Pernikahan Yang Tergadaikan

Pernikahan Yang Tergadaikan
Dimiko Malik


__ADS_3

Nafisa duduk di kantornya yang nyaman. Diputarnya kursi menghadap ke laut. Silir angin meniup kerudungnya.


Tangannya memainkan gawai, mencari berita-berita tentang Zayn dan Valerie.


Bertahun-tahun dan hatinya masih tercubit melihat foto pernikahan Zayn dan Valerie.


“Mungkin dia memang jodoh kamu, Mas. Aku cuman penyela aja yang akhirnya tersingkir.”


Nafisa berusaha mencari berita-berita terkini. Namun tidak pernah ada update terbaru setelah Val melahirkan. Bahkan akun media sosial-nya pun tidak lagi diperbarui.


Kelahiran Dimiko membuat Nafisa bertekat mengubur dalam-dalam perasaannya. Sedikit pun wanita itu tidak mau tahu tentang apa yang terjadi dengan Zayn.


Kenyataan bahwa hatinya masih merasa sakit melihat Zayn bersanding dengan Val adalah tamparan keras.


“Setelah bertahun-tahun, ternyata aku masih mencintaimu. Harus lari ke mana lagi agar aku nggak bisa melihat kamu dan keluargamu?”


Nafisa menimbang apakah dirinya bisa kuat jika harus berhadapan langsung dengan laki-laki yang sangat ia hindari.


“Dari sekian banyak kota di Indonesia, kenapa kamu harus pilih ke Banyuwangi, sih?”


Akhirnya Nafisa mengirim pesan ke ayahnya.


“Yah, apakah masih ada kemungkinan Nafi dan Dim pindah ke Dubai?”


***


Setelah pertempuran panas, Dian merebahkan kepalanya di dada Mika.


Napas keduanya masih terengah-engah. Mika mengelus rambut legam panjang lalu mengusap-usap pundak polos istrinya.


“Mas … iya juga kalau Zayn menganggap aku selingkuhan kamu bisa jadi fitnah, ya?”


“Kalau otak dia normal, pasti akan cari tahu. Gampang buat Zayn. Apalagi aku masih di sini. Hanya saja, sepupuku itu kalau marah cara kerja otaknya suka mengsol.”


“Kamu tahu mereka tinggal di mana?”


“Di Villa Salsa. Setelah aku liat dia kemarin, anak buahku langsung kuminta untuk memantau. Tapi pegawai vila bungkam ketika ditanya-tanya. Hanya ada satu anak perempuan yang mereka dengar bamanta Cinta. Sepertinya dia tuna netra. Orangku tidak melihat sosok nyonya. Mereka hanya melihat Zayn, anak perempuan, dan ibu yang sudah sepuh.”


“Astaghfirullah kemana ibunya? Apa masih di Jakarta, Eh tapi dia udah nggak pernah muncul dimana-mana, deh.”


“Kamu nggak kenal Val. Lebih baik nggak pernah kenal perempuan laknat itu. Mas yakin dia minggat . Malah lebih baik Cinta diasuh Zayn dan Bude.”


“Egois banget.”


“Dan licik. Malas omongin tentang Medusa satu itu. Sayang, apa menurut kamu kita jemput anak-anak terus kita ke Villa Salsa? Aku ingin mengenalkan kamu ke Bude.”


Dian langsung menegang dan langsung terduduk.


“Mas, aku bakal diterima nggak sama …”


Mika menarik lagi istrinya agar berbaring lalu me lu mat bibirnya dengan penuh hasrat.


Kehabisan napas, Dian mendorong suaminya.


“Dianku, Sayang, apapun yang akan terjadi nanti di sana, kita hadapi bersama. Jangan pernah meragukan cinta aku sama kamu. Keluarga kecil kita adalah harta yang paling berharga.”


Dian menenelusupkan kepalanya ke dada Mika.


Suaminya mengeratkan pelukan. Mereka menikmati saat indah bersama hingga saatnya menjemput sekolah.


Setelah membersihkan tubuh, Dian dan Mika menyiapkan baju untuk Aisya, Abidzar, dan Helmy. Mereka bersiap untuk memperkenalkan diri sebagai satu keluarga Mikail Malik.


