubi-tubi diberikan oleh penyidik sehingga pengacara dan Mika pontang-panting berusaha mencari bukti yang mematahkan.


Belum lagi efek publikasi terus menerus yang menjelekkan nama Zayn. Termasuk skandal masa lalu antara Zayn dan Valerie.


Beruntung tidak ada yang mengaitkan Nafisa dan Dim. Meski sesekali menjemput Dim, tapi dia jarang sekali keluar dari mobil. Didukung juga masyarakat di sana yang tidak suka mencampuri urusan orang lain.


Siang itu Zayn sudah menunggu hampir tiga jam di ruang pemeriksaan. Tanpa diperkenankan memegang hape hingga dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Kesabaran yang memang sudah setipis tisue semakin terkikis dan ia harus berdzikir untuk menenangkan diri.


Pintu terbuka, dua orang petugas berseragam menyuruh untuk mengikuti ke sebuah garasi.


Di sana ia dipaksa masuk ke dalam mobil pribadi yang langsung membawanya pergi.


“Mau dibawa kemana?”


“Diam, jangan banyak tanya!” Salah satu petugas membentak.


Zayn mendengus sebal.


Di sebuah rumah yang jauh dari pusat kota dan jauh dari keramaian, kendaraan berhenti.


Zayn disuruh untuk masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah.


Seorang laki-laki sudah menunggu di sana.


Zayn tersenyum sinis lalu menyapa, “Pak Dino.”


“Aaah kita ketemu di sini. Buat saya jauh lebih baik daripada kita bertemu di restoran Nafisa.”


Geram, Zayn mengeraskan rahangnya.


“Anda tidak mengenalkan diri sebagai suami Nafisa waktu pertama kita bertemu. Dan terus terang, Anda tidak layak buat jadi suami wanita sebaik dia.”


“Anda yang layak?”


“Tentu. Sukses, tidak pernah tergelincir skandal, dan tunggu saja saya akan menapaki jalan menuju gubernur.”


Enggan berkomentar, Zayn menyandarkan tubuhnya ke sofa.


“Yakin Anda tidak punya skandal?”


Paham yang dimaksud Zayn, Dino menjawab santai, “Mantan istri saya yang selingkuh dengan ajudannya.”


“Whatever you say,” jawab Zayn dengan tampang melecehkan.


Dino tersenyum lalu memberi kode kepada anak buahnya. Dua dari mereka memaksa Zayn untuk berdiri dan memukulnya keras di daerah perut.


“Cukup!” Titah Dino.


Zayn kembali duduk. Baginya pukulan tadi tidak berpengaruh namun tahu Dino punya sindrom kekuasaan, Zayn pura-pura terbatuk dan kesakitan.


“Lepaskan Nafisa, keluar dari Banyuwangi,” ucap Dino dengan nada dingin.


“Atau?”


“Bukan Anda saja yang akan saya persulit. Tapi Nafisa juga.”


“Memang benar di situ level Anda,” balas Zayn sambip merapikan kemejanya.


“Nafisa punya trauma di penjara, bukan?”


“Jangan coba-coba,” desis Zayn menahan marah.


“Bayangkan jika ada sepuluh orang pelanggan restoran yang tiba-tiba keracunan …”


“Dan kamu mengatakan pantas menjadi pendamping wanita sebaik Nafisa,” jawab Zayn tenang meski di dalam hatinya dia ingin melumpuhkan laki-laki di depannya.


Dino menghela napas lalu menyodorkan surat permohonan perceraian.


“Tanda tangani, maka semua akan kembali baik-baik saja. Sebagai sesama laki-laki, kupastikan dia akan sangat bahagia menikah denganku.”


***


Sebulan berlalu, Nafisa dan keluarga masih terus berjuang untuk Zayn. Kini campur tangan kepentingan politik makin membuat kasus ini menjadi semakin runyam.