***


Menjelang sore di villa Zayn melampiaskan kekesalannya pada samsak tinju di ruang gym-nya.


Harinya rusak begitu melihat Mikail sedang bercanda mesra dengan perempuan yang tidak dia kenal. Semua vendor yang ditemui untuk urusan pekerjaan harus merasakan badai topan Zayn.


“Aaarg, aku harus buat perhitungan ke Mikail. Bisa-bisanya dia mengkhianati Nafisa. Brengsek!”


Di sela-sela pukulan demi pukulan, tubuh kecil menyelinap masuk sambil menutup telinganya.


“Cinta …” Zayn langsung menghentikan pukulannya.


Anak kecil itu terisak-isak.


“Ayah marah sama Cinta?”


“Astaghfirullahaladzim … bukan, Sayang. Ayah nggak marah sama Cinta.”


Cinta tidak bergerak dari tempatnya. Dia jarang masuk ke dalam gym ayahnya sehingga tidak hafal kearah mana harus melangkah.


“Cinta takut, Ayah,” ucapnya lirih.


“Cinta …”


Zayn melepas dan membuang sarung tinju lalu mendekati putrinya.


“Maafin, Ayah. Cinta nggak pernah dengar suara keras kayak gitu?”


“Ayah kedengaran teriak-teriak dari luar. Cinta … Cinta pikir Ayah marah sama Cinta … “


Zayn mendekap erat putrinya. Cinta menumpahkan air mata di pelukan Ayahnya.


“Maafin, Cinta. Besok-besok, Cinta nggak akan nungguin Dim lagi kalau itu bikin Ayah marah.”


“Dim?”


“Iya, Ayah marah karena Cinta nungguin Dim dan dia nggak datang, kan?”


“Astaghfirullah, Cinta. Bukan karena itu, Sayang. Dengerin Ayah, ya. Pagi ini memang ada sesuatu yang bikin Ayah kesal. Tapi bukan Cinta. Nah, anak kecil kalau marah kan kadang menangis, ngambek. Kalau Ayah salah satu pelampiasannya adalah latihan tinju.”


“Jadi kalau Ayah latihan tinju berarti lagi marah. Ayah marah terus dong. Jangan loh, Yah.“


Zayn makin memeluk putrinya.


“Nggak setiap Ayah latihan tinju artinya lagi marah. Memang rutin harus latihan biar bisa jagain Cinta.”


Jari-jari kecil Cinta meraba wajah ayahnya.


“Urat-urat di kening Ayah masih nonjol, bibir bawahnya juga masih melengkung. Artinya Ayah masih marah.”


Lagi-lagi Zayn dibuat tertegun.


“Masih sedikit. Tapi ngobrol sama Cinta bikin hati Ayah lebih tenang.”


“Kata Eyang, kalau marah atau sedih banget harus ambil wudhu terus sholat.”


“Alhamdulillah tadi Ayah udah. Cuma perlu pukul-pukul aja dikit lagi.”


“Kalau gitu sekarang mandi, soalnya b a u.”


“Cinta. Gitu, ya sama Ayah.”


Zayn langsung mengelitiki pinggang putrinya hingga Cinta tertawa tergelak-gelak.


“Ampun … stop … stop. Tapi emang Ayah bau …” Anak kecil itu dengan lucunya menutup hidung mancung dan menjulurkan lidah.


“That’s it. Hukum gigit.”


Sambil membuka tutup mulutnya, Zayn pura-pura menggigiti badan putrinya. Cinta yang tidak bisa melihat hanya bisa pasrah menerima hukuman sayang dari Ayahnya.


Maryam melongokkan kepalanya ke dalam ruangan gym.


“Fiuh, Ibu pikir bakal ketemu Rahwana di sini.”


“Bu …” Protes Zayn sambil terus menghukum putrinya.


“Mandi sana, kamu emang bau.”


“Ck, ya udah, ya udah. Sekongkolan ini mah.”


Zayn lalu mendudukkan Cinta ke bangku lalu gegas menuju kamarnya.


“Ditunggu di teras. Cemilan sore udah siap.”


Di kamar mandi, Zayn membasahi tubuhnya. Bayangan Nafisa menari-nari di benaknya.


“Aku belum menceraikan kamu, Sayang. Maafkan, semua jadi berantakan gara-gara aku. Perkawinan kamu nggak sah dan Mika malah selingkuh.”


Lama Zayn berada di bawah pancuran air ketika terdengar seseorang mengetuk pintu.


“Zayn, ini Ibu. Cepat keluar. Cepat!”


Gegas Zayn mengeringkan tubuhnya lalu mengenaikan pakaian.


Hanya perlu waktu kurang dari lima menit pria itu berada di ruang tengah berhadapan dengan Mikail Malik, wanita yang tadi bersamanya dan tiga orang anak.


Maryam duduk di antara Mikail dan Dian, memegang tangan keduanya. Wajah Maryam penuh keharuan bertemu dengan keponakan yang dibesarkannya kini sudah menjadi ayah.


Melihat pemandangan di depannya, tak dapat menahan diri, Zayn bersiap menghajar adik sepupunya ketika tiba-tiba Mikail langsung memeluknya erat.


“Aku nggak pernah menikah dengan Nafisa. Kamu salah sangka dan memang aku sengaja membuatnya seperti itu. Maafkan aku.”

__ADS_1


Zayn mendorong adik sepupunya.


“Ayah!” Teriak Abidzar melihat ayahnya diperlakukan kasar.


Dian menahan putranya.


Zayn memegang pundak Mikail. Netranya tajam menatap Mikail.


“Jangan bohong kamu, Mikail. Aku lihat pagi itu kamu keluar dari rumah Nafisa. Juga sore-sore aku lihat kamu sama Dim dan Nafisa.”


Mikail mengerutkan kening.


“Kamu … kamu kenal Dim?”


“Kenal, dia temenan sama Cinta, anakku. Sudahlah, aku bisa harus bisa menerima jika kamu yang mendapatkan Nafisa. Tidak usah berpura-pura.”


Dengan mata malas setengah sebal, Mika menoleh ke istrinya.


“Aku bilang juga apa, kan? Emang sering error dia.”


“Zayn, dengarkan Mika dan Dian dulu,” pinta Maryam.


Dian bangkit lalu berdiri di samping suaminya, “Pak Zayn, perkenalkan, saya Dian, istri sah dan satu-satunya dari Mas Mikail Malik. Ini anak-anak kami, Aisya, Abidzar, Helmy.”


Netra Zayn menatap tiga anak kecil yang menatapnya takut-takut. Dari wajah Abidzar dan Helmy dia bisa melihat gaya tengil ayahnya, namun Aisya sangat berbeda dan lebih mirip Dian.


“Aisya anak saya dari suami yang sudah meninggal sebelum menikah dengan Mas Mika. Almarhum ayahnya gugur di Papua saat bertugas di sana.”


Dian melanjutkan, “Saya adalah sahabat Nafisa dari kecil. Nafisa sudah ingat semuanya dan bahkan sudah bertemu dengan Oom Yusuf ayahnya, juga Bulik Siti, bibinya. Ayah Nafi sekarang tinggal di Dubai. Tapi sering bolak-balik ke Indonesia menemui Nafisa dan Dim.”


Maryam memandang tiga anak yang duduk rapi menghadapnya.


“Cucu-cucu Eyang, ya Allah. Sini duduk deket Eyang. Dian, kamu juga sini.”


Dian sekali lagi mencium takzim punggung tangan Maryam, disusul anak-anaknya.


Zayn terkesiap, berusaha mencerna sekaligus mempersiapkan kabar terburuk. Karena jika Nafisa tidak menikah dengan Mika berarti Nafisa menikah dengan orang lain.


“Dim betul anaknya Nafisa, kan? Lalu siapa ayah Dim?” Tanya Zayn kepada Mikail dan Dian.


Belum sempat ada yang menjawab pertanyaanya, dari arah luar terdengar suara anak kecil.