Hampir tiap hari Nafisa bolak-balik memohon untuk bertemu suaminya.


“Pak saya keluarganya Zayn Malik, kenapa kami tidak bisa bertemu? Sudah sepuluh hari,” ucap Nafisa bersikeras kepada petugas yang menahannya di gerbang depan gedung.


“Maaf, Bu, kami hanya menjalankan perintah. Anda bisa tinggalkan barang-barang untuk tahanan di sini, nanti akan kami sampaikan.”


Dari dalam mobil, Dino mengepalkan tangan. Zayn masih belum menandatangani surat permohonan cerai dan Nafisa yang tanpa lelah berusaha menemui suaminya adalah kenyataan buruk yang menusuk jiwa supremasinya.


“Bawa Zayn ke rumah singgah. Siksa dia sampai menandatangani surat cerai.”


***


Zayn tersungkur setelah mengalami pukulan bertubi-tubi.


Laki-laki itu bersikeras tidak mau menandatangani apapun.


Hingga akhirnya di tengah ketidaberdayaan-nya, seseorang menggerakkan tangan Zayn untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas.


Di lantai dingin, dengan darah yang berceceran di lantai, Zayn terbaring telungkup.

__ADS_1


Seseorang mendekat lalu menjambak dan menengadahkan kepalanya.


“Siap-siap, istrimu akan di penjara dan akulah yang akan menyelamatkannya.”


“Ja … ngan. Go .. to … hell!”


Sebuah pukulan keras membuat mata Zayn berkunang-kunang kemudian gelap.


Dino melihat dengan sebal ke tubuh yang kini lunglai.


“Nanti malam, kembalikan ke sel.”


Dua laki-laki tegap mengangguk lalu menyeret Zayn ke kasur tipis di ujung ruangan.


Berjalan menuju mobilnya, Dino menelepon seseorang.


“Laksanakan.”


***


Siang itu restoran milik Hidangan Pantai ramai pengunjung. Hampir semua meja terisi penuh oleh rombongan wisatawan dari Bantul dan hanya tiga meja yang diisi wisatawan dari Jakarta dan Malaysia.


Meski Maryam tidak setuju, Nafisa tetap berangkat ke restoran ditemani Dian dan pengawal.


Seperti biasa, Nafisa mengawasi seluruh proses dari mulai persiapan hingga penyajian.


Menyapa dan mengobrol ramah dengan para tamu.


Menanyakan apakah mereka puas dengan hidangan yang dipesan.


Rombongan yang terdiri sepuluh pasang suami istri itu mengobrol dan bertukar cerita dengan Nafisa.


Tamu-tamu lain pun disapa akrab dan mengatakan Hidangan Pantai menyajikan kuliner yang nikmat.


Hingga malam hari, restoran Hidangan Pantai dipenuhi tamu. Gelak canda, aksi selfie, mewarnai keceriaan restoran milik Nafisa.


Wanita itu memandang berkeliling. Sesekali menghela napas.


“Sabar, ya,” ujar Dian seraya merangkul sahabatnya.


“Kenapa aku nggak boleh ketemu Mas Zayn? Ini kan, hak. Aku tau banget keadaan di penjara, Di.”


“Sssh, kita doakan Zayn dalam keselamatan. Besok kita coba lagi. Aku ambil cuti seminggu ini jadi bisa kutemani.”


Penuh sayang, Dian mengelus punggung Nafisa.


Sekali lagi menghela napas panjang, Nafisa berkata, “Jam sepuluh kita pulang, biar pegawai piket yang berberes. Sebentar aku pamitan.”


Tak berapa lama, Nafisa dan Dian berjalan beriringan ke kendaraan dikawal oleh dua orang bodyguard.


Mobil mereka baru berjalan sepuluh menit menuju vila ketika Nafisa teringat.


“Ya Allah, Dim nitip dibawakan benang sulam. Dia pasti senang kalau aku lupa, jadi punya alasan nggak ngerjain.”


Dian terkekeh, “Anakmu tu lucunya pol. Dewasa tapi kadang bisa bayik banget.”


Nafisa pun menggeleng gemas mengingat kelakuan Dim.


“Pak, muter lagi. Stop di pintu belakang aja, nanti saya jalan. Jam segini gerbang depan sudah ditutup.”


“Siap!”


Nafisa dan Dian melanjutkan percakapan tentang rencana agar bisa menembus pertahanan instansi yang menahan Zayn.


Cara paling ampuh adalah go-viral, namun Mika pernah mengatakan bahwa Zayn minta lewat pengacaranya untuk Nafisa tidak terlibat.


“Sudah sampai, Bu. Kami kawal.”


Kendaraan diparkir di belakang pohon besar, lalu Nafisa dan Dian turun.


Kening Nafisa berkerut ketika melihat dua truk pengangkut daging parkir di halaman restoran.


“Harusnya malam ini tidak ada pengiriman.”


“Kita tanya aja,” sahut Dian melangkah menuju gerbang.


Tangan Nafisa menahan Dian.


“Aku curiga. Lewat sini. Matikan senter hape,” perintahnya kepada pengawal.


“Tapi, Bu.”


“Ikutin saya.”


Nafisa dan tiga orang lainnya mengendap masuk lewat pintu belakang.


Dim pernah membuat jalur rahasia memutari rumah menuju restoran sebagai tempat bermainnya dengan Abidzar.


Anak kecil itu sendiri yang memilih tanaman-tanaman rimbun dan minta tukang kebun memasang penerang dari obor.


Malam itu tidak ada yang menyalakan obor sehingga Nafisa dan lainnya terlindung kegelapan.


Dari jarak aman, Nafisa berhenti. Matanya memicing.


“Ngapain Sulis di situ?” Gumamnya. Nafisa mengambil hape lalu menyalakan mode rekam.


Seorang pegawai wanita berdiri menghadap ke parkiran. Lalu beberapa laki-laki masuk membawa barang berpeti-peti.


“Hari ini nggak ada pengiriman segini banyak harusnya,” gumam Nafisa lagi.


Agaknya Sulis sidah menyuruh pegawai piket lainnya untuk pulang. Tidak tampak pegawai lain di sana.


Area restoran masih terang karena lampu-lampu belum dimatikan. Kesibukan yang terjadi dapat terekam jelas.


Dian melongok.


“Aku mau ke sana biar liat apa yang mereka lakukan di dapur.”


“Jangan, Bu. Biar saya,” kata salah seorang pengawal.


“Saya rekam, Bapak jaga,” cetus Dian yang sudah merayap menuju area dapur.


Nafisa terus merekam. Pengawal di belakangnya waspada mengamati sekeliling.


Netra Nafisa terbelalak.


“Pak Dino …”


Terlihat Dino memberikan instruksi pada Sulis yang mengangguk patuh. Nafisa tidak bisa mendengar karena suaranya terlalu pelan dan jarak antara posisinya lumayan jauh.


Tiba-tiba Dino menoleh ke arah rumah Nafisa. Matanya terlihat menatap tajam.


Pengawal bersiap jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Nafisa terus merekam. Wajah Dino terlihat jelas.


Dino mendekat diikuti ajudannya yang baru datang dari temoat parkir.


Laki-kaki itu berhenti di batas pagar antara resto dan rumah Nafisa. Hanya beberapa meter dari tempat Nafisa dan pengawal bersembunyi.


“Semua kesulitan ini bikin aku makin tertantang untuk menjadikan kamu pendampingku.”


Senyum licik tergambar di wajah priyayi dengan sosok tinggi besar itu.


“Tiga bulan setelah masa iddah, Sayang. Kamu jadi istriku.”


Nafisa menutupi mulutnya. Butir-butir keringat membasahi kening.