“Assalamualaykum. Loh, Oom Mika sama Tante Dian ngapain di sini?”


“Waalaykumussalam,” jawab mereka serempak menoleh ke arah pintu dari pantai dan melihat Dimiko berdiri di sana.


“Dim!” Pekik Cinta kegirangan.


Maryam menatap ke arah anak tampan dengan pipi kemerahan, rambut ikal, dengan ekspresi wajah mirip sekali dengan Zayn waktu kecil. Hanya manik matanya saja abu-abu.


Dim heran karena semua melihat ke arahnya.


“Kenapa? Mama cari aku, ya? Tadi aku udah pamit mau main, kok,” ucapnya takut-takut dengan alis terangkat.


Maryam menutupi mulutnya dengan satu tangan.


“Zayn, dia … dia …” Ucap Maryam dengan emosi yang membuncah.


“Dim, ayo sini masuk,” ajak Cinta yang kegirangan. Gadis cilik itu belum terlalu paham apa yang terjadi. Dia hanya girang temannya datang.


“Mamaku juga ada di sini?” Dimiko celingak celinguk mencari Nafisa.


“Siapa mamamu? Aku nggak dengar ada suara lain,” jawab Cinta yang hanya bisa mengenali orang-orang di sekelilingnya melalui suara.


Cinta melangkah perlahan menuju Dim.


Ragu-ragu, Dimiko berjalan masuk ke villa.


“Ada sepupu-sepupuku di sini. Gengs, kenalin teman baru aku, namanya Cinta. Aku salam dulu sama papa kamu.”


Dimiko mendekati Zayn yang berdiri terpaku di tempatnya.


Ia meraih tangan Zayn untuk menciumnya. Begitu bersentuhan, Zayn terduduk di kedua lututnya.


“Dim … siapa nama lengkapmu?” Tanya Zayn.


“Dimiko Yusuf Malik, Oom.”


“Nama belakang kita sama, Dim. Aku Cinta Malik.”


Dimiko hanya mengangguk, masih belum paham kenapa ayah dari Cinta terus menatap dan memegang tangannya.


“Oom, kenapa?” Dimiko melambaikan tangannya ke depan wajah Zayn yang menatapnya nanar.


“Dim, Pap, emmm Oom boleh peluk kamu?”


“Ada apa sih, Oom? Dim jadi bingung.”


Jari-jari Dimiko menggaruk kepalanya.


“Sebentar aja, Dim,” pinta Zayn, suaranya bergetar menahan emosi.


Dimiko melirik ke arah Mikail dan Dian. Keduanya mengangguk.


Bocah itu kemudian mendekatkan dirinya dan dialah yang memeluk Zayn terlebih dulu.


Maryam menahan haru bukan kepalang. Zayn berusaha keras untuk tidak menitikkan air mata karena akan membuat Dimiko semakin bingung bagkan takut dan menjauh.


Tangan Zayn memeluk erat bocah kecil yang tidak tahu bahwa pria di depannya adalah ayahnya.


Sambil menepuk-nepuk pundak Zayn, Dimiko berkata, “Oom jangan takut. Semua pasti ada solusinya. Asal kita mau membuka hati, mata, dan telinga. Lalu berpikir untuk kebaikan kita dan orang lain. Dan yang terpenting berdoa mohon kemudahan sama Allah. Begitu kata Mamaku setiap menghadapi masalah.”


Zayn membenamkan wajahnya ke pundak kecil Dimiko.


Suasana mendadak haru bagi orang dewasa yang ada di sana. Sementara para bocah mereka hanya menatap heran kenapa ada seorang pria yang belum pernah mereka lihat malah memeluk Dimiko.


“Tenang, ya Oom. Banyakin dzikir. In syaa Allah nanti jalan keluarnya ketemu. Dim nggak bisa bantu soalnya masih kecil. Tapi nanti pas sholat maghrib, Dim akan doakan Oom.”


Zayn mengurai pelukannya lalu mengatup kedua tangannya ke wajah Dim. Membuat anak itu semakin heran.


Untuk pertama kali Zayn melihat bahwa wajah Dimiko adalah perpaduan antara wajahnya dan wajah Nafisa.