Dino masih menatap rumah Nafisa yang gelap gulita. Dia tahu calon wanitanya tinggal di vila Zayn Malik. Emosinya menggelegak.


Asap rokok menghembus dari bibirnya. Dari belakang Sulis memeluk Dino.


“Mas, aku udah kerjakan semua yang diperintahkan.”


Senyum licik Dino semakin lebar.


“Saatnya senang-senang.”


Dia pun merangkul Sulis lalu keduanya berjalan menjauh. Dino menunggu Sulis yang mematikan lampu-lampu dan mengunci pintu restoran.


Keduanya menuju mobil sambil sesekali terdengar tawa manja dan genit dari wanita yang sudah cukup lama menjadi pegawai senior di Hidangan Pantai.


Tangan Nafisa gemetar antara takut dan marah.


Dian diikuti pengawal kembali bergabung.


“Emang brengsek kan tu lakik. Dia dalangnya,” maki Dian dengan geram.


Nafisa langsung berkata, matanya nyalang, “Kita ikutin dia. Aku mau bikin bedebah itu kapok.”


“Bu, sebaiknya kita ke vila.” Pengawal tidak setuju.


Nafisa malah membalas, “Ih Bapak, nih. Lagi seru juga. Mau ikut, nggak?”


Dian dan Nafisa gegas berlari ke arah kendaraan mereka.


Tak ada pilihan, dua pengawal itu mengikuti Nafi dan Dian.


Dari jarak aman, mereka mengikuti kendaraan laki-laki yang dipanggil Dim sebagai Oom Bupati.


Mereka menuju ke sebuah rumah di pinggir pantai yang berbeda. Dua manusia itu turun dari mobil dan tak malu menautkan bibir mereka di hadapan para ajudan juga supir.


Bisik Nafisa, “Naudzubillahi min dzalik. Katanya pingin jadi lakik gue tu, Di. Belum tau menu burung dara cincang kali, ya.”


“Nafi, Nafi, kamu mesti di ruqyah kali. Adaaa aja kejadian sama hidup kamu,” balas Dian pelan.


Seorang pengawal ikut berbisik, “Jarak kita aman, jadi nggak usah berbisik sebetulnya. Saya akan mengintai. Juned berjaga di sini.”


“Udah biarin kami aja,” sahut Nafisa, keras kepala terus berbisik.


“Dengan segala hormat, Bu. Jangan remehkan kami jebolan pasukan khusus yang memilih jalur swasta. Kemampuan kami jauh di atas Ibu-ibu berdua.”


“Awas kalau nggak dapat videonya. Burung dara cincang,” balas Nafisa dengan mata berkilat karena jengkel.


“Ibu tidak akan bisa mencincang burung saya. Tapi saya akan berusaha sebaik-baiknya mendapatkan video.”


Pengawal bernama Husni segera keluar dari mobil. Dalam sedetik hilang di tengah semak belukar di gelapnya malam.


Juned siaga di belakang kemudi.


“Iya juga, ya. Kalau tadi di resto mah nggak apa ngubekin semak. Di sini, bisa ketemu uler, tikus, kodok.” Dian bergidig.


“Tapi aku nggak puas kalau nggak dapetin videonya sendiri.”


“Emang kamu pengin liat Dino begituan sama Sulis?”


“Nanti di video kita juga bakal liat.”


“Viralin biar sedunia liat.”


“Hush. Kena UU ITE lu nyaho berdua Sulis di Hotel Prodeo alias penjara,” balas Nafisa gemas.


“Husni mana, nih, lama.”


Nafisa membalas asal, “Ya elah, Di, burungnya Dino belum juga naik kali. Masih kleyat-kleyot.”


Juned berdehem. “Ijin. Saya berjaga di luar.”


“Ya .. ya, jangan jauh-jauh. Kami juga mulai ngantuk.”


Setelah Juned keluar, dua wanita itu bersiap.


“Huh! Kemampuan di atas Ibu-ibu. Dia nggak tau waktu kecil kita sering nangkepin kodok di pematang malam-malam,” gumam Nafisa jengkel.


“Moga nggak ada uler kelayapan,” balas Dian tetap khawatir, sambil perlahan membuka pintu.


“Ada tuh nanti uler kasur.”


“Halah orang kayak Dino palingan ulet kasur, kecil.”


“Hush, ayo jalan buruan.”


Dua wanita itu mengendap menuju rumah. Mereka melihat dua orang berjaga di teras.


Nafisa menggamit Dian lalu terus bergerak ke samping.


Dilihatnya pintu samping terbuka.

__ADS_1


“Masuk?” Tanya Nafisa sebelum melanjutkan langkah.


“Go!”


Pelahan dua wanita itu melangkah menuju arah suara-suara perpaduan de sa han, rin ti han, bahkan lolongan, dan gonggongan dari mulut manusia.


Mereka bersitatap keheranan sekaligus jijik.


Akhirnya mereka tiba di depan kamar yang pintunya terbuka sedikit.


“Gimana caranya?” Bisik Dian sambil menunjuk hape Nafisa.


Nafisa menyuruh Dian berjaga. Menahan napas, ia menyelipkan hape ke sela pintu.


Hanya bisa mengira-ira sudut yang tepat tanpa tahu posisi kedua manusa lucknut itu beraksi.”


Suara-suara semakin terdengar keras.


“Aaah pukul lagi, pukul lagi lebih keras.” Pinta Sulis disela erangan.


“Melolong!” Perintah Dino.


Lalu terdengar suara Sulis menirukan bunyi lolongan serigala di sela bunyi tamparan berkali-kali hingga membuat Nafisa bergidig.


Ditunggunya beberapa saat sambil menahan mual. Tangannya menjulur menggapai hape ketika tak sengaja mendorong pintu.


“Diam!” Bentak Dino.


Laki-laki itu gegas melebarkan pintu kamar. Dengan tubuh polos berjalan kian kemari memeriksa ruangan.


Dibukanya pintu kamar mandi dengan kasar, menyangka akan menemukan seseorang di sana.


Setelah itu ia kembali ke kamar dan mengunci pintu.


Di dalam lemari di bawah bak cuci piring, Nafisa dan Dian meringkuk.


Mereka berdiam selama lima menit. Setelah suara-suara menjijikkan itu kembali terdengar, bahkan lebih intens dan liar dari sebelumnya, mereka mengendap keluar rumah.


Jantung Nafisa dan Dian merosot dua senti ketika di balik pintu sudah berdiri Juned dengan wajah menahan marah.


“Ikuti saya,” bisik bodyguard tegap berambut cepak.


Di depannya sudah ada Husin yang berjaga lalu membiarkan ketiganya berjalan lebih dulu.


Mereka tiba di kendaraan. Juned menyalakan mobil.


“Mereka denger, nggak?” Tanya Dian khawatir.


“Pak Zayn memerintahkan kami untuk memakai mobil listrik yang nyaris tanpa suara untuk Ibu Nafisa. Mungkin paham betul sifat istrinya,” sindir Husni dengan suara tenang cenderung dingin.


Husni menyerahkan video.


“Saya sudah terlibat operasi penangkapan, penyelamatan, bahkan penyerbuan di berbagai negara. Tapi belum pernah tekanan darah saya melonjak tinggi sampai melihat tangan Bu Nafisa meletakkan hape di sela pintu. Mohon, Bu, lain kali turuti perintah kami untuk menjaga keselamatan Ibu.”


“Maaf, Pak. Saya memang … saya memang orangnya begitu. Semoga tidak harus seperti tadi lagi. Tapi kalau memang tidak ada pilihan, saya akan melakukan demi keluarga.“


Husni dan Juned sama-sama menggeleng kecil.