“Dim, apakah Eyang boleh salam?”


“Eh maaf, Dim nggak lihat. Dim, dong, yang harusnya salam sama Eyang.”


Dim lalu mendekat ke arah Maryam lalu mencium takzim punggung tangan wanita itu.


“Eyangnya Cinta, ya?”


“Iya, Sayang.”


Maryam menatap lekat wajah Dimiko, lalu mencium kening anak itu.


Dim berdiri dengan canggung lalu mendekat ke arah Mikail dan Dian mencari perlindungan.


“Dim, main sama Cinta dulu sana, biar Oom Mika dan Tante ngobrol di sini,” ucap Dian sambil mengacak rambut Dimiko.


“Boleh ajak my gengs, kan?”


“Boleh,” balas Mika tersenyum geli melihat gaya tengil keponakannya.


“Cinta, aku bawa geng aku. Kenalin ini Mba Cha. Gara-gara kakak sepupuku ini nih, aku kemarin nggak ke sini. Lalu ini ada Abi dan yang kecil ini Helmy.”


Dimiko menuntun Cinta untuk berkenalan dengan semuanya.


Cinta girang bukan kepalang karena mendapat banyak teman.


“Main di halaman, yuk. Ayah udah buatin kolam pasir. Soalnya aku nggak boleh main di pantai sendirian. Mau nggak?”


“Mau!” Jawab empat anak lainnya serempak. Rombongan itu langsung menuju kolam pasir si halaman villa.


Netra Zayn tidak lepas sedikit pun dari Dimiko.


“Anak gue, Mik. Anak gue,” bisiknya dengan suara bergetar.


“Duduk, aku ceritakan semuanya.”


“Kita bicara di ruang kerja aja supaya anak-anak nggak dengar. Bagaimana pun yang paling berhak memberitahukan Dimiko bahwa dia putra Zayn adalah Nafisa,” ajak Maryam yang langsung disetujui Mikail, Dian, dan Zayn.


Mereka berpindah ke ruang kerja Zayn yang lebih tertutup.


“Dian, sini duduk dekat Bude.”


Mikail menyuruh istrinya untuk duduk di samping Maryam.


“Bojomu ayu, Mik.”


“Maa syaa Allah, makasi Bude. Aku ketemu Dian waktu mengikuti Nafisa naik bis. Waktu itu Nafisa pingsan dan oleh orang-orang setempat dibawa ke klinik Dian.”


Cerita mengalir dari bibir Mikail dan Dian.


Zayn tidak sanggup berucap apa-apa. Penyesalan demi penyesalan memukul dadanya berkali-kali.

__ADS_1


Hal yang melegakan adalah akhirnya Nafisa tahu masa lalunya dan dikelilingi orang-orang yang dicintai.


“Nafisa wanita yang mandiri. Meski ayahnya diserahi harta yang lebih dari cukup untuk mereka bertiga, namun Nafisa memilih untuk merintis usahanya sendiri,” jelas Dian, terlihat sangat bangga dengan perjuangan sahabatnya.


“Bukan itu saja. Dimiko pun ikut membantu. Anak itu cerdas luar biasa. Di usia enam tahun dia sudah akselerasi kelas satu kali. Jika sebayanya masih kelas satu, Dimiko sekarang sudah kelas dua. Beberapa bulan lalu dia menang mengaji juz 30 sekabupaten. Dim juga membantu Nafisa mengantar rantang nggak jauh dari sini.”


Zayn terbelalak.


“Jadi Dim itu tiap hari lewat sini karena antar rantangan?”


“Betul. Dia yang minta. Sebetulnya Nafisa nggak kasih tapi Dim kalau udah punya mau nggak ada yang bisa nolak.”


Hati Zayn miris mengetahui bagaimana Nafisa dan Dimiko berjuang untuk hidup mereka.


“Apakah … Apakah Nafisa pernah menikah lagi?”


Dian langsung menyambar, “Ada tujuh laki-laki dengan kualitas nomor wahid mau menikahi Nafisa. Ada satu yang hampiiir aja jadi, tapi sayang Nafisa membatalkan.”