“Ini videonya, saya ambil dari balik jendela. Menjijikkan. Dua-duanya kelainan.”


Nafisa menerima hape Husni lalu memutar video setelah mengirimkan ke hapenya.


“Innalillaahi. Mereka ngapain sih ini?” Celetuk Dian ketika melihat Dino menunggangi Sulis yang merangkak keliling kamar sambil sekali-kali menirukan bunyi hewan. Sesekali memukul p*n*t*t perempuan itu dan menjambak rambutnya.


Keduanya polos tanpa sehelai benang pun.


“Orang sakit jiwa … Aku nggak mau liat lagi, dosa. Segini aja sudah cukup. Perbuatan mereka bisa dikategorikan sebagai tindakan asusila.”


Nafisa memainkan rekaman yang diambilnya. Hanya dua detik sebelum dia dan Dian membekap mulut mereka sendiri agar tidak memuntahkan isi perut.


”Hal baiknya, semua ketegangan tadi tidak sia-sia. Angle kamu tepat sasaran.”


Mereka semua lalu menuju vila dalam diam.


Tak berapa lama Dian berkata, “Bener, kan, dingdongnya Dino kayak ulet bulu.”


“Bu Dian!” Seru dua laki-laki di dalam mobil itu setelah mendengar ocehan Dian.


Nafisa dan Dian terkekeh.


“Btw busway, kamu harus panggil pest control. Mereka sebarin tikus di dapur resto. Sama ada daging-daging busuk juga. Mereka tadi sempat ambil foto. Juned udah bikin umpan dan meletakkan kurungan buat tikus-tikus itu supaya nggak menjelajah di dapurmu.”


“Kita bereskan malam ini. Lalu Pak Husni, tolong cari rombongan dari Bantul. Aku curiga mereka orang suruhan Dingdong.”


“Kami akan sebarkan anggota di rumah sakit. Sebelum kejadian akan diantisipasi.”


“Bagus. Terima kasih.”


Nafisa dan Dian memejamkan mata sebelum tiba kembali di resto.


“Di, naudzubillah masih kebayang.”


“Istighfar mohon dihilangkan dari otak kamu. Aku sih gampang, ada Mas Mika.”


“Ck … ssssh.”


Husin dan Juned menggelengkan kepala. Diam-diam salut dengan keberanian duo sahabat.”


“Aku yakin, Dino juga ada di belakang penangkapan Mas Zayn. Kayaknya juga Mas Zayn sengaja ditangkap di Surabaya untuk menjauhkan Dino dari aku.”


Setelah tiba di resto, mereka berjibaku mengusir tikus-tikus dan mengambil bukti daging-daging busuk lalu menempatkan di kulkas cadangan. Hati-hati menggunakan kaus tangan sehingga jika diperlukan polisi bisa memeriksa sidik jari.


Larut malam mereka menuju vila.


Dian memicingkan mata ketika pagar utama sudah terlihat. “Ya ampun, itu Dim gelantungan di pager? Nggak ibu nggak anak sama aja kelakuannya. Ini kan udah hampir jam satu malam.”


“Dim pasti nggak bisa tidur dan para penjaga udah kualahan menahan. Thanks ya, Di, buat tadi.”


“Dah urusin pangeran kecilmu tuh. Bibirnya manyun.”


Begitu keluar dari mobil, Dim langsung menghambur ke ibunya.


“Mama telat empat jam!”


“Maaf tadi ada yang harus diberesin. Bobok yuk,” jawab Nafisa sabar dan nada lembut.


“Mama …”


Nafisa menggendong Dim ke kamar lalu membaringkannya.


“Mama bersih-bersih dulu lalu sholat. Dim bobok?”


“Iya. Abis sholat tadi Dim doain Papa. Mama, kalau Papa udah bebas, kita tinggal bareng Papa aja.”


Nafisa mengelus kepala putranya.