“Tujuh?” Zayn terbelalak.


“Semua datang sendiri. Bahkan udah ada yang langsung bawa orang tua. Padahal Nafisa sama sekali nggak cari-cari. Bodoh emang sahabatku itu.”


Zayn melirik Dian dengan lirikan mematikan namun dibalas santai oleh wanita tak kenal takut.


“Bodoh karena dia nggak bisa move-on dari ayahnya Dim.”


Napas Zayn tersentak.


“Aku harus menemui Nafisa.”


“Sabar, Boss. Dia lagi ada catering di Jember,” jelas Mikail.


“Kasih alamatnya, Mik. Aku mau ke sana.”


“Sebentar, Zayn. Kamu nggak bisa memaksakan semuanya. Pikirkan apa yang kamu mau. Belum move-on bukan berarti dia mau menerimamu dengan tangan terbuka,” tutur Maryam mengingatkan anaknya.


“Gue setuju dengan apa yang Bude sampaikan, Zayn. Bisa jadi Nafisa sudah nyaman dengan keadaannya sekarang. Dia bukan tipe wanita yang mencari harta dan posisi. Dua kali gagal dalam perkawinan bisa membuatnya hati-hati untuk melangkah. Apalagi sama lu,” tambah Mikail lagi.


Zayn memijit pucuk hidungnya. Mikail tahu betul kakak sepupunya sedang bimbang.


“Lu benar. Besok gue akan menemuinya. Sekarang biar gue main dulu sama Dim.”


Pria yang baru tahu dirinya seorang ayah itu tak sabar ingin segera keluar.


“Zayn, bagaimana dengan Val?” Tanya Mika sebelum sepupunya beranjak.


“Kami bercerai setelah dia melahirkan. Mmm Cinta bukan anak kandungku, tapi aku sangat menyayanginya.”


Mika bertanya hati-hati, “Dimana Val sekarang? Aku dan Dian khawatir dia akan berbuat gila lagi jika tahu kamu menemukan Nafisa.”


“Di Amerika. Jika sekali saja dia menjejakkan kaki ke Indonesia, Bude akan jebloskan ke penjara,” tegas Maryam yang wajahnya langsung tidak senang mendengar nama mantan mantunya disebut.


“Apa rencanamu, Zayn?” Tanya Maryam sambil menatap lembut ke putranya.


“Zayn ingin mendapatkan Nafisa kembali, Bu. Hampir tujuh tahun dan rasa cinta ini sama sekali tidak luntur.”


Dian menatap sangsi.


“Apakah selama ini Anda dekat dengan seseorang? Saya tidak ingin Nafisa harus menghadapi musuh baru. Dia bisa kok hidup tanpa Anda.”


Suara Dian terdengar sinis namun itu perlu dilakukan untuk melindungi Nafisa yang sudah seperti saudara kandung.


“Enam tahun saya fokus merawat Cinta. Anakku punya banyak kelemahan. Di antaranya gagal ginjal ketika baru lahir dan beberapa kali operasi jantung untuk memperbaiki katupnya. Itu sebabnya saat kemarin dia terjatuh di pantai… Innalillahi. Dim.”


Zayn tersentak mengingat dia pernah menampar putranya.


“Dim!” Zayn langsung berlari mencari Dimiko.


Anak itu sedang menadak-nadak di atas pasir bermain bersama Cinta. Sementara sepupu-sepupunya bertepuk di sekelilingnya sambil tertawa geli melihat kekonyolan mereka berdua.


Sebulir air mata menetes dari sudut netra Zayn.


“Dim …” Panggilnya.


Yang dipanggil terjingkat dan langsung ketakutan.


“Maaf, Oom. Dim cuma ajarin Cinta joget-joget ala film kartun. Cinta nggak jatoh kok Oom, aku jagain.”


Zayn gegas melangkah lalu memeluk Dim.


“Oom, Oom … kayaknya Oom salah peluk deh. Aku Dimiko bukan Cinta.”


Dimiko merasa canggung karena dua kali mendapatkan pelukan yang tidak biasa dari laki-laki yang hanya dikenal sebagai ayah temannya.


“Maaf … maaf Pap … Oom pernah bikin kamu sakit.”


“Kan udah baikan. Kata Mamaku, kita harus bisa melupakan hal buruk. Aku udah lupa, kok, Oom.”


Zayn menjauhkan tubuh kecil itu. Memandangnya lekat-lekat. Bingung mesti bagaimana, Dimiko memaksakan dirinya tersenyum. Menghasilkan seringai aneh di wajahnya.


“Mas Dim ukanya kocak …” Celetuk Helmy.


“Aku mau pegang muka kamu, Dim,” cetus Cinta yang dibantu Aisya mendekati Dimiko.


Laki-laki kecil itu makin bingung dengan tingkah ayah dan anak. Zayn terus lekat menatapnya sementara sekarang Cinta mengulurkan tangan ke wajahnya.


“Kamu jangan bergerak. Aku mau raba supaya bisa membayangkan muka kamu.”


Cinta lalu meletakkan tangannya ke wajah Dimiko. Menelusurinya pelan.


“Mamaku juga suka nih gini. Pake scrub katanya biar kulitnya glowing,” sindir Dimiko karena tangan Cinta masih banyak pasir dan sudah menjelajah di wajahnya.


Zayn memegang tangan Cinta.


“Sayang, cuci tangan dulu. Muka Dim jadi banyak pasir.”


“Nggak apa, pegang lagi aja.” Dimiko lalu meletakkan tangan Cinta yang satunya ke wajahnya.


“Ini muka aku. Paling ganteng. Abidzar - Abidzar ajah mah kalah.”


“Dim! Yek,” yang diledek malah joget-joget tidak karuan.


Dari dalam rumah Maryam menahan haru melihat semaraknya vila mereka dengan kehadiran anak-anak Mika dan Dimiko, cucu kandungnya.


Mikail merangkul Budenya.


“Mewek …”


Dian langsung menyodok rusuk suaminya.


“Nggak apa, Dian. Keponakan Bude yang satu ini emang minta dithutuk pake sandal.”


Maryam mengambil sandal lalu pura-pura hendak memukul Mika yang walhasil dia malah memeluk dan menangis sesunggukan di dada keponakannya.


Anak-anak langsung terdiam melihat turbulensi emosi yang mereka tidak paham sebabnya.


Maryam langsung berhenti begitu menyadari semua memandangnya.


“Nggak apa-apa. Eyang cuma seneng banget bisa ketemu sama papa dan oom kalian. Main lagi. Oya kalau mau makan sudah ada kue-kue, tapi harus cuci tangan dulu.”


Dim melihat ke arah matahari.


“Aku harus pulang. Tadi janji sama Mama nggak boleh lewat dari jam setengah enam sudah harus di rumah,” gumamnya sedih karena tadi sekilas melihat kue-kue yang dihidangkan di meja teras.


“Dim sama siapa di rumah?” Tanya Zayn teringar jika Nafisa sedang ada pekerjaan di luar kota.


“Bibik. Aku pamit pulang dulu ya, Cinta, Oom, Eyang.”


“Oom antarkan naik mobil aja.”


“Nggak usah, Oom. Terima kasih. Kan ada tamu, masak ditinggalin.”


Dim gegas mencium tangan semua orang dewasa yang ada di sana.


Zayn menatap putranya dengan penuh kebanggaan. Bocah sekecil itu sudah paham sopan santun dan tata krama.


“Mas, kalau lu mau antar, kami nggak apa-apa.”


Mikail menepuk pundak kakak sepupunya.


“Tuh, sebelum Dim kabur.”


“Thanks, Mik. Sorry buat yang tadi pagi.”


“Aah nggak berasa.”


“Tapi bonyok juga, kan,” ledek Zayn sambil menoel pipi adik sepupunya lalu mengejar Dimiko.


Tak mau ditolak, Zayn langsung mengangkat sepeda anaknya dan membawanya ke arah garasi.


Dimiko melambai tangan pada semuanya dan janji akan main lagi kapan-kapan.


***

__ADS_1


__ADS_2