“Mama emang cinta sama Papa?”


“Iya, ternyata setelah bertahun-tahun.”


“Tadi Dim, Abidzar dan Mba Cha ke kamar Papa sama Cinta, di sana banyak banget foto Mama. Tapi Mama pake cadar.”


“Foto-foto lama itu Dim.”


Hati Nafisa melambung mendengar penuturan putranya.


“Apa pun asal Mama happy. Dim mau bikin Mama happy.”


“In syaa Allah. Sekarang, bobok. Mana ada anak kecil gelantungan di pager malem-malem.”


Dim tersenyum malu-malu lalu memeluk guling. Nafisa menepuk-nepuk bokong bulat sampai putranya terlelap.


Sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia memeriksa hape. Ada dua pesan yang membuatnya harus mengucapkan istighfar berkali-kali.


Husin:


Laporan dari anggota, sepuluh orang wisatawan yang tadi ke restoran melapor ke IGD RS Karang Watu karena muntah-muntah dan diare.


Dino:


Maaf apakah besok bisa bertemu? Ada titipan dari Pak Zayn.


Setelah mengucapkan basmalah, Nafisa membalas satu persatu.


Untuk Husin:


Perang dimulai. Cari wisatawan dari Jakarta dan Malaysia yang tadi juga ke restoran. Cari tau apakah mereka juga mengalami gejala yang sama.


Untuk Dino:


Baik saya ke kantor Bapak.


Tak menunggu lama, diterima balasan dari Dino:


Kita ketemu di rumah. Ibu kangen sama Bu Nafisa.


Bergidig, Nafisa membalas:


Di kantor saja.


Balasan singkat dari Dino:


Baik.


***


Di rumah terpencil, Dino tersenyum membayangkan wajah Nafisa.


Di tempat tidur, Sulis menatap dengan penuh kebencian.


“Mas, kenapa sih harus ngejar-ngejar Bu Nafisa. Ada aku, kan?”


“Sini …”


Sulis patuh lalu berdiri di hadapan Dino. Tangan laki-laki itu meremas keras bukit kembar Sulis wanita itu menyeringai menahan sakit.


“Aku suka liat muka kamu kesakitan juga suaramu ketika kita bercinta. Cuma itu saja. Lagi pula nggak usah berisik. Transferan untukmu selalu tepat waktu kan?”


Sulis memejamkan mata sambil mengigit bibirnya menahan sakit karena Dino semakin keras meremas bukit kembarnya.


Satu jari Dino memainkan area inti Sulis yang membuat wanita itu mendesah sekaligus merintih karena tangan pria itu masih asik di dadanya.


“Meringkik …” Titah Dino.


“Aaaarg … iya iya …”


Membuang harga dirinya, Sulis meringkik bagai kuda.


“Minta aku mengigitmu.”


“Gigit aku, Mas.”


Dino membalik kasar tubuh Sulis hingga membuatnya hampir terjungkal. Dengan penuh tenaga digigitnya b*k*ng Sulis hingga wanita itu memohonnya untuk berhenti.


“Mengembik!”


Begitulah sepanjang malam yang dilalui Sulis menjadi budak kegilaan laki-laki bernama Dino. Meski tersiksa, wanita itu juga menerima kepuasan yang tidak pernah didapat dari laki-laki lain.


***


🌹🌹🌹


Halo halo,


Maaf lagi dan lagi. Thor tepar berat. Udara panas, lalu depan rumah lagi mbangun rumah. Debu dimana-mana. Wal hasil radang tenggorokan dan pilek. Haaaish, nda asik lah pokoke.


Sehat2 semua kan? Doa yuk moga segera turun hujan biar polusi nggak gini banget. Qadarullah Thor tinggal di daerah yang polusinya puarah biaaanget.


Aku post bab agak panjang.


Moga tetap enjoy yaa.


🌹🌹🌹


***

__ADS_1


__ADS_2